Rafka, kakak Tina, sudah lama meninggalkan Taman Mawar. Sejak membeli vila luas di pinggiran Jakarta, hidupnya berubah menjadi serangkaian pesta anggur malam hari dan pagi malas yang diiringi embusan angin dari pepohonan pinus di halaman belakang.
Dunia kerjanya dulu terasa jauh, seperti bayangan dari kehidupan lain. Tapi hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia kembali ke perusahaan.
Pagi itu, langit Jakarta seperti baru saja mencuci wajahnya, cerah tapi masih menyimpan jejak lembap dari hujan malam.
Gedung kantor berdiri tinggi, kaca-kacanya memantulkan cahaya matahari dengan angkuh. Rafka melangkah masuk, mengenakan jas hitam pekat yang tampak mahal, dengan kemeja biru pucat yang baru disetrika.
Di tangan kanannya, sebuah cangkir kopi putih besar berisi espresso dua shot bergoyang pelan mengikuti langkahnya.
Ia meminta sekretarisnya untuk mengumpulkan semua eksekutif dan kepala departemen. “Rapat dimulai jam sepuluh, jangan sampai
Usai makan malam, Hadi kembali ke hotel dengan langkah berat namun tenang, seolah tubuhnya berjalan sendiri tanpa perintah dari kepala.Malam di luar lembap, menyisakan embun tipis di bahu jasnya. Bau laut samar-samar terbawa angin, bercampur aroma tanah yang belum lama tersiram hujan.Tapi semua itu segera menguap saat ia memasuki lobi hotel.Ia baru saja hendak naik lift ketika seorang staf menyapanya dengan sopan, menyerahkan kartu akses baru dalam map kulit hitam berlogo emas.“Kamar Anda telah diperbarui, Pak Hadi. Sekarang Anda ditempatkan di Lantai 12, kamar 1203.”Alisnya mengerut. Perubahan kamar? Ia tidak meminta apa-apa. Namun rasa penasaran mendorongnya naik, dan saat pintu kamar mewah itu terbuka, Hadi berdiri di ambang dengan napas terhenti sesaat.Kamar itu lapang, temaram dengan pencahayaan hangat yang memeluk dinding krem dan furnitur kayu beraksen emas tua.Jendela besar menghadap laut malam yang gelap dan berkilau.
Hadi duduk mematung di balik kerumunan kru, wajahnya terpatuk bayangan sendiri. Keringat dingin merembes di pelipis, bukan karena terik siang di Buleleng, tapi karena apa yang baru saja terjadi.Sebagai stuntman, dia harusnya raja dalam adegan aksi, tapi selama ini ia hanya pelengkap, pembungkus luka aktor utama yang tetap bersinar.Hari itu, semua berubah.Adegan itu seharusnya sederhana: karakter Cameron Lawson menarik Dangelo agar selamat dari tembakan, lalu keduanya jatuh berguling dari lereng curam.Bukit itu, dengan semak-semak lebat dan akar-akar pohon tua yang mencuat liar, sudah disiapkan dengan hati-hati, kamera ditempatkan dari sudut dramatis, kabut buatan disemprotkan pelan dari mesin tersembunyi di balik rimbun.Tapi bukan efek visual yang menciptakan ketegangan sore itu, melainkan kenyataan.Ghani, sang pemeran utama, melayang lebih cepat dari yang seharusnya. Hadi menariknya terlalu kuat. Atau, mungkin bukan “terlalu”—mungkin
Nadira berseloroh sambil tertawa miris, "Soalnya ibu saya pikir saya jelek, jadi semua harapan ditaruh ke Gilang."Oman meledak dalam tawa yang nyaring, lepas tanpa beban, seperti seorang sahabat lama yang baru saja dikenang dengan cerita masa kecil."Hahaha! Kamu dulu lucu banget, seperti boneka."Nadira menyipitkan mata, alisnya naik setengah senti, dahi berkerut halus. "Oman..."Nada tegurannya samar, tapi cukup untuk menghentikan tawa Oman. Ia segera meralat, cepat dan penuh senyum."Tentu saja kamu masih lucu sekarang. Cuma... versi yang lebih nyebelin."Tawa mereka meletik lagi, pelan dan lebih hangat. Sejenak, udara di sekeliling terasa ringan, hampir seperti percikan mentari di tengah pagi yang berkabut.Namun suasana itu seketika buyar saat langkah kaki mendekat. Dua sosok muncul dari balik tirai tenda produksi.Hadi dan agennya.Lelaki berjas gelap dengan rambut klimis yang terlalu mengilap itu menyunggingkan s
Rekaman kamera pengawas tidak menunjukkan apa-apa. Tidak ada gerakan mencurigakan, tidak ada sosok yang tampak menyimpang dari skenario.Semuanya bersih, terlalu bersih. Padahal desas-desus sudah beredar pelan, seperti bisik angin yang membawa bau amis sebelum badai.Hadi, bintang utama sekaligus “titipan” produser, tetap berdiri di posisi yang aman. Terlalu banyak orang tahu permainan macam apa yang sedang dimainkan, tapi tak satu pun berani bicara.Dalam industri ini, keheningan jauh lebih berharga daripada kejujuran.Prinsip yang tak tertulis pun berlaku: jangan cari masalah kalau tak ada bukti kuat. Maka ketika Ghani—pemeran Dangelo—terpeleset secara tidak wajar dan harus dilarikan ke rumah sakit di Denpasar, semua hanya mengangguk pelan, lalu kembali bekerja seolah tak terjadi apa-apa.Padahal langkah mereka semua kini diselimuti bayangan kemungkinan: peran Dangelo bisa digantikan dalam waktu dekat.Sore itu, langit Bali mengga
"Dia bermain-main dengan terlalu banyak orang... Sepertinya dia sudah siap keluar dari industri ini."Kalimat itu menggantung di udara, tajam seperti embusan angin yang membawa firasat buruk. Dipa menatap Nadira dengan mata yang menyipit, mencoba menangkap sesuatu dari nada suara atau sorot matanya yang bisa menjelaskan semuanya.Tapi wajah Nadira tampak seperti topeng, rapat dan dingin. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengucapkan sesuatu seberat itu."Kenapa kamu bilang begitu?" Suara Dipa keluar lebih pelan dari yang ia maksudkan, nyaris berbisik.Namun ketegangan dalam nada bicaranya tidak bisa disembunyikan. Ada sesuatu yang menggigit di dadanya, naluri yang berkata bahwa semua ini pasti berkaitan dengan Ghani, kakaknya.Naluri yang tidak membutuhkannya menjadi detektif untuk tahu ada yang salah.Nadira memalingkan wajahnya, menatap jalanan lengang di luar jendela kafe tempat mereka duduk.Matanya menerawang, seolah
Wajah Nadira mengeras, sorot matanya berubah tajam, seperti langit mendung yang menyimpan hujan deras."Kakinya belum sembuh benar, kenapa malah ambil job akting? Mau bunuh diri?"Kalimat itu meluncur dingin saat ia memasuki ruang rawat, tanpa basa-basi. Nadira berdiri di kaki ranjang, lengan terlipat, seragam medisnya masih rapi meski sudah seharian berkutat di rumah sakit.Di hadapannya, Ghani terbaring pucat di ranjang pasien, pipinya cekung, rambutnya berantakan seolah tak sempat disisir.Namun di balik tatapan tegas itu, Ghani menangkap sesuatu yang lain. Ada semacam kepedulian tulus yang asing, yang tidak ia temukan di wajah para produser atau manajer yang selama ini hanya menghitung angka rating dan popularitas."Aku nggak apa-apa, dr. Wulandaru," katanya pelan, mencoba menahan nyeri yang menusuk dari lutut kirinya.Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Ini cedera lama. Aku sudah urus dengan baik."Nadira men