Share

Bab 50

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-10-25 16:52:52

Esok siangnya, mereka pun berangkat.

Belum sempat Dimas membukakan pintu butik, Dewi sudah berlari keluar dengan kacamata kuda yang melorot ke ujung hidungnya.

"Kak Laraaas! Mas Dimaaas! Ya ampun, baliho Sudirman itu bikin butikku rame banget, tau! Dari kemarin ada lima orang nanya model baliho itu belinya baju dalam di mana, ciyee-ciyee!"

Dimas mengangguk malu dan menggaruk tengkuknya, sementara Laras tertawa dan membiarkan Dewi memeluk lengannya. Tak lama, Dewi melepas Laras dan menarik lenga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 59

    "Kamu tunggu di parkiran sampai rapat direksi selesai, dan jangan ke mana-mana." Reza turun di lobi gedung Hadikusuma Group sambil merapikan jasnya.Dimas memarkir mobil di sudut yang teduh, lalu membuka buku saku cokelat dan mencatat uang bensin hari ini. Di halaman belakang buku itu, angka sisa uang untuk berkas operasi Kirana masih belum berubah sejak kemarin. Tepat saat dia menutup buku, ponselnya bergetar di dasbor dan nama Laras muncul di layar.[Dim, aku udah sampai rumah, tadi Pak Sardi nyetirnya hati-hati banget. Makasih buat semalam, ya. Jangan lupa makan siang.][Sama-sama, Nya. Saya makan nanti, sekarang masih nunggu Tuan Reza rapat.]Tak lama kemudian, ponselnya bergetar lagi, tetapi kali ini nama yang muncul di layar adalah Bella.[Mas Dimaaas, aku lihat kamu di parkiran. Turun ke kafe bawah dong, aku traktir kopi. Pak Eja rapat sampai jam 3, jadi aman kok.]Dimas menatap layar itu lama. Kalau dia mengabaikan pesan itu, Bella pasti mencari cara lain untuk bicara denganny

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 58

    Krek.Krek.Laras mendesah makin keras, lalu memanggil nama lengkap Dimas keras-keras sambil mencengkeram bahunya dengan kuku. "Dimas Ardana... ahh... Dimas Ardana! Jangan pelan-pelan, Dimas Ardana!""Nya, suara Nyonya keras banget sampai lorong bisa dengar. Saya takut ada tamu lain yang lewat.""Biarin aja, Dim! Kamar sebelah kosong, dan aku udah nggak peduli siapa yang dengar!"Namun, lama-lama kaki kiri Laras yang menahan berat badannya mulai bergetar hebat. Dimas merasakannya di tangannya, jadi dia berhenti dan mengangkat Laras ke gendongannya."Kaki Nyonya gemeteran, kita pindah ke kasur aja ya, Nya? Saya nggak mau Nyonya jatuh.""Iya, Dim, gendong aku. Aku masih mau lanjut."Dimas membawa Laras ke ranjang dan membaringkannya telentang. Dia menaruh kaki Laras di bahunya, lalu masuk lagi dalam-dalam dan berhenti di situ sebentar supaya Laras bisa mengatur napas.Laras memejamkan mata, dan lehernya terangkat sedikit dari bantal. Napasnya putus-putus, dan kedua tangannya menarik sep

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 57

    Dimas duduk di sebelahnya dan menggenggam tangan Laras yang dingin. Dia ingin ini terjadi, tetapi dia juga tidak mau Laras menyesal besok pagi, jadi dia memutuskan bertanya dulu sebelum apa pun dimulai."Nya, sebelum kita mulai, saya mau Nyonya jawab jujur. Nyonya benar-benar mau sama saya, atau Nyonya lagi sakit hati sama Tuan Reza dan butuh tempat melampiaskan? Kalau jawabannya sakit hati, saya nggak keberatan cuma duduk di sini nemenin Nyonya sampai pagi."Laras menoleh dan menatap Dimas lama, lalu tertawa pelan untuk pertama kalinya tanpa air mata."Dua-duanya, Dim, aku nggak mau bohong sama kamu. Aku sakit hati, dan aku juga udah mau kamu dari sore, sebelum aku tahu apa-apa soal kamar itu. Jadi lanjut aja, dan kalau aku bilang berhenti, kamu berhenti saat itu juga.""Baik, Nya, saya pegang janji itu. Kalau Nyonya mulai nangis, saya juga bakal berhenti dan peluk Nyonya dulu."Setelah itu, Laras berdiri di depan Dimas dan menarik kausnya ke atas sampai Dimas mengangkat kedua tangan

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 56

    Dimas berjalan menyusuri lorong menuju mesin es di ujung. Sementara itu, karpet tebal meredam langkahnya, sehingga hanya dengung mesin yang terdengar dari kejauhan.Mesin es itu ternyata dipasang persis di seberang pintu 1512. Selagi bongkahan es berjatuhan ke ember, pintu 1512 terbuka dan Bella melangkah keluar memakai jubah mandi hotel dengan rambut yang masih basah. Dia juga membawa ember kecil, dan dia berhenti mendadak begitu matanya bertemu mata Dimas."Mas Dimaaas! Kok bisa ketemu di sini? Mas juga nginep di hotel ini? Kamarnya nomor berapa?""Sa-saya cuma nemenin Nyonya, Mbak. Beliau minta diambilin es, jadi saya turun ke sini."Bella terkikik dan mengalihkan pandangan ke ujung lorong yang jauh, tempat pintu 1507 berada. "Oh, jagain Nyonya. Setia banget ya jadi sopir pribadi. Pak Eja tahu Mas ada di sini?""Pak Reza kan di 1508, Mbak, jadi tentu beliau tahu kami nginap di sini.""Oh, di 1508, ya? Kok Mas Dimas yakin banget Pak Eja ada di sana?" Bella tersenyum makin lebar.Dim

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 55

    Di depan lift, Laras menahan pintu yang hampir menutup dengan satu tangan. Namun, dia tidak bertanya apa pun sampai mereka berdua berdiri sendirian di dalam lift. Dimas nyaris menceritakan kalimat terakhir Reza, tetapi dia menelannya kembali karena tahu kalimat itu hanya akan melukai Laras lebih dalam."Wajah kamu putih banget, Dim. Mas Reza bilang apa sampai kamu begini?""Beliau minta kita nginap lagi malam ini, Nya. Katanya jangan dulu pulang, soalnya sekali belum tentu berhasil.""Cuma itu? Kamu nggak pandai bohong, Dim, jadi ceritanya boleh ditunda sampai kamu siap." Laras mengelus lengan Dimas dua kali, lalu menatap angka lantai yang berganti.Di depan kamar 1507, Laras menyuruh Dimas menaruh tas dan langsung berangkat ke rumah sakit tanpa perlu menunggunya. Karena badannya masih lemas, dia mau tidur sampai sore, sehingga Dimas lebih baik menghabiskan siang bersama adiknya."Tolong sampaikan ke Kirana kalau Tante Cantik janji datang pas badan Tante udah segar lagi. Kamu juga jan

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 54

    Laras mengangkat pinggulnya, memegang milik Dimas, dan menurunkan tubuhnya sampai menyatu. Air bak bergoyang dan tumpah lagi ke lantai, dan Laras menahan napas dengan alis berkerut."Dim, aku mau kamu yang dorong dari bawah. Aku pegang pinggir bak aja biar nggak jatuh."Lalu, Dimas memegang pinggul Laras dengan kedua tangan dan mendorong dari bawah dengan gerakan cepat. Laras berpegangan ke pinggir bak, dan desahannya memantul keras di dinding keramik sampai dia sendiri kaget."Ahh... Dim, suaraku... kedengeran banget... ahh!""Tuan Reza pasti dengar, Nya. Tapi, saya nggak mau berhenti kalau Nyonya nggak mau.""Jangan berhenti, Dim! Terus, jangan berhenti sekarang!"Dimas menarik pinggul Laras makin dalam, dan air bak berombak keras mengikuti ritmenya. Napasnya berat dan otot pahanya menegang, sampai akhirnya dia menahan Laras erat-erat dan semuanya keluar di dalam.Blup.Mereka diam cukup lama di dalam air yang mulai mendingin. Laras menyandarkan pipinya ke bahu Dimas, dan Dimas meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status