Share

Bab 7

Penulis: Guren
Di antara rimbunnya pepohonan, Reyhan menekan tubuh Giselle keras-keras ke batang pohon yang besar. Gerakannya kasar, suaranya terdengar serak oleh gairah dan sisa amarah yang belum padam, "Di saat kayak gini! Kamu masih aja mau menggodaku?"

Pakaian Giselle berantakan, bekas tamparan merah masih menghiasi pipinya, tetapi tatapannya menggoda sambil merapat dan memeluk pria itu. "Reyhan ... Aku nggak sedang menggodamu ... Aku cuma takut ... takut kamu ninggalin aku gara-gara kejadian tadi ... Aku cuma mau minta maaf ...."

"Minta maaf?" Reyhan terkekeh pelan, nadanya melunak, penuh dengan sikap memanjakan, "Aku memang marah sekali! Tapi ... sekarang kamu udah berhasil bikin aku luluh, 'kan?"

Dia menunduk, mencium lembut pipi Giselle yang merah akibat tamparan, gerakannya penuh rasa iba, "Masih sakit?"

"Tadi 'kan ada Salma di sana, mau nggak mau aku harus marah-marah ke kamu ... Maafkan aku ya, kamu jadi harus menderita." Dia mengelus rambut perempuan itu, suaranya terdengar berat, "Nanti ... aku bakal tebus semuanya ke kamu, ya?"

"Mm ...." Giselle mendesah puas, lalu bersandar mesra dalam dekapan pria itu.

Salma menatap adegan itu, mendengarkan ucapan-ucapan tersebut, dan merasa dunianya berputar hebat. Seluruh tenaga seolah tersedot habis dari tubuhnya!

Di saat dia berada di titik paling putus asa dan paling membutuhkan pria itu, di saat abu jenazah orang tuanya tersapu hujan dan tak bersisa! Pria itu justru sedang bermesraan dengan biang kerok dari semua ini, di tengah hutan yang kotor ini, memainkan adegan panas!

Reyhan bahkan ... merasa iba pada Giselle karena tamparan yang dia berikan sendiri!

Rasa absurd yang luar biasa dan sakit hati yang merobek jiwa membuatnya tak kuat lagi menopang tubuh. Dia berbalik hendak melarikan diri, tetapi kakinya tiba-tiba terpeleset.

"Ah!"

Dia kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Tubuhnya terguling jatuh menuruni anak tangga batu yang licin!

Bagian belakang kepalanya membentur pinggiran tangga dengan keras. Rasa sakit yang luar biasa menyerang, pandangannya langsung gelap, dan dia pun kehilangan kesadaran sepenuhnya.

Saat kembali membuka mata, Salma sudah terbaring di ranjang besar yang familier di rumahnya.

Reyhan berjaga di sisi ranjang. Melihat Salma sadar, dia buru-buru menggenggam tangannya. Raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran dan rasa bersalah yang tak bisa disembunyikan. "Salma! Akhirnya kamu sadar! Maafin aku, ini semua salahku!"

Dengan tergesa-gesa, dia menjelaskan, "Tadi aku benaran pergi beli kotak abu, tapi pas balik mobilnya mogok, ditambah lagi hujan deras. Pas aku nyampe, kamu udah pingsan di bawah tangga."

Menatap wajah pucat istrinya, nadanya terdengar menenangkan, "Salma, jangan terlalu sedih. Orang yang udah pergi, ya sudah. Aku yakin ... orang tuamu di surga juga nggak bakal nyalahin kamu."

Mendengar kebohongan yang penuh celah itu, melihat ekspresi penuh rasa iba dan penyesalan yang begitu meyakinkan di wajah pria itu, dada Salma serasa ditusuk oleh ribuan jarum secara bersamaan. Rasa sakitnya membuatnya nyaris meringkuk.

Salma tak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya diam-diam membalikkan badan, membelakangi pria itu, dan memejamkan mata.

Reyhan mengira istrinya berduka cita luar biasa karena abu jenazah orang tuanya hilang tak bersisa. Selama beberapa hari berikutnya, Reyhan pun berusaha sekuat tenaga menghiburnya.

Pria itu membatalkan semua pekerjaannya, turun langsung ke dapur untuk memasak masakan kesukaan istrinya. Dia membeli habis seluruh stok bunga di sebuah toko, menyulap kamar tidur mereka menjadi lautan bunga. Dia bahkan menghubungi orkestra dari luar negeri, berniat mengadakan konser pribadi untuk Salma.

Para pelayan pun bergosip dengan penuh iri, "Tuan Reyhan bener-bener baik banget sama Nyonya Salma, romantis dan penuh cinta banget!"

Hanya Salma yang tahu, setiap kelembutan dan perhatiannya itu bagaikan menaburkan garam di atas luka menganga yang masih berdarah.

Dia menemani Salma di rumah selama beberapa hari, hingga sebuah telepon datang dan memecahkan ketenangan semu itu.

Salma mendengar dengan jelas suara cemas dari ujung telepon, mengatakan bahwa Giselle telah mengalami perampokan di rumahnya, tubuhnya tertusuk beberapa kali, dan kini berada dalam kondisi kritis. Saat ini, dia sedang menjalani penanganan darurat di rumah sakit.

Tangan Reyhan yang memegang ponsel bergetar hebat, raut wajahnya berubah seketika.

Reyhan menutup telepon, menarik napas dalam, lalu memaksakan senyum di hadapan Salma. "Salma, ada rapat internasional yang penting banget di kantor. Aku harus mengurusnya langsung. Aku bakal balik secepatnya."

Salma menatap kepanikan yang tak bisa disembunyikan di mata pria itu, hatinya hanya dipenuhi cemoohan yang dingin.

Dia tak membongkar kebohongan itu, hanya mengangguk pelan.

Baguslah. Kalau pria itu pergi, Salma bisa dengan tenang mengurus segala keperluan sebelum meninggalkan tempat ini.

Dia sudah menghubungi agen properti, berniat menjual vila yang penuh kenangan menyakitkan ini. Setelah bercerai nanti, dia akan pergi jauh dari Kota Awangga dan tak akan pernah lagi bertemu pria itu seumur hidupnya.

Hari itu, Salma selesai mengurus urusannya di luar. Dalam perjalanan pulang ke vila, saat melewati sebuah gang sepi, tiba-tiba seseorang dari belakang membekap mulut dan hidungnya dengan saputangan yang telah dibasahi obat bius!

Dia bahkan tak sempat berteriak meminta tolong. Kesadarannya mengabur dengan cepat dan tubuhnya ambruk lemas begitu saja.

Saat kesadarannya kembali, dia sudah berada di sebuah tempat asing yang dipenuhi bau tajam disinfektan.

Dia merasakan tubuhnya terikat erat di atas ranjang. Mulutnya dibekap rapat dengan lakban, hanya mampu mengeluarkan erangan samar yang tertahan.

Telinganya menangkap suara percakapan lirih dari samping ruangan.

Itu adalah Reyhan dan sahabat karibnya, Evan Fander.

Suara Evan sarat akan keterkejutan, "Reyhan, kamu gila ya? Ngapain kamu ngikat Salma di sini?"

Nada Reyhan terdengar tenang, tetapi mengerikan, memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan, "Giselle ditusuk, ginjalnya rusak parah, dan butuh transplantasi darurat. Cuma ginjal Salma yang cocok sama dia."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 24

    Namaku Evan Fander. Aku sahabat Reyhan sejak kecil dan saksi mata dari awal mula kisah cinta mereka yang menggelegar, sampai akhirnya hancur lebur tanpa sisa.Kalau diingat-ingat lagi, rasanya hanya bisa menghela napas panjang. Reyhan ini benar-benar ... sudah di posisi yang paling menguntungkan, tapi malah mengacaukannya sendiri.Dulu, waktu dia mengejar Salma, sumpah, itu benar-benar heboh setengah mati.Menyatakan cinta di bawah tiang bendera, hingga menyewa taman hiburan untuk melamar, siapa yang tidak iri melihat Salma mendapatkan pria yang begitu cinta mati seperti itu?Kita semua, geng sahabatnya, sudah sangat yakin kalau mereka akan berakhir bahagia seperti di dalam cerita dongeng.Salma adalah gadis yang cantik dengan latar belakang keluarga yang baik. Namun, yang paling penting adalah hatinya begitu murni layaknya kristal dan seluruh dunianya hanya terpusat pada Reyhan. Kala itu, kami semua sering menggoda Reyhan dan mengatakan bahwa dia telah menghabiskan keberuntungan dari

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 23

    Aku Irwan Prayoga.Banyak orang bilang aku beruntung. Beruntung bisa hadir di sisi Salma saat dia berada di titik paling rapuh dan pada akhirnya, berhasil memenangkan hatinya.Namun, cuma aku sendiri yang tahu bahwa dibalik keberuntungan ini, ada penantian panjang dalam diam selama 20 tahun.Aku mengenal Salma jauh sebelum Reyhan.Kami dulu bertetangga. Sejak kecil, bibit cantiknya sudah terlihat. Matanya berbinar bagai bintang dan senyumnya sanggup membuat segala sesuatu di sekitarnya terasa pudar.Sedangkan aku, hanyalah kakak pendiam yang selalu menjaganya dalam diam, membawakan tas sekolahnya, dan mengusir serangga yang mendekatinya.Saat usiaku sepuluh tahun, keluargaku pindah ke luar negeri.Sebelum berangkat, dia berlari untuk mengantarku. Dia menyodorkan sebutir permen susu Milkita, lalu berkata dengan suara imutnya, "Kak Irwan, jangan lupa pulang dan main ke sini lagi, ya!"Saat itu, hatiku terasa sesak. Aku sadar, ada benih yang sudah lama diam-diam tertanam di hati.Bertahun

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 22

    Dia berpikir, mungkin jika Salma tahu kebenarannya, tahu betapa konyol dan menggelikannya "obsesi kebersihan" dan rasa jijiknya yang sialan itu, hati Salma akan terasa sedikit lebih lega?Mungkin ... mungkin retakan fatal di antara mereka bisa ditambal sedikit demi sedikit karena hal ini? Meski kesempatannya hanya satu banding sepuluh ribu.Beberapa hari kemudian, setelah sebuah pameran seni kecil yang diadakan oleh studio Salma usai, Reyhan memberanikan diri, dan secara "kebetulan" berpapasan dengannya di kafe di bawah gedung studionya.Salma sepertinya tahu dia akan datang, tidak menunjukkan banyak kejutan, hanya duduk di hadapannya dengan tenang.Setelah lebih dari dua tahun tak bertemu, menatapnya dari dekat, Reyhan menyadari perempuan itu jauh lebih cantik daripada dalam ingatannya. Ketenangan dan kepercayaan diri yang memancar dari dalam dirinya adalah sesuatu yang sama sekali belum pernah dimiliki Salma di masa lalu. Perasaannya campur aduk, tenggorokannya terasa tercekat."Berk

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 21

    Salma dan Irwan memasuki ruangan sambil berjalan berdampingan.Salma mengenakan gaun panjang off-shoulder berwarna biru safir, yang menonjolkan kulitnya yang seputih susu dan siluet tubuhnya yang anggun memikat. Rambut panjangnya disanggul dengan elegan, memperlihatkan leher yang mulus serta tulang selangka yang indah. Riasan tipis yang indah menghiasi wajahnya, sementara gurat matanya memancarkan rasa percaya diri dan pesona yang belum pernah ada sebelumnya.Dia dengan lembut menggandeng lengan Irwan. Keduanya berbincang pelan, sesekali bertatapan dan tersenyum. Keakraban dan kecocokan yang begitu alami itu membuat iri banyak orang yang hadir, dan bagaikan belati membara, menusuk langsung ke jantung Reyhan!Irwan tetap terlihat lembut dan berkelas, tetapi di antara alisnya kini terpancar ketenangan dan ketajaman setelah berkecimpung di dunia bisnis. Berdiri berdampingan dengan Salma, mereka tampak begitu serasi bagaikan pasangan yang sempurna.Gelas di tangan Reyhan bergetar hebat, an

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 20

    Teriakan itu ditelan oleh angin laut, lenyap dalam pelukan senja yang membentang luas.Reyhan tergeletak di sana bagaikan seonggok lumpur, menatap ke arah hilangnya Salma dengan air mata yang terus bercucuran, hingga malam benar-benar turun dan langit dipenuhi taburan bintang.Dia tahu, dia telah kehilangan perempuan itu untuk selamanya.Bukan sejak perempuan itu menandatangani surat cerai, juga bukan sejak perempuan itu meninggalkan Kota Awangga, melainkan mulai dari detik ini, dari saat dia mendengar langsung perempuan itu berkata 'hidup matimu bukan urusanku', dia secara total dan untuk selamanya, kehilangan gadis yang dulu menyayanginya melebihi nyawanya sendiri.Setelah benar-benar terbebas dari gangguan Reyhan, kehidupan Salma seolah terlepas dari beban yang teramat berat, siap menyambut cakrawala yang luas.Dia mencurahkan seluruh energinya ke dalam studio seni merangkai bunga "Nirmala Bloom Studio".Bakat desainnya perlahan mulai menonjol. Berbeda dengan kelembutan seni merangk

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 19

    Reyhan tidak bisa menunggu lagi.Dia harus membuat keputusan akhir, entah membuatnya kembali ke sisinya, atau ... hancur bersama.Kesempatan itu datang pada suatu senja di akhir pekan.Irwan mendadak ada rapat bisnis mendesak dan terbang ke kota tetangga. Salma pergi sendirian untuk melukis di sebuah garis pantai tebing di sisi timur Pulau Seruni, sebuah tempat yang relatif sepi dan terkenal dengan pemandangan matahari terbenamnya yang megah. Di sana, jajaran batu karang tampak menjulang terjal, ombak besar menghantam tepi pantai, dan area tersebut sangat jarang dijamah orang.Saat Reyhan memacu mobil dengan kesetanan menuju ke sana, matahari terbenam sedang mewarnai permukaan laut dengan warna jingga kemerahan yang pilu sekaligus indah.Dari jauh dia melihat Salma duduk di atas sebuah karang raksasa yang datar, menopang papan lukis, dengan tenang mengoleskan warna. Angin laut menerbangkan rambut panjang dan ujung roknya, profil tubuhnya tampak tenang dan indah, seolah telah menyatu de

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status