Share

26. Musibah Baru

Author: Momy3R
last update publish date: 2025-09-07 06:57:10
Nyonya Deswanti berdiri mengawasi Jonathan yang berjalan sempoyongan. Ia menyuruh Mira untuk memapah Jonathan.

Adiknya yang bernama Tono, merasa cemas dengan keponakannya. “Bukannya dia seharusnya di kantor sekarang, kamu kenapa tega sama anak sendiri, Kak?”

Nyonya Deswanti melirik adiknya, tajam dan sedikit melunak karena ia tahu adiknya ini sayang dengan Jonathan sejak kecil.

“Aku harus sedikit keras, John kurang berbakti padaku. Seharusnya dia sadar, wanita yang bernama Luna tidak memiliki ma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Marry with Sugar Daddy    42. Kehadiran Pria Lain

    Air mata Bu Mirasih seketika tumpah membasahi pipinya yang mulai berkerut. Setelah membaca tulisan di kertas itu berulang kali, ia langsung menarik Luna ke dalam pelukannya.Tubuh tua itu bergetar hebat karena rasa haru yang membuncah."Alhamdulillah... Ya Allah, Alhamdulillah..." bisik Bu Mirasih berulang kali, mengusap punggung putrinya dengan penuh kasih sayang.Tio yang melihat ibunya menangis sempat panik, namun setelah membaca kertas yang terjatuh di kasur, wajah remaja itu seketika berubah cerah dengan mata berkaca-kaca. "Kak Luna... hamil? Tio mau punya keponakan?"Bu Mirasih melepaskan pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Luna yang masih basah oleh air mata. Tatapan matanya yang semula dipenuhi kesedihan akibat badai rumah tangga putrinya, kini berganti menjadi binar penuh harap dan syukur."Luna, dengarkan Ibu, Nak," ujar Bu Mirasih dengan suara parau namun terdengar sangat tegar. "Ibu sangat, sangat bahagia. Jangan takut, dan jangan merasa sendirian. Meskipun kamu sudah

  • Marry with Sugar Daddy    41. Ketegasan Jonathan

    Kembali ke ruang kerja apartemen, atmosfer ruangan terasa kian mencekam. Nyonya Deswanti berdiri mematung dengan napas memburu.Sementara Mira tampak seperti mayat hidup—wajahnya pias sembari meremas tasnya dengan jemari yang gemetar hebat.Mendengar ancaman Jonathan yang akan membawa hasil uji lab itu ke jalur hukum, Nyonya Deswanti mencoba membusungkan dadanya, menggunakan kartu as terakhir yang selama ini ia susun bersama Mira untuk mengikat Jonathan."Kamu mau memenjarakan Mama dan Mira, John?! Kamu sudah hilang akal?!" teriak Nyonya Deswanti dengan suara melengking. "Pikirkan nama baik keluarga Deswanti! Pikirkan Mira! Dia sedang mengandung anakmu, Jonathan! Apa kamu tega memenjarakan ibu dari calon anak kandungmu sendiri?!"Mira langsung ikut terisak secara dramatis, mencoba memelas. "Iya, John... demi bayi di dalam kandungan aku, tolong jangan lakukan ini..."Mendengar kata 'kandungan' dan 'anak kandung', Jonathan tidak marah ataupun bingung seperti biasanya. Alih-alih terpen

  • Marry with Sugar Daddy    40. Tidak Mungkin

    Sret... sret... sret...Suara mesin pencetak di sudut ruangan terdengar begitu nyata di tengah keheningan yang mencekam. Lembar demi lembar kertas putih keluar, menampilkan baris demi baris tabel ilmiah, grafik analitik, dan kesimpulan medis yang ditulis dalam bahasa hukum dan kedokteran yang tegas.Jonathan melangkah mendekat, lalu mengambil tumpukan kertas yang masih terasa hangat dari mesin cetak. Matanya sekilas membaca poin-poin penting yang tercetak tebal di lembar kesimpulan.Tulisan yang cukup membuatnya terkejut. Kandungan Zat Psikotropika Golongan IV (Klonazepam dan turunan benzodiazepin dosis tinggi) pada sampel biologis.Jonathan membalikkan tubuhnya, menghadap langsung ke arah mamanya dan juga Mira. Dengan gerakan perlahan namun sarat akan penekanan, ia menghentakkan tumpukan berkas itu ke atas meja kerjanya."Ini adalah hasil uji laboratorium forensik atas sisa obat yang selama ini kalian cekokkan ke tubuhku," ujar Jonathan.Suaranya terdengar sangat tenang, namun jus

  • Marry with Sugar Daddy    39. Tes Ken-cing

    Suasana di dalam puskesmas pagi itu cukup ramai. Luna duduk di deretan kursi plastik ruang tunggu, bersandar lemas pada dinding semen yang terasa dingin.Bau khas obat-obatan dan karbol yang menyengat di dalam ruangan justru membuat rasa mual di perutnya semakin menjadi-jadi.Beberapa kali Luna harus menarik napas dalam-dalam melalui mulut, lalu menghembuskannya perlahan demi menekan gejolak di dadanya agar tidak muntah di lantai puskesmas. Kepalanya masih terasa agak pening, dan tangannya meremas ujung sweaternya dengan erat."Antrean nomor tiga puluh dua, Nona Luna," panggil seorang perawat dari ambang pintu ruang pemeriksaan.Luna tersentak, lalu perlahan bangkit berdiri. Dengan langkah yang masih sedikit kurang stabil, ia melangkah masuk ke dalam ruangan. Di balik meja periksa, seorang dokter wanita paruh baya menyambutnya dengan senyuman yang sangat teduh dan menenangkan."Silakan duduk, Mbak Luna. Keluhannya apa yang dirasakan?" tanya dokter itu dengan lembut sembari mulai men

  • Marry with Sugar Daddy    38. Sakit Apa, Sih?

    Siang harinya, sebuah mobil dinas medis dengan logo palang merah datang ke gang kos Luna. Kedatangan Dokter Handoko yang didampingi seorang perawat tentu saja membuat Luna dan Ibunya terkejut. Namun, dengan pembawaan Dokter Handoko yang sangat ramah dan menjelaskan bahwa ini adalah program "Layanan Jemput Bola Lansia dan Difabel" dari sebuah yayasan, Luna akhirnya mengizinkan adiknya diperiksa.Tio diminta berbaring di kasur kos yang tipis. Dokter Handoko mulai memeriksa refleks saraf, memeriksa struktur tulang kaki Tio dengan alat pemindai portabel, serta membaca riwayat medis Tio dari berkas lama yang sempat diselamatkan Luna.Seluruh proses pemeriksaan itu memakan waktu satu jam. Begitu selesai, Dokter Handoko segera kembali ke mobilnya dan langsung menghubungi Jonathan yang saat itu baru saja menutup rapat kerjanya."Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Jonathan langsung, suaranya terdengar cemas saat ia mengunci diri di ruang kerja pribadinya.Di seberang telepon, Dokter Handoko men

  • Marry with Sugar Daddy    37. Kepedulian Jonathan

    Luna terus memaksa, ingin tahu siapa pengirim barang-barang yang cukup banyak dikirim itu.Tapi tidak ada jawaban yang memuaskan hatinya. Ia dipaksa menerima meski menolak secara halus dan akhirnya menegaskan mereka untuk membawa kembali barang yang dikirim.“Kalau kalian tidak mau memberitahu orang itu siapa, lebih baik bawa kembali. Kami takut kalian ada maksud tertentu.”“Tidak ada, hanya orang yang mengutus kami ini merasa iba dengan perjuangan Anda dan keluarga.”“Aneh, siapa sih?” desaknya lagi."Maaf, Mbak. Pesan beliau hanya satu: gunakanlah untuk kebutuhan Ibu dan adik Mbak. Beliau tidak ingin dikenal, dan kami dilarang keras untuk memberikan informasi lebih lanjut. Mohon jangan memaksa kami."Setelah meletakkan seluruh barang dan memastikan semuanya dalam kondisi baik, para utusan itu segera pergi begitu saja tanpa menunggu Luna selesai bertanya lebih jauh.Luna berdiri terpaku di depan pintu kosnya, menatap tumpukan bantuan yang nilainya pasti tidak sedikit itu. Di dalam k

  • Marry with Sugar Daddy    8. Penuh Tantangan

    Bu Mirasih memandang putrinya dari arah dapur. Ia membantu Luna membereskan semuanya, termasuk mencuci piring. Di rumah ini memang sudah ada seorang pelayan tapi mereka tidak mau asal berpangku tangan saat tinggal di rumah orang.Luna terkejut saat baru bangun melihat ibunya mencuci piring. “Ibu i

  • Marry with Sugar Daddy    7. Belum Siap, Mas

    Jonathan mengajaknya ke rumahnya setelah rumah orang tuanya kosong tanpa ada siapapun.Adiknya juga tidak terlihat. Ia menggenggam tangan Luna dan mengajak ibu mertua serta adik iparnya ke rumahnya.Luna dan ibunya saling berpandangan saat tiba di depan rumah Jonathan yang tak kalah mewah dari rumah

  • Marry with Sugar Daddy    6. Sambutan Dingin

    Angin lembut bulan Juli memainkan helai rambut Luna saat memandang Tio, adiknya, yang tertawa riang di taman rumah sakit. Kakinya telah dioperasi tapi dia harus memakai kursi roda nantinya sampai benar-benar sembuh betul.Beberapa langkah di sampingnya, sang ibu tersenyum tipis, memetik bunga kambo

  • Marry with Sugar Daddy    5. Akhirnya

    "Baiklah Tuan Jonathan... aku … aku bersedia," ucap Luna, suaranya nyaris berbisik, serak menahan getar. Ada rasa pahit yang menyelimuti lidahnya, namun juga secuil kelegaan yang mengerikan.Jonathan menghela napas panjang, seolah beban berat terangkat dari pundaknya. "Baiklah, Luna. Terima kasih.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status