Share

Bab 3

Penulis: Guren
Adegan dalam video itu bagaikan jarum beracun yang menusuk tajam ke dalam matanya, memicu rasa sakit yang luar biasa hingga pandangannya menjadi gelap.

Dia buru-buru mematikan ponselnya, lalu bergegas ke kamar mandi. Berdiri di depan kloset, dia mencoba memuntahkan isi perutnya, tetapi tak ada yang keluar. Hanya air mata yang mengalir deras tanpa bisa ditahan.

Dia mulai mengemas barang-barangnya dengan kalut, memasukkan barang pribadinya ke dalam koper satu per satu.

Gerakannya begitu cepat dan panik, seolah-olah tertinggal satu detik saja di tempat itu akan membuatnya tercekik oleh sisa-sisa aroma Reyhan yang masih melekat di setiap sudut ruangan.

Tepat saat dia selesai mengemas semuanya, terdengar suara pintu terbuka dari arah ruang depan.

Reyhan sudah pulang.

Pria itu masuk dengan membawa beberapa kantong berisi barang-barang mewah, wajahnya mengukir senyum lembut yang biasa dia berikan khusus untuk sang istri. "Salma, aku udah pulang. Tadi ada jamuan, jadi agak telat. Nih, coba lihat, aku bawain tas sama kalung keluaran terbaru buat kamu. Suka nggak?"

Seandainya ini terjadi di masa lalu, Salma pasti sudah dengan riang menghampirinya, mengambil kantong-kantong itu, dan memberinya pelukan hangat.

Akan tetapi, sekarang, dia tahu betul bahwa pria itu baru saja beranjak dari ranjang Giselle dan mungkin saja tubuhnya masih membawa aroma perempuan lain.

Dia menatap pria itu dengan tatapan kosong.

Reyhan dengan sigap menyadari ada yang tak beres. Dia meletakkan barang-barang bawaannya, melangkah mendekat, lalu merangkulnya dengan nada penuh kekhawatiran, "Kenapa? Kok pucat banget? Nggak enak badan?"

Salma tak ingin pria itu mencurigai apa-apa. Dia menahan keras gejolak di dadanya, lalu memalingkan wajah dan menjawab pelan, "Nggak apa-apa. Lagi dapet, perut agak sakit."

Mendengar itu, Reyhan langsung tampak cemas, "Kok nggak bilang dari tadi? Tunggu di sini ya, aku bikinin jamu kunyit dulu."

Dengan terampil, pria itu mengikat celemek di pinggangnya dan sibuk beraktivitas di dapur.

Tak lama kemudian, segelas jamu kunyit yang masih mengepul dihidangkan di hadapannya. Sama seperti biasa, pria itu dengan sabar mengusap perut bawah Salma, gerakannya begitu lembut.

"Masih sakit? Sini, minum dulu terus tidur ya, nanti juga mendingan." Suaranya terdengar begitu lembut, sarat akan kasih sayang yang begitu dalam.

Menatap profil wajah pria itu yang tampak fokus dan penuh kekhawatiran, hati Salma terasa sakit luar biasa.

'Aktingmu hebat sekali, Reyhan.'

Kalau bukan karena melihat dan mendengarnya sendiri, mana mungkin Salma percaya bahwa pria yang begitu telaten merawatnya ini, di dalam hatinya justru menganggapnya "kotor"?

Air matanya kembali jatuh tanpa bisa ditahan.

Reyhan mengira dia menangis karena kesakitan. Rasa sayangnya makin membuncah, memeluk Salma erat-erat sambil terus membujuk, "Udah, jangan nangis lagi. Aku di sini kok."

Akan tetapi, tepat setelah Reyhan melepaskan pelukannya, Salma melihat dengan sangat jelas saat pria itu, mengira Salma tidak memperhatikan, menyerahkan jas setelan rancangan desainer yang harganya selangit dan baru dipakai sekali kepada pelayan, lalu berbisik memberi perintah, "Buang."

Pelayan itu tampak heran. "Tuan, jas ini sangat mahal. Lagi pula, baru dipakai sekali ...."

Nada Reyhan tak terbantahkan, terselip sedikit kekesalan yang samar, "Udah kotor. Buang saja."

Sudah kotor.

Dua kata itu lagi!

Bagai panah beracun, sekali lagi menancap tepat di jantungnya yang sudah penuh dengan luka!

Pria itu hanya memeluknya sebentar dan sudah merasa bajunya kotor. Lalu, bagaimana dengan dirinya yang tidur seranjang dengan pria itu bertahun-tahun? Bukankah pria itu merasa tersiksa di setiap detik dan menitnya?

Salma menggigit bibir bawahnya erat-erat, berusaha keras menahan diri agar tidak kehilangan kendali.

Dia menatap sosok pria itu yang berjalan kembali dengan santai seolah tak ada apa-apa, hatinya kini terasa gersang dan hampa.

'Reyhan, aktingmu benar-benar luar biasa.'

'Baiklah, kalau kamu sangat menganggapku kotor, maka untuk sisa hidupku ini, aku nggak akan lagi mengganggu pandanganmu.'

Mungkin karena melihat raut wajah Salma yang masih tampak lesu, keesokan harinya, Reyhan sengaja membatalkan seluruh agenda perusahaannya demi menemani sang istri menghadiri sebuah acara malam pelelangan kelas atas.

Di sepanjang acara malam itu, Salma sama sekali tak berselera makan.

Melihat istrinya yang tak punya nafsu makan, Reyhan menelepon dan menyuruh sekretarisnya membeli kue dari toko legendaris yang paling disukai Salma.

Akan tetapi, orang yang terburu-buru datang membawa kotak kue itu ternyata adalah Giselle.

Ekspresi Reyhan berubah sedikit. Dia merendahkan suaranya, "Tadi aku nyuruh Pak Denis, kok kamu yang datang?"

Giselle, yang mengenakan setelan kerja, menundukkan kepala dan menjelaskan dengan nada takut-takut, "Pak Denis mendadak ada urusan keluarga, Pak. Kebetulan aku sedang di dekat sini, jadi aku yang antar."

Reyhan melirik Salma, seolah khawatir istrinya akan curiga. Dia tidak banyak bicara lagi, hanya berkata dengan nada datar, "Taruh aja di situ."

Lalu, dia menoleh ke arah Salma, nadanya kembali lembut, "Salma, makanlah dulu. Ini kesukaan kamu."

Salma menatap kotak kue yang cantik itu, lalu mengalihkan pandangannya pada Reyhan.

Dia dengan jelas menangkap sekilas tatapan ... iba di dasar mata pria itu.

Pria itu sedang merasa iba pada Giselle.

Iba karena Giselle harus bersusah payah membeli kue yang lokasinya jauh dan antreannya panjang.

Sungguh menggelikan.

Dulu, pemuda yang rela memanjat tembok tengah malam hanya karena Salma bilang "ingin makan", dan antre berjam-jam demi mengantar kue hangat ke tangannya. Kini, justru di depan matanya sendiri, pria itu merasa iba pada perempuan lain yang bersusah payah untuknya.

Hatinya kini telah mati rasa oleh sakit.

Dia tak mengucapkan sepatah kata pun, hanya diam-diam mengambil sepotong kue dan memakannya tanpa terasa apa-apa.

Setelah perjamuan malam, acara pelelangan pun dimulai. Giselle berdiri di samping pria itu, menjalankan perannya sebagai sekretaris.

Saat menghidangkan minuman untuk seorang gadis dari keluarga kaya, Giselle tak sengaja menumpahkan sampanye itu ke gaun mahal perempuan tersebut.

Giselle sontak panik dan terus-menerus membungkuk meminta maaf.

Gadis itu langsung murka dan tanpa peringatan menampar pipi Giselle!

"Matamu itu di mana sih? Nggak lihat aku berdiri di sini? Gaun ini edisi terbatas sedunia, tahu nggak! Orang kayak kamu, baju di badan ditambah seluruh harta kamu juga nggak bakal nyampe 600 ribu, kamu bisa ganti rugi nggak?"

Giselle memegangi pipinya, air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia terus saja meminta maaf, tetapi tak punya uang untuk mengganti rugi.

Gadis itu masih menggerutu kasar, tetapi pada akhirnya dia pergi dengan penuh amarah tanpa banyak berbasa-basi lagi.

Salma hanya menyaksikan kejadian itu dengan tatapan dingin, lalu secara tak sadar menoleh ke arah Reyhan.

Pria itu tetap berdiri di tempatnya, tidak turun tangan untuk membela Giselle. Akan tetapi, tatapan tajamnya terus mengikuti setiap gerakan Giselle. Sorot matanya tampak gelap dan sulit dibaca, dengan garis rahangnya yang mengeras.

Pria itu sedang menahan diri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 24

    Namaku Evan Fander. Aku sahabat Reyhan sejak kecil dan saksi mata dari awal mula kisah cinta mereka yang menggelegar, sampai akhirnya hancur lebur tanpa sisa.Kalau diingat-ingat lagi, rasanya hanya bisa menghela napas panjang. Reyhan ini benar-benar ... sudah di posisi yang paling menguntungkan, tapi malah mengacaukannya sendiri.Dulu, waktu dia mengejar Salma, sumpah, itu benar-benar heboh setengah mati.Menyatakan cinta di bawah tiang bendera, hingga menyewa taman hiburan untuk melamar, siapa yang tidak iri melihat Salma mendapatkan pria yang begitu cinta mati seperti itu?Kita semua, geng sahabatnya, sudah sangat yakin kalau mereka akan berakhir bahagia seperti di dalam cerita dongeng.Salma adalah gadis yang cantik dengan latar belakang keluarga yang baik. Namun, yang paling penting adalah hatinya begitu murni layaknya kristal dan seluruh dunianya hanya terpusat pada Reyhan. Kala itu, kami semua sering menggoda Reyhan dan mengatakan bahwa dia telah menghabiskan keberuntungan dari

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 23

    Aku Irwan Prayoga.Banyak orang bilang aku beruntung. Beruntung bisa hadir di sisi Salma saat dia berada di titik paling rapuh dan pada akhirnya, berhasil memenangkan hatinya.Namun, cuma aku sendiri yang tahu bahwa dibalik keberuntungan ini, ada penantian panjang dalam diam selama 20 tahun.Aku mengenal Salma jauh sebelum Reyhan.Kami dulu bertetangga. Sejak kecil, bibit cantiknya sudah terlihat. Matanya berbinar bagai bintang dan senyumnya sanggup membuat segala sesuatu di sekitarnya terasa pudar.Sedangkan aku, hanyalah kakak pendiam yang selalu menjaganya dalam diam, membawakan tas sekolahnya, dan mengusir serangga yang mendekatinya.Saat usiaku sepuluh tahun, keluargaku pindah ke luar negeri.Sebelum berangkat, dia berlari untuk mengantarku. Dia menyodorkan sebutir permen susu Milkita, lalu berkata dengan suara imutnya, "Kak Irwan, jangan lupa pulang dan main ke sini lagi, ya!"Saat itu, hatiku terasa sesak. Aku sadar, ada benih yang sudah lama diam-diam tertanam di hati.Bertahun

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 22

    Dia berpikir, mungkin jika Salma tahu kebenarannya, tahu betapa konyol dan menggelikannya "obsesi kebersihan" dan rasa jijiknya yang sialan itu, hati Salma akan terasa sedikit lebih lega?Mungkin ... mungkin retakan fatal di antara mereka bisa ditambal sedikit demi sedikit karena hal ini? Meski kesempatannya hanya satu banding sepuluh ribu.Beberapa hari kemudian, setelah sebuah pameran seni kecil yang diadakan oleh studio Salma usai, Reyhan memberanikan diri, dan secara "kebetulan" berpapasan dengannya di kafe di bawah gedung studionya.Salma sepertinya tahu dia akan datang, tidak menunjukkan banyak kejutan, hanya duduk di hadapannya dengan tenang.Setelah lebih dari dua tahun tak bertemu, menatapnya dari dekat, Reyhan menyadari perempuan itu jauh lebih cantik daripada dalam ingatannya. Ketenangan dan kepercayaan diri yang memancar dari dalam dirinya adalah sesuatu yang sama sekali belum pernah dimiliki Salma di masa lalu. Perasaannya campur aduk, tenggorokannya terasa tercekat."Berk

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 21

    Salma dan Irwan memasuki ruangan sambil berjalan berdampingan.Salma mengenakan gaun panjang off-shoulder berwarna biru safir, yang menonjolkan kulitnya yang seputih susu dan siluet tubuhnya yang anggun memikat. Rambut panjangnya disanggul dengan elegan, memperlihatkan leher yang mulus serta tulang selangka yang indah. Riasan tipis yang indah menghiasi wajahnya, sementara gurat matanya memancarkan rasa percaya diri dan pesona yang belum pernah ada sebelumnya.Dia dengan lembut menggandeng lengan Irwan. Keduanya berbincang pelan, sesekali bertatapan dan tersenyum. Keakraban dan kecocokan yang begitu alami itu membuat iri banyak orang yang hadir, dan bagaikan belati membara, menusuk langsung ke jantung Reyhan!Irwan tetap terlihat lembut dan berkelas, tetapi di antara alisnya kini terpancar ketenangan dan ketajaman setelah berkecimpung di dunia bisnis. Berdiri berdampingan dengan Salma, mereka tampak begitu serasi bagaikan pasangan yang sempurna.Gelas di tangan Reyhan bergetar hebat, an

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 20

    Teriakan itu ditelan oleh angin laut, lenyap dalam pelukan senja yang membentang luas.Reyhan tergeletak di sana bagaikan seonggok lumpur, menatap ke arah hilangnya Salma dengan air mata yang terus bercucuran, hingga malam benar-benar turun dan langit dipenuhi taburan bintang.Dia tahu, dia telah kehilangan perempuan itu untuk selamanya.Bukan sejak perempuan itu menandatangani surat cerai, juga bukan sejak perempuan itu meninggalkan Kota Awangga, melainkan mulai dari detik ini, dari saat dia mendengar langsung perempuan itu berkata 'hidup matimu bukan urusanku', dia secara total dan untuk selamanya, kehilangan gadis yang dulu menyayanginya melebihi nyawanya sendiri.Setelah benar-benar terbebas dari gangguan Reyhan, kehidupan Salma seolah terlepas dari beban yang teramat berat, siap menyambut cakrawala yang luas.Dia mencurahkan seluruh energinya ke dalam studio seni merangkai bunga "Nirmala Bloom Studio".Bakat desainnya perlahan mulai menonjol. Berbeda dengan kelembutan seni merangk

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 19

    Reyhan tidak bisa menunggu lagi.Dia harus membuat keputusan akhir, entah membuatnya kembali ke sisinya, atau ... hancur bersama.Kesempatan itu datang pada suatu senja di akhir pekan.Irwan mendadak ada rapat bisnis mendesak dan terbang ke kota tetangga. Salma pergi sendirian untuk melukis di sebuah garis pantai tebing di sisi timur Pulau Seruni, sebuah tempat yang relatif sepi dan terkenal dengan pemandangan matahari terbenamnya yang megah. Di sana, jajaran batu karang tampak menjulang terjal, ombak besar menghantam tepi pantai, dan area tersebut sangat jarang dijamah orang.Saat Reyhan memacu mobil dengan kesetanan menuju ke sana, matahari terbenam sedang mewarnai permukaan laut dengan warna jingga kemerahan yang pilu sekaligus indah.Dari jauh dia melihat Salma duduk di atas sebuah karang raksasa yang datar, menopang papan lukis, dengan tenang mengoleskan warna. Angin laut menerbangkan rambut panjang dan ujung roknya, profil tubuhnya tampak tenang dan indah, seolah telah menyatu de

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status