LOGINNew Variety Show
Title: The Adventures of Three Travelers in a Mysterious Village Cast: 1. Rajendra Bimasena — Actor 2. Javas Maheswara — Idol “Harmonix” 3. Dimas Dewananda — Singer — Solois --- Rajen mengacak rambutnya dengan frustrasi begitu tiba di apartemen. Hari itu menjadi pertama kalinya Gina menginjakkan kaki di tempat tinggalnya. Namun, bukannya menikmati kesempatan tersebut, Gina justru duduk santai di sofa empuk sambil memperhatikan Rajen yang tengah merobek proposal variety show di hadapannya. Gina sama sekali tidak panik. Ia sudah menyimpan soft file proposal tersebut, jadi tinggal mencetak ulang saja. "Kenapa lo mulai seenaknya begini? Kenapa nggak bilang dulu sama gue?" Rajen berjalan mondar-mandir. Wajahnya terlihat kesal, tetapi Gina sudah terlalu terbiasa melihat ekspresi itu untuk merasa gentar. "Sebagai manajer yang baik, gue cuma mau bantu karier lo berkembang." Gina menaikkan kedua alisnya. "Mumpung Pak Sony suka sama lo, kenapa nggak diambil?" "Lo sadar diri, dong. Lo itu cuma manajer gue." "Ya, gue tahu." Gina menyandarkan punggungnya dengan santai. "Emangnya selama ini lo nganggep gue istri? Atau emak lo, gitu?" Rajen terdiam. "Terus, gue bukan mau ngatur hidup lo. Gue cuma mau bikin lo berubah." "Berubah gimana? Berubah jadi Power Ranger?" Gina terkekeh. "Siapa tahu setelah syuting lo jadi lebih baik. Biar nggak cuma kelihatan baik di depan kamera." Ucapan itu membuat Rajen menghela napas panjang. Ia paling tidak suka ketika Gina membicarakan sisi dirinya yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya. Terlebih karena wanita itu selalu mengatakannya dengan santai, seolah-olah sifat buruk Rajen bukan sesuatu yang perlu ditakuti. "Lo tahu kelemahan gue, kan? Gue nggak suka tempat kotor." "Terus?" Rajen menunjuk proposal yang sudah berserakan di lantai. "Lo malah menyetujui syuting di desa yang terpencil kayak gini." Gina mengangkat bahu. "Ya memang, biar seru." "Seru dari mana?" "Anggap proyek ini jadi pengalaman hidup buat lo." Rajen menatapnya tidak percaya. Kadang-kadang ia benar-benar bertanya-tanya bagaimana wanita seperti Gina bisa menjadi manajernya selama hampir setengah tahun tanpa kehilangan kesabaran. Namun, sebelum perdebatan mereka semakin panjang, Rajen menyadari sesuatu. Gina tadi terlihat terlalu santai. "Jujur. Lo memang sengaja milih proyek ini, kan?" Senyum Gina perlahan muncul. "Mungkin." Rajen mengembuskan napas. "Lo sengaja mau bikin gue malu di depan kamera, kan?" "Enggak." "Terus?" "Gue cuma penasaran. Seberapa lama image sempurna lo bisa bertahan kalau harus tinggal sebulan di desa." Rajen memicingkan mata. Ia sudah bisa membayangkan berbagai kemungkinan buruk. Seperti harus melihat kubangan lumpur, berada di kamar mandi yang tidak higienis, bertemu banyak serangga, hingga memakan makanan yang tidak jelas kebersihannya. Semuanya adalah hal yang paling dibencinya. Namun, ada satu hal yang membuat Rajen akhirnya menyerah. "Oke, gue bakal ngambil proyek ini." Gina mengerjapkan mata. "Serius?" "Daripada gue terlihat seperti pengecut." Rajen mengambil kembali jasnya. "Tapi ada satu syarat." Gina langsung curiga. "Syarat?" "Lo wajib ikut gue." Gina menunjuk dirinya sendiri. "Lah, gue?" "Ya, siapa lagi?" Rajen menatapnya datar. "Kan lo manager gue. Kalau lo nggak ikut, gue batal." Gina merasa kesal. "Kenapa jadi gue yang harus repot?" "Karena lo yang bikin gue masuk ke proyek ini." Rajen berjalan menuju pintu, kemudian berhenti sebentar. "Dan jangan bilang kalau gue nggak pernah kasih lo pilihan. Gue selalu ngasih lo pilihan." Gina memandang punggungnya. "Pilihan apaan?" "Ikut gue atau ikut gue." Pintu apartemen tertutup. Gina mendengus. "Dasar sinting." --- Keesokan harinya, Gina sudah berada di lokasi press conference. Lampu sorot memenuhi ruangan. Puluhan wartawan duduk dengan kamera yang siap mengabadikan setiap momen. Pak Sony kemudian naik ke panggung dan memperkenalkan proyek terbaru mereka. The Adventures of Three Travelers in a Mysterious Village. Konsepnya sederhana, tetapi cukup menarik. Tiga selebritas dengan latar belakang berbeda akan tinggal di sebuah desa terpencil selama kurang lebih satu bulan untuk menjalani berbagai tantangan. Rajen sebagai aktor, Javas Maheswara sebagai idol dari grup Harmonix, dan Dimas Dewananda sebagai solois. Ketiganya berada di bawah agensi yang sama, tetapi belum pernah benar-benar bekerja bersama. Ketika ketiga pria itu naik ke panggung, suara kamera langsung terdengar bertubi-tubi. Rajen tersenyum ramah. Javas menunjukkan senyum manis yang membuat beberapa wartawan ikut tersenyum. Sementara Dimas tampil lebih tenang dengan senyum berwibawa. Gina yang berdiri di belakang panggung ikut tersenyum. Namun, alasannya jelas bukan karena Rajen. "Javas senyumnya manis banget. Dimas juga kelihatan berwibawa. Kalau Rajen? Halah, senyum palsu." Gina hampir terkekeh sendiri. Selama acara berlangsung, Gina beberapa kali mencuri pandang kepada dua artis baru tersebut. Syuting akan berlangsung cukup lama. Siapa tahu salah satunya cocok menjadi teman baru, atau mungkin... Jodoh? Gina buru-buru membuang pikiran itu. Setidaknya, Rajen sudah pasti dicoret dari daftar. Pria sombong dan gengsian seperti dirinya jelas bukan tipe Gina. "Lo lagi ngomongin Rajen, ya?" Suara dari samping membuat Gina tersentak. Ia menoleh dan melihat Juna berdiri di sana sambil tersenyum. "Lah, lo ngapain di sini?" "Penasaran sama acaranya." Juna melirik panggung sebentar. "Terus gue yakin lo pasti ada di sini." Gina terkekeh. "Ya, namanya juga lagi kerja." Juna kemudian mendekat sedikit. "Mau ngobrol di luar? Mumpung acaranya baru dimulai." Gina sempat melirik ke arah wartawan sebelum mengangguk. Mereka berjalan meninggalkan ruangan bersama. Namun, tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengikuti kepergian mereka. Senyumnya masih terpasang sempurna di depan kamera. Tetapi tangannya perlahan mengepal di atas meja. Dimas yang duduk di sebelahnya sempat melirik heran. "Lo kenapa?" Rajen segera mengendurkan tangannya. "Nggak kenapa-kenapa." Namun, matanya masih tertuju pada pintu yang baru saja dilewati Gina. Untuk pertama kalinya, Rajen menyadari satu hal yang membuatnya sendiri merasa kesal. Ia tidak suka melihat Gina pergi bersama Juna. Dan yang lebih menyebalkan—ia tidak tahu kenapa.Rajen menatap Gina dengan ekspresi tidak percaya. Tangannya bahkan refleks menyentuh bagian belakang kepalanya yang sejak tadi terasa nyeri. "Lo semalam mukul gue?! Gila lo!" Gina menundukkan wajahnya sedikit. Ia merasa bersalah, tetapi tetap berusaha menjelaskan kejadian tersebut. "Ya. Lo ngetuk-ngetuk pintu apartemen gue kayak hantu." Nada suaranya mengecil. "Gue juga takutnya ada orang cabul, psikopat, atau pembunuh. Ya udah, gue bawa wajan aja buat alat perlindungan diri." Gina menggaruk pelipisnya. "Untung gue nggak bawa pisau. Kalau pisau yang gue bawa, lo pasti udah gue tusuk." Rajen terdiam. Ia kembali memegangi kepalanya yang terasa sakit. "Sialan! Pantes kepala gue sakit banget." Gina hanya meringis kecil. "Sorry, namanya juga refleks." Untuk beberapa saat, suasana kembali hening. Gina memperhatikan Rajen yang kembali menyantap supnya. Wajah lelaki itu masih terlihat lelah, tetapi kali ini ekspresinya tidak sekaku biasanya. "Lo beneran lagi nggak ada masalah, kan?" t
Rajen mengerang sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit. Ia berusaha membuka kedua matanya karena sayup-sayup terdengar suara lagu yang diputar sangat keras."Ini gue masih di bar? Kayaknya gue mabuk banget sampai nggak ingat apa-apa", batinnya bingung.Rajen perlahan bangkit dari karpet bulu yang menjadi alas tidurnya sejak semalam. Ia mengucek kedua matanya sembari berusaha mengingat kejadian setelah dirinya mabuk. Namun, semakin ia mencoba mengingat, kepalanya justru terasa semakin pusing. Dengan tubuh yang masih sempoyongan, Rajen berusaha berdiri sambil berpegangan pada sofa. Ia kemudian berjalan terhuyung-huyung mencari toilet karena rasa mual di perutnya semakin menjadi."Oh, lo udah sadar?" tanya Gina santai dari tempat duduknya. Ia melirik Rajen yang berjalan seperti orang kehilangan arah. "Mau muntah? Itu toiletnya ada di ujung."Rajen yang belum mampu berpikir jernih hanya mengangguk. Ia segera mempercepat langkahnya menuju toilet karena sudah tidak tahan ingin memunta
Gina membelalakkan matanya, tak menyangka Rajen akan mengatakan sesuatu yang sangat frontal. "Hah? Lo mau nginep di apartemen gue? Lo gak lagi kesambet, kan?" "Gue masih sadar kok ini. Gimana, boleh?" "Stress! Ini makanan lo, terus lo balik ke apartemen lo lagi sebelum gue digrebek fans lo." Ia menyodorkan bungkusan makanan yang dibawanya. Namun Rajen hanya diam, membuat Gina kehilangan kesabaran. Bungkusan itu pun dilempar begitu saja ke arah Rajen. Rajen tersentak dan hampir saja memarahi Gina. Namun, perempuan itu sudah lebih dulu masuk dan menutup pintu apartemennya. Rajen memandang pintu tersebut cukup lama. “Cuma lo yang berani bersikap kayak gini ke gue.” Ia membungkuk mengambil bungkusan makanan tadi. “Gue kira lo sama kayak wanita lainnya di luar sana... ternyata lo beda.” Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Rajen terlihat sedikit melunak sebelum ia kembali ke apartemennya. Di dalam kamar, Gina justru merasa bersalah. Ia memang kesal kepada Rajen, tetapi buk
“Lo ngomong apa barusan? Takut kehilangan gue? Gue gak salah denger? Seorang Rajen takut kehilangan gue? Hahaha!" Rajen mendengus sebal, managernya itu tak pernah bisa diajak bicara serius sedikit saja. Ia pun langsung menjauh dari Gina sembari memalingkan wajahnya karena malu. "Gak usah dibahas lagi, gue cuma asal ngomong." "Hmm, tapi serius lo udah nggak apa-apa? Nggak perlu gue panggilin Dokter Bram?” Gina masih memperhatikan wajah Rajen dengan cemas. Ia belum pernah melihat pria itu mengalami anxiety separah tadi sampai kemejanya basah oleh keringat dingin. “Gue nggak apa-apa. Nggak usah cerewet lo kalau jadi orang.” Gina langsung mencibir. Seperti biasa. Baru saja hampir tumbang karena serangan kecemasan, masih sempat-sempatnya menyebalkan. Mereka akhirnya berada di apartemen Rajen. Gina sengaja tidak langsung meninggalkannya karena khawatir kondisinya kembali memburuk. “Lo paham, kan, anxiety itu nggak bisa sembuh secepat itu? Udah tahu lo nggak bisa berada di kerama
“Gina?” Juna membuka suara, memanfaatkan waktu senggang sebelum press conference benar-benar selesai. “Hm?” “Lo betah gitu kerja sama dia?” Gina yang sejak tadi menopang dagu hanya mengangkat bahu. Tatapannya masih tertuju pada pemandangan kota dari rooftop agensi. “Emang kenapa?” Juna menghela napas. Angin sore menerpa rambut mereka, membawa suasana yang seharusnya menenangkan. Namun, ekspresi Juna justru tampak serius. “Gue tahu dari awal lo dibabuin terus sama dia.” Gina terkekeh kecil. “Mau gimana lagi? Gue juga udah mulai terbiasa sama sikap dia.” “Kalau gitu mending lo resign.” Gina menoleh. “Terus?” “Daftar jadi pendamping hidup gue aja.” Gina langsung tertawa terbahak-bahak. Juna memasang wajah sebal. “Kok lo malah ketawa?” “Lo lucu banget, sumpah. Lo baru jadi aktor, masa mau secepat itu nikah?” “Kalau nikahnya sama lo, gue nggak masalah ngelepas karier gue.” Tawa Gina perlahan menghilang. Tatapan Juna kali ini berbeda. Tidak ada senyum jahil, tidak ada nada ber
New Variety Show Title: The Adventures of Three Travelers in a Mysterious Village Cast: 1. Rajendra Bimasena — Actor 2. Javas Maheswara — Idol “Harmonix” 3. Dimas Dewananda — Singer — Solois --- Rajen mengacak rambutnya dengan frustrasi begitu tiba di apartemen. Hari itu menjadi pertama kalinya Gina menginjakkan kaki di tempat tinggalnya. Namun, bukannya menikmati kesempatan tersebut, Gina justru duduk santai di sofa empuk sambil memperhatikan Rajen yang tengah merobek proposal variety show di hadapannya. Gina sama sekali tidak panik. Ia sudah menyimpan soft file proposal tersebut, jadi tinggal mencetak ulang saja. "Kenapa lo mulai seenaknya begini? Kenapa nggak bilang dulu sama gue?" Rajen berjalan mondar-mandir. Wajahnya terlihat kesal, tetapi Gina sudah terlalu terbiasa melihat ekspresi itu untuk merasa gentar. "Sebagai manajer yang baik, gue cuma mau bantu karier lo berkembang." Gina menaikkan kedua alisnya. "Mumpung Pak Sony suka sama lo, kenapa nggak diambil?







