بيت / Romansa / Manjakan Aku, Kak! / BAB 4 Jangan Merindukanku!

مشاركة

BAB 4 Jangan Merindukanku!

last update تاريخ النشر: 2026-08-17 13:29:58

“Aku nggak mau, Pa! Aku hanya akan menikah dengan Mas Sandy, TITIK!”

Suara Clarissa menggema di ruang keluarga yang mendadak terasa begitu sempit dan menyesakkan. Gadis dua puluh lima tahun itu berdiri dengan dada naik turun, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Air mata telah menggenang di pelupuk matanya, tetapi keras kepalanya membuatnya enggan menundukkan wajah.

“Satu jengkal saja kamu keluar dari rumah ini. Kamu akan kehilangan Papa dan semua hal tentang Alexander! Kamu bukan lagi Clarissa Alexander!”

Jantung Clarissa serasa diremas.

Bibir Clarissa bergetar. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya luruh, membasahi kedua pipinya.

Namun, bukannya mundur, ia justru mengangkat dagu.

“Fine! Jangan pernah cari aku lagi, Pa! Aku bukan anak Papa lagi!”

Kalimat itu meluncur seperti pisau yang dilemparkan dalam keadaan marah. Ia berbalik.

Langkahnya tergesa-gesa melewati ruang keluarga, menuruni anak tangga, lalu menuju pintu utama. Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu. Ia sempat berhenti sepersekian detik, seolah ada bagian kecil dalam hatinya yang berharap seseorang akan menariknya kembali.

“Clarissa! Jangan pergi, Sayang ...!?” Jeritan tangis sang mama menggema dari belakang.

Clarissa spontan menghentikan langkah.

Namun, sebelum sempat menoleh, terdengar suara benda jatuh disusul keributan dari dalam rumah.

Tubuh Clarissa membeku.

“Mama ... Papa ... MAMAA ...?!”

“Argh!”

Clarissa terengah-engah mendudukkan dirinya.

Tubuhnya tersentak seolah baru saja ditarik paksa dari dasar mimpi buruk. Napasnya tercekat, dadanya naik turun dengan cepat. Keringat dingin bercucuran di pelipis, leher, hingga punggungnya.

Tangannya mencengkeram seprai dengan kuat.

Clarissa mengedarkan pandangan dengan mata berkaca-kaca. Napasnya masih tersengal ketika tangannya perlahan menyentuh dada yang berdegup begitu keras.

Mimpi itu terasa terlalu nyata.

Bahkan rasa takutnya masih melekat di setiap inci tubuhnya.

“Maafin aku Ma ... Pa ... Kalian di mana?” isaknya pecah.

Clarissa menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya terguncang hebat. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya tumpah tanpa bisa dibendung.

Dan entah mengapa, setelah sekian lama satu hal terasa begitu jelas di dalam hatinya ia merindukan Papa dan Mama.

_______

Clara bangkit dari tempat tidur Gavin yang sangat nyaman. Kepalanya masih sedikit pening, tapi melihat kamar yang tertata sangat minimalis itu, insting perfeksionisnya mulai berdenyut.

Ia melangkah keluar kamar dengan sangat pelan. Di sofa, ia melihat Gavin masih terlelap. Selimut pemuda itu hampir jatuh ke lantai, dan sebelah lengannya yang berotot menggantung lemas. Dalam tidurnya, wajah Gavin tidak terlihat tengil, ia

tampak seperti pemuda yang ... lelah.

Clara tidak bisa membiarkan dirinya diam. Ia mulai bergerak tanpa suara. Ia memungut pakaian yang berserakan semalam, merapikan bantal kursi, dan menyeka debu-debu mikro yang tidak sengaja dilihatnya di atas rak buku.

Membersihkan sesuatu selalu menjadi terapi bagi Clara saat hatinya hancur. Dengan setiap usapan kain lap, ia seolah sedang menghapus jejak pemderitaannya selama ini.

Setelah ruang tamu mengilap, Clara melangkah ke dapur. Di kulkas, ia menemukan beberapa butir telur, roti gandum, dan sedikit mentega. Sangat sederhana untuk ukuran pria yang memiliki air mineral premium seharga beras satu kilogram.

Aroma mentega yang meleleh di atas wajan mulai memenuhi ruangan. Clara sedang membalik telur mata sapi dengan hati-hati saat indra penciumannya yang sensitif menangkap aroma lain, aroma kayu manis dan uap panas tubuh Gavin di punggungnya.

Clara tidak mendengar langkah kaki mendekat. Namun tiba-tiba, sebuah pelukan hangat dan kokoh melingkar di pinggangnya dari belakang.

Deg!

Jantung Clara berhenti berdetak sesaat. Spatula di tangannya hampir jatuh. Tubuh Gavin yang jauh lebih besar darinya menempel sempurna di punggungnya. Pemuda itu menyandarkan dagunya di bahu Clara, membiarkan rambutnya yang berantakan menggelitik pipi wanita itu.

"Ternyata begini, ya, rasanya punya istri?" bisik Gavin dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, rendah, berat, dan sangat intim.

Clara membeku, seluruh ototnya menegang.

"Gavin ... apa yang kau lakukan? Lepaskan!"

Bukannya melepas, Gavin malah mempererat pelukannya, menghirup aroma leher Clara dengan tarikan napas panjang.

"Maukah kau tinggal di sini selamanya, Kak? Menemani hari-hariku?"

Darah Clara mendesir hebat. Wajahnya terasa terbakar.

"Jangan bercanda! Ini tidak lucu, Gavin! Meski aku dibuang keluarga suamiku, tapi aku bukan barang yang bisa kamu perlakukan seenaknya!"

Gavin terkekeh, suara tawanya terasa bergetar di punggung Clara. Tiba-tiba saja, ia melepaskan pelukannya dan melangkah mundur sebelum Clara sempat berbalik untuk memprotes.

"Wajahmu merah sekali kalo marah gini, Kak? Tapi aku suka," ucapnya sambil nyengir tengil, mengacak rambutnya yang sudah berantakan.

Gavin menatap telur di wajan, lalu menatap Clara dengan kilat jenaka di matanya.

"Aku mandi dulu. Jangan merindukanku ya, Kak?"

Ia berjalan menuju kamar mandi dengan langkah santai, bersiul kecil seolah-olah ia tidak baru saja meledakkan bom di dada Clara. Begitu pintu kamar mandi tertutup, Clara hampir merosot ke lantai kalau saja tidak berpegangan pada pinggiran konter dapur.

Tangannya menyentuh dada yang bergemuruh. Sial. Kenapa jantungnya berdetak secepat ini?

Clara menatap telur mata sapi yang kini pinggirannya mulai mengering. Rasa perih yang familiar tiba-tiba menyerang ulu hatinya.

Selama tujuh tahun menikah dengan Sandy, tidak pernah sekalipun pria itu memeluk Clara dari belakang saat ia memasak. Yang Sandy lakukan hanya duduk di meja makan, menatap ponselnya, lalu mengeluh jika kopinya terlalu manis atau telurnya terlalu matang.

Sandy tidak pernah memuji aroma tubuh Clara sedetail itu. Sandy tidak pernah menatapnya seolah-olah Clara adalah hal paling menarik di dunianya.

Rasa bersalah muncul, Clara merasa berdosa karena merasa telah meninggalkan keluarganya demi pria seperti Sandy. Dan sekarang justru dia harus bertemu dengan pemuda misterius yang minta dimanja.

Clara kecewa pada dirinya sendiri yang telah memberikan tujuh tahun berharga untuk pria yang tidak pernah menghargainya sedetik pun, sementara seorang pemuda yang baru dikenalnya semalam bisa membuatnya merasa "ada" hanya dengan tingkah tengilnya.

'Jangan biarkan dirimu jatuh hanya karena perhatian kecil. Kau hanya sedang terluka.' Kepalanya berisik sendiri.

Clara segera mematikan kompor dan menata piring dengan tangan gemetar. Ia harus tetap fokus.

Hari ini adalah awal hidup barunya. Ia harus mandiri, tidak boleh menjadi beban bagi Gavin atau lebih buruk lagi, ia akan menjadi mainan untuknya.

Namun, saat Clara mencium sisa aroma kayu manis dari tubuh Gavin yang masih tertinggal di bahunya, ia tahu ... menjauh dari pemuda itu mungkin akan jauh lebih sulit daripada yang bisa ia bayangkan.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Manjakan Aku, Kak!   BAB 8 Apa Aku Masuk ke Dunia Baru?

    "Kalau kau terus-menerus menganggap dirimu rendah, aku akan menghukummu, Clarissa," ucap Gavin tiba-tiba. Suaranya tidak lagi terdengar manja, penuh penekanan yang membuat bulu kuduk Clara berdiri.Clara tersentak, menoleh ke arah pemuda itu dengan kening berkerut setelah pelukan itu terlepas dan mereka sedang berjalan menuju mobil."Apa maksudmu? Sadarlah ku hanya mengatakan kenyataan siapa diriku, Gavin!" Dengan sedikit menghentakkan kaki, Clara menyusul Gavin yang sudah berjalan menjauh.Gavin menghentikan langkahnya tepat di samping pintu mobil. Ia memutar tubuh, mengurung Clara di antara pintu mobil dan tubuhnya yang tegap. Seringai tengil kembali muncul, tapi kali ini mata pemuda itu berkilat nakal."Hukumannya adalah ... kau akan tahu kalau masih saja keras kepala," bisik Gavin tepat di depan bibir Clara, membuat napas mereka saling beradu."Tapi aku jamin, kau tidak akan bisa berjalan lurus setelah hukuman itu berakhir."

  • Manjakan Aku, Kak!   BAB 7 Cinta Nggak Bikin Kenyang

    "Lima belas tahun lalu?" Suara Clara nyaris hilang, tertelan deru mesin mobil yang melaju membelah jalanan kota. Ia menoleh ke samping, menatap profil samping wajah Gavin yang diterangi cahaya dari jalanan. Garis rahangnya yang tegas, hidungnya yang bangir, dan matanya yang selalu terlihat seolah sedang merencanakan sesuatu yang besar. "Gavin, jangan bercanda! Lima belas tahun lalu kau baru sepuluh tahun, kan? Aku bahkan hampir tidak ingat apa yang kulakukan di usia tujuh belas," lanjut Clara, mencoba tertawa meski jantungnya berdegup tidak karuan. Gavin tidak menjawab. Ia justru memutar kemudi dengan tajam, membelokkan mobil ke sebuah jalan kecil yang terhimpit di antara gedung-gedung pencakar langit yang angkuh. Ia menghentikan mobilnya di depan sebuah pagar besi yang berkarat dan ditumbuhi tanaman merambat. "Turunlah," ucapnya singkat. Clara mengikutinya dengan ragu. Di balik pagar itu, terdapat sebuah tam

  • Manjakan Aku, Kak!   Bab 6 Gila Lima Belas Tahun

    "Pilih apa pun yang kau suka, Kak! Kau harus buktikan bahwa kau bisa berdiri sendiri tanpa mereka. Ada aku di sampingmu, heuh?"Clara berdiri mematung di tengah sebuah butik premium yang aromanya saja tercium sangat mahal. Gavin berdiri di belakangnya, tangan bersedekap santai, sementara ia menyapu pandangannya ke deretan gaun mewah."Gavin, ini berlebihan. Kita bisa ke toko biasa. Aku belum butuh ini semua," bisik Clara, menarik lengan pemuda itu ke arah pintu keluar dengan panik."Aku tidak punya uang untuk menggantinya!" lanjutnya lagi sedikit berbisik saat Gavin masih bergeming di tempatnya.Gavin hanya memutar bola matanya, lalu mencubit hidung Clara hingga wanita itu memekik kecil."Siapa yang minta ganti? Aku nggak mau kau memakai jaketku selamanya, meskipun kau terlihat sangat ... menggoda nggak pakai apa-apa, sih." Matanya memindai Clara dari atas hingga bawah dengan kedipan jahil."Gavin!"Gavin tertawa, tawa renyah yang selalu berhasil membuat Clara kesal sekaligus berdebar

  • Manjakan Aku, Kak!   BAB 5 Sudah Tak Berguna Sekarang

    "Gavin, tolong antarkan aku ke rumah Sandy." Suara Clara terdengar lebih mantap dari yang ia bayangkan, meski jemarinya terus meremas ujung jaket hitam milik Gavin yang masih dikenakannya. Gavin yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang tersampir di bahu, menghentikan langkahnya. Ia menatap Clara tajam, air yang menetes dari rambutnya jatuh ke lantai kayu, tapi pemuda itu tidak peduli. "Untuk apa? Mau mengemis cintanya lagi?" tanyanya ketus. Ada nada tidak suka yang sangat kentara dalam suara Gavin di pendengaran Clara. "Aku butuh dokumen pribadiku. Ijazah, paspor, dan surat-surat penting lainnya," jawab Clara, mengabaikan sindiran pemuda itu. "Aku ingin mengurus perceraianku tanpa melibatkan keluarga Pratama atau pengacara mereka lagi dengan tanganku sendiri, Gavin." Gavin terdiam sesaat, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. "Bagus! Aku suka kau kembali jadi Clarissa, my Guardians Angel." Gavin menyambar sebuah kunci di atas meja setelah menghabiskan sarap

  • Manjakan Aku, Kak!   BAB 4 Jangan Merindukanku!

    “Aku nggak mau, Pa! Aku hanya akan menikah dengan Mas Sandy, TITIK!”Suara Clarissa menggema di ruang keluarga yang mendadak terasa begitu sempit dan menyesakkan. Gadis dua puluh lima tahun itu berdiri dengan dada naik turun, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Air mata telah menggenang di pelupuk matanya, tetapi keras kepalanya membuatnya enggan menundukkan wajah.“Satu jengkal saja kamu keluar dari rumah ini. Kamu akan kehilangan Papa dan semua hal tentang Alexander! Kamu bukan lagi Clarissa Alexander!”Jantung Clarissa serasa diremas.Bibir Clarissa bergetar. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya luruh, membasahi kedua pipinya.Namun, bukannya mundur, ia justru mengangkat dagu.“Fine! Jangan pernah cari aku lagi, Pa! Aku bukan anak Papa lagi!”Kalimat itu meluncur seperti pisau yang dilemparkan dalam keadaan marah. Ia berbalik.Langkahnya tergesa-gesa melewati ruang keluarga, menuruni anak tangga, lalu menuju pintu utama. Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu.

  • Manjakan Aku, Kak!   BAB 3: Kaus Kebesaran Si Bocah Tengil

    'Dia bukan bocah sembarangan.' Insting Clara mulai waspada saat memasuki gedung apartemen kumuh dati luar namun di balik pintu usang itu terdapat tempat yang tak terduga. "Masuklah! Jangan berdiri di sana seperti patung selamat datang. Kau membuat lantainya basah," celetuk Gavin sambil melemparkan kunci mobilnya asal. Clara melangkah ragu, kakinya yang telanjang bersentuhan dengan lantai kayu yang terasa hangat, sepertinya ada sistem pemanas bawah lantai. "Gavin, tempat ini ... kau bilang kau pengangguran?" "Memang," sahutnya enteng. Gavin melepas jaket hitamnya yang basah, memperlihatkan kaus putih polos yang melekat ketat di tubuh atletisnya. Bahunya lebar, pinggangnya ramping, dan Clara merasakan ada aura kekuatan yang tertahan di setiap gerakan pemuda itu. "Pengangguran bukan berarti harus hidup di tempat sampah, kan? Aku hanya pintar mengelola ... setiap sudut ruangan ini." Gavin terkekeh lagi. Ia berjalan ke arah sebuah lemari kecil dan melemparkan sehelai kaus ke

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status