Share

7. Rebutan Susu

Author: Black Aurora
last update Last Updated: 2025-11-08 19:51:53

Hari ini Marvella telah menyelesaikan tugas rumah, serta beberapa barang dalam kardus telah ia keluarkan dan susun di lemari.

Syukurlah ia tidak terlalu banyak membawa benda dari rumah lama milik mantan suaminya, dan hanya membawa yang penting-penting saja.

Pagi di Green Valley terasa santai. Udara bersih, langit biru pucat, dan suara burung dari pepohonan kompleks memberi ilusi kedamaian.

Ya, ilusi, tentu saja.

Karena di rumah sebelah masih tinggal seseorang bernama Dastan Alvaro.

Dan bagi Marvella, kedamaian dan pria itu tidak akan bisa muncul pada kalimat yang sama.

Ia baru saja menyesap kopi ketika membuka kulkas dan menatap kosong ke dalamnya.

Susu Kenzo habis. Semua camilan pun lenyap tak berbekas.

“Ck, dasar Kenzo. Imut, ganteng, tapi lambungnya kayak monster mini. Semuanya dilahap,” gumannya dengan wajah pasrah.

Marvella lalu menatap jam tangannya, masih ada waktu sebelum Kenzo pulang sekolah.

Jadi ia mengambil tas belanja menuju minimarket yang kebetulan tak begitu jauh dari rumahnya, maka Marvella pun memutuskan untuk berjalan kaki saja alih-alih mengendarai mobilnya.

***

Minimarket kompleks itu lumayan lengang. Pendingin udara bekerja dengan suara lembut, dan lagu pop manis terdengar dari speaker langit-langit.

Marvella mendorong troli sambil bersenandung pelan. Ia mulai mengambil roti tawar, beberwpa biskuit, sereal, madu, dan camilan favorit Kenzo.

Sampai langkahnya berhenti di rak susu cair, tersisa hanya satu kotak merek favorit Kenzo.

Tersisa satu kotak susu favorit anaknya di rak paling atas. Ia pun menjinjit. Saat jarinya nyaris menyentuh ujung kotak itu, tiba-tiba seseorang dari sisi lain juga mengulurkan tangan.

Sentuhan ringan di ujung jari membuat Marvella refleks menoleh, dan sontak terkejut.

Demi harga skin care yang ia cicil tiga bulan, kenapa harus ketemu dia lagi?!

Dastan.

Rambut hitamnya rapi, lengan kemejanya tergulung santai, dan senyum kecil di bibirnya seperti bayangan masa lalu yang berwujud manusia.

“Serius?” tanya Marvella datar tapi kesal. “Banyak merek lain, tapi kamu pilih rebutan sama aku juga?”

Dastan melirik kotak susu yang sama-sama mereka pegang. “Kebetulan aku sukanya merek yang ini.”

“Kebetulan atau kamu cuma hobi aja gangguin orang?”

Dastan tersenyum miring. “Aku kan cuma belanja, Vel."

“Bukannya jam segini seharusnya kamu masih kerja??”

“Meetingnya dibatalkan,” jawab Dastan ringan. “Kupikir, beli susu lebih produktif daripada pura-pura sibuk di kantor.”

“Luar biasa. Filosofi hidup yang... absurd.”

Mereka pun masih sama-sama belum melepas kotak susu itu seperti tak ada yang mau mengalah.

Seorang pegawai minimarket riba lewat dan berhenti, lalu menatap bingung keduanya sambil membatin dalam hati, “astaga, kenapa dua orang ini sama-sama keras kepala?"

Karena saling menarik, akhirnya kotak susu itu malah terpental lalu jatuh ke lantai, membuat sebagian isinya tumpah.

Marvella berdiri dengan tangan di pinggang. “Lihat, kan? Ini semua karena kamu.”

“Karena aku?” Dastan memiringkan kepala. “Yang narik duluan siapa?”

“Aku narik karena kamu narik.”

“Dan aku narik karena kamu narik duluan.”

Marvella mendengus. “Terus aja muter kaya omongan politisi.”

Seorang pegawai minimarket datang di antara mereka sambil membawa tisu gulung.

“Ehm, maaf, Bu, Pak, ini kami pel dulu ya…”

Marvella berdeham dengan wajahnya agak merah. “Maaf, ya. Susu yang rusak ini biar saya yang ganti. Dan minta susu yang baru untuk saya ya, Mas."

"Untuk kita,” sahut Dastan cepat.

“Bukan, untuk aku,” balas Marvella tajam.

"Tapi aku juga mau minum susu, Vel."

Marvella menatapnya datar. “Sana beli sendiri.”

Dastan mengangkat alisnya yang lebat, dan senyum licik pun muncul. “Hm. Tapi aku lebih suka... berbagi susu.”

Suasana di antara mereka langsung hening. Pegawai yang mendengar kalimat itu tiba-tiba terbatuk gugup, lalu pura-pura sibuk membereskan rak roti di ujung lorong.

Sementara Marvella menatap pria itu dengan pipi mulai memanas.

“Das~tan…” Marvella memberikan peringatan pelan.

“Kenapa?” tanyanya tenang. “Aku cuma ngomong fakta.”

“Otakmu itu yang tumpul sama fakta!” Geram Marvella, yang malah membuat Dastan tertawa.

***

Beberapa menit kemudian mereka sama-sama berdiri di kasir. Marvella bersedekap, sementara Dastan tampak santai sambil memainkan ponselnya.

Kasirnya seorang gadis muda berponi, kini menatap mereka penuh minat.

“Maaf, tapi kalian ini pasangan, ya? Soalnya aura-nya tuh kayak ‘ribut tapi sayang’," godanya sambil nyengir.

Marvella mendecak. “Bukan.”

“Belum,” timpal Dastan bersamaan.

Tampak si Mbak kasir itu hampir twk bisa menahan tawanya, membuat Marvella buru-buru membayar belanjaannya dan keluar.

Tapi langkahnya pun seketika terhenti begitu mendengar langkah lebar di belakangnya lagi.

“Ngapain kamu ngikutin aku?” tanyanya sembari menoleh.

Dastan mengangkat kantung belanjaannya. “Kita kan ke arah yang sama. Rumah kita tetanggaan, ingat?”

“Kalau gitu kamu jalan duluan!”

“Kalau aku duluan, kamu nanti kangen.”

Marvella berhenti, berbalik, lalu menatap Dastan dengan tajam. “Kamu selalu begini, ya? Datang, ngomong seenaknya, lalu pergi seolah nggak ada apa-apa.”

Dastan menatap lama wajah Marvella, lalu langkahnya melambat saat akhirnya di tiba tepat selangkah jarak yang tersisa di antara mereka.

“Sejujurnya, kamu adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa bikin aku pengen berhenti pergi, Vel.”

Marvella sontak terdiam dengan dada berdebar, tapi kemudian ia pun pura-pura menatap arloji. “Gombal pagi-pagi itu dosa, tahu.”

“Kalau gombalnya tulus, gimana?” sahut Dastan sambil tersenyum.

“Lebih dosa lagi!” Desis Marvella sambil membalikkan badan dam mulai berjalan sambil menghentakkan kaki.

***

Mereka akhirnya sampai di depan rumah masing-masing. Dastan berhenti di antara dua pagar, menatap wajah Marvella dalam cahaya matahari. Tatapannya hangat tapi nakal.

Ia mendekat perlahan, cukup dekat sampai Marvella bisa merasakan napasnya dalam jarak yang hanya tinggal sejengkal.

Marvella terpaku, matanya melebar. “Dastan...”

“Hmm?”

“Jangan~~”

Tapi pria itu tetap menundukkan tubuh sedikit hingga wajahnya nyaris sejajar dengan Marvella. Aroma parfumnya bercampur udara pagi, membuat waktu seolah melambat.

Sial. Marvella sadar kalau sejak dulu pria ini benar-benar tampan dan selalu saja membuat jantungnya deg-degan.

Namun tiba-tiba saja Dastan berhenti dan menarik diri, lalu menyeringai kecil melihat rona merah muda yang cantik di pipi Marvella.

“Tenang aja,” bisiknya pelan. “Aku cuma mau ngecek, apa aku masih bisa bikin kamu gugup atau nggak.”

Marvella menatapnya, syok sekaligus kesal. Aargh, boleh nonjok mukanya nggak sih??!

“Dan ternyata,” lanjut Dastan santai, “hasilnya positif.”

Ia mundur selangkah, lalu mengangkat dua kotak susu di tangannya dan menaruhnya ke dalam kantung belanja milik Marvella.

“Oh ya, Vel. Kalau kamu butuh tambahan susu... aku punya lebih. Tapi kali ini bukan yang ada di rak, melainkan...”

Marvella membuka mulut hendak menyemprot, karena ia tahu kemana arah tujuan perkataan itu. Tak senonoh, pastinya.

Tapi sayangnya, Dastan sudah keburu berbalik melangkah menuju rumahnya sambil tertawa kecil.

Wanita itu berdiri kaku di depan pagar dengan pipinya yang merah padam.

Dan dari pagar sebelah, suara berat itu pun terdengar lagi. “Kalau susumu kebanyakan, Marvella…” jeda sebentar sebelum Dastan kembali berucap.

“…aku bisa kok bantu abisin. Aku kan sudah terbiasa minum yang asli dari sumbernya langsung.”

Marvella menutup wajah dengan kedua tangan, separuh malu dan separuh geram mendengar kalimat mesum Dastan yang membuat rona merah di wajahnya semakin melebar ke telinga.

Astaga, Tuhan!! Boleh nggak tuh orang disemprot desinfektan biar otaknya bersih??!

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Colin
up yang banyak dong Thor. ngak cukup 1 bab/hari utk baca pasangan tom & jerry ini. ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mantan Jadi Tetangga    136. Extra Part 3

    DUA PULUH TAHUN KEMUDIAN Kantor pusat Struktura Design sudah pindah ke gedung yang jauh lebih tinggi. Logo perusahaan itu pun kini sering muncul di berita nasional. Dan di lantai paling atas, ruang CEO masih terasa sama tegangnya. Hanya saja, sekarang sumber ketegangan itu terlihat berbeda. “Kenzo.” Suara Dastan berat, penuh otoritas. Kenzo Rafi, 31 tahun, Direktur Operasional, menoleh dengan ekspresi profesional. “Iya, Ayah?” Dastan menyilangkan tangan. “Kamu lihat Kaia hari ini?” Kenzo menjawab tanpa berkedip. “Lihat. Tadi pagi.” “Dengan siapa?” Reyhan yang duduk di sofa tamu menatap putrinya, Alya, yang berdiri santai di samping jendela seolah ini bukan interogasi keluarga. Alya, 23 tahun, arsitek muda yang baru lulus S2 dari Singapura, langsung menyahut lebih dulu. “Kaia kan meeting sama tim marketing, Om.” Kenzo mengangguk mantap. “Betul itu. Tim marketing.” Dastan menatap keduanya bergantian. “Tim marketing apa yang pakai motor gede dan jaket kulit?”

  • Mantan Jadi Tetangga    135. Extra Part 2

    Kapal pesiar mewah itu berlayar perlahan meninggalkan Pelabuhan Tanjung Priok. Rute perjalanan ini sudah disusun secara pribadi oleh Dastan dan Reyhan, selaku penggagas untuk liburan keluarga mereka kali ini. Rutenya adalah Jakarta – Belitung – Labuan Bajo – Bali – Lombok. Perairan Indonesia bagian barat hingga timur yang terkenal dengan laut sebening kaca, gugusan pulau karst, dan matahari terbenam yang sulit ditandingi negara mana pun. Di atas kapal itu bukan hanya keluarga inti. Ada Dastan, Marvella, Kenzo dan Kaia. Ada juga Arman dan Lestari, orang tua Marvella. Dan Miranda serta Jevan dengan bayi laki-laki mereka yang masih berusia delapan bulan, Callum. Lalu ada Reyhan, Ara, dan Alya serta kedua orang tua Ara. Dan ibu Reyhan serta Risa, adik Reyhan. Kapal pesiar itu bukan sekadar sarana liburan. Tapi juga simbol bahwa mereka sudah melewati banyak hal. Luka, kehilangan, penantian... dan mereka tetap memilih untuk bertahan. *** Story 1 : Reyhan dan Ara – Mal

  • Mantan Jadi Tetangga    134. Tiga Bocah (Tamat)

    EMPAT TAHUN KEMUDIAN Ruang rapat utama kantor pusat Struktura Design pagi itu diisi suasana yang jauh lebih formal dari biasanya. Di seberang meja panjang duduk jajaran pejabat dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, lengkap dengan staf teknis, konsultan, dan map berlogo Garuda di atas meja. Di layar proyektor terpampang judul besar: Proyek Revitalisasi Kawasan Terpadu Tanggul Pesisir Utara Jakarta (Giant Sea Wall Tahap Lanjutan) Sebuah proyek strategis nasional. Dastan berdiri di sisi kanan layar, tenang seperti biasa, meskipun sorot matanya menunjukkan ini bukanlah proyek biasa. Reyhan tepat duduk di sampingnya memegang remote presentasi., kini jauh terlihat lebih matang dan lebih tegas dari empat tahun yang lalu. Sebagai Kepala Cabang Struktura Design di Singapura, ia diminta Dastan selaku CEO untuk kembali ke Indonesia, karena perusahaan mereka diminta secara khusus untuk proyek spesial dari Pemerintah. “Kementerian meminta kami sebagai lead design

  • Mantan Jadi Tetangga    133. Pergi Untuk Kembali

    Angin malam bergerak pelan, memainkan ujung rambut panjang Ara yang tergerai. Kota di bawah mereka berkilau seperti hamparan bintang yang jatuh ke bumi. Lilin-lilin di meja makan masih menyala hangat. Ara masih berdiri sangat dekat dengan Reyhan. Tatapan mereka tidak lagi setajam beberapa menit lalu. Kemarahan yang tadi membara telah berubah menjadi sesuatu yang lebih rapuh, dan lebih jujur. Reyhan mengangkat tangannya perlahan, lalu menyelipkan helaian rambut yang menutupi pipi Ara. Gerakannya lembut dan hati-hati. “Aku tidak ke mana-mana,” ulangnya pelan. Ara tidak menjawab. Tapi kali ini ia tidak mundur atau menjauh, membiarkan jarak di antara mereka yang tinggal hitungan napas. Reyhan sedikit menunduk seraya menatap bibir Ara yang mereka itu sejenak, seakan memberi ruang untuk penolakan. Namun Ara tetap tidak bergerak. Saat itu Reyhan baru yakin untuk mendaratkan ciumannya perlahan, namun mendalam. Tidak terburu-buru, tapi yang sarat akan penegasan. Ara m

  • Mantan Jadi Tetangga    132. Masih Takut

    Ara berdiri beberapa detik di depan pintu kamar hotel itu sebelum akhirnya mengetuk dengan pelan. Tidak ada jawaban. Ia menatap kembali access card di tangannya, lalu menggesekkannya pada panel sensor. Lampu hijau kecil di sensor itu seketika menyala, dan pintu pun terbuka dengan perlahan. Langkahnya terhenti tepat di ambang. Ruangan itu luas. Hangat, dengan lampu-lampu temaram menyala lembut. Di sepanjang lantai hingga menuju balkon, kelopak Juliet Rose tersusun rapi membentuk sebuah jalur untuk berjalan. Di atas meja kecil, lilin-lilin tinggi menyala.Aromanya lembut. Tidak menyengat. Ara mengembuskan napas panjang. Boleh juga effort-nya. “Reyhan…” Namanya belum selesai ia ucapkan ketika sosok itu tiba-tiba muncul dari sisi balkon. Dan untuk sesaat, Ara benar-benar lupa apa yang ingin ia katakan. Reyhan berdiri di sana, tanpa kacamata. Rambutnya ditata lebih rapi dari biasanya, jas hitamnya pas di badan, serta kemeja putih bersih tanpa dasi. Wajahnya

  • Mantan Jadi Tetangga    131. Tinggal Atau Pergi?

    Ruang rapat Direksi Struktura Design pagi itu lebih sunyi dari biasanya. Di layar proyektor, grafik dan angka-angka sudah terpampang sejak sepuluh menit lalu. Dastan berdiri di depan meja panjang dengan kedua tangan bertumpu pada sandaran kursi. “Tim Manajemen Risiko dari Axco Finansia sudah menyelesaikan simulasi ekspansi regional,” ujarnya tenang namun tajam. “Hasilnya konsisten positif. Net present value berada di zona hijau. Internal rate of return melampaui target korporasi. Sensitivitas terhadap fluktuasi kurs masih dalam batas aman.” Beberapa kepala divisi saling bertukar pandang. Ekspansi regional bukan keputusan kecil. Itu berarti pembukaan cabang baru di luar negeri, yaitu di Singapura. “Singapura dipilih karena stabilitas hukum, akses regional, dan kemudahan perizinan,” lanjut Dastan. “Kita tidak masuk untuk coba-coba. Kita masuk untuk menetap.” Ia lalu menoleh ke arah tim legal. “Bagaimana kesiapan kita dari sisi regulasi?” Kepala legal membuka map tebal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status