Masuk“Ayo kita duduk di sana!”
Restoran itu ramai. Aroma pasta yang baru matang bercampur dengan wangi keju dan saus krim menguar di udara. Tania duduk di sudut ruangan bersama Lia, Keisha, dan beberapa rekan kerja lainnya. Rachel, manajer mereka akan menyusul karena masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan. “Sekarang bisa katakan padaku apa yang kalian maksud dengan tukang selingkuh?” Tania begitu penasaran. Sejak siang tadi, ia ingin bertanya. Namun, Rachel memotong pembicaraan mereka. “Kita belum pesen!” Lia berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia menyenggol Keisha, meminta bantuan. “Bener!” Keisha mengangguk. Kedua teman Tania sekarang sibuk melihat buku menu. Mereka membiarkan Tania menghela dan terpaksa menuruti kemauan mereka. “Selamat!” Seruan keras membuat Tania menoleh. Di sudut restoran yang lain, dia melihat kerumunan yang tidak asing. Gilang sedang tertawa bersama sekelompok orang. Senyumnya lebar, ekspresinya penuh kebanggaan. “Ck! Kenapa dia di sini juga, sih?!” Keisha mengomel. Di sampingnya, Lia hanya bisa mengelus dada. Temannya ini terkadang tidak kenal situasi dan terus saja bicara seenaknya. “Baiklah, aku merasa sudah cukup bersabar!” Tania meletakkan buku menu di depannya kasar. Ditatapnya Lia dan Keisha bergantian. “Bicara,” ucapnya menuntut. Kedua temannya mengkerut di tempat. Akhirnya, satu-persatu mulai membuka mulut. Keisha menghela berat. "Gilang itu bukan cuma sekali selingkuh, Tan. Udah lama banget dia punya hubungan sama Bu Marcella. Sudah sejak sebelum kamu masuk Grand Velora." Tania tersentak. ‘Sejak sebelum aku masuk?’ batinnya berteriak tak percaya. “Iya,” sahut Lia. “Makanya kita kaget pas pertama kali kamu bilang kalau Gilang pacarmu ….” Tania seketika menunduk. Belum pernah selama hidupnya dia merasa semalu ini. “Kamu juga ngebanggain Gilang. Kamu bilang karena Gilang kamu bisa diterima di Grand Velora. Dia yang bawa kamu masuk jadi pegawai magang,” sambung Keisha. Tania mengeluh dalam hati. Jadi enam bulan yang lalu, saat dia masuk pertama kali ke Grand Velora, tatapan yang diberikan rekan kerjanya ini bukan tatapan kebencian, melainkan pandangan iba. “Gimana kita bisa kasih tau kamu?” Lia berucap serba salah. “Kamu juga kan bilang kalau kalian udah bertunangan dan mau menikah tahun depan.” Keisha mengangguk. “Kita enggak mau jadi orang yang buat rencana pernikahan kamu gagal.” Tania memegang pelipisnya yang terasa nyeri sekarang. Dia tidak menyangka. Menjalin hubungan bertahun-tahun dengan Gilang, tapi dia masih tidak mengenal kekasihnya sendiri. “Sorry, Tan,” ucap Lia dan Keisha bersamaan. Tania mengepalkan tangan di bawah meja. Semua orang tahu? Semua orang melihat? Dan tidak ada satu pun yang memberitahunya? “Kita juga udah tau gosip Gilang yang diangkat jadi Front Office Manager dari kemarin, tapi kamu kayaknya lagi enggak mau diganggu.” Lia membuat senyum terpaksa. “Kita juga enggak tau kalau mereka ngerayain di sini.” Pandangan mereka tertuju ke meja Gilang. Tania melihat sebuah kue besar di sana. Gilang menerimanya dari seorang wanita. Wanita yang sama yang dia dapati ada di dalam kamar sedang bercumbu dengan kekasihnya kemarin. “Mereka benar-benar enggak tau malu!” Keisha mendesis kesal. Lia pun ikut memaki bersama sang teman. “Bu Marcella memang udah dari lama deket sama Gilang. Dia enggak peduli sama statusnya.” Tania melirik ke arah yang ditunjuk oleh Lia. Di sebelah Marcella, ada seorang pria. Pria berpakaian rapi dengan jas yang licin duduk di samping Marcella. Tania, sungguh merasa tidak asing dengan pria itu. “Itu Pak Romi, suami Bu Marcella.” Lia seolah tahu apa yang Tania tanyakan dalam benaknya. ‘Jadi Gilang berselingkuh dengan wanita bersuami?’ Berselingkuh dengan istri orang. Gilang bukan hanya lelaki tak berotak, tapi juga tak bermoral. Tania tak tahu lagi apa yang lebih buruk dari ini. “Bu Marcella itu pelukis terkenal. Dia sponsor penyumbang lukisan di Grand Velora.” Keisha menggeleng kecewa. “Padahal hidupnya sudah sempurna, tapi dia malah mencari masalah dengan berselingkuh.” Tania tidak mengerti. Lia dan Keisha mengenal Marcella. Keduanya bahkan sudah mengetahui perselingkuhan itu sejak lama, tapi kenapa? “Kenapa kalian tidak melaporkan perselingkuhan itu?” Tidak adil untuk suami Marcella, dan tidak adil juga untuk Tania. Ketidakadilan seperti itu, kenapa tidak ada yang membicarakannya? Lia dan Keisha saling pandang. Terlihat keduanya bingung menjawab pertanyaan Tania. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Tania mengulang pertanyaannya lagi. "Kenapa enggak ada yang melapor?" desisnya. Senyap. Hanya dentingan piring dan sendok di restoran yang terdengar. "Karena itu Marcella," bisik Lia, pelan. "Istri Pak Romi, General Manager kita." Kepala Tania terasa berputar. Jadi Marcella bukan hanya selingkuhan Gilang—dia juga istri GM Grand Velora?! Matanya kembali menatap pasangan itu. Gilang tampak begitu santai, tertawa tanpa beban. Seolah tidak ada yang salah dengan perbuatannya. “Salah-salah, kita yang dipecat, Tania.” Lia mengeluh. “Aku enggak mau dipecat.” “Cari pekerjaan itu sulit. Apalagi di hotel bintang lima seperti Grand Velora,” sambung Keisha. Tania mengepalkan tangan. Dia tak bisa menyalahkan kedua teman-temannya. Bisa apa pegawai bawahan melawan para atasan? "Kalau begitu, aku yang akan melaporkannya." Lia tersedak. "Apa?" Keisha menegang. "Tania, jangan gegabah! Itu—" "Aku sudah muak," potong Tania tegas. "Aku akan menemui Pak Romi sekarang juga."“Satu gelas lagi,” ucap Tania sembari memohon. Wajahnya memerah, dan ia sudah mabuk berat. Di sampingnya, Bryan menopang sebagian tubuh Tania. Pria itu menarik Tania ke dalam pelukan, membiarkan Tania bersandar padanya. Jam-jam sudah berlalu, hari telah larut, dan mereka hanya duduk sambil minum. Tak seperti biasanya, Bryan hanya menemani Tania, mendengarkan ceritanya, sambil sesekali membelai kepala Tania lembut. Ruang VIP itu tenang dan damai. Terdengar musik dari layar televisi yang dinyalakan oleh Bryan. Di sampingnya, Tania masih terus bicara. “Sejak awal aku memiliki seorang pacar yang gila. Dia selingkuh di depanku. Lalu, aku pikir aku bertemu dengan cowok baik.” “Enggak salah, tapi juga enggak benar. Dia awalnya baik.” Bryan tertarik dengan apa yang Tania katakan barusan. Pria itu yakin, orang yang sedang dibicarakan oleh Tania adalah Rafael. “Dia juga selingkuh. Ternyata semua lelaki sama saja!” Tania ter
Sonya terus saja menyudutkannya, tapi Tania tak ingin menanggapi. Hanya Rafael yang kembali menyahut dan membelanya. “Ibu! Buatku enggak ada yang lebih penting dari Tania! Ibu tau itu, kan?!” Rafael berseru marah. Sekarang, tatapan para tamu perlahan tertuju ke arah mereka. Tania yang awalnya tak ingin bicara, jadi merasa tak bisa terus diam. “Rafael, yang mau pergi itu aku.” Tania sengaja menoleh ke arah Sonya, memastikan wanita tua itu mendengar.“Kamu tunggu saja di sini dan selesaikan semuanya dengan baik. Aku enggak mau hasil kerja kerasku untuk semua minuman yang ada di sini sia-sia.” Sengaja Tania menekankan nada pada kata “kerja keras”. The Crown Level memang tidak akan semewah ini tanpa dirinya. “Maaf, saya pamit dulu.” Tania menunduk sekilas. “Silakan nikmati acaranya, Pak Julian dan Bu Sonya.”Ia gegas berbalik sebelum Rafael sempat mengejarnya. Tania ingin secepatnya pergi. Ia tak mau lagi mendapat makian atau ucapan omong kosong dari Julian dan Sonya. Di sudut ruang
“Kamu tau itu enggak mungkin, kan?” Tania memicing tak percaya. Ia melepaskan pelukan Bryan, lalu memilih untuk mengecek riasannya. Di depan cermin wastafel, Tania memastikan keadaannya sama seperti sebelum ia masuk tadi. “Kamu mau keluar? Kita belum sepakat, kan?” Bryan menarik kembali tangan Tania. Sia-sia sudah Tania merapikan penampilannya. Bryan kembali menariknya ke dalam pelukan. “Jangan pergi sebelum aku izinkan, Mee.”Tania memekik saat Bryan mengangkat tubuhnya dengan mudah ke atas wastafel. Sekarang, mereka berhadapan dengan tinggi yang sejajar. “Kamu tau kan, kalau aku ini orang yang tidak mudah puas?” bisik Bryan tepat di telinga Tania. Bryan mendekatkan wajahnya perlahan. Seolah tahu apa yang akan terjadi setelahnya, Tania memejamkan mata. Ia membiarkan bibirnya disambut hangat oleh Bryan.Kehangatan itu berubah perlahan menjadi panas. Tania terbawa ke dalam lautan gairah sampai sebuah ketuka
“Tak apa, kebetulan aku mau ke toilet,” sahut Tania dengan senyum terulas di wajah. Hatinya teriris sakit. Namun, Tania tak berniat untuk menunjukkannya sama sekali. Tidak di depan Julian, Sonya, atau bahkan Rafael. “Aku antar,” ucap Rafael seraya berdiri. Satu tangan Rafael sudah mendarat di bahu Tania. Namun, Tania menepisnya lembut. “Aku bisa pergi sendiri. Temani saja kedua orang tuamu,” sahut Tania, datar. Ia menyembunyikan wajah kecewanya seraya melangkah pergi. Lorong menuju toilet entah kenapa terasa begitu panjang. Langkah Tania berat dan ia merasa lelah luar biasa. Tangannya membuka pintu toilet tanpa tenaga. Tania masuk, lalu berdiri di depan cermin wastafel, menatap pantulan dirinya.“Kenapa mereka harus kembali?” Tania menghela hampir tanpa suara. Wajahnya muram, tertekuk sempurna. Julian dan Sonya adalah orang-orang yang membuat kehidupannya sulit. Meski mereka adalah kedua orang tua Rafael, andai bisa, Tania sama sekali tak ingin menyapa keduanya. Baik Julian at
“Sama sekali tidak masalah, Mr. Ziv. Kebetulan itu memang terkadang datang tiba-tiba,” ujar Tania seraya melebarkan senyumnya. Ia berusaha bicara setenang mungkin. Di depan tamu-tamu acara soft launch The Crown Level, Tania tak ingin mempermalukan dirinya sendiri. Lagipula, acara ini bukan hanya tentang dirinya. Menahan diri sedikit pasti tidak masalah. Sejak dulu, ia bahkan sudah menahan terlalu banyak. Tidak direstui, dianggap murahan, penjilat, dan jalang yang naik ke atas ranjang bos untuk mendapatkan status dan jabatan. Sebuah gaun sungguh tak berarti apa-apa. “Saya yang merasa sangat terhormat karena bisa memakai warna yang senada dengan Mr. Ziv. Mungkin ini hari keberuntungan saya,” sambung Tania. Ia sengaja melebih-lebihkan. Tania ingin Rafael merasakan jika ada jarak yang begitu jauh antara dirinya dengan Bryan. Rafael tak akan pernah menyangka jika Tania dan Bryan berkali-kali ada di atas ranjang yang sama. “Tidak,” geleng Bryan. “Nyonya Dharmawan tidak boleh sampai m
“Lima belas menit lagi acara soft launch akan dimulai!” Rafael memberi aba-aba.Rafael adalah orang yang paling menunggu momen ini. The Crown Level adalah idenya. Dan semua bagian yang ada di lantai ini hanyalah atas persetujuannya. “Aku tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apapun!” Di atas panggung dengan backstage berhiaskan logo mahkota emas khusus The Crown Level, Rafael memberi semangat, juga peringatan. Para staf bertepuk tangan sebelum kembali ke pos masing-masing. Dengan setelan hitam khusus, staf yang ditempatkan di The Crown Level adalah pegawai-pegawai terpilih. Fera, teman Tania saat masih menjadi bagian dari staf resepsionis dulu, adalah salah satunya. “Kamu sangat berbeda sekarang,” ujar Fera penuh kebanggaan. Dari semua teman Tania sejak awal bergabung di Grand Velora, tersisa Fera seorang yang bertahan. Sekarang, ia adalah staf senior. Pelayanannya tak perlu diragukan. Fera terpilih bukan karena







