LOGINNamaku Evan Fander. Aku sahabat Reyhan sejak kecil dan saksi mata dari awal mula kisah cinta mereka yang menggelegar, sampai akhirnya hancur lebur tanpa sisa.Kalau diingat-ingat lagi, rasanya hanya bisa menghela napas panjang. Reyhan ini benar-benar ... sudah di posisi yang paling menguntungkan, tapi malah mengacaukannya sendiri.Dulu, waktu dia mengejar Salma, sumpah, itu benar-benar heboh setengah mati.Menyatakan cinta di bawah tiang bendera, hingga menyewa taman hiburan untuk melamar, siapa yang tidak iri melihat Salma mendapatkan pria yang begitu cinta mati seperti itu?Kita semua, geng sahabatnya, sudah sangat yakin kalau mereka akan berakhir bahagia seperti di dalam cerita dongeng.Salma adalah gadis yang cantik dengan latar belakang keluarga yang baik. Namun, yang paling penting adalah hatinya begitu murni layaknya kristal dan seluruh dunianya hanya terpusat pada Reyhan. Kala itu, kami semua sering menggoda Reyhan dan mengatakan bahwa dia telah menghabiskan keberuntungan dari
Aku Irwan Prayoga.Banyak orang bilang aku beruntung. Beruntung bisa hadir di sisi Salma saat dia berada di titik paling rapuh dan pada akhirnya, berhasil memenangkan hatinya.Namun, cuma aku sendiri yang tahu bahwa dibalik keberuntungan ini, ada penantian panjang dalam diam selama 20 tahun.Aku mengenal Salma jauh sebelum Reyhan.Kami dulu bertetangga. Sejak kecil, bibit cantiknya sudah terlihat. Matanya berbinar bagai bintang dan senyumnya sanggup membuat segala sesuatu di sekitarnya terasa pudar.Sedangkan aku, hanyalah kakak pendiam yang selalu menjaganya dalam diam, membawakan tas sekolahnya, dan mengusir serangga yang mendekatinya.Saat usiaku sepuluh tahun, keluargaku pindah ke luar negeri.Sebelum berangkat, dia berlari untuk mengantarku. Dia menyodorkan sebutir permen susu Milkita, lalu berkata dengan suara imutnya, "Kak Irwan, jangan lupa pulang dan main ke sini lagi, ya!"Saat itu, hatiku terasa sesak. Aku sadar, ada benih yang sudah lama diam-diam tertanam di hati.Bertahun
Dia berpikir, mungkin jika Salma tahu kebenarannya, tahu betapa konyol dan menggelikannya "obsesi kebersihan" dan rasa jijiknya yang sialan itu, hati Salma akan terasa sedikit lebih lega?Mungkin ... mungkin retakan fatal di antara mereka bisa ditambal sedikit demi sedikit karena hal ini? Meski kesempatannya hanya satu banding sepuluh ribu.Beberapa hari kemudian, setelah sebuah pameran seni kecil yang diadakan oleh studio Salma usai, Reyhan memberanikan diri, dan secara "kebetulan" berpapasan dengannya di kafe di bawah gedung studionya.Salma sepertinya tahu dia akan datang, tidak menunjukkan banyak kejutan, hanya duduk di hadapannya dengan tenang.Setelah lebih dari dua tahun tak bertemu, menatapnya dari dekat, Reyhan menyadari perempuan itu jauh lebih cantik daripada dalam ingatannya. Ketenangan dan kepercayaan diri yang memancar dari dalam dirinya adalah sesuatu yang sama sekali belum pernah dimiliki Salma di masa lalu. Perasaannya campur aduk, tenggorokannya terasa tercekat."Berk
Salma dan Irwan memasuki ruangan sambil berjalan berdampingan.Salma mengenakan gaun panjang off-shoulder berwarna biru safir, yang menonjolkan kulitnya yang seputih susu dan siluet tubuhnya yang anggun memikat. Rambut panjangnya disanggul dengan elegan, memperlihatkan leher yang mulus serta tulang selangka yang indah. Riasan tipis yang indah menghiasi wajahnya, sementara gurat matanya memancarkan rasa percaya diri dan pesona yang belum pernah ada sebelumnya.Dia dengan lembut menggandeng lengan Irwan. Keduanya berbincang pelan, sesekali bertatapan dan tersenyum. Keakraban dan kecocokan yang begitu alami itu membuat iri banyak orang yang hadir, dan bagaikan belati membara, menusuk langsung ke jantung Reyhan!Irwan tetap terlihat lembut dan berkelas, tetapi di antara alisnya kini terpancar ketenangan dan ketajaman setelah berkecimpung di dunia bisnis. Berdiri berdampingan dengan Salma, mereka tampak begitu serasi bagaikan pasangan yang sempurna.Gelas di tangan Reyhan bergetar hebat, an
Teriakan itu ditelan oleh angin laut, lenyap dalam pelukan senja yang membentang luas.Reyhan tergeletak di sana bagaikan seonggok lumpur, menatap ke arah hilangnya Salma dengan air mata yang terus bercucuran, hingga malam benar-benar turun dan langit dipenuhi taburan bintang.Dia tahu, dia telah kehilangan perempuan itu untuk selamanya.Bukan sejak perempuan itu menandatangani surat cerai, juga bukan sejak perempuan itu meninggalkan Kota Awangga, melainkan mulai dari detik ini, dari saat dia mendengar langsung perempuan itu berkata 'hidup matimu bukan urusanku', dia secara total dan untuk selamanya, kehilangan gadis yang dulu menyayanginya melebihi nyawanya sendiri.Setelah benar-benar terbebas dari gangguan Reyhan, kehidupan Salma seolah terlepas dari beban yang teramat berat, siap menyambut cakrawala yang luas.Dia mencurahkan seluruh energinya ke dalam studio seni merangkai bunga "Nirmala Bloom Studio".Bakat desainnya perlahan mulai menonjol. Berbeda dengan kelembutan seni merangk
Reyhan tidak bisa menunggu lagi.Dia harus membuat keputusan akhir, entah membuatnya kembali ke sisinya, atau ... hancur bersama.Kesempatan itu datang pada suatu senja di akhir pekan.Irwan mendadak ada rapat bisnis mendesak dan terbang ke kota tetangga. Salma pergi sendirian untuk melukis di sebuah garis pantai tebing di sisi timur Pulau Seruni, sebuah tempat yang relatif sepi dan terkenal dengan pemandangan matahari terbenamnya yang megah. Di sana, jajaran batu karang tampak menjulang terjal, ombak besar menghantam tepi pantai, dan area tersebut sangat jarang dijamah orang.Saat Reyhan memacu mobil dengan kesetanan menuju ke sana, matahari terbenam sedang mewarnai permukaan laut dengan warna jingga kemerahan yang pilu sekaligus indah.Dari jauh dia melihat Salma duduk di atas sebuah karang raksasa yang datar, menopang papan lukis, dengan tenang mengoleskan warna. Angin laut menerbangkan rambut panjang dan ujung roknya, profil tubuhnya tampak tenang dan indah, seolah telah menyatu de







