LOGIN**Flashback Beberapa Jam Sebelumnya. Pagi hari, pukul 05.00**
Suara dering ponsel menembus keheningan kamar, terdengar panjang dan menyebalkan. Di tengah gelap yang masih melekat di langit-langit, Miranda berguling malas sambil membenamkan wajah ke bantal. Ia baru saja menemukan posisi nyaman ketika seseorang di sampingnya mengguman setengah sadar. “Sayang, ponsel kamu bunyi tuh…” Jevan bicara tanpa membuka mata. Tangannya bergerak pelan, seperti usaha lemah untuk mendorong bahu istrinya. Miranda mendengus, lalu mengulurkan tangan ke atas nakas dan meraba-raba ponsel di antara charger, tisu, dan kacamata baca. “Iya, iya, aku tahu…” Tapi malah kabel charger nyangkut di sudut meja. Dengan malas, Miranda mencabutnya dan langsung menempelkan ponsel di telinga tanpa melihat layar. “Hallo..." “MIRANDA!!” Suara di seberang itu seperti bom yang meledak di telinganya. Miranda refleks duduk tegak, rambutnya yang awut-awutan jatuh menutupi wajah. “Kak Marvella?!” serunya dengan jantung yang langsung berpacu. “Kenzo kenapa?! Ada apa?!” “Ish. Bukan Kenzo!” Sahut Marvella cepat dan berapi-api. “Masalahnya rumah yang kamu pilihin untuk aku beli!” Miranda mengerjap bingung. “Rumahnya kenapa? Atapnya bocor? Airnya nggak ngalir? Atau komplek-nya kebanjiran?” “Bukan itu!” Nada Marvella meninggi lagi, sampai-sampai Miranda harus menjauhkan ponsel demi keselamatan telinganya. “Terus apa dong?” “Kamu tahu nggak siapa tetangga sebelah rumahku sekarang?” Miranda menatap langit-langit, mencoba mengingat daftar properti yang mereka survei bulan lalu. “Hmm... pensiunan? Pasutri tua? Jangan bilang kamu sebelahan sama bandar judol.” Marvella berdecak. “Dastan, Mir.” Miranda berkedip. “Dastan siapa?” “Dastan Alvaro.” Kembali Marvella berucap. Hening sesaat, lalu seperti lampu sorot yang tiba-tiba menyala terang di dalam otaknya, Miranda sontak menatap Jevan di sebelahnya yang masih terlelap damai dengan posisi miring. “Dastan? Cinta pertama kamu itu?! Yang dulu katanya mau ngelamar tapi malah ngilang kayak ninja? Dastan Alvaro YANG ITU?!” Jeritan Miranda sukses membuat suaminya terbangun karena kaget. “Siapa yang meninggal?!” serunya panik. Miranda menatap Jevan dengan pandangan maut. “Kamu. Mungkin sebentar lagi kamu!” Dari seberang sana, Marvella menggeram kesal. “Kamu tuh gimana, Miranda! Aku cuma minta tolong cariin rumah yang tenang buat aku dan Kenzo. Eh, malah kamu kasih rumah yang tetangganya dia!” Miranda memejamkan mata. “Aduh, Kak, aku minta maaf banget. Aku pikir nggak perlu tahu siapa tetangganya. Yang penting airnya lancar, listrik nyala, harga belinya bagus~~” Jevan yang sudah sadar sepenuhnya kini menatap Miranda dengan senyum tertahan. “Eh, kayaknya aku tahu ending-nya bakal lucu nih.” “Otak kamu yang lucu,” guman Miranda sambil melempar bantal ke wajah Jevan. “Serius, kak. Aku benar-benar nggak tahu! Duh, harusnya aku cek dulu.” Terdengar helaan napas panjang Marvella dari seberang. “Ya, sudahlah. Mungkin bukan sepenuhnya salahmu. Aku cuma... nggak nyangka aja jika dunia ternyata sekecil ini.” Miranda pun menegakkan punggungnya mendengar nada sendu kakaknya.“Tapi kalau mau, aku bisa cariin rumah lain sih, meskipun surat-menyuratnya mungkin akan butuh waktu agak lama. Atau gimana kalau pindah ke apartemen?" “Tidak,” jawab Marvella cepat. “Apartemen nggak cocok buat Kenzo. Aku mau halaman, udara, dan ketenangan. Aku cuma mau hidup tenang, Mir.” “Tenang?” Miranda nyaris tertawa. “Kamu berharap bisa tenang sementara tetanggamu itu laki-laki yang sempat bikin kamu trauma?” “Terserah kamu mau ngomong apa. Kayanya aku akan anggap Dastan itu seperti tiang listrik: ada, tapi nggak perlu diperhatiin.” Miranda terkekeh pelan. “Oke. Asal tiang listriknya jangan nyetrum aja, Kak.” Marvella diam sebentar. “Miranda.” “Iya?” “Aku masih belum maafin kamu, by the way.” Klik. Telepon pun ditutup secara sepihak oleh Marvella. Miranda menatap ngeri ponselnya yang kini hening. “Wah, aku resmi jadi sasaran murka.” Jevan tertawa kecil, lalu duduk bersandar di kepala ranjang. “Jadi barusan itu takdir yang sedang reuni, ya?” “Takdir apanya, Van! Kamu bikin kepalaku hampir migrain pagi-pagi!” “Tapi kan lucu, Sayang. Dunia ini terus berputar, dan dua orang mantan dipertemukan lagi di pagar yang sama. Kalau bukan semesta, siapa lagi yang ngatur?” Miranda menatapnya datar. “Van, sumpah. Satu kalimat lagi, aku suruh kamu tidur di garasi.” Pria itu tertawa sambil menutup kepala pakai bantal. “Oke-oke, aku diam deh.” Miranda mendengus, lalu memeluk lututnya di atas ranjang. “Kasihan juga, sih. Kak Vella kan cuma mau hidup tenang setelah cerai. Eh, malah dikasih bonus tetangga dari masa lalu.” Jevan kembali terkekeh. "Tapi jujur aja, aku jadi penasaran. Kalau mereka ketemu lagi, kira-kira salaman atau saling lempar panci?” Miranda menatap suaminya dengan durasi yang cukup lama, lalu menjawab dengan nada yakin. “Dua-duanya.” *** Sementara itu, di rumah nomor sebelas Green Valley Residence, Marvella duduk di ruang tamu dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Ponselnya bergetar lagi, dan ternyata pesan dari Miranda. ‘Kak, udah minum kopi, belum? Jangan stress. Anggap aja tetanggamu itu pemandangan. Toh, pemandangan yang bagus, kan?’ Marvella pun segera mengetik balasan. ‘Kalau aku mau lihat pemandangan, aku beli rumah di gunung! Bukan di sebelah trauma masa lalu.’ Ia menekan tombol kirim dan segera menutup ponsel. Di luar sana, terdengar suara berat yang berucap. “Oreo, jangan ke situ! Hei!" Suara itu. Suara yang dulu bisa menenangkan, sekarang malah membuat dadanya terasa panas. “Tiang listrik, Marvella. Fokus.” Ia menepuk pipinya sendiri. “Itu cuma tiang listrik. Tidak akan berbahaya kalau tidak disentuh.” Namun begitu ia berdiri dan berjalan ke dapur, matanya sempat menoleh sekilas lewat jendela. Dan di halaman sebelah sana, ada Dastan yang berdiri dengan mengenakan kaus putih dan rambut sedikit berantakan, sedang menggulung selang air di tangannya sambil menatap ke arah langit yang cerah. Marvella buru-buru mundur dan menutup tirai dengan cepat. “Ya ampun. Tiang listriknya bisa senyum.” Ia meraih cangkir kopi dan menelan tegukan terakhir seraya berguman. “Oke, hidup tenang dimulai sekarang... dan semoga nggak ada elemen kejutan lagi, please." **Flashback selesai**DUA PULUH TAHUN KEMUDIAN Kantor pusat Struktura Design sudah pindah ke gedung yang jauh lebih tinggi. Logo perusahaan itu pun kini sering muncul di berita nasional. Dan di lantai paling atas, ruang CEO masih terasa sama tegangnya. Hanya saja, sekarang sumber ketegangan itu terlihat berbeda. “Kenzo.” Suara Dastan berat, penuh otoritas. Kenzo Rafi, 31 tahun, Direktur Operasional, menoleh dengan ekspresi profesional. “Iya, Ayah?” Dastan menyilangkan tangan. “Kamu lihat Kaia hari ini?” Kenzo menjawab tanpa berkedip. “Lihat. Tadi pagi.” “Dengan siapa?” Reyhan yang duduk di sofa tamu menatap putrinya, Alya, yang berdiri santai di samping jendela seolah ini bukan interogasi keluarga. Alya, 23 tahun, arsitek muda yang baru lulus S2 dari Singapura, langsung menyahut lebih dulu. “Kaia kan meeting sama tim marketing, Om.” Kenzo mengangguk mantap. “Betul itu. Tim marketing.” Dastan menatap keduanya bergantian. “Tim marketing apa yang pakai motor gede dan jaket kulit?”
Kapal pesiar mewah itu berlayar perlahan meninggalkan Pelabuhan Tanjung Priok. Rute perjalanan ini sudah disusun secara pribadi oleh Dastan dan Reyhan, selaku penggagas untuk liburan keluarga mereka kali ini. Rutenya adalah Jakarta – Belitung – Labuan Bajo – Bali – Lombok. Perairan Indonesia bagian barat hingga timur yang terkenal dengan laut sebening kaca, gugusan pulau karst, dan matahari terbenam yang sulit ditandingi negara mana pun. Di atas kapal itu bukan hanya keluarga inti. Ada Dastan, Marvella, Kenzo dan Kaia. Ada juga Arman dan Lestari, orang tua Marvella. Dan Miranda serta Jevan dengan bayi laki-laki mereka yang masih berusia delapan bulan, Callum. Lalu ada Reyhan, Ara, dan Alya serta kedua orang tua Ara. Dan ibu Reyhan serta Risa, adik Reyhan. Kapal pesiar itu bukan sekadar sarana liburan. Tapi juga simbol bahwa mereka sudah melewati banyak hal. Luka, kehilangan, penantian... dan mereka tetap memilih untuk bertahan. *** Story 1 : Reyhan dan Ara – Mal
EMPAT TAHUN KEMUDIAN Ruang rapat utama kantor pusat Struktura Design pagi itu diisi suasana yang jauh lebih formal dari biasanya. Di seberang meja panjang duduk jajaran pejabat dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, lengkap dengan staf teknis, konsultan, dan map berlogo Garuda di atas meja. Di layar proyektor terpampang judul besar: Proyek Revitalisasi Kawasan Terpadu Tanggul Pesisir Utara Jakarta (Giant Sea Wall Tahap Lanjutan) Sebuah proyek strategis nasional. Dastan berdiri di sisi kanan layar, tenang seperti biasa, meskipun sorot matanya menunjukkan ini bukanlah proyek biasa. Reyhan tepat duduk di sampingnya memegang remote presentasi., kini jauh terlihat lebih matang dan lebih tegas dari empat tahun yang lalu. Sebagai Kepala Cabang Struktura Design di Singapura, ia diminta Dastan selaku CEO untuk kembali ke Indonesia, karena perusahaan mereka diminta secara khusus untuk proyek spesial dari Pemerintah. “Kementerian meminta kami sebagai lead design
Angin malam bergerak pelan, memainkan ujung rambut panjang Ara yang tergerai. Kota di bawah mereka berkilau seperti hamparan bintang yang jatuh ke bumi. Lilin-lilin di meja makan masih menyala hangat. Ara masih berdiri sangat dekat dengan Reyhan. Tatapan mereka tidak lagi setajam beberapa menit lalu. Kemarahan yang tadi membara telah berubah menjadi sesuatu yang lebih rapuh, dan lebih jujur. Reyhan mengangkat tangannya perlahan, lalu menyelipkan helaian rambut yang menutupi pipi Ara. Gerakannya lembut dan hati-hati. “Aku tidak ke mana-mana,” ulangnya pelan. Ara tidak menjawab. Tapi kali ini ia tidak mundur atau menjauh, membiarkan jarak di antara mereka yang tinggal hitungan napas. Reyhan sedikit menunduk seraya menatap bibir Ara yang mereka itu sejenak, seakan memberi ruang untuk penolakan. Namun Ara tetap tidak bergerak. Saat itu Reyhan baru yakin untuk mendaratkan ciumannya perlahan, namun mendalam. Tidak terburu-buru, tapi yang sarat akan penegasan. Ara m
Ara berdiri beberapa detik di depan pintu kamar hotel itu sebelum akhirnya mengetuk dengan pelan. Tidak ada jawaban. Ia menatap kembali access card di tangannya, lalu menggesekkannya pada panel sensor. Lampu hijau kecil di sensor itu seketika menyala, dan pintu pun terbuka dengan perlahan. Langkahnya terhenti tepat di ambang. Ruangan itu luas. Hangat, dengan lampu-lampu temaram menyala lembut. Di sepanjang lantai hingga menuju balkon, kelopak Juliet Rose tersusun rapi membentuk sebuah jalur untuk berjalan. Di atas meja kecil, lilin-lilin tinggi menyala.Aromanya lembut. Tidak menyengat. Ara mengembuskan napas panjang. Boleh juga effort-nya. “Reyhan…” Namanya belum selesai ia ucapkan ketika sosok itu tiba-tiba muncul dari sisi balkon. Dan untuk sesaat, Ara benar-benar lupa apa yang ingin ia katakan. Reyhan berdiri di sana, tanpa kacamata. Rambutnya ditata lebih rapi dari biasanya, jas hitamnya pas di badan, serta kemeja putih bersih tanpa dasi. Wajahnya
Ruang rapat Direksi Struktura Design pagi itu lebih sunyi dari biasanya. Di layar proyektor, grafik dan angka-angka sudah terpampang sejak sepuluh menit lalu. Dastan berdiri di depan meja panjang dengan kedua tangan bertumpu pada sandaran kursi. “Tim Manajemen Risiko dari Axco Finansia sudah menyelesaikan simulasi ekspansi regional,” ujarnya tenang namun tajam. “Hasilnya konsisten positif. Net present value berada di zona hijau. Internal rate of return melampaui target korporasi. Sensitivitas terhadap fluktuasi kurs masih dalam batas aman.” Beberapa kepala divisi saling bertukar pandang. Ekspansi regional bukan keputusan kecil. Itu berarti pembukaan cabang baru di luar negeri, yaitu di Singapura. “Singapura dipilih karena stabilitas hukum, akses regional, dan kemudahan perizinan,” lanjut Dastan. “Kita tidak masuk untuk coba-coba. Kita masuk untuk menetap.” Ia lalu menoleh ke arah tim legal. “Bagaimana kesiapan kita dari sisi regulasi?” Kepala legal membuka map tebal







