MasukKevin melangkah keluar dari ruang kerja ayahnya dengan perasaan dongkol yang tak terkatakan. Obrolan singkat itu, seperti biasa, penuh tuntutan dan kritik, membuat perutnya terasa mual. Ia mengusap sisa-sisa amarah di wajahnya yang masih terlihat membengkak—bukti baru dari kesialan terakhir yang dialaminya. Harusnya hari ini ia tenang-tenang saja, bukan malah disemprot di pagi bolong. Tapi langkahnya terhenti di koridor rumah sakit yang sepi, bukan karena amarahnya reda, melainkan karena ada pemandangan yang tak terduga. Di area taman rumah sakit yang sunyi, tiga sosok wanita sedang asyik berbincang, seperti trio detektif rahasia. Jantung Kevin berdetak kencang melihat mereka. Lidya ada di sana, ditemani oleh Wulan dan Riris.Dengan sigap, Kevin langsung menyelinap di balik pilar besar, tubuhnya merapat ke dinding, mencoba menyamarkan keberadaannya agar tidak disadari. Ia menahan napas, berusaha agar suara derap kakinya yang terburu-buru tadi tak menarik perhatian mereka. Kepalanya se
Ruang kerja dr. Gabriel Wisesa yang biasanya tenang kini bergetar seperti menara observasi yang diterjang gempa bumi level 9. Bukan karena bencana alam, melainkan badai kemarahan yang meluap dari sang kepala keluarga. Di hadapannya, dr. Darren berdiri mematung, menatap titik di lantai, tangannya terkepal di samping tubuh. Wajahnya keras, namun ekspresinya tidak terbaca. Sementara itu, Riana, istri Gabriel dan ibu Darren, sibuk berusaha menenangkan suaminya yang wajahnya sudah memerah padam, urat lehernya tampak menonjol seperti akar pohon beringin tua."Kau bodoh, Darren! Bodoh! Benar-benar bodoh!" bentak Gabriel, suaranya menggelegar sampai dinding-dinding kayu di ruangan itu seakan ikut bergetar. Dia membanting dokumen laporan skorsing Darren ke meja mahoni yang mengilap, menghasilkan suara 'BRAK!' keras yang cukup untuk membuat jantung Riana melompat. Laporannya tercecer, kertas-kertas berserakan menampilkan tulisan tebal "SANKSI SKORSING" dan beberapa cap merah yang tak bisa salah
Udara di ruang pribadi rumah sakit terasa pengap dan menusuk, seolah membekukan setiap tarikan napas Lidya. Jantungnya bergemuruh hebat, berteriak menentang takdir pahit yang baru saja dijatuhkan padanya. Lidya merasakan semua bebannya tumpah di satu titik. Tetesan air matanya jatuh tak terbendung, bukan lagi karena sakit pasca-melahirkan, tapi karena kekalahan telak yang meremukkan jiwanya. Keputusan pahit ini, yang terus menerus ditekankan oleh tatapan tajam Kanaya dan desakan tak langsung dari Bima – lewat ancaman somasi DNA serta skandal yang siap mengancam nama besar keluarga Adnyana – akhirnya menghancurkan semua pertahanan dirinya.Ia menunduk, matanya menatap wajah mungil Nayara yang pulas di pangkuannya. Bayi tak berdosa itu tampak begitu damai, sama sekali tak tahu betapa kejam dan rumitnya dunia yang menyambutnya. Dengan tangan yang terasa dingin, gemetar hebat, Lidya perlahan mengangkat Nayara. Hatinya menjerit, tapi suaranya tak mampu keluar. Ia melirik Bima yang berdiri
Suasana di ruang perawatan bayi itu tadi hangatnya bukan main. Ada tawa, senyum simpul melihat Nayara yang terlelap pulas, dan kelegaan bercampur haru yang membungkus. Namun, semua itu langsung lenyap, menguap entah ke mana, seketika dokter Asri membuka suara dengan nada khawatir yang justru memicu. Seketika juga, ruangan yang tadi bak surga kecil itu berubah jadi medan perang dingin, sunyi tapi penuh ancaman. Kanaya Mahawira, yang sedari tadi menunjukkan wajah “mama muda bahagia”, kini menarik napas panjang, sorot matanya yang indah itu berubah tajam, menatap Bima Adnyana dengan tatapan yang sama sekali tidak bersahabat. Otoritasnya sedang ditantang habis-habisan, dan ia tidak suka. Sama sekali tidak.“Dokter Bima Adnyana, coba jangan paksa aku melakukan hal yang nanti akan kita sesali bersama,” ujar Kanaya, nadanya rendah, jauh dari santai, tapi entah kenapa justru terasa penuh ancaman. Setiap suku kata yang keluar dari bibirnya seolah mengandung janji pahit yang bisa sewaktu-waktu
Badai skandal seputar Darren dan Surya, yang sebelumnya bikin Cendikia Medika geger seolah tak ada habisnya, kini mereda juga. Gosip pertunangan Alvin, yang sempat jadi perbincangan hangat, juga mulai surut. Sekarang, semua mata di rumah sakit megah itu tertuju pada satu tempat: ruang bersalin. Suasana yang tadinya penuh intrik mendadak berubah menjadi khusyuk. Sebuah kabar bahagia hadir di tengah kekisruhan ini: Nayara, bayi perempuan mungil dan cantik jelita, akhirnya lahir ke dunia. Rambutnya hitam legam, hidungnya mancung kecil, dan bibirnya merah tipis—persis seperti perpaduan sempurna antara Lidya dan Alvin.Namun, di ruangan VIP bersalin yang terang benderang itu, momen seharusnya penuh sukacita ini justru terasa dingin dan tegang. Kelahiran Nayara, alih-alih menyatukan, malah memicu polemik baru yang jauh lebih tajam dan menyakitkan antara Bima, Lidya, dan Alvin. Ini bukan soal perayaan, melainkan tentang kepemilikan.Di depan boks bayi kaca yang berisi Nayara yang terlelap te
Kediaman keluarga Mahawira malam itu benar-benar disulap jadi istana negeri dongeng. Bukan dongeng yang manis, melainkan yang penuh ironi, setidaknya di mata Lidya. Karpet merah beludru terhampar megah dari pintu masuk sampai ke aula utama, dihiasi dengan lampu kristal yang memantulkan gemerlap mewah, menciptakan siluet berkilauan yang menusuk mata. Tapi kemewahan ini terasa menyesakkan, mencekik setiap denyutan jantung Lidya yang sejak tadi berdetak tak keruan. Ini adalah pesta pertunangan Alvin dan Nana Lidwina, yang digelar dengan gegap gempita, dihadiri jajaran petinggi kedokteran, pengusaha kakap, sampai selebriti Ibu Kota. Dunia berputar, dan dia ada di tengah pusarannya.Lidya mematung di sudut ruangan, jauh dari keramaian tapi cukup dekat untuk melihat panggung kecil di tengah aula. Gelas jus dingin digenggamnya erat-erat, sampai jari-jarinya memutih, gemetar tak terkendali. Di sana, di atas panggung, Alvin berdiri. Jas hitamnya gagah, senyumnya terkembang ke arah para tamu. D







