Share

21. Bra Tetangga

Author: Black Aurora
last update Huling Na-update: 2025-11-21 15:31:13
Akhir-akhir ini Marvella paling benci pada pagi hari yang terlalu tenang, karena itu biasanya pertanda alam semesta sedang menyiapkan sesuatu yang tidak normal untuk dia

Dan ternyata benarlah firasatnya.

Matahari baru bersinar, embun masih menempel di daun-daun belakang rumah, dan burung-burung kecil berceloteh ramai di dahan pohon… ketika tiba-tiba terdengar suara gedebuk keras dari arah halaman.

Lalu disusul oleh suara satu kali gonggongan pelan... diam sebentar... kemudian...

“WOOF! WOOF! WOOF!”

Suara ribut itu sontak membuat Marvella melihat dari balik jendela dapur sambil melongo bercampur heran.

“Itu suara apa lagi sih pagi-pagi gini?!” sungut Marvella.

Lalu kaki kecil Kenzo langsung lari menghampiri jendela dan menempelkan wajahnya di kaca.

“Ma… Ma… lihat!! OREO TERBANG!!”

“APA?!” Marvella refleks menoleh.

Di sana, tepat di tengah-tengah halaman belakangnya, berdirilah seekor anjing Husky nakal itu dengan ekornya yang tegak, wajahnya yang bangga dan lidah men
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Anugrah
hahahaha..... kurang ajar... anjing sama pemiliknya sama2 koplak.....
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Mantan Jadi Tetangga    95. Full Husband Mode

    Di sebuah kamar hotel yang menghadap langsung ke pegunungan Swiss, pagi terasa jauh lebih pelan. Salju tipis masih menggantung di luar jendela besar, sementara cahaya matahari memantul lembut ke dalam ruangan Dastan bangun lebih dulu, sebuah refleks baru untuk memastikan bhawa orang di sampingnya tetap aman, merasa hangat, dan... masih ada. Marvella tidur membelakangi jendela hotel Swiss yang terbuka setengah, rambut coklat gelapnya yang panjang sedikit berantakan di atas bantal putih. Napasnya teratur dan wajahnya terlihat rileks. Dastan memiringkan tubuhnya dan sedikit bergeser agar lebih dekat. Tangannya bergerak pelan penuh perhitungan sebelum menyentuh punggung Marvella, seolah takut sentuhan sekecil apa pun bisa membangunkan istrinya. Tapi begitu jemarinya menyentuh kulit lembut dan hangat itu, ada sesuatu di dalam dadanya yang langsung bernapas lega. Marvella masih di sini, dan masih miliknya. Dastan menunduk untuk mencium tengkuk Marvella dengan sangat ringan kar

  • Mantan Jadi Tetangga    94. Kucing Galak vs Anjing Kampung

    Reyhan berdiri di depan rumah nomor 12 Green Residence, sambil menatap pagar besi hitam yang menjulang dengan ekspresi lelah bercampur pasrah. Perumahan elit ini terlalu tenang untuk kondisi mentalnya yang sedang tidak baik-baik saja. Beberapa menit lalu, pesan dari Dastan masuk tanpa banyak basa-basi. Dastan: (Rey. Aku lupa Board Resolution Addendum yang sudah ditandatangani. Ada di ruang kerja. Laci kiri meja) Reyhan membaca pesan itu tiga kali, lalu menatap langit. “Addendum,” gumannya. “Tentu saja, addendum.” Ia merogoh saku jas untuk mengeluarkan kunci cadangan yang selama ini hanya ia anggap simbol kepercayaan, dan hari ini berubah fungsi menjadi alat penyelamat hidup. Namun saat ia mulai membuka gembok pagar, suara langkah cepat bersepatu heels terdengar dari arah samping. “Permisi.” Nada suara perempuan yang dingin, sedikit angkuh dan menilai tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Reyhan pun seketika menoleh. Ia melihat seorang gadis berdiri di trotoar, mengen

  • Mantan Jadi Tetangga    93. After Married

    Reyhan tidak pernah menyangka bahwa kursi empuk di ruang rapat lantai paling atas, bisa terasa seperti kursi listrik terdakwa hukuman mati. Pagi itu, ia duduk di ujung meja panjang dengan setelan rapi, kopi yang sudah dingin, dan ekspresi yang berusaha terlihat tenang... padahal di dalam kepalanya, alarm stres terus berbunyi tanpa henti. “Baik, Pak Reyhan,” ucap salah satu kepala divisi dengan nada formal yang janggal. “Untuk keputusan merger ini, kami menunggu arahan Bapak.” Reyhan berkedip. 'Pak...' Orang yang dulu memanggilnya Rey, bahkan pernah meremehkannya di rapat kecil, kini menyebutnya Pak dengan nada penuh hormat. Ironisnya, itu tidak membuatnya bangga. Itu justru membuat tengkuknya terasa linu dan kaku. “Ah… iya,” jawabnya sambil berdehem. “Kita bahas pelan-pelan.” Padahal pelan-pelan bukan gaya perusahaan ini. Dan jelas juga bukan gaya Dastan sama sekali. Di layar presentasi, tertera angka-angka berbaris rapi, proposal besar menunggu tanda tangan, dan semua or

  • Mantan Jadi Tetangga    92. Bertahan

    Tok. Tok. Ketukan terdengar pelan di pintu kamar Marvella. Marvella yang sedang melipat sweater Kenzo pun sontak menoleh. “Masuk.” Pintu terbuka, dan Miranda muncul dengan langkah ragu-ragu sambil membawa sebuah kotak kado berwarna abu-abu dove, yang dibungkus rapi dengan pita tipis warna biru tua. “Maaf ganggu,” ucap Miranda. “Ini… ada titipan.” Marvella berdiri. “Titipan siapa?” Miranda menghela napas singkat sebelum menjawab, memastikan agar nada suaranya netral. “Reno.” Nama itu membuat udara di ruangan berubah sedikit. Dastan yang sedang duduk di sofa, otomatis menegakkan punggungnya, meskipun ekspresi wajahnya tetap tenang. “Kado pernikahan,” lanjut Miranda cepat. “Dia minta aku yang kasih.” Marvella menerima kotak itu tanpa ekspresi yang berlebihan. Tangannya mantap dan sorot matanya pun tetap jernih. “Terima kasih, Mir. Jadi ngerepotin kamu.” Di atas kotak kado itu, terselip sebuah kartu kecil berwarna krem. Marvella pun membukanya dengan perlahan, dan mem

  • Mantan Jadi Tetangga    91. Keputusan

    Keesokan harinya, Reyhan bangun siang hari dengan kondisi badan babak belur. Lehernya pegal, pundaknya berat, dan kepalanya terasa berdenyut. Seolah semalam itu ia tidak hanya menyelenggarakan sebuah pernikahan, tapi juga menyelamatkan seluruh dunia. Ia meraih ponsel tanpa membuka mata sepenuhnya, bermaksud mengecek pesan penting, dan ternyata memang ada notifikasi pesan masuk dari bosnya, Dastan Alvaro. Reyhan membuka pesan itu sambil menguap. Dastan: (Terima kasih, Pak Deputy CEO. Acaranya luar biasa.) Reyhan menatap layar selama beberapa detik. Lalu tanpa berpikir panjang, ia membalas. Reyhan : Sama-sama, Pak. Tapi sejujurnya, saya jadi trauma dengan kata ‘intimate’) Pesan terkirim, lalu Reyhan meletakkan ponselnya di dada sambil tersenyum tipis. Hubungan mereka memang selalu seperti itu. Tidak berlebihan. Tidak penuh basa-basi. Tapi saling mengerti, serta cukup saling percaya. Dan di hari itu, akhirnya Reyhan merasa bisa bernapas dengan normal lagi. *** Marve

  • Mantan Jadi Tetangga    90. Keindahan Hanya Butuh Kejujuran

    Tidak ada yang benar-benar siap dengan keindahan di malam itu. Baik Dastan, Marvella, bahkan Reyhan yang sejak pagi mendapatkan serangan panik, harus mengakui satu hal dengan jujur. “Akhirnya… jadi juga,” guman Reyhan pelan sambil menatap halaman belakang rumah itu. “Dan malah lebih bagus.” Intimate wedding itu terselenggara di halaman belakang sebuah rumah tua bergaya kolonial modern yang tenang dan tersembunyi. Bukan gedung megah, juga bukan ballroom hotel bintang lima yang mewah. Lampu-lampu kecil digantung rendah di antara pepohonan, menciptakan cahaya hangat yang tidak menyilaukan, justru terasa seperti hangatnya pelukan. “Rey,” bisik Miranda yang sedang berdiri di sampingnya. “Kok rasanya kayak masuk halaman rumah sendiri, ya?” Reyhan mengangguk, setuju dengan perkataan adik mempelai wanita. “Memamg itu intinya, Bu Miranda.” Tidak ada panggung tinggi, tidak ada karpet merah. Hanya ada jalur dari batu alam sederhana, dihiasi bunga putih dan dedaunan hijau yang di

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status