เข้าสู่ระบบSaat melihatku, kebahagiaan yang murni dan tak tersamarkan terlihat di mata Jack yang selama ini redup tak bercahaya.Dia mengira aku melunak. Dia mengira Ratu Jalan Berjaya yang selalu berada di puncak itu masih tidak mampu melepaskan hubungan sepuluh tahun yang pernah kami jalani.Tanpa ekspresi, aku berbalik dan menuntunnya ke sebuah ruang privat yang kosong di hotel itu. Pintu tertutup di belakang kami, memutus semua kebisingan dari luar.Jack berdiri dengan canggung, tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana."Alisia ...." Dia menatapku dengan hati-hati, suaranya bergetar. "A ... apa kamu masih membenciku?"Aku berjalan ke minibar dan menuangkan segelas air es untuk diriku sendiri."Saat pertama kali melihat foto kamu dan Bianca bermesraan di kapal pesiar itu, ya, aku membencimu." Aku memegang gelasku, tetap tenang. "Sekarang? Sudah nggak lagi. Kalau mau membencimu, aku harus punya sisa perasaan padamu. Dan aku sudah nggak merasakan apa pun."Mendengar kata-kata itu, cahaya di
Matahari di Sicily tetap menyengat seperti biasanya.Di luar jalur VIP Bandara Pamo, aku sedang menunggu seorang kritikus arsitektur ternama yang kuundang secara khusus.Dari sudut mataku, aku melihat sosok menyedihkan yang terlihat tidak asing. Wajahnya dipenuhi janggut yang tak terurus, mengenakan setelan tua yang kusut, dan matanya benar-benar seperti kehilangan cahaya kehidupan.Itu Jack.Sudah setahun aku tidak melihatnya. Namun, Lisa selalu memberiku kabar mingguan tentang kehidupannya yang menyedihkan.Di bawah tangan besi Lisa, kehidupan Jack dan Bianca di Grup Aplez benar-benar seperti neraka. Dalam waktu dua bulan saja, Bianca tidak sanggup lagi menahan tekanan dan akhirnya mengundurkan diri.Dia menjadi seperti orang gila, terus-menerus mengejar Jack agar mencairkan saham miliknya dan memberikan uang yang pernah dijanjikannya. Namun, Jack yang sudah kehilangan seluruh kekuasaan dan pengaruhnya, menolak mengeluarkan sepeser pun.Mereka bahkan sampai bertengkar secara fisik di
Jet pribadiku mendarat mulus di landasan khusus di Sicily.Pintu kabin terbuka dan sinar matahari yang terang langsung memenuhi bagian dalam pesawat, seketika mengusir sisa-sisa bayangan Chago.Yang menunggu di bawah tangga adalah ayahku, bos mafia yang paling ditakuti di Sicily.Di sampingnya berdiri seorang pria yang seolah-olah menguasai ruang di sekitarnya. Tunangan hasil perjodohanku yang selama ini hanya kudengar dari cerita.Namanya David. Bos mafia termuda yang memimpin salah satu dari Lima Keluarga Besar Anarik Utara.Dia mengenakan setelan jas hitam yang dijahit sempurna, dengan satu tangan terselip santai di saku celananya. Wibawanya tidak dipaksakan seperti Jack. Auranya terasa dalam dan berbahaya. Tampak sangat elegan."Selamat datang kembali, Putriku." Ayahku melangkah maju dan memelukku erat-erat.Kemudian, David menghampiri dengan langkah panjang dan tenang. Dia tidak menatapku dengan kesombongan seorang pria yang sedang menilai sebuah trofi.Sebaliknya, tatapannya dipe
Jack terhenyak. Benar-benar seperti tersambar petir di siang bolong.Enam puluh empat persen? Dari mana?Dia menerjang meja dan membolak-balik dokumen pengalihan saham yang telah distempel resmi dengan tangan gemetar.Brak!Pengawal Lisa maju selangkah, mencengkeram bahu Jack dan memaksanya mundur."Sekarang sudah jelas?" Lisa mencibir dengan tatapan penuh penghinaan. "Mulai hari ini, aku yang mengambil semua keputusan di Aplez. Mulai hari ini, Jack, semua kewenangan manajemenmu di perusahaan ini resmi dicabut. Bereskan barang-barangmu dan pulanglah."Jack menatap tanda tangan di dokumen itu tanpa berkedip. Kemudian, dia mendongak mendadak, matanya memerah."Alisia! Apa kamu sudah gila?!" teriaknya seperti orang kesurupan. "Kamu jual semua yang kita bangun selama lima tahun?!"Aku menatap wajahnya yang marah dan menyedihkan itu, lalu tertawa dingin."Jack, kalau kamu bisa dengan murah hati memberikan 15% sahammu kepada selingkuhanmu sebagai bayaran atas jasanya, aku juga bisa secara sa
Jack mengernyit.Dia menatapku lekat-lekat, mencari tanda bahwa aku hanya menggertak. Namun, tatapanku yang tak goyah membuat hatinya panik.Dia terlalu mengenalku dengan baik. Jika aku sudah mengambil keputusan, aku tidak pernah kalah.Ketakutan yang tersembunyi itu membuatnya mengubah taktik. Dia berjalan mengitari meja hingga berada di sisiku, lalu melembutkan suaranya, mencoba trik manipulasi lamanya yang selalu dia gunakan."Alisia, tolong hentikan ini." Jack menghela napas sambil mengulurkan tangan ke bahuku. "Beberapa hari lagi adalah peringatan sepuluh tahun hubungan kita. Aku akan mengatur pesta pertunangan kita. Setelah kuartal ini berakhir, aku akan meluangkan waktu untuk pergi ke Sicily bersamamu ya?"Ke Sicily lagi.Hidungku terasa perih saat kenangan lama membanjiri pikiranku.Dulu, di apartemen paling kumuh di kota ini, aku meringkuk di sofa rusak sambil bersandar dalam pelukan Jack, berbagi mimpi-mimpi terbesarku.Aku pernah bercerita padanya bagaimana aku bekerja mati-
Jack membungkuk di atas mejaku, lalu tersenyum arogan dan mengasihani. "Jangan menatapku seperti itu, Alisia. Meskipun kamu lepaskan sahammu, aku tetap akan menikahimu. Kamu ini istriku satu-satunya, Alisia."Dia bahkan mengulurkan tangan untuk menyentuh pipiku, tetapi aku memalingkan wajah. Dia tidak peduli, melainkan menarik kembali tangannya dan terus memberikan janji-janji kosong. "Aku akan lipat gandakan uang bulananmu, kamu bisa berbelanja dan pergi ke spa sesukamu. Bianca tahu posisinya, dia nggak akan pernah menantang kedudukanmu di rumah."Jack sedang berperan menjadi Tuhan, permainan kecilnya yang menjijikkan.Saat menatap wajah Jack yang terasa begitu familier sekaligus asing itu, rasa mual naik ke tenggorokanku. Aku menatapnya dengan tatapan dingin dan berkata, "Hapus ekspresi menjijikkan itu dari wajahmu, Jack. Kamu nggak pantas mendapatkanku."Ekspresi Jack langsung muram dan topengnya terlepas saat amarah menguasainya. Dia berdiri tegak dan mencibir, "Terserah kamu saja.
Menghadapi pengkhianatan itu, aku membunuh sisa rasa belas kasih yang masih aku miliki.Di rapat dewan sore itu, aku menancapkan sebuah diska lepas ke komputer dan menampilkannya di layar raksasa. Semua eksekutif di ruangan itu langsung terkejut karena itu bukan rencana bisnis, melainkan laporan dar
Amarahku tidak meledak seperti yang diharapkan Jack. Hanya menatapnya menggendong wanita simpanannya itu, aku sudah merasa jijik. Aku melangkah maju dan memukul meja dengan keras. "Kejam? Baiklah. Ayo kita bicara soal bisnis. Kita harus bagaimana menutupi lubang 75 miliar lima juta dolar ini. Bagai
Aku telah mencintai Jack selama sepuluh tahun, tetapi sekarang aku meninggalkannya untuk menikahi bos paling berkuasa di Kosta Nika.Saat aku baru saja menutup ritsleting koperku di malam itu, pintu apartemen dibanting hingga terbuka. Setelah itu, terlihat Jack berdiri di dekat pintu sambil melongga







