LOGINCaramel Attanaya Raharja POV
Aku duduk diam sambil memperhatikan laki-laki yang sedang berbicara dengan gaya sok elitnya di hadapanku ini. Sumpah, jika bukan karena Nielo yang merekomendasikan aku untuk bertemu laki-laki ini, aku juga tidak akan mau. Gayanya sok kegantengan ingin membuatku muntah. Dan hebatnya, aku sudah bertahan duduk bersamanya selama satu jam ini.
"Gue kalo cari istri maunya yang minimal tinggi 170 centimeter. Biar gue enggak capek nunduk dan dia juga enggak capek dongak," ucapnya lalu ia tertawa.
Baiklah... bukankah aku sudah tereliminasi secara langsung dan bukannya tersinggung, aku justru merasa bahagia. Lagipula siapa juga yang mau punya pasangan seperti laki-laki di hadapanku ini. Kini aku keluarkan handphone dan segera meng-order taxi online untuk kembali ke rumah. Ya, belakangan ini aku lebih suka untuk pergi menggunakan taxi online daripada menyetir sendiri bila sedang berada di Jakarta. Semua ini aku lakukan setelah beberapa waktu lalu, mobil yang sedang aku kendarai ditabrak dari belakang ketika aku sedang berada di tol. Karena tabrakan beruntun ini, Papa menyarankanku untuk menggunakan taxi online jika aku sedang lelah dan harus berpergian cukup jauh.
"Oh, semoga lo beruntung dapat pasangan sesuai sama kriteria yang lo mau, ya," ucapku dengan ramah lalu akhiri dengan sebuah senyuman.
"Kalo gue boleh tahu, tinggi lo berapa?"
"Gue? Hmm... 170 centimeter kalo pakai high heels berhak 5 centimeter."Setelah mengatakan itu, aku segera pamit padanya. Tanpa mempedulikan dirinya yang menanwarkan untuk mengantarkan aku pulang, aku berjalan meninggalkannya. Aku berharap taxi online pesananku akan datang cepat kali ini. Di saat aku berdiri diam sambil menunggu taxi, sebuah panggilan masuk ke handphoneku. Segera saja aku mengangkatnya.
"Hallo?"
"Hallo, selamat siang. Dengan Mbak Caramel Attanaya?""Iya. Bapak sudah sampai mana?"
"Saya sudah di depan resto, Mbak. Mobilnya Lamborghini Urus warna merah, silahkan masuk."Aku langsung mematikan sambungan telepon itu. Kini aku perhatikan plat nomer mobil mewah yang ada di dekatku itu dengan yang ada di aplikasi. Hmm... kenapa beda sekali ya? Bukan hanya berbeda plat nomer namun juga tipe mobil. Aku 'kan hanya pesan yang biasa saja bukan yang Luxe, tapi kenapa mobil ini yang datang? Sejujurnya aku ragu untuk naik, namun kala melihat teman Nielo mulai berjalan ke arahku, mau tidak mau aku segera masuk ke dalam mobil Lamborghini urus ini.
Begitu aku masuk ke dalam, sapaan ramah menyapaku. Betapa terkejutnya aku ketika menyadari jika driver yang sedang menyetir ini adalah driver yang aku temui beberapa waktu lalu yang mengantarkan aku ke bandara tetapi dengan nomer polisi yang berbeda.
"Selamat siang, Mbak. Sudah siap mau berangkat?"
"Iya, Pak. Kita jalan sekarang saja," kataku cepat.Beberapa saat suasana mobil cukup tenang hingga akhirnya bapak ini bertanya kepadaku.
"Masih ingat saya tidak, Mbak?"
Aku yang baru saja memblokir kontak teman Nielo ini segera menutup handphoneku."Hmm... ingat dong. Bapak yang antarkan saya ke Soetta beberapa bulan lalu. Iya 'kan?"
"Betul sekali. Bagaimana keadaan Mamanya sekarang?" Aku tersenyum kala mengingat jika sewaktu pertama kali aku bertemu dengannya, aku menceritakan kondisi Mama yang sedang dirawat di salah satu rumah sakit yang ada di Singapura karena sakit kanker yang dideritanya."Alhamdulillah, Mama sudah sehat, Pak. By the way, kok mobilnya ganti?"
"Mobil yang biasanya lagi di bengkel buat service, Mbak. Daripada nungguin service di sana, mending saya muter 'kan dapat teman ngobrol.""Pak... Pak... apa ya nutup biaya perawatan mobil ini dari hasil taxi online?"
"Enggak saya pikirkan, Mbak. Daripada mobil nganggur di rumah. Saya kesepian juga karena cucu-cucu saya enggak pada mau nikah. Dijodohin enggak mau, ditanya mana calonnya juga pada enggak punya."Entah kenapa aku bisa tertawa lepas kali ini. Permasalahan generasi milenials yang tidak kunjung menikah itu sungguh semakin berat setiap tahunnya. Sudah di desak menikah padahal calon saja tidak punya. Jika ingin menikah, pertimbangannya semakin banyak saja. Apalagi bagiku yang merupakan harapan terakhir orangtuaku setelah kembaranku yang tinggal di Italia gagal menikah dengan pacarnya. Berbulan-bulan aku mencoba membuka diri dengan berkenalan dengan beberapa kandidat kenalan teman-teman dekatku hingga saudaraku namun hasilnya masih zonk.
Entahlah, mungkin aku terkena karma karena pernah menolak sosok David yang saat SMA selalu mengejarku sejak kelas satu hingga kelas tiga. Aku baru bisa bernapas lega karena dirinya tidak mendekatiku lagi ketika ia harus kembali ke negaranya. Banyak yang berpikir aku perempuan gila karena menolak sosok laki-laki bule tampan dan berasal dari keluarga baik-baik seperti David, tapi aku tidak peduli. Karena perasaan tidak bisa dipaksakan terlebih aku memang lebih menyukai produk lokal daripada produk asing.
"Saya juga begitu, Pak. Sejak kaembaran saya gagal nikah sama pacar bulenya, saya yang jadi harapan keluarga terutama orangtua saya untuk segera menikah dan memberikan cucu."
"Apa Mbak mau saya jodohkan dengan cucu saya?"
satu detik...
dua detik...
tiga detik...
Aku hanya bisa diam dengan mulut sedikit terbuka. Dijodohkan dengan cucu kakek pengemudi taxi online ini?
"Gimana? mau tidak, Mbak? Tenang saja, cucu saya ada dua laki-laki. Usianya sudah kepala tiga lebih, punya pekerjaan dan tentunya sudah mapan secara finansial."
Aku bukan perempuan gila yang hanya memandang segala sesuatu dari laki-laki hanya dari segi finansial semata. Karena bagiku uang bisa dicari tapi ketulusan itu yang sulit. Untuk menolak tawaran ini tentu saja aku tidak akan sampai hati jika mengatakannya secara gamblang. Sejujurnya, aku takut menyakiti hati orangtua. Karena terkadang sakit hati mereka bisa menjadi kesialan bagi kehidupan kita. Beberapa saat aku berpikir, apa yang bisa aku katakan hingga akhirnya ide gila itu muncul di dalam benakku.
"Pak..."
"Ya?" "Kalo saya sih mau aja, tapi jangan cuma disuruh pilih satu. Saya maunya dua sekaligus."Bapak driver taxi online ini tertawa. Aku tahu dirinya butuh teman bicara bukan uang seperti kebanyakan driver yang lain. Di usianya yang sudah senja dan masuk ke usia pensiun mungkin mengobrol dengan orang bisa membuatnya melupakan kesedihannya karena keluarganya memiliki kesibukan yang segunung. Aku tahu hal itu karena almarhumah Eyangku dulu selalu mengeluhkan hal itu. Karena itu, ia rela antar jemput cucu-cucunya ke sekolah hampir setiap hari. Bukannya mengantarkan kami kembali ke rumah setelah pulang sekolah, kami semua akan dibawa ke rumahnya untuk sekedar bermain. Kebiasaan itu yang membuat aku dan sepupu-sepupuku memiliki hubungan yang dekat sampai saat ini.
Kini saat taxi online ini sudah memasuki kawasan perumahan tempat aku tinggal, aku mencoba untuk berpamitan kepada bapak ini. Dari raut wajahnya, ia tampak sedikit sedih.
"Bapak jangan sedih, ya? karena kesibukan anak cucu bapak saat ini adalah salah satu upaya mereka untuk terus mandiri secara finansial agar tidak menajdi beban untuk bapak."
"Saya sedih bukan karena itu. Tapi saya harus kehilangan teman ngobrol yang asyik lagi setelah beberapa bulan kita tidak bertemu."
Aku tersenyum mendengar penuturan bapak ini. "Siapa tahu saja nanti kita bisa ketemu lagi di lain waktu dan kesempatan. Sekarang saya keluar dulu ya, Pak. Terimakasih sudah mengantarkan dan menemani saya mengobrol sepanjang perjalanan ini. Hati-hati di jalan, Pak."
Setelah mengatakan semua itu, aku segera membuka pintu dan keluar dari dalam mobil ini. Aku baru memasuki rumah kala taxi online ini sudah tidak terlihat lagi dari pandanganku. Sejujurnya aku tidak tega memberitahu kepada bapak taxi online itu jika akhir bulan ini, aku akan menetap kembali secara permanen di Jogja. Ya, aku sudah resmi mengundurkan diri dari kantor tempatku bernaung selama dua tahun terakhir ini. Mulai bulan depan, aku harus belajar meneruskan pekerjaan Papaku yang pelan-pelan akan mulai mundur dari pekerjaannya dan fokus menemani Mama menjalani pengobatan serta perawatannya.
***
Elang Mahaputra Adikara POVAku merasa bahagia karena hari ini istriku bisa membalaskan semua kekesalanku pada Wilson yang sudah membuatku merogoh kocek dalam-dalam kemarin saat kami berkumpul bersama. Tidak masalah meskipun hanya membelikan baju yang harganya tidak akan membuat Wilson bokek namun setidaknya seharian Wilson sudah menemani Caramel berbelanja. Sejujurnya aku memberikan ijin pada Caramel untuk pergi bersama Wilson karena menurut Raga sejak semingguan ini Wilson kembali bersedih apalagi setiap ia sendirian di rumah. Karena itu selama Raga bersekolah hari ini, aku meminta Caramel untuk membuatnya memiliki kesibukan lain selain melamunkan cintanya yang sudah di surga itu.Kini setelah rapatku selesai, aku memilih untuk segera pulang ke rumah. Karena cukup lelah akhirnya driver
Caramel Attanaya Raharja POVBerkeliling dari satu toko ke toko lainnya di salah satu mall yang ada di Jakarta ini bersama Wilson membuatku lelah sendiri. Apesnya dari sekian banyak toko yang kami masuki berdua, tidak ada yang cocok untuk aku berikan kepada Elang sebagai hadiah pernikahan. Wilson yang menemaniku bahkan sampai harus rela berbelanja karena aku ini tidak mau membeli barang dari toko yang kami datangi. Untung saja si Wilson sabar mengikutiku berjalan ke mana-mana."Mel... Mel... kalo lo bukan istrinya teman gue sudah habis lo gue ocehin. Bisa-bisanya dari semua toko yang kita masuki, enggak ada satupun yang sesuai sama apa yang lo mau," kata Wilson sambil berjalan di sampingku.Aku yang mendengarnya langsung tertawa. Ya mau b
Elang Mahaputra Adikara POVMalam ini aku baru selesai melakukan rapat bersama para jajaran manager area Jabar di Bandung. Sebenarnya Caramel memintaku untuk menginap saja di hotel dan pulang besok pagi tetapi tetap saja aku memilih pulang bersama Puspa ke Jakarta. Apalagi saat aku tanya ke Puspa apakah ia ingin menginap di Bandung atau tidak yang dirinya jawab dengan tidak. Alasan Puspa ini cukup menjadi alasan yang aku sampaikan kepada Caramel bahwa Puspa tidak mau menginap sehingga kami akan pulang ke Jakarta.Selama perjalanan kami di tol Cipularang, aku dan Puspa lebih banyak mengobrol santai. Karena ia adalah wanita, aku coba bertanya kepadanya mengenai hadiah apa yang tepat untuk aku berikan kepada Caramel sebagai kado ulang tahun pernikahan pertama kami. Aku tahu jika Puspa sudah tahu
Caramel Attanaya Raharja POVTiga bulan sejak liburan kami terakhir di pantai daerah Gunungkidul, sampai saat ini kami belum berlibur kembali. Tentu saja semua itu karena jadwal pekerjaan Elang yang semakin padat ditambah aku juga sibuk mengikuti belly dance bersama Mama mertuaku. Selama ini juga Mokara belum pulang ke rumah. Sungguh luar biasa adik iparku itu menguji batas kesabaran orangtuanya terlebih kedua kakaknya yang kesabarannya setipis tisu dibagi tujuh. Aku yang berkali-kali didesak oleh Elang untuk mencaritahu mengenai Mokara memilih diam karena sejujurnya aku tidak tahu ia di mana yang penting terakhir kali aku bertemu dengannya, ia terlihat cantik, sehat dan sepertinya tidak sedang berada di bawah tekanan. Selama tiga bulan ini Elang dan aku secara rutin sebulan sekali k
Elang Mahaputra Adikara POVDi dunia ini tidak ada yang gratisan bukan? Karena itu tentu saja setelah aku bekerja, aku bisa mulai meminta hakku. Iya, hakku sebagai suami setelah menunaikan kewajiban membantu istri. Kini saat aku sudah selesai mengeringkan rambut Caramel yang panjang itu, aku mulai dengan memijat bahunya hingga turun ke bagian buah dadanya. Pelan-pelan aku meremasnya dengan kedua tanganku. Entah karena aku sering memberikan pijatan pada kedua gunung kembarnya atau karena ia bertambah berat badan setelah menikah karena kini aku merasakan buah dadanya semakin besar, padat hingga lembah diantara kedua gunung kembarnya sudah tidak terlihat lagi. Sambil terus meremas-remasnya aku mulai menggesekkan junior yang sudah mulai bangun di sekitar bagian belakang kepala Caramel. Aku bisa m
Caramel Attanaya Raharja POVMalam ini kami baru cek-in di tempat penginapan pada pukul delapan malam. Beberapa hal kami lakukan setelah dari pantai seperti mencari makan malam lalu membeli camilan dan susu untuk Lean. Saat memasuki cottage ini pun aku tidak langsung bisa beristirahat. Aku memandikan Lean terlebih dahulu. Baru setelah Lean selesai mandi, aku menyerahkannya kepada Elang untuk membantunya memakai baby lotion di tubuh sekaligus berpakaian. Anak sudah bersama bapaknya, kini adalah saatnya aku menikmati sesi berendam di dalam bathup. Berendam dalam air hangat benar-benar sedikit membantu otot di tubuhku agar lebih rileks. Sambil menikmati hal ini, otakku sibuk memikirkan apa yang sebaiknya aku berikan untuk Elang di ulang tahun pernikahan pertama kami beberapa bulan lagi? Mungkinkah aku bisa hamil? Ji



![Without You [Indonesia]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)



