MasukDamian melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam rumah sakit, lorong demi lorong ia lewati dan suasana terasa mencekam saat Damian berjalan.Di belakangnya ada David yang setia menemani, kali ini perasaannya juga tidak tenang. Ia kepikiran dengan Crystal, tidak biasanya wanita itu mengabaikan telepon darinya.Keduanya memasuki lift, tidak ada yang berbicara satu pun. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing hingga Damian dan David keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Jessica.Melihat pengawalnya yang tertidur Damian murka, ada sesuatu yang tidak beres sudah terjadi.“Sialan! Bangun kalian semua!” teriak Damian menggelegar menendang kaki semua pengawalnya dengan keras.Pengawal yang tadinya tertidur, perlahan membuka mata mereka walaupun yang terjadi adalah kepala mereka yang berdenyut sakit.“Apa yang terjadi, hah? Kenapa kalian bisa tertidur seperti ini? Kalian saya pekerjaan untuk menjaga istri dan anak saya!”“M-maaf, Tuan. K-kami tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kami b
Aaron membuka masker yang menutupi wajahnya, pria itu berpakaian seperti dokter untuk masuk ke ruangan Jessica karena ia tahu tidak akan semudah itu masuk ke ruangan ini.Seringaiannya terlihat begitu menyeramkan, Jessica meremas pakaiannya dengan cemas.Sedangkan Crystal menatap bingung ke arah pria yang sama sekali tidak ia kenal.Dan ekspresi Aland menunjukkan kebencian yang luar biasa, menatap tajam ke arah pria yang dulunya sudah ia anggap papanya sendiri.“O-om kenapa bisa ke sini?” tanya Aland berlari ke arah mamanya, mencoba melindungi mamanya dengan tubuhnya yang kecil.Aaron terkekeh lalu tak lama ekspresi wajahnya berubah drastis menatap Aland dengan pandangan kecewa yang mendalam.“Kamu melupakan Daddy, Aland?!” ujar Aaron dengan suara yang dingin dan menyeramkan.“Om bukan Daddyku! Aku gak pernah mempunyai Daddy yang jahat seperti Om!” ucap Aland dengan lantang.Ucapan Aland semakin memancing emosi Aaron. Ia berjalan mendekat ke arah anak itu tetapi dengan sigap Crystal m
Adithama, terutama Kirana syok melihat kedatangan Damian ke rumah ini. Damian tidak pernah menginjakkan kaki ke rumah utama sudah sangat lama dan kali ini kenapa pria dingin itu bisa datang di saat yang tidak tepat.“Papa tidak boleh egois ada bagian saya di sini,” celetuk Damian menatap Kirana datar.Adithama menghela napasnya, lalu tersenyum karena akhirnya anak semata wayangnya datang juga.“Kamu ingin mendapatkan bagian itu, Damian? Silahkan saja Papa tidak akan melarangnya. Asalkan wanita licik ini tidak mati dengan mudah,” balas Adithama dengan tenang.Bola mata Kirana bergerak gelisah menatap Adithama dan Damian secara bergantian.Kirana merinding, tatapan Damian lebih mengerikan dibandingkan dengan tatapan Adithama.Damian berjalan mendekati Kirana yang masih berada di gendongan Deon.“Turunkan Kirana, Deon. Saya harus memberikan pelajaran yang tidak akan pernah terlupakan oleh wanita licik ini,” perintah Damian dengan tenang tetapi tatapannya tidak beralih pada Kirana yang se
Teriakan kesakitan Kirana sama sekali tidak didengar oleh Adithama. Pria tua itu menendang kaki Kirana dengan kencang, dendamnya begitu memburu teringat senyuman Maria yang begitu manis kala itu.“M-mas ampun!” teriak Kirana dengan kencang ketika ia dijambak begitu kuat oleh Adithama hingga wajahnya mendongak karena kesakitan.Adithama kembali seperti dulu, pria yang tidak kenal ampun dengan lawannya. Kesakitan Maria, tangisan wanita, hembusan napas terakhir wanita itu terekam jelas di ingatannya.Darahnya mendidih, tendangannya kepada Kirana tak mampu lagi membendung segala amarah yang menumpuk di dalam dada selama puluhan tahun lamanya.“Ini belum seberapa dibandingkan dengan kesakitan yang Maria dan Damian rasakan. Kamu tahu Kirana, dulu Maria adalah wanita yang sangat tulus menolongmu di saat kamu tidak punya apa-apa. Tetapi apa yang terjadi? Kamu mengambil kebahagiaan yang dia punya hingga di ujung usianya. Kamu wanita licik yang tidak tahu diri, rubah pengkhianat yang tidak pant
Adithama menatap Kirana dengan sangat tajam, ia berjalan mendekati wanita itu dengan perlahan hingga Kirana mundur dengan perlahan, menelan ludahnya dengan kasar, ekspresinya terlihat begitu panik.“M-mas kamu mau apa?” tanya Kirana dengan waspada.Adithama menyeringai sinis melihat wajah panik Kirana. Hingga tubuh wanita itu membentur tembok, tangan Adithama langsung mencekik leher Kirana dengan kuat hingga wanita itu kesulitan bernapas.“M-mas lepas! K-kamu gila ya!” ucap Kirana mencoba bersuara walaupun suaranya sangat sulit untuk ia keluarkan.“Wanita brengsek! Saya sudah mencurigai kamu sejak lama ternyata benar kamu adalah dalang di balik kematian Maria,” ucap Adithama dengan tajam.Mendengar itu Kirana sangat terkejut, ia mencoba untuk bersuara tetapi cekikan Adithama kepadanya semakin kuat.“Uhuk…uhuk… A-apa yang kamu katakan, Mas? L-lepaskan aku!” ucap Kirana mencoba menyangkal, wajahnya memerah, pasokan udaranya kian menipis.Lehernya terasa sakit, dengan sekuat tenaga Kiran
“Tuan, Nyonya Jessica mengalami preeklampsia ringan seperti dugaan saya sebelumnya. Tetapi anda tidak perlu khawatir, saya akan terus memantau keadaan Nyonya Jessica dan kedua anak yang ada di dalam kandungannya.”Damian sama sekali belum tenang ketika belum melihat keadaan istrinya.“Lakukan yang terbaik untuk istri dan kedua anak saya, Dok.”“Tentu saja, Tuan. Jika dalam seminggu ini tidak ada perubahan maka jalan satu-satunya operasi Caesar dilakukan lebih cepat dari jadwal kita yang sebelumnya. Untuk sekarang Nyonya Jessica harus dirawat dulu di rumah sakit karena jika dirawat di rumah saya takut penanganan yang saya berikan tidak maksimal,” Crystal menjelaskan dengan nada yang begitu tenang.Wanita itu menatap prihatin ke arah Damian. Lalu menatap ke arah Aland yang masih terlihat begitu sembab.Crystal mengusap kepala anak itu dengan sayang. “Jangan nangis, Mama dan kedua adik kamu pasti baik-baik saja. Mereka orang-orang yang kuat,” bujuk Crystal menenangkan Aland.“Iya, Tante







