Share

Three

Tangan Krystal menarik satu bantal dari belakang tubuhnya, lalu ia lemparkan ke wajah Evalio. "Fucking jerk!" 

"Argh... apa yang kau lakukan, Krystal?" bentak Evalio dan Krystal terdiam.

"A..Anda tau namaku?" ucap Krystal.

"Jelas saja aku tau namamu karena Araster adalah target utamaku."

" Dan tanpa kau dia hanya menjadikanmu boneka, Krystal.." Evalio membelai lembut pipi Krystal.

"Berhenti menyentuhku, pria psycho!" erang Krystal memberikan tatapan bengis pada Evalio. Kali ini Krystal sangat geram.

Evalio tertawa, bagaimana mungkin gadis kecil seperti Krystal bisa sangat galak seperti itu.

"Jangan marah-marah nanti kau cepat tua," ledeknya.

Tatapan Krystal semakin sinis. "Jika aku menjadi tua itu semua gara-gara Anda, paham!!" Tegasnya.

"Oh ya? Menjadi tua sebelum bercinta? apa tidak rugi?" Evalio, benar-benar sangat menguji kesabaran Krystal.

Krystal langsung mengeluarkan dua tanduk merahnya, napasnya juga semakin memburu. Tak lama, Krystal memukuli bidang dada Evalio. 

"Dasar orang gila!"

"Orang mesum!"

"Sinting!" 

Evalio semakin kencang dengan tawanya, ia mencoba menyangkal dari pukulan Krystal.

"Hahah, stop, stop. Hentikan."

Begitu Evalio mengucapkan kata-kata itu, Krystal menghentikan pukulanya. 

Evalio menghembuskan napasnya sejenak, lalu menatap Krystal dengan tenang.

"Apa? gak usah liat-liat nanti suka!" tegas Krystal.

"Andai saja kau bukan darah daging Araster mungkin aku sudah menikahimu dari dulu," batin Eval.

"Kalau sudah suka bagaimana?"

"Itu hanya akan menjadi mimpi Anda yang tidak akan terwujud!." Krystal langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan menutup semua tubuhnya dengan selimut.

Hatinya sudah tak karuan, ia tak mau lama-lama berbicara dengan Evalio. Itu sangat berbahaya untuk jantungnya.

"Gak, gak, gak. Pokoknya aku gak boleh punya perasaan gini lagi," batin Krystal sambil memejamkan matanya.

"Tenang, Krystal. Ini cuma sementara.." lanjutnya lagi.

Evalio tak mau berlama-lama lagi, karena sepertinya Krystal sudah lelah dan memang ini waktunya gadis itu untuk beristirahat. Akhirnya Evalio langsung keluar dari kamar itu.

***

Hari sudah menunjukan pukul 10.00 pagi, namun Krystal masih terlelap dalam tidurnya.

Evalio baru saja pulang dari pelabuhan, laki-laki itu telah melakukan transaksi narkoba di sana. Seperti yang diketahui, Evalio adalah mafia yang berasal dari Italia dan menetap di Chicago sekarang dan ia di kenal sebagai Mr.Dom dalam bisnisnya. 

"Bagaimana dengan gadis itu? apa dia sudah keluar kamar?" tanyanya pada pelayan.

"Belum, Tuan," jawab pelanyan nya itu.

Evalio langsung bergegas ke kamar Krystal.

Ia membuka pintu kamar gadis itu dan benar saja dia sedang tertidur pulas. Bahkan sinar matahari  sudah cukup terik memancar wajahnya.

Evalio segera mematikan AC ruang itu, dan menarik selimut yang menggulat di  tubuh Krystal. 

"Hei, wake up!"  ucap Evalio datar.

Krystal sama sekali tak terganggu dengan apa yang dilakukan Evalio. Gadis itu tetap tidur sambil memeluk bantal guling.

Evalio mengambil bantal yang Krystal peluk, dan lihatlah gadis itu mulai bergerak. 

"Euughhh.. siapa sih ganggu aja deh," sungut Krystal masih dengan mata terpejam.

Evalio membuang napasnya lelah. "Dasar pemalas!"

"Wake up! Wake up! Wake up!" teriak Evalio.

"Mommy, please..." Krystal masih belum tersadarkan juga. Gadis itu belum sadar jika ia berada di mana sekarang. 

"Mommy, you know? Sepertinya aku baru saja bermimpi buruk."

"Aku bertemu dengan pria gila di sana.." Evalio langsung membelalak. Bisa-bisanya ia dikatakan gila oleh Krystal.

"Dia menembak Daddy, membuat Mommy pingsan dan juga.." Krystal menggantungkan kalimatnya.

"Dia mencium ku."

"Itu membuatku teringat si brengsek itu." Evalio menautkan keningnya. Siapa yang baru saja ia sebut brengsek? 

Evalio terduduk di ujung samping tempat tidur Krystal. Ia menyilak anak-anak rambut yang menutupi wajahnya. Tiba-tiba saja, ia melihat air mata Krystal menetes membuatnya bingung, apa yang terjadi dengan gadis itu.

"Kenapa dia menangis?" batin Evalio.

Tanpa sadar, Krystal bangun dan langsung memeluk Evalio begitu saja. Ia sama sekali belum sadar jika itu bukan Mommynya. 

Ia menangis dalam pelukan itu. "Mom, kenapa rasanya masih begitu sakit hikss.." 

"Rasanya, Krystal ingin sekali hilang ingatan dan melupakan semuanya hikss.."

Evalio tak mengerti apa yang Krystal racaukan, tapi dia hanya membalas pelukan itu sambil membelai rambutnya. "Hustt.. udah ya jangan nangis lagi. Nanti aku tembak orang yang sudah buatmu menangis." 

Krystal langsung membuka matanya, ia merasakan aneh. Kenapa suara Mommynya berubah menjadi seperti laki-laki?

Dan parfumnya juga seperti laki-laki.

Krystal berhenti menangis dan meraba bidang dada Evalio.

"Apa yang kau lakukan?" ujar Evalio.

Mata Krystal langsung melotot dan melepaskan pelukanya.

"Oh for fuck's sake!!" (Oh demi sial!!) seru Krystal sangat kaget.

"Anda siapa? Kenapa Anda berada di kamarku?" 

"Berani-beraninya Anda menyusup ke sini!"

"Kau tak ingat?" ucap Evalio sangat santai.

"Kau mengira kau bermimpi?" lanjutnya. "Sadarlah, kau berada di mana sekarang."

Krystal mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia melihat sekelilingnya kamarnya dan ia baru sadar jika itu bukan kamarnya.

Ia langsung bangun dan berdiri dari tempat tidurnya, ia berlari mengecek kamar mandi dan juga balkon kamar itu. 

"Ahhh sial! Padahal aku berharap itu mimpi buruk," gerutu Krystal. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri setelah mengingat kejadian semalam.

Krystal kembali ke tempat tidurnya dengan sangat lesu. "Apa kau tidak berniat untuk mandi dan sarapan?" tanya Evalio.

Krystal mendesah. "Sepertinya aku akan berpuasa selama satu tahun." 

"Dan tidak akan mandi juga..." Suaranya terdengar sangat lesu. Gadis itu sama sekali tak bersemangat setelah sadar dari tidurnya.

Lagi dan lagi, Evalio terkekeh dengan kelakuan Krystal. "Mandilah setelah itu makan. Maka aku tak akan membunuh mereka."

"Kenapa Anda tak membunuh ku saja?" Senyum Evalio pudar seketika. Ia melihat wajah Krystal yang menatapnya sekarang.

"Anda tak bisa menjawabnya?"

Krystal menghembuskan napasnya kesal. Dia langsung beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi. Dalam langkahnya ia menggerutu terdengar seperti sindiran, "Dunia terlalu banyak menampung laki-laki brengsek!"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status