Mereka diam dua detik.Napas Laras terasa hangat di kerah kaus Dimas. Jantung Dimas sendiri berdetak keras, sampai dia yakin Laras bisa merasakannya lewat kain.Laras mundur selangkah, lalu satu tangannya menahan tiang gazebo. "Maaf, maaf. Kakiku lemes, soalnya dari siang aku belum makan apa-apa. Makasih, ya, Dim.""Nya, jangan dipaksakan. Tangga di dalem lebih tinggi, terus di sana nggak ada yang jaga. Saya antar aja kalau gitu, sambil saya bawain kue biar Nyonya keisi dikit perutnya."Laras menggeleng pelan, kemudian berjalan pelan-pelan ke pintu belakang. Tak lama, lampu tangga di dalam menyala, disusul lampu kamarnya di lantai dua. Sementara itu, kamar Reza di ujung lorong sudah gelap sejak tadi.Akhirnya, Dimas membereskan meja sendirian. Piring, gelas, serta pisau kue dia bawa ke dapur, lalu kue yang masih utuh itu dia tutup dengan tudung saji di meja makan. Terakhir, colokan lampu bola-bola di gazebo itu dia cabut.Selesai beres-beres, Dimas kembali ke kamar belakang. Namun, le
Last Updated : 2026-10-14 Read more