Share

Bab 61

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2026-09-06 14:49:46

"Kesasar?" Pria paruh baya bertubuh gempal yang memimpin rombongan warga itu menyipitkan mata. Ia memandangi Maman, Togel, dan Ririn dari ujung kepala sampai kaki.

"Jangan membual di hadapan kami, anak muda. Tidak ada orang waras yang sengaja datang ke Watu Lemah lewat jalur magrib kecuali mereka punya niat buruk atau sedang mencari maut."

Maman tersenyum tipis, berusaha tetap tenang meski aura di sekitar mereka terasa semakin dingin mencekam.

"Wah, bapak ini judes banget. Kita beneran cuma num
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 61

    "Kesasar?" Pria paruh baya bertubuh gempal yang memimpin rombongan warga itu menyipitkan mata. Ia memandangi Maman, Togel, dan Ririn dari ujung kepala sampai kaki."Jangan membual di hadapan kami, anak muda. Tidak ada orang waras yang sengaja datang ke Watu Lemah lewat jalur magrib kecuali mereka punya niat buruk atau sedang mencari maut."Maman tersenyum tipis, berusaha tetap tenang meski aura di sekitar mereka terasa semakin dingin mencekam."Wah, bapak ini judes banget. Kita beneran cuma numpang lewat kok, Pak. Kalau boleh tahu, ada penginapan atau rumah warga di sini yang bisa dipinjam buat berteduh malam ini? Di luar mau hujan badai."Pria itu mendengus sinis."Di desa ini tidak ada penginapan! Dan aturan adat kami melarang orang asing berkeliaran setelah matahari tenggelam. Cepat putar balik kendaraan kalian sebelum para tetua desa keluar!""Dih, galak amat kayak penagih utang koperasi," celetuk Togel spontan dari belakang Maman, lalu langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat p

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 60

    Mereka bertiga berdiri di trotoar jalanan kota yang cukup padat, dikelilingi oleh bisingnya suara knalpot angkutan umum dan pedagang kaki lima yang berteriak menawarkan dagangan. Udara siang terasa panas, jauh berbeda dengan suasana di dalam kios kakek tua misterius tadi yang mendadak dingin dan penuh aroma dupa.Togel meneguk air mineral dari botol plastik kecil yang baru saja ia beli di warung sebelah, lalu menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju."Sumpah, Man, gua merinding tadi di dalam. Itu kakek-kakek beneran cenayang apa cuma dukun beranak sih? Serem banget gayanya."Maman tidak langsung menanggapi ocehan Togel. Ia masih meresapi setiap kata yang diucapkan kakek tua itu di dalam kepalanya.Desa Watu Lemah, sumur tua berkeramat, malam jumat kliwon, dan syarat gadis perawan berdarah khusus. Semua petunjuk itu saling berkaitan dengan aturan koin yang selama ini ia jalani."Bukan dukun beranak, Gel. Orang tua itu tahu persis apa yang lagi gua cari," jawab Maman serius.Ia m

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 59

    Maman menyipitkan matanya, menatap tajam sang kakek tua di balik meja berdebu itu dengan sorot mata menyelidik."Kakek tahu soal koin itu dari mana?" tanya Maman dengan suara rendah namun tegas. "Jangan coba-coba mempermainkan saya dengan cerita mistis murahan."Kakek tua itu terkekeh pelan. Ia meraba permukaan meja kayunya, lalu mengangkat sebuah lentera minyak antik yang apinya berpendar kemerahan, menyinari kerutan di wajahnya yang sudah dimakan usia."Anak muda, kau pikir koin-koin peninggalan leluhur itu memilih sembarang orang untuk dijadikan pewaris?" jawab kakek itu tenang sambil tersenyum misterius. "Kau membawa dua koin di dalam telapak tangan kananmu, dan auranya begitu pekat mencium bau logam kuno yang kusimpan di sudut ruangan ini. Jangan remehkan apa yang tidak kau ketahui."Maman terdiam sejenak. Ia teringat kembali pada aturan dasar yang kini menguasai seluruh jalan hidupnya. Dua koin telah menyatu sempurna di dalam tubuhnya.Dan kini, koin ketiga yang konon menyimpan

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 58

    Di samping Juragan Surya, sang pengacara paruh baya berjas rapi membuka map kulit hitamnya. Ia mengeluarkan selembar dokumen resmi bermeterai dengan cap instansi yang terlihat sangat meyakinkan."Tuan Maman," ucap sang pengacara dengan suara formal yang dibuat-buat agar terdengar mengintimidasi. "Berdasarkan akta hibah lama dan klaim perluasan wilayah administratif yang telah disahkan oleh pihak kecamatan, tanah seluas dua ribu meter persegi beserta bangunan rumah yang Anda tempati saat ini secara sah masuk ke dalam hak guna usaha milik klien kami, Juragan Surya. Anda diberi waktu dua menit untuk membubuhkan tanda tangan di atas surat pelepasan hak ini, atau kami akan langsung menurunkan petugas eksekusi siang ini juga."Tiga orang pengawal berbadan tegap dan seorang kepala desa yang berdiri di belakang Juragan Surya langsung maju selangkah, memberikan tekanan psikologis yang telak. Kepala desa yang tampak gelisah itu hanya bisa menundukkan kepala, menghindari tatapan langsung dari Ma

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 57

    Maman berdiri tegak di teras rumahnya, kedua tangannya masih tersimpan santai di dalam saku celana.Tiba-tiba, suara getaran ponsel di saku celananya membuyarkan lamunan Maman.Ia merogoh benda pipih tersebut dan mendapati sebuah panggilan video masuk dari Ririn. Tanpa buang waktu, Maman langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu.Wajah cemas Ririn langsung memenuhi layar ponsel. Gadis berambut sebahu itu tampak berada di kamarnya, mengenakan baju tidur tipis berwarna merah muda yang memperlihatkan garis lehernya yang jenjang dan menggoda."Man... kamu beneran nggak apa-apa?" sambut Ririn langsung dengan nada panik tanpa basa-basi. "Tadi sore aku dengar kabar dari tetangga kalau Juragan Surya datang bawa pengawal ke rumah kamu! Sumpah, aku langsung deg-degan setengah mati mikirin kamu!"Maman tersenyum hangat, mencoba meredakan kepanikan kekasih barunya itu lewat tatapan matanya yang menenangkan."Tenang dulu, Ririn sayang. Tarik napas yang dalam. Aku berdiri di sini

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 56

    Ririn bersandar dengan punggung menempel pada tumpukan kardus mi instan, kedua tangannya masih melingkar erat di leher Maman.Pipi putih gadis itu merona merah, matanya sayup-sayup menatap Maman dengan binar penuh penyerahan diri yang telak."Man... kamu ini bener-bener ya..." bisik Ririn dengan suara serak, napasnya masih terengah-engah. "Bikin aku gila tiap kali deket-deket sama kamu. Kalau bibi tiba-tiba buka pintu gudang ini gimana?"Maman menyeringai tipis, sebelah tangannya dengan nakal masih meraba pinggang ramping Ririn, sementara ibu jari tangannya mengusap bibir mungil gadis itu yang tampak bengkak dan basah akibat ciuman panas mereka."Bibi kamu lagi sibuk melayani pembeli di depan, Rin. Lagian, pintu gudang ini kan dikunci dari dalam," bisik Maman menggoda, mendekatkan kembali wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Mana mungkin aku bisa tahan kalau di depan aku ada bidadari secantik ini?""Ih, gombal mulu kerjanya!" sungut Ririn manja, mencubit pelan pinggang M

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status