Share

PART 8

Dua manusia berbeda jenis kelamin itu duduk berhadapan disebuah cafeteria rumah sakit, kecanggungan tak luput dari keduanya. Gia hanya diam, meminum kopinya dengan tenang dan sesekali melirik bossnya itu yang juga hanya memandangnya.

Gadis itu berdekhem, “Jadi kenapa anda sampai datang menjenguk ibu saya, pak?”

“Apa ada salah jika atasan mencoba lebih memperhatikan pegawainya?”

“Tentu saja tidak, tapi anda bukanlah orang yang bisa melakukan hal-hal seperti itu,” ujar Gia dengan suara yang sedikit pelan tetapi masih bisa terdengar dengan jelas di telinga Bastian.

“Kau sepertinya sangat mengetahui tabiatku, nona Gia.”

Gia diam, siapapun pasti juga akan berpikir seperti itu meski baru pertama kali bertemu dengan orang seperti Bastian. Manusia kaku seperti batu yang dengan sengaja diberi nyawa oleh Tuhan. “Baiklah, aku tak mau berbasa-basi lagi. Aku kesini masih dengan pertanyaan yang sama.”

“Maaf pak, tapi jawaban saya tetap sama.”

Bastian sedikit berdecak, “Baiklah, aku akan memberikan penawaran untukmu dan pasti ini sangat bermanfaat untuk keluargamu juga.” Gia diam, mencoba untuk mendengarkan lebih jauh penawaran yang Bastian sebutkan.

“Kita menjadi pasangan, dan semua biaya ibu juga adikmu akan menjadi tanggunganku,” katanya membuat Gia membelalak mendengar tawaran bossnya itu, “bagaimana? Bukankah ini cukup seimbang?”

“Bukankah anda berlebihan? Jika anda ingin mencari kekasih, bukankah anda hanya tinggal menunjuknya dengan jari? Kenapa harus sampai menawarkan hal seperti ini kepada saya?”

“Seperti yang kau bilang, aku tinggal menunjuknya dengan jari. Jariku memilihmu,” jawabnya.

Gia diam lalu bangkit dari tempat duduknya, “Maaf pak, saya sudah terlalu lama meninggalkan ibu saya sendiri. Permisi.” Gadis itu meninggalkan Bastian tanpa menunggu jawaban darinya.

Gia mempercepat langkahnya menuju kamar rawat ibunya, ia merasa gila dengan pernyataan blak-blakan dari bossnya itu. Apakah semua konglomerat seperti itu?

Gia sampai dikamar tersebut dengan napas yang sedikit tersengal, tentu saja mengundang heran untuk ibunya. Ia duduk disofa mencoba untuk menetralkan napasnya kembali.

“Ada apa, Gia? Dimana bossmu?”

“Hahh, dia sudah pergi mama.”

“Oh, begitu. Sayang sekali, padahal mama masih ingin mengobrol dengannya.”

“Dia orang yang sangat sibuk mama, akupun heran kenapa dia tiba-tiba sampai disini.”

Tak berapa lama setelah Gia sampai diruangan tersebut, beberapa perawat ikut masuk membuat Gia dan ibunya bingung karena mereka bermaksud untuk membawa pergi ibunya.

“Ada apa ini? Mau dibawa kemana ibu saya?” tanya Gia kepada seorang perawat perempuan yang terlihat seperti pimpinan dari beberapa orang itu.

“Maaf nona, kami mendapat perintah untuk memindahkan ibu anda keruang rawat VVIP,” jawabnya membuat ibu dan juga anak itu melongo.

“A-apa? VVIP? Bagaimana bisa?”

“Aku yang memintanya,” ujar pria yang tiba-tiba saja masuk keruangan tersebut. Pria yang sangat familiar untuknya, “menurutmu apa aku bisa membiarkan calon mertuaku di ruangan seperti ini?” Kata-kata itu langsung membuat Gia semakin membulatkan matanya. Bagaimana bisa laki-laki itu menyebut ibunya calon mertua?

“Apa? Calon mertua? Gia, apa maksudnya ini?” tanya ibunya.

“Ah… itu mama, pak Bastian hanya bercanda, iya kan, Pak?”

“Tentu saja tidak!” tegasnya membuat gadis itu merutuki dirinya dan seketika ingin menusuk laki-laki yang ada disampingnya itu, “tante, jauh lebih baik jika tante dipindahkan lebih dulu. Setelah itu saya akan menjelaskan maksud kedatangan saya kemari,” ujar Bastian masih membuat Gia melongo.

Sebenarnya ada apa dengan bossnya itu? Apakah dia salah memakan sarapan? Atau kah sebelum kedatangannya kerumah sakit, ia sempat terbentur? Mengapa laki-laki dingin dan kaku itu bisa berkata semudah itu dihadapan ibunya?

***

Diruangan yang lebih luas dan fasilitas yang tentu saja lebih lengkap dari sebelumnya, kedua manusia itu berdiri disamping wanita yang terbaring diatas kasur itu. “Jadi apa yang terjadi sebenarnya, Gia?” tanya ibunya.

Gia diam ia melirik kepada Bastian yang juga memandangnya, “Saya yang akan menjawabnya tante, mungkin Gia masih belum bisa menceritakannya.”

Pernyataan yang cukup ambigu, “Jadi saya adalah boss sekaligus kekasih Gia, dan mungkin saya akan melamarnya dalam waktu dekat ini. Maka dari itu saya memutuskan untuk kemari untuk membahasnya bersama tante, maaf mungkin kedatangan saya kurang tepat saat ini,” jelas pemuda itu semakin membuat Gia menganga.

“Apa? Gia tidak pernah bercerita jika dia memiliki kekasih,” ujar ibunya.

“Seperti yang saya bilang tadi, mungkin Gia masih belum siap dengan hubungan kami.”

“Apa itu benar, Gia?” tanya ibunya dengan tatapan tajam pada gadis itu.

“Emm… mama, j-jadi sebe…”

“Kenapa kau tidak pernah cerita kepada mama jika memiliki kekasih setampan ini? Mama sangat senang jika ternyata kamu juga bersenang-senang sayang, mama sudah cukup merasa bersalah karena keadaan mama yang seperti ini,” ujar ibunya memotong ucapan gadis itu.

Bastian tersenyum, sedangkan Gia hanya menyunggingkan senyuman seadanya saat ibunya itu memeluknya. “Jadi sudah berapa lama kalian berpacaran?” Gia melirik kearah Bastian seolah memberikan kode untuk menjawab pertanyaan ibunya.

“Ah, belum terlalu lama tante, berjalan 5 bulan. Karena Gia sudah menjadi sekretaris saya selama 2 tahun, jadi kami sudah cukup lama kenal,” jawabnya dengan lancar. Sesuatu hal yang membuat Gia kembali terheran-heran melihat kelicinan mulut bossnya itu.

Waktu menunjukkan pukul 4 sore, ketiga orang itu menghabiskan waktu mereka dengan berbagi cerita tentang masa kecil Gia. Sangat terlihat jika ibu Gia pun merasa nyaman berbicara dengan Bastian, Gia hanya sesekali menimpali obrolan seru keduanya.

Sejujurnya, Gia sedikit merasa lega karena bisa melihat ibunya yang seceria itu. Bahkan tak jarang wanita itu juga tertawa, sudah sangat lama setelah kematian ayahnya ia tak melihat tawa ibunya seceria itu.

“Tante maaf, sepertinya saya harus pulang. Kebetulan saya ada acara setelah ini,” ujar Bastian sesaat setelah memeriksa arlojinya.

“Ah, begitu rupanya. Maafkan tante karena terlalu lama menahanmu disini, tante harap kamu bisa lebih sering datang kerumah, nak Bastian.”

“Tentu saja jika Gia mengijinkannya, Tante,” katanya sembari melirik ke gadis itu.

Bastian bangkit dari duduknya dan sedikit membungku memberi salam, “Gia, kau tak mengantar Bastian keluar?”

“Dia bisa berjalan sendiri mama.”

“Padahal aku ingin kau mengantarku, nona Gia,” kata Bastian seolah memprovokasi ibunya.

“Antarlah dulu, mama akan baik-baik saja disini.”

Gia menghela napas, “Baiklah.”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status