LOGIN"Uhuk! Uhuk!"
Tangan Gavin masih menahan pinggang Clara saat wanita itu terbatuk kehilangan udara di paru-parunya. Clara meremas dadanya sendiri. Sialnya serangan ini selalu datang di saat ia merasa paling hancur dan sendirian. "Hei, jangan muntah di sini, Kak! Aku baru mencuci jaketku tadi sore." Suara pemuda di bawah payung itu terdengar begitu santai, seolah-olah mereka bukan sedang di pinggir jalanan kehujanan dengan nyawa Clara berada di ujung tanduk. Clara mendongak, matanya buram oleh air mata dan hujan. Ia bisa melihat seringai tipis di wajah pemuda tampan tapi terlihat berantakan itu. "In ... ha ... ler ...." desis Clara patah-patah. Tangannya meraba saku baju basahnya dengan panik. "Tidak ada inhaler di sana, Kak. Aku sudah melihatmu menggeledahnya berkali-kali tadi," ucap pemuda itu menatap Clara dengan mata yang tajam namun penuh kilat jenaka. Dada Clara seperti diikat kawat berduri. Setiap helaan napas seperti mengiris tenggorokannya. "Tarik napas. Pelan saja. Ikuti aba-abaku. Satu ... dua ...." Clara tidak menanggapi ocehan pemuda itu, wajahnya sudah sepucat kertas. "Kak!" sentaknya ringan. "Atau kau lebih suka kuberi napas buatan, heuh?" "Jangan ... bercanda!" Clara memaksakan kata-kata itu keluar, meski rasanya seperti menelan pecahan kaca. "Nah, bagus! Itu artinya kau masih mau meresponku." Ia terkekeh. Sangat kontras dengan apa yang terlihat, tangannya yang besar dan hangat justru berpindah ke punggung Clara, menepuknya dengan irama pelan dan menenangkan. "Ayo, tarik ... buang! Jangan biarkan si pengecut Sandy itu menang hanya karena kau lupa cara bernapas malam ini, Kak." Clara tersentak. "Kau ... gimana bisa tahu semua tentangku?" Pemuda itu mengabaikan pertanyaan Clara. Ia justru menyodorkan kembali sebatang cokelat kecil yang tadi ia tawarkan. "Makan ini! Gula bisa membantumu tenang. Benar kan?" Dengan tangan gemetar, Clara mengambil cokelat itu. Ia merobek bungkusnya dengan gigi dan mengunyahnya. Rasa manis yang pekat segera memenuhi indra perasa Clara, memberikan sedikit kehangatan. Perlahan, sesak di dadanya mulai mengendur. "Siapa kau sebenarnya?" tanya Clara setelah napas bisingnya mulai mereda. Ia berusaha berdiri sendiri, tapi kakinya masih terasa seperti jeli. "Hanya seseorang yang pernah ada di posisimu, Kak. Dan waktu itu ada yang mengatakan padaku bahwa cokelat bisa meredakan rasa sakit dan memberi kebahagiaan." Ia menunjukkan deretan giginya, lalu mengulurkan tangannya yang kasar ke arah Clara. "Namaku Gavin. Dan kau sepertinya butuh tempat berteduh yang tidak memiliki aroma pengkhianatan. Kau bisa mengandalkanku untuk sementara." Kepalanya miring mengunci tatapan mata Clara yang sempat goyah. Clara menatap tangan itu lalu beralih ke netra yang menyorotnya. Gurat keraguan terpancar jelas di wajah yang mulai menampakkan warnanya. "Aku tidak bisa ikut denganmu. Aku tidak mengenalmu. Aku diusir tanpa membawa apa pun." Gavin memutar bola matanya, sebuah ekspresi yang tampak sangat tidak cocok dengan tubuh tegapnya. "Ya ampun, kau tidak dengar aku sudah sebutkan namaku? Aku menolongmu karena aku suka cokelat, dan kau baru saja memakan cokelat terakhirku. Jadi, anggap saja kau berutang cokelat padaku. Dan sebagai jaminannya kau harus ikut denganku." Ia tidak menunggu persetujuan Clara. Dengan gerakan yang cepat dan tak terduga, satu tangan pemuda yang mengaku bernama Gavin itu merangkul bahunya, memaksa Clara berjalan bersama di bawah perlindungan payung hitamnya. "Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!" protes Clara, meski kenyataannya ia hampir tumbang jika tidak disangga oleh Gavin. "Jangan berisik, Clarissa," bisiknya. "Atau harus kupanggil kau dengan nama Clara?" Gavin merendahkan bibirnya tepat di telinga Clara, membuat bulu kuduknya meremang. Deg! Clara membeku. Langkahnya terhenti. "Dari mana kau tahu namaku? Semua orang hanya mengenalku sebagai Nyonya Sandy." Gavin berhenti melangkah. Ia memiringkan payungnya, membiarkan cahaya lampu jalan yang remang-remang menyinari wajahnya. Matanya yang tadi tampak tengil, kini berubah menjadi sangat gelap dan intens. "Clara adalah nama perempuan lemah yang membiarkan dirinya diinjak-injak selama tujuh tahun. Jadi kembalilah menjadi seorang Clarissa, Kak ...." Gavin menyentuh pipi Clara yang basah dengan ujung jarinya, sebuah sentuhan yang terasa seperti sengatan listrik. "Clarissa adalah gadis yang memberikan cokelatnya pada anak kecil yang menangis di taman sekolah lima belas tahun lalu. Kau lupa?" Jantung Clara berdegup kencang, kali ini bukan karena asma. Ingatan samar tentang seorang bocah laki-laki yang duduk menyendiri di bawah pohon besar tiba-tiba muncul di kepalanya. "Kau ... bocah cengeng itu?" bisik Clara tak percaya dengan ingatannya sendiri. Hal itu tampak seperti deja vu atau mungkin mimpi bagi Clara. Ia tidak begitu jelas mengingatnya. Gavin tertawa, tawa yang terdengar sangat lepas namun menyimpan sedikit kepahitan. "Aku tidak cengeng lagi sekarang, Kak. Dan aku bukan lagi anak kecil yang butuh cokelat untuk berhenti menangis. Aku kembali untuk memastikan ... bahwa orang yang menyakiti malaikat pelindungku akan membayar setiap tetes air mata ini dengan darah." Seketika, suasana di sekitar mereka berubah menjadi mencekam. Gavin yang tadi tampak seperti pemuda lusuh yang tengil, kini memancarkan aura yang begitu dominan dan berbahaya bagi Clara. "Ayo," ajaknya, suara bariton kembali santai seolah perubahan drastis tadi hanyalah halusinasi saja. "Apartemenku kecil, tapi setidaknya tidak ada ibu mertua berwajah lampir di sana." "Gavin, tunggu!" "Sstt," Gavin meletakkan jari telunjuknya di bibir Clara. "Mulai detik ini, kau aman, Kak. Tapi ingat, di duniaku, tidak ada yang gratis. Kau harus merawatku sebagai bayarannya. Aku ini sangat sulit diatur, tau?" Ia mengenyitkan hidungnya dengan gaya kekanakan yang menyebalkan, namun di balik itu, Clara bisa merasakan pengawasan mata Gavin yang tidak pernah lepas darinya. Clara merasa seperti seekor burung yang baru saja keluar dari kandang singa, hanya untuk masuk ke dalam wilayah kekuasaan seekor naga. Ia tidak tahu apakah harus lari, atau justru bersyukur. Namun saat ini, di bawah hujan yang tidak kunjung reda, Gavin adalah satu-satunya oksigen yang tersisa untuk Clara, meskipun ia tahu, oksigen ini mungkin beracun. Clara tak sempat lagi menolak saat tubuhnya digiring masuk ke dalam sebuah mobil hitam yang dipenuhi aroma yang sama dengan pemuda itu, dan juga ... cokelat? Mengapa begitu menenangkan? Setelah tujuh tahun, Clara bisa merasakan ketenangan seperti ini lagi. Siapa sebenarnya pemuda itu? Clara kembali menelisik wajah Gavin dari samping. 'Jangan sampai kau terlena lagi dengan kata cinta, Clarissa! Saatnya kau mengambil kembali waktu tujuh tahun yang kau buang bersama keluarga Pratama!''Bodoh! Mungkin saja dia dihajar ayahnya karena tahu dia menolongku.' Clara menepis pikiran absurd-nya tentang dunia lain.Ia menekan kapas beralkohol ke sudut bibir Gavin yang robek. Pemuda itu meringis kecil, otot rahangnya mengeras, tapi matanya tetap terkunci pada wajah Clara. Air mata Clara jatuh tanpa bisa dicegah, menetes tepat di atas tangan Gavin yang sedang memegang lengan wanita itu."Jangan menangis," bisik Gavin serak. Suaranya terdengar pecah, menahan perih yang luar biasa.Gerakan tangan Clara terhenti, kepalanya menggeleng ringan."Kau belum juga sadar Gavin?""Berjanjilah padaku jangan menangis lagi karena hal seperti ini, Kak. Aku sudah biasa terluka.""Bagaimana kau akan melindungiku jika kau terluka seperti ini, hah?" isak Clara semakin keras.Meski Clara membentaknya, pemuda itu tetap tersenyum seperti biasa.Gavin menarik napas panjang, lalu perlahan mengangkat tangannya yang geme
"Kalau kau terus-menerus menganggap dirimu rendah, aku akan menghukummu, Clarissa," ucap Gavin tiba-tiba. Suaranya tidak lagi terdengar manja, penuh penekanan yang membuat bulu kuduk Clara berdiri.Clara tersentak, menoleh ke arah pemuda itu dengan kening berkerut setelah pelukan itu terlepas dan mereka sedang berjalan menuju mobil."Apa maksudmu? Sadarlah ku hanya mengatakan kenyataan siapa diriku, Gavin!" Dengan sedikit menghentakkan kaki, Clara menyusul Gavin yang sudah berjalan menjauh.Gavin menghentikan langkahnya tepat di samping pintu mobil. Ia memutar tubuh, mengurung Clara di antara pintu mobil dan tubuhnya yang tegap. Seringai tengil kembali muncul, tapi kali ini mata pemuda itu berkilat nakal."Hukumannya adalah ... kau akan tahu kalau masih saja keras kepala," bisik Gavin tepat di depan bibir Clara, membuat napas mereka saling beradu."Tapi aku jamin, kau tidak akan bisa berjalan lurus setelah hukuman itu berakhir."
"Lima belas tahun lalu?" Suara Clara nyaris hilang, tertelan deru mesin mobil yang melaju membelah jalanan kota. Ia menoleh ke samping, menatap profil samping wajah Gavin yang diterangi cahaya dari jalanan. Garis rahangnya yang tegas, hidungnya yang bangir, dan matanya yang selalu terlihat seolah sedang merencanakan sesuatu yang besar. "Gavin, jangan bercanda! Lima belas tahun lalu kau baru sepuluh tahun, kan? Aku bahkan hampir tidak ingat apa yang kulakukan di usia tujuh belas," lanjut Clara, mencoba tertawa meski jantungnya berdegup tidak karuan. Gavin tidak menjawab. Ia justru memutar kemudi dengan tajam, membelokkan mobil ke sebuah jalan kecil yang terhimpit di antara gedung-gedung pencakar langit yang angkuh. Ia menghentikan mobilnya di depan sebuah pagar besi yang berkarat dan ditumbuhi tanaman merambat. "Turunlah," ucapnya singkat. Clara mengikutinya dengan ragu. Di balik pagar itu, terdapat sebuah tam
"Pilih apa pun yang kau suka, Kak! Kau harus buktikan bahwa kau bisa berdiri sendiri tanpa mereka. Ada aku di sampingmu, heuh?"Clara berdiri mematung di tengah sebuah butik premium yang aromanya saja tercium sangat mahal. Gavin berdiri di belakangnya, tangan bersedekap santai, sementara ia menyapu pandangannya ke deretan gaun mewah."Gavin, ini berlebihan. Kita bisa ke toko biasa. Aku belum butuh ini semua," bisik Clara, menarik lengan pemuda itu ke arah pintu keluar dengan panik."Aku tidak punya uang untuk menggantinya!" lanjutnya lagi sedikit berbisik saat Gavin masih bergeming di tempatnya.Gavin hanya memutar bola matanya, lalu mencubit hidung Clara hingga wanita itu memekik kecil."Siapa yang minta ganti? Aku nggak mau kau memakai jaketku selamanya, meskipun kau terlihat sangat ... menggoda nggak pakai apa-apa, sih." Matanya memindai Clara dari atas hingga bawah dengan kedipan jahil."Gavin!"Gavin tertawa, tawa renyah yang selalu berhasil membuat Clara kesal sekaligus berdebar
"Gavin, tolong antarkan aku ke rumah Sandy." Suara Clara terdengar lebih mantap dari yang ia bayangkan, meski jemarinya terus meremas ujung jaket hitam milik Gavin yang masih dikenakannya. Gavin yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang tersampir di bahu, menghentikan langkahnya. Ia menatap Clara tajam, air yang menetes dari rambutnya jatuh ke lantai kayu, tapi pemuda itu tidak peduli. "Untuk apa? Mau mengemis cintanya lagi?" tanyanya ketus. Ada nada tidak suka yang sangat kentara dalam suara Gavin di pendengaran Clara. "Aku butuh dokumen pribadiku. Ijazah, paspor, dan surat-surat penting lainnya," jawab Clara, mengabaikan sindiran pemuda itu. "Aku ingin mengurus perceraianku tanpa melibatkan keluarga Pratama atau pengacara mereka lagi dengan tanganku sendiri, Gavin." Gavin terdiam sesaat, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. "Bagus! Aku suka kau kembali jadi Clarissa, my Guardians Angel." Gavin menyambar sebuah kunci di atas meja setelah menghabiskan sarap
“Aku nggak mau, Pa! Aku hanya akan menikah dengan Mas Sandy, TITIK!”Suara Clarissa menggema di ruang keluarga yang mendadak terasa begitu sempit dan menyesakkan. Gadis dua puluh lima tahun itu berdiri dengan dada naik turun, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Air mata telah menggenang di pelupuk matanya, tetapi keras kepalanya membuatnya enggan menundukkan wajah.“Satu jengkal saja kamu keluar dari rumah ini. Kamu akan kehilangan Papa dan semua hal tentang Alexander! Kamu bukan lagi Clarissa Alexander!”Jantung Clarissa serasa diremas.Bibir Clarissa bergetar. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya luruh, membasahi kedua pipinya.Namun, bukannya mundur, ia justru mengangkat dagu.“Fine! Jangan pernah cari aku lagi, Pa! Aku bukan anak Papa lagi!”Kalimat itu meluncur seperti pisau yang dilemparkan dalam keadaan marah. Ia berbalik.Langkahnya tergesa-gesa melewati ruang keluarga, menuruni anak tangga, lalu menuju pintu utama. Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu.







