Home / Young Adult / Marriage With Benefits / 2. Keluarga Adikara

Share

2. Keluarga Adikara

last update publish date: 2025-12-11 10:40:19

Elang Mahaputra Adikara POV

"Malam ini tolong kamu pulang ke rumah Opa sebentar. Ada hal penting yang harus Opa bicarakan sama kalian semua."

Aku menghela napas panjang dan akhirnya aku mencoba menyetujui permintaan Opaku itu. Semoga saja kali ini dirinya tidak lagi berniat membuat aku, kakakku dan adikku bersaing satu sama lain. Demi apapun, aku sudah memutuskan untuk keluar dari semua permainan yang coba Opa suguhkan kepadaku. Termasuk tentang siapapun yang berhasil menikah paling pertama dan memberikan cicit untuknya, maka ia akan menerima kepemilikan saham perusahaan keluarga Adikara sebesar empat puluh persen. Sejujurnya aku tidak ingin menikah jika bukan dengan perempuan yang pernah aku temui empat tahun yang lalu di kolong jembatan saat aku kalah taruhan dari ketiga sahabatku (Gavriel, Adit dan Wilson).

Perempuan yang sebenarnya tidak terlalu cantik namun manis. Yang membuatku jatuh hati di pertemuan pertama kami adalah caranya memanusiakan manusia. Ya, meskipun saat itu dirinya menganggapku gembel. Mungkin tidak hanya gembel, dirinya menganggapku memiliki gangguan kejiwaan kala itu. Ia memberikanku sebuah gelang emas yang bisa aku jual lalu hasilnya digunakan untuk membeli kebutuhanku sehari-hari. Setelah dirinya pergi, aku hanya bisa menyesali dua hal. Aku tidak sempat menanyakan siapa namanya dan di mana tempat tinggalnya.

Sial... jika aku menjadi diriku yang sebenarnya saat itu sebagai Elang Mahaputra Adikara, aku yakin tidak akan melewatkan kesempatan untuk berkenalan dengannya secara lebih layak. Tidak seperti waktu itu yang benar-benar memalukan jika aku ingat-ingat lagi. Sejak kejadian itu, aku sering menghampiri tempat pertemuanku dengannya namun tak pernah sekalipun aku bertemu dengannya sampai detik ini. Aku pernah bertanya pada orang yang bertempat tinggal di sekitar kolong jembatan itu namun hasilnya nihil. Tidak ada yang pernah melihatnya apalagi mengenalnya. Andai saja bertemu pun mungkin ia sudah tidak mengenaliku lagi. Aku yang dulu gondrong, kumal dan dekil kini berbeda seratus delapan puluh derajat dengan diriku yang dulu.

Kali ini aku harus berhenti memikirkan semua tentang sosok perempuan bernama Memel itu. Aku harus segera menuju ke rumah Opaku di daerah Menteng. Aku yakin baik kakakku maupun adikku sudah berada di sana lebih dulu daripada aku. Wajar saja mereka semua bisa seperti itu, karena mereka berdua masih melajang dan hidup tanpa tanggungjawab kepada siapapun kecuali pada diri mereka sendiri, sedangkan aku? Aku adalah seorang pria lajang beranak satu. 

Tidak sedikit yang menganggap Leander sebagai anak hasil hubungan gelapku dengan mantan pacarku tapi aku memilih membiarkan orang lain berpikir sesuka hati mereka. Itu lebih baik daripda mereka mengorek informasi menyakitkan itu lebih jauh tentang bagaimana kedua orangtua Leander yang tidak lain adalah sepupuku dari pihak Mama meninggal dunia dengan cara yang tragis bersama Eyang dan dua asisten rumahtangga. Satu-satunya yang secara hukum menjadi wali sah Lean adalah aku sesuai surat wasiat kedua orangtuanya dulu. Awalnya aku sempat marah pada semua keadaan ini. Kenapa bukan Mamaku saja yang merawat anak keponakannya ini, namun seiring berjalannya waktu, kehaadiran Lean di hidupku seakan menjadi cara Tuhan untuk mendewasakanku secara perlahan. Membuatku semakin menghargai sosok seorang wanita dan ibu. Tugas mereka tidaklah mudah untuk bisa mendidik anak-anaknya agar memenuhi ekspektasi masyarakat umum. Seperti anak yang pintar adalah anak yang selalu juara dan memiliki nilai akademik yang tinggi. Tai kucinglah bagiku kata-kata seperti itu setelah aku menjadi Papa satu anak. Bagiku asal Lean bahagia menjalani masa kecilnya tanpa ada tekanan batin itu saja sudah cukup. Setidaknya semasa ia kecil ini, dirinya harus bahagia dulu. Untuk pintar, aku yakin akan ada waktunya meskipun bukan sekarang saat Lean baru akan berusia 5 tahun sebentar lagi.

Malam ini aku berjalan ke arah kamar Lean. Aku mencoba memastikan terlebih dahulu jika anakku itu sudah tidur. Aku cium keningnya sebelum aku keluar lagi dari kamarnya. Saat aku sudah sampai di ruang keluarga, aku bisa menemukan sahabatku yang tengah ngendon di sini.

"Son, lo mau nginap di sini atau mau ke night club?" tanyaku saat melihat Wilson sedang asyik menonton televisi.

"Memangnya kenapa?"

"Gue mau ke Menteng. Tuan besar memanggil gue untuk hadir di sana malam ini."

Wilson langsung menoleh ke arahku yang membuatku menganggukkan kepalaku. Setidaknya ini cukup menjadi jawaban jika aku tidak berbohong kepadanya tentang semua ini.

"Tumben lo mau ke Menteng tanpa perlu diseret dulu?"

"Ada hal penting yang mau Opa bicarakan sama kita semua. Jadi kalo lo ada di sini, gue mau titip Lean dulu sebentar."

Aku melihat Wilson sedang berpikir hingga akhirnya ia mengabulkan permintaanku untuk tetap berada di sini menemani Lean. Dengan begitu aku bisa lebih santai menyetir mobilku menuju ke Menteng. Malam ini aku hanya bisa berharap jika lalu lintas tidak macet parah.

***

BMW XM dan Tesla 3 sudah berada di halaman rumah Opa yang cukup luas malam ini. Ini sudah merupakan salah satu bukti jika aku adalah tamu terakhir yang datang ke rumah ini. Baiklah, tanpa membuang-buang waktu lagi, aku segera masuk ke dalam rumah. Sama seperti biasanya, suasana rumah ini cukup sepi dan semua tertata dengan rapi.

"Lang, buruan lo ke sini," suara Mokara membuatku segera mendekatinya.

Tumben sekali adikku ini sudah bisa duduk dengan baik di sini tanpa mengoceh mengenai alasan kenapa ia dipaksa untuk hadir.

Saat aku sudah duduk di dekatnya, aku langsung menanyakan hal yang membuat kami diundang ke tempat ini. "Kenapa malam-malam kita dipaksa datang ke sini? Opa nih enggak tahu apa kalo gue enggak bisa keluar malam lama-lama?"

"Opa kumat lagi. Kali ini dia bilang bakalan kasih satu perusahaan buat lo atau Leo kalo kalian berhasil menikahi perempuan yang sudah dia incar jadi cucu menantunya."

Aku menghela napas panjang. Kali ini anak atau cucu siapa lagi yang akan disodorkan kepadaku dan kakakku itu? Demi apapun, aku tidak berminat sama sekali dengan apa yang akan Opa berikan kepada kami.

"Anak dari keluarga mana lagi?"

"Gue enggak tahu. Buruan sana lo masuk."

Aku segera berdiri dan berjalan menuju ke ruang kerja Opa yang berada tidak jauh dari ruang keluarga berada. Setelah aku mengetuk pintunya, sebuah suara mempersilahkan aku untuk masuk. Begitu aku membuka pintu, tampak sosok Leo Mahardika Adikara yang tidak lain adalah saudara seayah namun beda ibu denganku ini sudah duduk manis di sana tepat di depan Opa.

"Lang, sini masuk. Duduk samping Leo."

Dih...

Andai Opa tidak menyuruhku begitu, aku pasti memilih duduk di kursi lain yang ada di tempat ini. Dengan setengah hati, aku duduk di sana dan berusaha mengabaikan tatapan Leo kepadaku kali ini. Ya, hubungan kami tidak pernah akur layaknya saudara sejak dulu. Lebih tepatnya sejak pertama kali aku membuka kedua mataku di dunia ini.

Alasan Leo membenci aku, Mama bahkan Mokara karena cerita masa lalu percintaan kedua orangtuaku. Sejak Mama memutuskan untuk menikah dengan Papa yang kala itu berstatus duda anak satu, lalu kemudian aku hadir di dalam rahim Mama, Leo selalu menganggapku saingannya. Saingan untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian terutama dari Papa. Padahal selama ini juga Papaku bukanlah seorang Papa yang hangat hingga memiliki hubungan yang dekat denganku. Papa bahkan Mama lebih sering memprioritaskan Leo daripada aku karena mereka sadar jika Leo sudah kehilangan ibu kandungnya sejak ia masih kecil. Sedangkan aku? Ya... sama seperti nasib anak kedua di manapun berada, harus rela berbagi segalanya bahkan mengalah pada kakakku itu. Puncak dari keikhlasanku mengalah padanya adalah saat aku memutuskan mundur dari perusahaan keluarga Adikara dan memulai bisnis tempat karaoke dengan uang tabungan yang aku miliki selama bekerja di sana.

"Opa tidak akan berbelit-belit. Opa minta kalian ke sini karena Opa mau salah satu dari kalian menikahi customer taxi online yang Opa temui beberapa waktu lalu."

Aduh Gusti...

Semakin tua umur Opaku, semakin unik saja kelakuannya. Bukannya menikmati masa pensiunnya dengan tenang di rumah sambil berkebun atau melakukan kegiatan yang bermanfaat, beliau justru senang jalan-jalan bersama mobilnya lalu menjadi pengemudi taxi online.

"Aku tidak mau menikah dengan sembarang wanita. Aku tidak mau mengulang kesalahan Papa."

Somprettt....

Ingin aku plester mulut Leo ini. Dia kira Mamaku tidak sakit hati dengan kelakuan Papa dulu dikala muda? Pacaran bertahun-tahun di negri orang kala menempuh pendidikan bersama. Saat Papa pulang lebih dulu ke Indonesia bukannya setia malah justru menerima keinginan keluarganya untuk menikahi wanita pilihannya. Giliran pernikahan mereka tidak bahagia dan akhirnya ibu Leo mengalami depresi hingga meninggal dunia, Mamaku yang disalahkan oleh Leo sebagai penyebabnya. Andai saja aku diberi pilihan untuk memilih siapa orangtuaku, aku juga pasti tidak mau menjadi anak dari orangtuaku karena keluarga ini benar-benar tidak membuatku nyaman berada di dalamnya.

"Apa kamu sudah memiliki calon?"

"Tidak. Untuk apa menikah jika pada ujungnya kami hanya akan saling menyakiti satu sama lain."

Aku menggigit bibir bawahku. Sungguh lucu sekali kakakku ini. Memang tidak memiliki pasangan tapi ani-ani yang ia miliki dan ia simpan saja aku tahu siapa orangnya. Ya, tentu saja semua informasi ini dari Wilson karena perempuan itu dulu sering nongkrong di night club miliknya.

Aku yang semakin tidak kuat untuk menahan tawaku akhirnya berdiri. Hal ini sukses membuat Opa dan Leo menatapku.

"Kamu mau ke mana?"

"Mau pulang, Opa. Aku punya anak yang tidak bisa aku tinggal terlalu lama."

Anggukkan kepala Opa sudah cukup membuatku yakin bahwa dirinya sudah ikhlas menerima keputusanku untuk menolak semua ide gilanya ini. Ya, buat apa aku harus berada di tempat ini terlalu lama untuk memperdebatkan hal tidak penting seperti ini.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Marriage With Benefits   203. Liburan pertama dengan personil lengkap

    Caramel Attanaya Raharja POVHari-hari aku lalui sebagai ibu dari tiga orang anak benar-benar luar biasa. Apalagi semakin hari kegiatan Lean semakin banyak sedangkan Jala serta Jian sudah semakin besar dan aktif saja. Aku yang dibantu oleh dua orang babysitter untuk merawat si kembar nyatanya tetap tidak merasa lebih ringan pekerjaanku karena aku tidak bisa menyerahkan seratus persen perawatan si kembar kepada para babysitter-nya. Aku tetaplah Mama yang memandikan mereka di pagi hari bersama Elang. Aku juga yang menyiapkan sarapan untuk orang serumah dengan berbagai macam menunya. Opa tentunya dengan menu sesuai anjuran ahli gizinya, Lean dan Elang bisa sarapan dengan menu yang sama dengan aku serta orang serumah sedangkan si kembar baru mulai makan sejak tiga hari yang lalu di saat usianya sudah menginjak enam bulan minggu lalu.

  • Marriage With Benefits   202. Kembali Pulang ke Jakarta

    Elang Mahaputra Adikara POVSetelah menunggu kabar dari Adit selama beberapa hari ini dan belum kunjung aku mendapatkan kepasatian darinya, aku mencoba bertanya kepadanya mengenai permintaanku untuk menyewa private jet miliknya. Jika miliknya masih disewa oleh orang, aku bisa meminjam kepada orang lain seperti Mas Joe mungkin. Tanpa membuang waktu lagi, aku coba mengambil handphoneku dan mencari group Lapak Dosa di sana. Group Lapak DosaElang : Dit, gimana? lo bisa bantuin gue enggak? Kalo enggak bisa, gue mau minta tolong sama Joe.Gavriel : Memang si Adit belum kasih jawaban ke lo?

  • Marriage With Benefits   201. Kami sepakat untuk KB

    Caramel Attanaya Raharja POVSetelah satu bulan kami rutin berhubungan suami istri dan aku masih belum kunjung datang bulan, akhirnya aku melakukan test pack dan untung saja hasilnya adalah garis satu. Berbeda dengan dulu jika aku akan kecewa setiap kali mendapatkan hasil seperti ini, saat ini aku justru bahagia. Elang saja merasa bahagia kala tahu hasil ini.Pagi hari setelah hasil testpack itu, kami ke rumah sakit bersama. Selain untuk memberikan imunisasi untuk si kembar, kami berencana untuk melakukan tes analisa sperma untuk Elang. Tentu saja sebelum melakukan tes ini kami sudah tidak berhubungan sekitar 5 hari. Ini adalah tindakan preventif yang bisa kami lakukan. Andai saja oligospermia Elang 'kambuh' kembali, rasanya aku tidak perlu memasang alat kontrasepsi apa

  • Marriage With Benefits   200.Rasanya seperti susu sapi

    Elang Mahaputra Adikara POVSetelah aku menahan diriku hampir setahun lamanya, akhirnya aku tidak sabar lagi untuk meminta hakku. Yup, hak sebagai suami Caramel yang nafkah batinku sejak ia hamil sampai melahirkan lebih spesifik lagi ia selesai nifas tidak aku dapatkan. Sesabar-sabarnya aku sebagai seorang suami, tetap saja tidak bisa lebih lama lagi rasanya menahannya. Malam hari ini setelah pembicaraan kami yang cukup panjang, akhirnya Caramel menyetujuinya. Pertama kali aku melihat tubuhnya yang meskipun memang berbeda namun aku sama sekali tidak ilfeel atapun merasa jijik sama sekali. Perubahannya membuatku sadar bahwa beginilah seharusnya kehidupan wanita itu berjalan. Terkadang wanita harus kehilangan keseksian serta kecantikannya untuk sementara waktu saat hamil dan melahirkan

  • Marriage With Benefits   199. Aku enggak akan terima kamu apa adanya

    Caramel Attanaya Raharja POVSetelah Mama dan Papa pulang ke Jakarta dua minggu lalu, praktis mengurus Jala dan Jian dari pagi sampai sore hari adalah pekerjaanku saat ini. Jangan tanya seperti apa kondisi diriku saat ini yang jangankan mau merawat diri seperti dulu, bisa mandi dan menyisir rambut saja adalah hal yang istimewa. Entah para ibu yang lain seperti apa perutnya namun perutku benar-benar seperti bokong panci dan bergelambir. Aku sampai malu bukan main jika Elang tidak sengaja melihatnya. Karena hal ini sejak aku melahirkan, aku lebih memilih untuk berganti pakaian di dalam kamar mandi. Baju dinas malam saja sampai saat ini masih belum aku gunakan lagi. Lebih banyak daster busui yang dibawakan para sepupuku dari Indonesia yang aku gunakan setiap hari kala berada di dalam apartemen. Dan suamiku tentu tidak akan tergugah gairahnya melihatku

  • Marriage With Benefits   198. Japanese Tea Garden

    Elang Mahaputra Adikara POVSetelah beberapa hari berada di San Francisco, keluarga Caramel dan teman-temanku akhirnya akan pulang kembali ke Indonesia. Sudah aku tanyakan berkali-kali kepada mereka semua, mengenai keputusan ini, apakah mereka tidak ingin lebih lama tinggal di sini? Minimal mengelilingi beberapa negara bagian yang ada di negara ini. Sayangnya mereka tidak berminat. Apalagi kebanyakan dari mereka sudah bukan yang pertama kali mengunjungi negara ini. Gavriel dan Gadis saja selama berada di sini lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga Daddy-nya Gavriel daripada pergi ke tempat wisata. Hanna dan Adit lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja sedangkan Wilson serta Raga adalah dua orang yang paling menikmati waktu untuk mengeksplorasi beberapa sudut kota ini bersama Mokara dan Lean. Meskipun Caramel ingin mengikuti

  • Marriage With Benefits   171. Pantai

    Elang Mahaputra Adikara POVAku baru pertama kali bertemu Anang dan seketika aku merasa bersyukur karena di keluargaku sama sekali tidak ada anggota keluarga ya

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Marriage With Benefits   150. Mari kita ke klinik infertilitas

    Elang Mahaputra Adikara POVMalam ini aku berkumpul bersama teman-temanku di rumah Gavriel setelah dua minggu kami tidak bertemu. Untuk kali ini tidak ada diant

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Marriage With Benefits   140. Menjemput Elang di night club

    Caramel Attanaya Raharja POVSama seperti malam-malam sebelumnya, malam ini aku menolak ajakan Elang untuk pergi berkumpul bersama teman-temannya. Lagipula temp

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Marriage With Benefits   138. Menuntut pengakuan Elang

    Caramel Attanaya Raharja POVAku mencoba mengatur diriku agar tidak meledak kala Elang mengajakku berbicara. Karena kemungkinan pembicaraan ini akan lama, aku m

    last updateLast Updated : 2026-04-01
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status