Share

Bab 6

Penulis: Guren
Selama beberapa hari setelahnya, Reyhan terus berjaga di rumah sakit, merawat Salma dengan sangat telaten.

Menyuapi makan, menyeka tubuhnya, membacakan berita, semua dilakukan dengan saksama, seolah-olah perempuan itu masih menjadi permata yang senantiasa Reyhan jaga di telapak tangannya.

Akan tetapi, sesekali di sela-sela pergi ke toilet atau mengambil air, Reyhan akan menunduk dan membalas pesan dengan cepat, dahinya berkerut sejenak lalu kembali rileks.

"Ada urusan kantor yang mendadak, harus diurus dulu." Reyhan selalu memberikan penjelasan itu pada Salma dengan nada yang terdengar sangat wajar.

Salma hanya menjawab singkat dengan nada datar, lalu memejamkan mata pura-pura tidur.

Dia tentu saja tahu apa yang sedang pria itu baca.

"Urusan mendadak" yang sama, foto-foto sensual yang cukup berani dan penuh godaan yang dikirimkan Giselle, salinannya juga terkirim ke ponsel Salma.

Giselle seolah takut rasa sakit yang diderita Salma belum cukup, hingga wanita itu tak sabar memamerkan buah kemenangan padanya.

Hatinya sudah lama hancur lebur, mati rasa hingga tak lagi mampu merasakan sakit yang baru.

Dia hanya diam-diam menghitung hari, menunggu proses perceraian berakhir, dan mendapatkan akta cerai yang melambangkan kebebasannya.

Hari dia keluar dari rumah sakit, cuaca sangat cerah.

Salma baru saja selesai mengurus prosedur administrasi, ketika menerima telepon dari pihak pengelola pemakaman.

Pihak pengelola meminta maaf dan memberitahu bahwa hujan deras beberapa hari terakhir telah menyebabkan makam orang tuanya longsor, sehingga perlu segera dipindahkan dan dibangun ulang.

Kabar itu bagaikan batu besar yang menghantam hatinya yang sudah begitu berat.

Orang tua adalah sudut paling rapuh di hatinya, sekaligus tempat yang paling tak berani dia sentuh.

Reyhan tentu saja ikut mendampingi.

Akan tetapi, saat pria itu membukakan pintu mobil untuknya, napas Salma tertahan. Giselle ternyata duduk di kursi penumpang depan!

"Nona Salma." Giselle menoleh, menyunggingkan senyum profesional yang sempurna, meski ada kilat kepuasan tersembunyi di matanya. "Pak Reyhan bilang hari ini mau ke pinggiran kota, takutnya ada dokumen yang harus diurus di jalan, jadi aku ikut serta."

Reyhan tampak agak canggung, lalu menjelaskan pada Salma dengan lirih, "Salma, ada urusan kantor yang menumpuk, tolong maklumi ya."

Salma menancapkan kukunya dalam-dalam ke telapak tangan, menggunakan rasa sakit untuk mempertahankan ketenangannya.

Dia tak mengucapkan sepatah kata pun, hanya diam-diam membuka pintu belakang dan masuk ke dalam.

Sepanjang perjalanan, Reyhan terus menghiburnya lewat kaca spion, "Salma, jangan terlalu sedih ya. Ada aku di sini. Apa pun yang terjadi, aku bakal selalu nemenin kamu dan beresin semuanya, oke?"

Suara pria itu masih terdengar lembut, membawa rasa aman yang menenangkan.

Seandainya ini terjadi di masa lalu, Salma pasti akan bersandar di pelukannya dengan penuh ketergantungan, menyerap rasa aman tersebut.

Akan tetapi, kini, dia hanya menoleh menatap pemandangan di luar jendela yang melintas cepat, terdiam kaku bak boneka porselen tanpa jiwa.

Ucapan pria itu, tak ada satu patah kata pun yang mampu menembus hatinya yang kini membeku.

Sesampainya di pemakaman, langit tampak kelam, tanda angin badai akan segera turun.

Petugas dengan hati-hati memindahkan kotak abu jenazah orang tua Salma dari makam yang rusak.

Salma yang baru saja keluar dari rumah sakit, kondisi tubuhnya masih lemah. Mendekap dua kotak abu yang berat, dia tampak cukup kewalahan.

"Nona Salma, biar aku bantu ya!" Melihat hal itu, Giselle langsung bergegas mendekat, mengulurkan tangan hendak mengambil salah satu kotak.

Salma secara naluriah hendak menghindar, tetapi Giselle seolah kehilangan keseimbangan. Dengan dalih "tidak sengaja", tangannya tiba-tiba tergelincir.

"Brak!"

Kotak abu jenazah yang indah itu jatuh menghantam tanah berlumpur dengan keras! Tutupnya terlempar hingga abu putih di dalamnya berhamburan ke mana-mana!

Dunia seolah berhenti berputar di detik itu.

Salma menatap abu jenazah orang tuanya yang berserakan di tanah. Otaknya terasa kosong dan seluruh darahnya seketika membeku.

"Giselle!!" Teriakan marah Reyhan menggelegar bak petir yang menyambar!

Pria itu langsung menerjang maju, mengangkat tangan, dan menampar pipi perempuan itu dengan keras!

"Plak!" Suara tamparan yang nyaring terdengar begitu menusuk di tengah pemakaman yang sunyi.

"Kamu tuh kerjanya gimana sih? Hah? Hal sepele aja nggak becus!" Urat di pelipis Reyhan menonjol, tatapannya tajam dan kejam, memancarkan kemarahan yang belum pernah Salma lihat sebelumnya. "Minggir!"

Giselle terhuyung beberapa langkah akibat tamparan itu. Dia memegangi pipinya, air mata langsung mengalir deras, tetapi tak berani terisak keras.

Reyhan bahkan tak sudi menoleh menatapnya. Dia langsung beralih ke Salma, menenangkannya dengan nada tergesa, "Salma! Salma, jangan panik! Jangan khawatir! Aku bakal beli kotak abu baru sekarang! Kamu tunggu di sini ya, aku bakal balik secepatnya!"

Usai berkata begitu, dia melotot tajam ke arah Giselle, lalu berbalik dan berlari cepat menuju toko di luar area pemakaman.

Giselle memegangi pipinya, matanya merah. Dia menatap Salma dengan tatapan penuh dendam, lalu berlari kecil mengikuti Reyhan.

Salma terpaku berdiri di tempatnya. Menatap abu jenazah orang tuanya yang kini bercampur dengan lumpur, hatinya terasa dikoyak paksa, sakitnya luar biasa hingga dia tak bisa bernapas.

Dia berjongkok, dengan sia-sia mencoba mengumpulkan abu itu menggunakan tangan kosong.

Tepat pada saat itu, hujan deras yang sejak tadi mengancam, akhirnya tumpah dengan sangat lebat!

Butiran air hujan mengguyur bak dicurahkan dari langit, angin kencang menyapu airnya, dengan kejam mengikis permukaan tanah.

"Nggak ... Jangan ...." Salma seperti kehilangan akal, berusaha menggunakan tubuhnya untuk menghalau angin dan hujan, melindungi sisa abu terakhir itu.

Akan tetapi, badai itu terlalu dahsyat!

Tubuh rapuhnya sama sekali tak kuasa melawan amarah alam. Dia hanya bisa terpaku menatap abu jenazah orang tuanya tersapu hujan, bercampur dengan lumpur, dan mengalir ke segala arah ....

Hanya dalam sekejap, tanah di hadapannya kini kosong melompong. Tidak ada ... apa-apa yang tersisa.

Dua orang terpenting dalam hidupnya, bahkan jejak keberadaan terakhir mereka, kini telah terhapus bersih.

Kehancuran dan keputusasaan, bagaikan dinginnya air hujan ini, telah menenggelamkannya hingga ke dasar.

Entah berapa lama dia terpaku di tengah hujan, hingga tubuhnya basah kuyup dan menggigil kedinginan, barulah dia melangkah terhuyung-huyung menuruni tangga pemakaman bak mayat hidup.

Dia harus menemui Reyhan, bertanya mengapa pria itu pergi begitu lama ....

Akan tetapi, tepat saat dia berada di pertengahan tangga, dekat dengan rimbunnya pepohonan, terdengar suara desahan tertahan yang memalukan, bercampur dengan deru angin dan hujan, samar-samar sampai ke telinganya.

Tanpa sadar, dia menyibak dedaunan yang basah kuyup.

Detik berikutnya, dia bagaikan tersambar petir, terpaku kaku di tempat!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 24

    Namaku Evan Fander. Aku sahabat Reyhan sejak kecil dan saksi mata dari awal mula kisah cinta mereka yang menggelegar, sampai akhirnya hancur lebur tanpa sisa.Kalau diingat-ingat lagi, rasanya hanya bisa menghela napas panjang. Reyhan ini benar-benar ... sudah di posisi yang paling menguntungkan, tapi malah mengacaukannya sendiri.Dulu, waktu dia mengejar Salma, sumpah, itu benar-benar heboh setengah mati.Menyatakan cinta di bawah tiang bendera, hingga menyewa taman hiburan untuk melamar, siapa yang tidak iri melihat Salma mendapatkan pria yang begitu cinta mati seperti itu?Kita semua, geng sahabatnya, sudah sangat yakin kalau mereka akan berakhir bahagia seperti di dalam cerita dongeng.Salma adalah gadis yang cantik dengan latar belakang keluarga yang baik. Namun, yang paling penting adalah hatinya begitu murni layaknya kristal dan seluruh dunianya hanya terpusat pada Reyhan. Kala itu, kami semua sering menggoda Reyhan dan mengatakan bahwa dia telah menghabiskan keberuntungan dari

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 23

    Aku Irwan Prayoga.Banyak orang bilang aku beruntung. Beruntung bisa hadir di sisi Salma saat dia berada di titik paling rapuh dan pada akhirnya, berhasil memenangkan hatinya.Namun, cuma aku sendiri yang tahu bahwa dibalik keberuntungan ini, ada penantian panjang dalam diam selama 20 tahun.Aku mengenal Salma jauh sebelum Reyhan.Kami dulu bertetangga. Sejak kecil, bibit cantiknya sudah terlihat. Matanya berbinar bagai bintang dan senyumnya sanggup membuat segala sesuatu di sekitarnya terasa pudar.Sedangkan aku, hanyalah kakak pendiam yang selalu menjaganya dalam diam, membawakan tas sekolahnya, dan mengusir serangga yang mendekatinya.Saat usiaku sepuluh tahun, keluargaku pindah ke luar negeri.Sebelum berangkat, dia berlari untuk mengantarku. Dia menyodorkan sebutir permen susu Milkita, lalu berkata dengan suara imutnya, "Kak Irwan, jangan lupa pulang dan main ke sini lagi, ya!"Saat itu, hatiku terasa sesak. Aku sadar, ada benih yang sudah lama diam-diam tertanam di hati.Bertahun

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 22

    Dia berpikir, mungkin jika Salma tahu kebenarannya, tahu betapa konyol dan menggelikannya "obsesi kebersihan" dan rasa jijiknya yang sialan itu, hati Salma akan terasa sedikit lebih lega?Mungkin ... mungkin retakan fatal di antara mereka bisa ditambal sedikit demi sedikit karena hal ini? Meski kesempatannya hanya satu banding sepuluh ribu.Beberapa hari kemudian, setelah sebuah pameran seni kecil yang diadakan oleh studio Salma usai, Reyhan memberanikan diri, dan secara "kebetulan" berpapasan dengannya di kafe di bawah gedung studionya.Salma sepertinya tahu dia akan datang, tidak menunjukkan banyak kejutan, hanya duduk di hadapannya dengan tenang.Setelah lebih dari dua tahun tak bertemu, menatapnya dari dekat, Reyhan menyadari perempuan itu jauh lebih cantik daripada dalam ingatannya. Ketenangan dan kepercayaan diri yang memancar dari dalam dirinya adalah sesuatu yang sama sekali belum pernah dimiliki Salma di masa lalu. Perasaannya campur aduk, tenggorokannya terasa tercekat."Berk

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 21

    Salma dan Irwan memasuki ruangan sambil berjalan berdampingan.Salma mengenakan gaun panjang off-shoulder berwarna biru safir, yang menonjolkan kulitnya yang seputih susu dan siluet tubuhnya yang anggun memikat. Rambut panjangnya disanggul dengan elegan, memperlihatkan leher yang mulus serta tulang selangka yang indah. Riasan tipis yang indah menghiasi wajahnya, sementara gurat matanya memancarkan rasa percaya diri dan pesona yang belum pernah ada sebelumnya.Dia dengan lembut menggandeng lengan Irwan. Keduanya berbincang pelan, sesekali bertatapan dan tersenyum. Keakraban dan kecocokan yang begitu alami itu membuat iri banyak orang yang hadir, dan bagaikan belati membara, menusuk langsung ke jantung Reyhan!Irwan tetap terlihat lembut dan berkelas, tetapi di antara alisnya kini terpancar ketenangan dan ketajaman setelah berkecimpung di dunia bisnis. Berdiri berdampingan dengan Salma, mereka tampak begitu serasi bagaikan pasangan yang sempurna.Gelas di tangan Reyhan bergetar hebat, an

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 20

    Teriakan itu ditelan oleh angin laut, lenyap dalam pelukan senja yang membentang luas.Reyhan tergeletak di sana bagaikan seonggok lumpur, menatap ke arah hilangnya Salma dengan air mata yang terus bercucuran, hingga malam benar-benar turun dan langit dipenuhi taburan bintang.Dia tahu, dia telah kehilangan perempuan itu untuk selamanya.Bukan sejak perempuan itu menandatangani surat cerai, juga bukan sejak perempuan itu meninggalkan Kota Awangga, melainkan mulai dari detik ini, dari saat dia mendengar langsung perempuan itu berkata 'hidup matimu bukan urusanku', dia secara total dan untuk selamanya, kehilangan gadis yang dulu menyayanginya melebihi nyawanya sendiri.Setelah benar-benar terbebas dari gangguan Reyhan, kehidupan Salma seolah terlepas dari beban yang teramat berat, siap menyambut cakrawala yang luas.Dia mencurahkan seluruh energinya ke dalam studio seni merangkai bunga "Nirmala Bloom Studio".Bakat desainnya perlahan mulai menonjol. Berbeda dengan kelembutan seni merangk

  • Manusia Mudah Berpisah, Mimpi Mudah Pupus   Bab 19

    Reyhan tidak bisa menunggu lagi.Dia harus membuat keputusan akhir, entah membuatnya kembali ke sisinya, atau ... hancur bersama.Kesempatan itu datang pada suatu senja di akhir pekan.Irwan mendadak ada rapat bisnis mendesak dan terbang ke kota tetangga. Salma pergi sendirian untuk melukis di sebuah garis pantai tebing di sisi timur Pulau Seruni, sebuah tempat yang relatif sepi dan terkenal dengan pemandangan matahari terbenamnya yang megah. Di sana, jajaran batu karang tampak menjulang terjal, ombak besar menghantam tepi pantai, dan area tersebut sangat jarang dijamah orang.Saat Reyhan memacu mobil dengan kesetanan menuju ke sana, matahari terbenam sedang mewarnai permukaan laut dengan warna jingga kemerahan yang pilu sekaligus indah.Dari jauh dia melihat Salma duduk di atas sebuah karang raksasa yang datar, menopang papan lukis, dengan tenang mengoleskan warna. Angin laut menerbangkan rambut panjang dan ujung roknya, profil tubuhnya tampak tenang dan indah, seolah telah menyatu de

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status