Home / Romansa / Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku / Bab 34 Kegalauan Riris dan Wulan

Share

Bab 34 Kegalauan Riris dan Wulan

Author: Alexa Ayang
last update Last Updated: 2025-10-14 22:59:06

Wulan menyipitkan mata, tatapannya menyalang lurus ke Riris di seberangnya. Sofa yang baru saja diduduki tadi rasanya langsung lembek dan berbau busuk entah kenapa. Mungkin ilusi optik karena jijik yang membuncah dari relung hatinya.

"Sial banget," desah Wulan, suaranya mengandung campuran kekesalan, jijik, dan sedikit histrionik yang dibuat-buat, "Kenapa bisa kita terjebak dengan pria-pria buaya darat itu? Kupikir ini hanya akan jadi penderitaan Lidia. Ternyata kita semua kena azab dan kutukan kaktus gatal."

Riris membalas pandangan Wulan, mata indahnya kini memerah dan terasa berat, bukan karena air mata tapi mungkin karena sering melotot menahan amarah sejak mendengar berita terlarang itu. Jemarinya mencengkeram remote TV seolah itu adalah leher Gerald yang siap diakhiri.

"Aku juga nggak nyangka Gerald akan sejahat itu padaku," kata Riris, suaranya lirih namun penuh nada ancaman yang menakutkan, seperti kucing anggora yang tiba-tiba menemukan taring macan. "Padahal kita ini sama-sa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 228: Sisi Gelap Kesetiaan

    Di dalam villa yang sunyi, di antara rintik gerimis yang membasahi jendela kaca dan selubung kabut yang merangkul lereng Puncak, waktu seakan membeku dalam kehampaan yang ironis. Alvin dan Lidya, tak terpisahkan dalam dekapan momen yang membebaskan, tenggelam dalam ciuman yang membara. Bukan sekadar sentuhan bibir, melainkan pelepasan segala rindu yang tertimbun, rahasia yang terbelenggu, dan kerentanan yang akhirnya diizinkan untuk terungkap. Sensasi hangat nan memabukkan itu menjadi titik kulminasi dari pengakuan yang pahit, namun jujur, yang baru saja mereka bagi. Dalam kebisuan yang disela oleh deru napas yang memburu, ikatan yang telah lama tertunda seintens itu kini mendapatkan jedanya.Namun, kedamaian fana itu hancur berantakan dalam sekejap. Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang semakin mendekat dari halaman depan villa merobek kesunyian. Deruman berat itu bergeser dari samar-samar menjadi kian nyata, seolah mendekap mereka dalam kepanikan yang terpaksa.Lidy

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 227: Kebenaran di Balik Kabut Puncak

    Gejolak di dada Alvin rasanya sudah tidak bisa lagi ia tahan. Setiap embusan napas Lidya yang lewat di dekatnya seperti jeritan yang memanggil nama masa lalu, nama yang selama ini mati-matian ia kubur dalam-dalam. Melihat Lidya melangkah santai menuju kasir di supermarket itu, seolah semua baik-baik saja, memicu sesuatu dalam dirinya. Cukup sudah. Drama ini harus segera diakhiri. Bukan begini caranya hidup disiksa, memendam semuanya sendiri.Tanpa pikir panjang, Alvin langsung menyambar langkah Lidya. Gerakannya cepat, sigap, dan penuh determinasi. "Lidya!" panggilnya, suaranya tercekat oleh emosi yang membuncah.Lidya berbalik, raut terkejut jelas terukir di wajahnya. Sebelum sempat mengucapkan sepatah kata pun, Alvin sudah mencengkeram lengannya dengan sedikit paksa—tidak menyakiti, tapi cukup untuk mengirim pesan agar Lidya tak lagi melawan. Ia menarik Lidya, membawanya dengan cepat keluar dari keramaian supermarket, melewati lorong-lorong mal yang padat, dan

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 226: Jarak yang Tak Terjangkau

    Pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat siang itu cukup ramai, hiruk-pikuk suara langkah kaki dan obrolan menyatu dalam orkestra kota yang tak pernah tidur. Namun, di sudut baby shop yang tenang, dikelilingi warna-warna pastel yang menenangkan, Lidya sedang asyik memilih pakaian bayi dengan sentuhan netral. Sebuah setelan berbahan katun lembut berwarna krem dengan bordiran beruang kecil menarik perhatiannya. Tangannya meraba halus kain itu, sesekali membayangkan seperti apa rasanya jika suatu hari nanti, jemari mungil anaknya akan menggenggamnya. Tanpa Bima yang sedang berjibaku dengan restrukturisasi besar-besaran di Cendikia Medika, Lidya mencoba menikmati waktunya sendiri—sebuah pelarian kecil yang langka dari ketegangan rumah tangga yang belum juga usai, dan hiruk-pikuk rumah sakit yang selalu terasa melelahkan. Dia hanya ingin fokus pada sesuatu yang sederhana, yang penuh harapan.Sementara itu, di sebuah kafe butik yang letaknya persis berseberangan dengan toko perlengkapan bayi ter

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 225: Aliansi Para Pembangkang

    Darren Wisesa bukan tipe yang mudah terpancing emosi, apalagi sampai meledak-ledak di depan umum seperti yang dulu sering Kevin lakukan. Kevin itu terlalu frontal, terlalu gampang ditebak. Sementara Darren? Ia lebih suka jadi pemangsa yang bersembunyi di kegelapan, mengamati setiap celah dan kelemahan sebelum melancarkan serangan mematikan. Sekarang, walaupun resminya ia menduduki kursi Direktur Operasional Lapangan Cendikia Medika, ia tahu persis kalau tanpa sekutu yang kuat di tingkat staf eksekutif, posisinya itu cuma pajangan. Selembar sertifikat fancy di tengah kepungan orang-orangnya Bima Adnyana. Omong kosong namanya.Sore itu, aroma kopi Arabika menyeruak dari sebuah kafe tersembunyi, jauh dari hingar-bingar pusat Cendikia Medika yang penuh intrik. Tempatnya remang-remang, pas untuk percakapan yang sebaiknya tidak didengar orang lain. Darren duduk tenang di salah satu sudut, matanya memicing menatap dua sosok di hadapannya: Surya Baskara Hardiwan, kepala komite medis

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 224: Amputasi Kekuasaan

    Ruang rapat utama Cendikia Medika Pusat pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, meski pendingin ruangan sudah disetel standar. Aura persaingan begitu kental, seperti pisau tajam yang diselipkan di balik jas-jas rapi. Di satu sisi meja besar berbahan kayu jati yang dipoles mengkilap, Gabriel Wisesa duduk dengan ekspresi kaku, ditemani oleh Rudolf Susanto. Rudolf ini tampak percaya diri luar biasa, dengan tumpukan dokumen tebal di depannya seolah dia sudah memegang semua kartu. Sementara itu, di sisi lain meja, Bima dan Alvin duduk berdampingan, rileks tapi waspada, dikawal oleh pengacara handal mereka, Bramantyo, seorang pria dengan kacamata bingkai tipis dan senyum sopan yang bisa menyembunyikan rencana sebrilian penemuan roda.Bima, dengan tenang seorang ahli bedah yang sudah terbiasa memegang nyawa di ujung pisau, membuka persidangan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) itu. Setelah basa-basi formalitas dan penyesuaian agenda yang diucapkannya seperti melafalka

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 223: Catur Kekuasaan dan Hati

    Perjalanan pulang dari Purwokerto menuju Jakarta terasa seperti medan perang batin bagi Bima. Di satu sisi, tawaran "damai" dari Gabriel Wisesa via telepon barusan memang terdengar menarik, laporannya terkait penganiayaan Kevin akan dicabut, kasus selesai. Tapi di sisi lain, tawaran itu datang dengan harga yang setara: ia harus membiarkan Darren Wisesa, anak sulung Gabriel yang ia tahu persis betapa liciknya, masuk ke jantung pertahanan Cendikia Medika. Itu seperti menyerahkan kunci lemari besi pada seorang maling potensial. Bima memegang kemudi mobil, sementara Lidya tertidur lelap di kursi penumpang, napasnya teratur dan damai, kontras sekali dengan gejolak dalam benak Bima. Ini semua untuk Cendikia Medika, ini semua untuk Lidya, gumamnya dalam hati.Setibanya di Jakarta, Bima sama sekali tidak memutar kemudi ke arah kompleks perumahan Adnyana. Waktu mereka sudah terlalu mepet, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tinggal sehari lagi, dan masih banyak yang perlu dimatangkan. Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status