Mag-log inDua tahun tak disentuh. Empat tahun pernikahan hambar. Itulah yang dirasakan Nyonya Laras, majikan Dimas yang setahun belakang selalu menangis tiap suaminya pulang tanpa mengajaknya bicara. Sampai suatu momen, Laras akan ditampar Tuan Reza, Dimas tiba-tiba melawan. "Maaf, saya lancang megang tangan Bapak. Saya nggak suka lihat perempuan dikerasi, siapa pun orangnya. Bukannya marah, Reza justru menyuruh Dimas jadi pelayan pribadi sang Nyonya, alih-alih memecatnya karena berani membangkang. Kedekatan dan perhatian Dimas membuat Nyonya Laras luluh. Pun Dimas, ia akhirnya tahu, seberapa tersiksanya sang Nyonya hingga ia berniat membahagiakannya; menyelamatkannya dari sang Tuan.
view more"Sayaaang… akhirnya, akhirnya kamu pulang!"
Tiba-tiba, dua lengan halus melingkar dari belakang dan mengunci pinggang Dimas.
Deg!
Sesuatu yang empuk menempel penuh di punggung Dimas. Wangi melati langsung tercium dari leher yang menempel di bahunya, lalu napas hangat menyentuh tengkuknya.
"Kok baru pulang sih, Mas?" Suara itu berbisik setengah mengantuk. "Aku nungguin dari jam tujuh sampai ketiduran di sofa. Katanya Jumat pulang cepet..."
Dimas membeku dengan satu tangan masih di colokan. Itu suara Laras. Rupanya, istri majikannya itu ketiduran di sofa rotan pojok gazebo, dan sekarang mengira punggung yang dia peluk adalah punggung suaminya.
Lengan Laras justru makin erat. Tangan kanannya naik pelan-pelan ke dada Dimas, lalu berhenti di situ dan meremas kaus Dimas yang tipis.
"Mas jahat banget. Aku udah dandan dari sore, tahu. Peluk aku sebentar aja, ya?"
"Napas, Dim. Napas," batin Dimas, padahal dadanya sudah naik-turun tidak karuan di bawah telapak tangan Laras.
Dimas menelan ludah dua kali sebelum suaranya keluar, serak dan pelan.
"Ma-maaf, Nya..."
"Loh?" Seketika, remasan di kaus Dimas terlepas.
Laras melepas pelukannya, lalu bangkit dan mundur dua langkah. Dimas pun buru-buru berdiri dan memutar badan.
Lampu bola-bola kuning masih menyala berderet di atas meja gazebo, sedangkan sofa rotan di pojoknya gelap karena tidak kena lampu.
Di bawah lampu bola-bola kuning itu, barulah Dimas melihat jelas penampilan perempuan yang barusan memeluknya. Istri majikannya yang berumur 29 tahun itu memakai gaun satin hijau zamrud dengan tali bahu yang tipis sekali. Potongan dadanya turun rendah, sehingga belahnya terlihat jelas tiap kali dia menarik napas.
Ulang tahun pernikahan? Lalu kenapa piringnya masih bersih begitu?
Agaknya tidak aneh juga, karena Nyonya Laras sendiri tampak kesepian, tak pernah disentuh suami. Jangankan disentuh, dikecup kening atau sekadar dipanggil dengan nada manja, sama sekali tidak pernah!
Wajah Laras memerah. Satu tangannya refleks menutup dada atas, meski itu tidak banyak membantu.
Sungguh, di mata Dimas, Nyonya Laras sangat cantik. Wajahnya teduh, alisnya tipis, hidungnya mancung, serta ada lesung pipi di kiri setiap kali dia tersenyum. Pun sekarang, dengan rambut yang berantakan bekas tidur dan gaun yang kusut di bagian perut, Nyonya Laras tetap tampak menawan.
Sayang beribu sayang, perempuan secantik Nyonya harus memiliki suami seperti Reza, majikan Dimas.
Laras menutup mulut dengan punggung tangan. Bahunya berguncang menahan tawa, sementara pipinya makin merah. "Ya ampun, Dim... Aku kira kamu Mas Reza. Lagian, kamu kok diam aja dari tadi aku pegang-pegang? Suka, ya?"
Telinga Dimas langsung panas sampai ke tengkuk. "Sa-saya cuma kaget!"
"Kaget kok jantungnya kenceng banget?" Laras melirik tangannya sendiri, lalu tertawa kecil. "Tadi kerasa, loh, di telapak tanganku. Deg-degannya kenceng banget."
"Itu... itu karena saya habis jongkok. Kalau jongkok kelamaan, darahnya naik semua."
Mendengar alasan itu, tawa Laras pecah lagi. Kali ini, dia sampai harus berpegangan ke tiang gazebo. "Ya udah, lain kali kalau aku salah peluk lagi, kamu langsung bilang, ya. Jangan nunggu sampai tanganku nyampe dada kamu dulu."
"I-iya. Lain kali saya langsung batuk."
Mendengar itu, Laras mengangkat alis. "Batuk? Kalau kamu batuk, aku malah ngira Mas Reza masuk angin, terus aku peluk makin kenceng."
Dimas membuka mulut, lalu menutupnya lagi karena tidak menemukan jawaban apa pun. Kedua tangannya makin rapat di depan celana, karena celananya belum juga longgar.
Sesudah itu, Laras merapikan tali gaunnya, lalu memutar badan setengah ke kiri dan ke kanan. "Menurut kamu, gaun ini kebuka banget, nggak? Aku belinya khusus buat malam ini, tapi dari tadi aku malu sendiri. Suka, nggak, sama gaunnya?"
"Su-suka... eh, bagus. Pasti Pak Reza suka." Dimas menjawab terbata-bata. Pasalnya, tali gaun yang dibuka membuat gaun itu agak kendur sedikit, sehingga tatapan mata Dimas langsung mengarah ke sana.
"Suka atau bagus? Yang jujur, dong."
Dimas menggaruk tengkuknya, sedangkan matanya tetap di lantai gazebo.
"Kamu aja tadi sampai nggak napas, apalagi Mas Reza, ya? Huft, moga aja Mas Reza suka sama gaunku."
Begitu nama suaminya keluar dari mulutnya sendiri, tawa Laras mereda. Matanya pindah ke meja, ke dua piring bersih dan lilin yang tinggal seruas jari itu, lalu senyumnya turun pelan-pelan.
"Udah jam berapa sekarang?"
"Jam sepuluh lewat. Tadi Bi Inah nyuruh saya matiin lampunya."
Laras mengangguk kecil, kemudian merapikan lipatan serbet yang sebenarnya sudah rapi. "Maaf ngerepotin kamu ya, Dimas. Suamiku entah ke mana, padahal aku sudah mempersiapkannya dari siang tadi."
Dari samping bangku, Dimas menjawab tanpa berani mengangkat kepala. "Loh, Nya, nggak masalah. Lagian, ini sudah tugas saya. Toh, saya kerja di sini jadi tukang kebun. Ini, colokannya tinggal saya cabut, terus..."
Belum sempat Dimas menyelesaikan ucapannya, deru mobil terdengar masuk ke garasi.
"Itu pasti Mas Reza." Laras langsung menegakkan punggung, lalu menarik tali gaunnya kembali ke bahu. Kain di perutnya dia usap dengan dua telapak tangan, kemudian dia setengah berlari menuruni tangga gazebo.
Tak lama, Reza keluar dari pintu samping garasi dengan kemeja biru yang tergulung sampai siku. Laki-laki 36 tahun itu berjalan ke pintu belakang sambil membaca ponsel, lalu melewati gazebo yang terang benderang tanpa menoleh sedikit pun.
Sungguh suami tak tahu diri!
Cepat-cepat, Laras menahan lengan suaminya di depan tangga gazebo. "Duduk sebentar aja ya, Mas. Sepuluh menit. Hari ini empat tahun kita nikah, aku udah siapin makan malam dari sore. Pliss, ikut ya, ngerayain sebentar aja..."
Reza menepis tangan itu, lalu bilang dengan suara datar bahwa dia capek kerja seharian dan rapat direksi sampai malam. Menurutnya, yang Laras bisa cuma menunggu di rumah, lalu menuntut perhatian begitu suaminya pulang. Dagunya kemudian menunjuk lilin dan kue di meja gazebo, disusul dengusan pendek.
Dengan suara yang hampir tidak keluar, Laras menjawab. "Aku cuma minta ditemani makan, Mas. Itu aja."
Plak!
Kepala Laras terlempar ke samping sampai bahunya membentur pegangan tangga gazebo. Rambutnya menutupi separuh wajah, sementara lampu bola-bola di atas meja ikut bergoyang.
"Dasar nggak becus! Istri lain, kalau suaminya pulang kerja, itu nyiapin suaminya istirahat. Kamu nyiapin lilin buat ngerengek samaku!" ucap Reza sambil mengibaskan tangan yang barusan dia pakai menampar.
Terkejut, Dimas buru-buru memelankan gerakannya. "Ma-maaf. Segini?"Laras menuntun sendiri pergelangan Dimas. Sekali, dua kali, jempol itu dia putar dengan tempo yang dia mau, lalu tangannya dia lepaskan begitu Dimas sudah bisa mengikuti. "Iya... segitu. Ahh... iya, gitu terus, enak kalau pelan-pelan gini. Ahh..."Masih dengan napas tersendat, Laras menambahkan aturan. "Kalau aku diem, berarti enak. Kalau aku pegang tangan kamu, berarti pelanin, ya!""Kalau Nyonya nendang?"Seketika Laras menatap Dimas tajam. "Ya berarti kamu lancang dan ngawur, nggak mau jadi goodboy! Berondong nggak boleh banyak protes ya..."Dimas mengangguk, lalu terus memutar jempolnya mengikuti ke mana klitoris Laras bergerak. Lama-lama, desahan Laras m
"Ka-kaget, Nya. Terus... deg-degan. Terus, anu..." Suara Dimas habis di situ, sedangkan tangan kanannya refleks menutupi depan celana.Laras melirik ke bawah, ke tangan yang menutupi celana itu. "Terus apa? Diterusin dong ngomongnya. Aku aja udah ketahuan sampai begini, masa kamu nggak mau ngaku?""Ce-celana saya kekecilan, Nya. Udah lama nggak beli yang baru."Tawa Laras keluar sebentar, lalu dia gigit bibir bawahnya supaya berhenti. "Tadi sore pas kamu mijit kakiku, celana itu masih muat-muat aja, kok."Laras cepat-cepat membuang muka ke lampu tidur, lalu duduk lagi di tepi ranjang. Sesudah itu, suaranya dia buat setenang mungkin. "Ya udah, aku yang ngajarin, sini masuk..."Karena terpaksa, Dimas pun masuk ke kamar Laras.
Malam itu juga, Dimas mengetik kata di amplop itu di ponselnya. Jawabannya cuma satu kalimat, air mani yang sama sekali tidak mengandung sperma.Artinya, yang tidak bisa punya anak di rumah ini selama ini Reza sendiri?Amplop itu dia selipkan di bawah buku saku cokelat di laci kamar belakang, tanpa cerita ke siapa pun.Senin paginya, Dimas mengantar Laras ke klinik kandungan di Kemang. Di depan polisi tidur, Dimas mengerem mendadak sampai tas Laras tumpah ke karpet. Isinya tujuh testpack, empat strip obat, dan buku kecil penuh tanggal yang dilingkari.Sambil memunguti isinya, Laras bercerita kalau Reza tidak pernah pulang di tanggal-tanggal itu. Padahal, tiap bulan Reza tetap marah karena dia belum hamil.Di klinik, dr. Tasya bilang rahim Laras sehat, lalu menyarankan suaminya ikut periksa. Anehnya, dokter itu menatap Laras lebih lama waktu menyebut kata suami.Apa dokter itu juga tahu sesuatu?Pulangnya, Laras ketiduran sampai kepalanya merosot ke pangkuan Dimas.Begitu klakson di be
Di luar, langit di atas Pondok Indah sudah gelap, padahal baru jam dua.Begitu masuk ke sedan hitam itu, Laras memilih duduk di jok depan, di samping Dimas. Begitu pintu tertutup, dia menarik sabuk pengaman, namun sabuk itu berhenti di tengah dada dan tidak mau turun lagi."Loh, kok nyangkut? Ini gimana, sih?"Dimas menjulurkan badannya ke arah Laras untuk menarik sabuk itu dari gulungannya. Wajahnya lewat tinggal sejengkal di depan wajah Laras, sehingga wangi sampo dari rambut Laras tercium jelas.Sabuk itu dia tarik ke bawah dengan satu sentakan. Sialnya, punggung tangannya ikut menyapu dada Laras yang empuk di balik blus tipis itu.Laras menahan napas."Ma-maaf, Nya! Sabuknya, itu, sabuknya yang macet!"Klik.Sabuk itu akhirnya terpasang. Dimas buru-buru kembali ke kursinya, lalu memegang setir dengan dua tangan, padahal mobilnya belum dinyalakan.Dari kursinya, Laras menatap Dimas sambil menggigit bibir bawah supaya tidak tertawa. "Oke, sabuknya yang macet. Terus kenapa yang merah






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.