Share

Bab 4

Author: Peachy
Menghadapi pengkhianatan itu, aku membunuh sisa rasa belas kasih yang masih aku miliki.

Di rapat dewan sore itu, aku menancapkan sebuah diska lepas ke komputer dan menampilkannya di layar raksasa. Semua eksekutif di ruangan itu langsung terkejut karena itu bukan rencana bisnis, melainkan laporan dari rekening pribadinya Jack.

"Tiga bulan yang lalu, Presidential Suite di Penisilia seharga delapan ratus tujuh puluh juta. Dua bulan yang lalu, sewa jet pribadi ke Milami seharga satu miliar delapan ratus juta. Minggu lalu, Patek Philippe pesanan khusus seharga satu miliar delapan ratus sembilan puluh juta," jelasku.

Setelah itu, aku mengetuk angka-angka yang mencolok di layar itu dan melirik Jack yang duduk di ujung meja dengan tatapan dingin. "Jack, kamu boleh pakai dana perusahaan untuk memanjakan mainan kecilmu."

Aku menatap ke seluruh ruangan dan melanjutkan, "Tapi, setidaknya pastikan dulu siapa yang sebenarnya sedang berbohong."

Suara bisik-bisik langsung pecah di seluruh meja rapat, lalu semua orang menatap kedua orang itu dengan tatapan menghina.

Wajah Jack menjadi pucat, lalu memerah dan urat di keningnya menonjol.

Aku mengabaikan Jack, lalu langsung memerintah para staf logistik, "Kembalikan kantorku sama seperti semula. Kalau ada satu lembar kertas saja yang hilang, kalian yang tanggung jawab padaku."

Chris segera keluar bersama anak buahnya. Dia bahkan mengeluarkan sebotol disinfektan dan menyemprotkannya ke mana-mana tepat di depan Bianca, lalu mengejek dengan suara keras, "Menjijikkan, seperti bau parfum murahan."

"Bagus! Bagus sekali!" teriak Jack yang kehilangan kendali. Karena dipermalukan habis-habisan, dia pun tidak sanggup duduk di sana lebih lama lagi. Dia menarik Bianca yang matanya berkaca-kaca, lalu menyeretnya keluar ruangan seperti anjing yang kalah perang.

Saat aku baru saja hendak duduk, ponselku bergetar dan itu adalah telepon dari ayahku, Marko. Aku pun mengangkatnya.

Dari seberang telepon, terdengar suara ayahku yang berwibawa sekaligus kelelahan. "Alisia, jet keluarga sudah mengudara. Kamu benar-benar akan pulang?"

Mendengar logat Sicily yang familier itu, hatiku yang dingin akhirnya merasa agak hangat. Aku menjawab dengan pelan, "Ya, Papa. Aku akan pulang. Aku tahu Mama sedang sakit. Jangan bilang padanya kalau aku akan pulang, aku mau beri dia kejutan."

Setelah rapat dewan itu, Jack tidak berusaha untuk berpura-pura lagi. Setiap hari, dia dan Bianca memamerkan hubungan mereka secara terang-terangan.

Bianca berjalan ke sana sini seolah-olah perusahaan itu adalah miliknya. Dia mengenakan pakaian yang makin mahal dan bahkan mulai ikut campur dalam persetujuan anggaran di berbagai departemen.

Chris merasa sangat kesal hingga dia menerobos masuk ke kantorku tiga kali sehari. "Alisia, dia menahan anggaran timku. Wanita itu sedang mabuk kekuasaan."

Aku menyesap kopi hitamku, lalu menepuk bahu Chris. "Bertahanlah."

Aku menatap ke arah punggung Bianca yang angkuh melalui tirai, lalu tersenyum tipis. Aku sengaja membiarkannya bertindak sesuka hati. Makin tinggi mereka terbang, mereka akan jatuh makin keras.

Hingga kunjungan kelima ke kantorku, Bianca bahkan tidak mengetuk pintu lagi. Dia menerobos masuk ke kantorku, lalu membanting sebuah berkas ke atas mejaku dan berteriak, "Alisia, kenapa kamu masih bertahan di tempat ini? Jack sama sekali nggak mencintaimu. Cepat berkemas dan pergi dari sini, itu lebih baik untuk semua orang."

Kata-kata Jack tidak mencintaiku itu bergema di udara. Baiklah, mari kita lihat seberapa berharganya cinta itu. Mari kita pasang harga untuk cinta itu.

Aku meletakkan penaku dan perlahan-lahan berdiri. Aku berjalan mendekati Bianca, lalu mengulurkan tangan dan merapikan kerah blazer Dior miliknya yang baru. "Bianca, kamu benar-benar nggak sabar mau ambil posisiku ya. Ayo kita main yang lebih besar."

Aku menatap Bianca dengan tanpa ekspresi dan melemparkan umpannya. "Aku akan pertaruhkan 49% sahamku di Grup Aplez."

Bianca langsung membeku, lalu menatapku dengan tatapan waspada.

Aku berkata dengan tegas, "Pergilah dan minta 10% dari saham milik Jack. Kalau dia memberikannya padamu, aku akan lepaskan seluruh sahamku. Aku akan pergi tanpa bawa apa pun."

Melihat mata Bianca membelalak, aku melempar taruhan terakhir. "Dan kalau dia menolak ... kamu yang akan menghilang dari perusahaan ini dan hidupku untuk selamanya."

Wajah Bianca langsung pucat. Meminta saham berarti menantang kendali mutlak Jack atas perusahaan dan itu sama saja dengan mencari mati. Namun, iming-iming 49% saham dan tantangan itu terlalu menggiurkan, keserakahan pun akhirnya mengalahkan rasa takutnya. Dia menggertakkan gigi dan menatapku dengan tajam. "Baik. Kamu akan menyesali ini."

Beberapa hari kemudian, Bianca masuk ke kantorku dengan sepatu hak tinggi dan berjalan seperti pemenang.

Sementara itu, Jack berjalan di belakang Bianca dan terlihat ragu-ragu.

Brak.

Bianca membanting sebuah perjanjian pengalihan saham ke atas mejaku dengan tubuh yang bergetar karena merasa gembira. "Alisia, buka mata sialanmu dan baca ini."

Aku mengambil kontrak itu, lalu membaca angka-angkanya. Ternyata Jack benar-benar memberikan saham 15% itu pada Bianca. Hanya untuk menyingkirkanku, dia sampai mengurangi saham kepemilikannya sendiri menjadi 36% saja. Dia baru saja menyerahkan kendali mayoritasnya, benar-benar pria yang luar biasa bodoh.

Karena tidak bisa menahan diri lagi, aku langsung tertawa terbahak-bahak.

Melihat aku tertawa alih-alih menangis, Jack terlihat merasa tidak nyaman. Dia berdeham, berusaha mempertahankan wibawanya sebagai seorang CEO. "Ini hanya hadiah kecil untuk Bianca. Belakangan ini dia sudah melalui banyak hal. Dia pantas mendapatkannya."

Jack menatapku dengan tatapan sombong seperti seorang pemenang, seolah-olah dia sudah bisa membayangkan diriku yang berlutut dan memohon karena kehilangan segalanya. "Tapi, kalangan elite Jalan Berjaya sangat menjunjung kredibilitas. Bahkan taruhan pribadi pun tetap taruhan. Kamu sudah kalah, bayarlah."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mantanku yang Kaya Raya Menyesal Telah Meninggalkanku   Bab 10

    Saat melihatku, kebahagiaan yang murni dan tak tersamarkan terlihat di mata Jack yang selama ini redup tak bercahaya.Dia mengira aku melunak. Dia mengira Ratu Jalan Berjaya yang selalu berada di puncak itu masih tidak mampu melepaskan hubungan sepuluh tahun yang pernah kami jalani.Tanpa ekspresi, aku berbalik dan menuntunnya ke sebuah ruang privat yang kosong di hotel itu. Pintu tertutup di belakang kami, memutus semua kebisingan dari luar.Jack berdiri dengan canggung, tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana."Alisia ...." Dia menatapku dengan hati-hati, suaranya bergetar. "A ... apa kamu masih membenciku?"Aku berjalan ke minibar dan menuangkan segelas air es untuk diriku sendiri."Saat pertama kali melihat foto kamu dan Bianca bermesraan di kapal pesiar itu, ya, aku membencimu." Aku memegang gelasku, tetap tenang. "Sekarang? Sudah nggak lagi. Kalau mau membencimu, aku harus punya sisa perasaan padamu. Dan aku sudah nggak merasakan apa pun."Mendengar kata-kata itu, cahaya di

  • Mantanku yang Kaya Raya Menyesal Telah Meninggalkanku   Bab 9

    Matahari di Sicily tetap menyengat seperti biasanya.Di luar jalur VIP Bandara Pamo, aku sedang menunggu seorang kritikus arsitektur ternama yang kuundang secara khusus.Dari sudut mataku, aku melihat sosok menyedihkan yang terlihat tidak asing. Wajahnya dipenuhi janggut yang tak terurus, mengenakan setelan tua yang kusut, dan matanya benar-benar seperti kehilangan cahaya kehidupan.Itu Jack.Sudah setahun aku tidak melihatnya. Namun, Lisa selalu memberiku kabar mingguan tentang kehidupannya yang menyedihkan.Di bawah tangan besi Lisa, kehidupan Jack dan Bianca di Grup Aplez benar-benar seperti neraka. Dalam waktu dua bulan saja, Bianca tidak sanggup lagi menahan tekanan dan akhirnya mengundurkan diri.Dia menjadi seperti orang gila, terus-menerus mengejar Jack agar mencairkan saham miliknya dan memberikan uang yang pernah dijanjikannya. Namun, Jack yang sudah kehilangan seluruh kekuasaan dan pengaruhnya, menolak mengeluarkan sepeser pun.Mereka bahkan sampai bertengkar secara fisik di

  • Mantanku yang Kaya Raya Menyesal Telah Meninggalkanku   Bab 8

    Jet pribadiku mendarat mulus di landasan khusus di Sicily.Pintu kabin terbuka dan sinar matahari yang terang langsung memenuhi bagian dalam pesawat, seketika mengusir sisa-sisa bayangan Chago.Yang menunggu di bawah tangga adalah ayahku, bos mafia yang paling ditakuti di Sicily.Di sampingnya berdiri seorang pria yang seolah-olah menguasai ruang di sekitarnya. Tunangan hasil perjodohanku yang selama ini hanya kudengar dari cerita.Namanya David. Bos mafia termuda yang memimpin salah satu dari Lima Keluarga Besar Anarik Utara.Dia mengenakan setelan jas hitam yang dijahit sempurna, dengan satu tangan terselip santai di saku celananya. Wibawanya tidak dipaksakan seperti Jack. Auranya terasa dalam dan berbahaya. Tampak sangat elegan."Selamat datang kembali, Putriku." Ayahku melangkah maju dan memelukku erat-erat.Kemudian, David menghampiri dengan langkah panjang dan tenang. Dia tidak menatapku dengan kesombongan seorang pria yang sedang menilai sebuah trofi.Sebaliknya, tatapannya dipe

  • Mantanku yang Kaya Raya Menyesal Telah Meninggalkanku   Bab 7

    Jack terhenyak. Benar-benar seperti tersambar petir di siang bolong.Enam puluh empat persen? Dari mana?Dia menerjang meja dan membolak-balik dokumen pengalihan saham yang telah distempel resmi dengan tangan gemetar.Brak!Pengawal Lisa maju selangkah, mencengkeram bahu Jack dan memaksanya mundur."Sekarang sudah jelas?" Lisa mencibir dengan tatapan penuh penghinaan. "Mulai hari ini, aku yang mengambil semua keputusan di Aplez. Mulai hari ini, Jack, semua kewenangan manajemenmu di perusahaan ini resmi dicabut. Bereskan barang-barangmu dan pulanglah."Jack menatap tanda tangan di dokumen itu tanpa berkedip. Kemudian, dia mendongak mendadak, matanya memerah."Alisia! Apa kamu sudah gila?!" teriaknya seperti orang kesurupan. "Kamu jual semua yang kita bangun selama lima tahun?!"Aku menatap wajahnya yang marah dan menyedihkan itu, lalu tertawa dingin."Jack, kalau kamu bisa dengan murah hati memberikan 15% sahammu kepada selingkuhanmu sebagai bayaran atas jasanya, aku juga bisa secara sa

  • Mantanku yang Kaya Raya Menyesal Telah Meninggalkanku   Bab 6

    Jack mengernyit.Dia menatapku lekat-lekat, mencari tanda bahwa aku hanya menggertak. Namun, tatapanku yang tak goyah membuat hatinya panik.Dia terlalu mengenalku dengan baik. Jika aku sudah mengambil keputusan, aku tidak pernah kalah.Ketakutan yang tersembunyi itu membuatnya mengubah taktik. Dia berjalan mengitari meja hingga berada di sisiku, lalu melembutkan suaranya, mencoba trik manipulasi lamanya yang selalu dia gunakan."Alisia, tolong hentikan ini." Jack menghela napas sambil mengulurkan tangan ke bahuku. "Beberapa hari lagi adalah peringatan sepuluh tahun hubungan kita. Aku akan mengatur pesta pertunangan kita. Setelah kuartal ini berakhir, aku akan meluangkan waktu untuk pergi ke Sicily bersamamu ya?"Ke Sicily lagi.Hidungku terasa perih saat kenangan lama membanjiri pikiranku.Dulu, di apartemen paling kumuh di kota ini, aku meringkuk di sofa rusak sambil bersandar dalam pelukan Jack, berbagi mimpi-mimpi terbesarku.Aku pernah bercerita padanya bagaimana aku bekerja mati-

  • Mantanku yang Kaya Raya Menyesal Telah Meninggalkanku   Bab 5

    Jack membungkuk di atas mejaku, lalu tersenyum arogan dan mengasihani. "Jangan menatapku seperti itu, Alisia. Meskipun kamu lepaskan sahammu, aku tetap akan menikahimu. Kamu ini istriku satu-satunya, Alisia."Dia bahkan mengulurkan tangan untuk menyentuh pipiku, tetapi aku memalingkan wajah. Dia tidak peduli, melainkan menarik kembali tangannya dan terus memberikan janji-janji kosong. "Aku akan lipat gandakan uang bulananmu, kamu bisa berbelanja dan pergi ke spa sesukamu. Bianca tahu posisinya, dia nggak akan pernah menantang kedudukanmu di rumah."Jack sedang berperan menjadi Tuhan, permainan kecilnya yang menjijikkan.Saat menatap wajah Jack yang terasa begitu familier sekaligus asing itu, rasa mual naik ke tenggorokanku. Aku menatapnya dengan tatapan dingin dan berkata, "Hapus ekspresi menjijikkan itu dari wajahmu, Jack. Kamu nggak pantas mendapatkanku."Ekspresi Jack langsung muram dan topengnya terlepas saat amarah menguasainya. Dia berdiri tegak dan mencibir, "Terserah kamu saja.

  • Mantanku yang Kaya Raya Menyesal Telah Meninggalkanku   Bab 3

    Amarahku tidak meledak seperti yang diharapkan Jack. Hanya menatapnya menggendong wanita simpanannya itu, aku sudah merasa jijik. Aku melangkah maju dan memukul meja dengan keras. "Kejam? Baiklah. Ayo kita bicara soal bisnis. Kita harus bagaimana menutupi lubang 75 miliar lima juta dolar ini. Bagai

  • Mantanku yang Kaya Raya Menyesal Telah Meninggalkanku   Bab 2

    Layar ponselku menyala dan masuk sebuah pesan enkripsi dari keluargaku.[ Jet pribadi sudah siap dan akan jemput kamu pulang dalam tiga hari ini. ]Melihat pesan itu, rasa jijikku langsung menghilang. Meskipun aku akan pergi untuk selamanya, aku sama sekali tidak berniat bertengkar dengan Jack untuk

  • Mantanku yang Kaya Raya Menyesal Telah Meninggalkanku   Bab 1

    Aku telah mencintai Jack selama sepuluh tahun, tetapi sekarang aku meninggalkannya untuk menikahi bos paling berkuasa di Kosta Nika.Saat aku baru saja menutup ritsleting koperku di malam itu, pintu apartemen dibanting hingga terbuka. Setelah itu, terlihat Jack berdiri di dekat pintu sambil melongga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status