LOGINLuna mengalami sebuah peristiwa yang membuat keluarganya didera sebuah masalah. Di tengah keputusasaan Jonathan seorang pria mapan dan misterius, datang menawarkan bantuan tak terduga. Namun kebaikan Jonathan datang dengan syarat yang akan mengubah segalanya. Luna harus bersedia menikah dengannya. Pernikahan yang dilandasi keterpaksaan itu membawa Luna ke dalam kehidupan yang jauh berbeda sekaligus menghadapi masalah baru. Tapi keluarga Jonathan ternyata menentang keras pernikahan mereka. Memandang rendah Luna yang dinikahi Jonathan karena usianya lebih muda dan dikira hanya mengincar harta. Akankah sentuhan dan janji Jonathan cukup untuk menepis segala tuduhan. Ataukah pernikahan dadakan ini justru akan menghancurkan keduanya.
View MoreJalanan berdebu, Luna mengusap keringatnya. Ia berjalan ragu sambil mengelus layar ponselnya dengan kain roknya.
Keyakinannya untuk menggunakan jalan terakhir ini, terpaksa ia lakukan.
Dipandanginya ponsel miliknya. Layar itu tidak mulus, tapi ia menaksir harga ponselnya cukup lumayan nantinya.
Meski mungkin nanti rendah tapi pasti bisa untuk meringankan beban yang ada.
Luna berdiri mematung di depan etalase kaca, menatap deretan ponsel keluaran terbaru yang berkilauan.
Bukan, bukan karena ia ingin membelinya. Justru sebaliknya. Dengan napas tertahan, ia melangkah masuk ke toko ponsel yang ramai itu.
Aroma khas elektronik dan parfum pengunjung menyeruak. Jantungnya berdegup tak karuan. Ia harus melakukannya.
Sesuatu yang mendesak membuatnya harus menjualnya, ia menggenggam erat benda yang selama ini setia menemaninya.
Seorang gadis manis tersenyum saat melihatnya masuk. Luna menghampirinya dengan sedikit gugup.
Ia belum pernah datang ke toko ponsel ini selama beberapa tahun ini, ia membeli ponsel selalu lewat online, karena harganya lebih murah.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya seorang pramuniaga ramah menghampirinya.
Luna tersenyum kaku. "Begini, Mbak ... Aku … aku mau jual ponsel ini,"
Ia menyodorkan ponsel pintarnya yang sudah sedikit usang. Layarnya retak halus di sudutnya, saksi bisu beberapa kali terjatuh.
Ia memakainya untuk banyak keperluan termasuk berjualan online yang sedang ditekuninya.
Gadis pramuniaga itu menerima ponselnya, mengamatinya sekilas, lalu mengetuk-ketuk layarnya untuk mengecek fungsi. Berulang kali dicek dan dahinya berkerut.
Luna sedikit ragu dengan penilaian gadis itu pada ponselnya, ia takut harganya turun banyak.
Bolak balik ponselnya dicek sampai ia merasa bosan. Wajah Luna memanas. Ia tahu ponselnya tak seberapa, namun saat ini, setiap rupiah sangat berharga.
Harga beras yang terus naik, harga sayuran juga naik, ia bingung kenapa harus ada demo pasar truk odol yang mengakibatkan semua harga sayur melonjak naik.
Belum lagi tagihan listrik yang kian menunggak, dan yang paling utama, obat untuk ibunya yang sedang sakit.
Beban itu menyesakkan dadanya. Luna menunduk, ia tahu bagaimana rasanya hidup dalam kesederhanaan, di rumah kecil dan sempit yang sudah ditinggali sejak ayahnya meninggal saat masih kecil.
Ia memalingkan wajah, mencoba menghindari tatapan kasihan (atau mungkin jijik?) dari pramuniaga tersebut.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang pria tinggi dengan kemeja polo bermerek sedang meneliti sebuah ponsel lipat terbaru.
Rambutnya tertata rapi, dan jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya. Ia terlihat begitu berkarisma dan mapan, kontras dengan dirinya yang kini merasa begitu menyedihkan.
Setelah sekian lama dicek dan dibolak balik sedemikian rupa, akhirnya gadis pramuniaga itu mengembalikan ponselnya.
"Maaf, Mbak. Untuk kondisi seperti ini, kami hanya bisa menawar Rp500.000."
Luna tercekat. Lima ratus ribu?
Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk membeli beras, membayar listrik, apalagi membeli obat ibunya.
Kekecewaan menyapu dirinya. Ia tahu ponselnya tidak dalam kondisi prima, tetapi ia berharap setidaknya bisa mendapatkan Rp1.000.000.
Nominal yang kecil itu membuatnya ragu apa ia harus menerima uang sejumlah yang diberikan pramuniaga tadi.
Rasanya air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia hanya mengangguk pelan, hendak berbalik pergi.
Sia-sia merelakan menjualnya tapi harganya sangat murah, tidak sebanding jika ia nanti akan membelinya lagi.
Tiba-tiba, sebuah dehaman pelan terdengar. Luna menoleh. Pria berkarisma tadi kini menatapnya.
Matanya yang gelap memancarkan keteduhan, namun juga sesuatu yang sulit Luna artikan.
"Ada masalah, Nona?" tanya pria itu, suaranya dalam dan menenangkan. Ia melangkah mendekat. "Sepertinya Anda sedang kesulitan."
Luna gelagapan. Wajahnya semakin panas. "Tidak... tidak apa-apa, Tuan. Hanya saja..." Ia ragu. Haruskah ia menceritakan kesulitannya pada orang asing?
Pria itu tersenyum tipis. "Aku dengar tadi. Ponselnya mau dijual, ya? Kalau boleh tahu, kenapa?"
Luna menunduk, malu. "Untuk kebutuhan mendesak, Pak. Untuk … “
Ah, untuk apa menceritakan keluh kesahnya dengan orang asing seperti dia.
Ia tidak mengenalnya bahkan dia bukan siapa-siapa, atau Pak Dedi Mulyadi yang akan membantunya mengatasi ekonominya.
“Katakan saja, ada apa? Mungkin aku bisa membantumu,”
Luna merasa risih, pria itu tersenyum penuh arti, menatapnya dengan tatapan yang aneh. Ia rasa pria itu sedikit … nakal.
“Untuk apa menjualnya?”
Sekali lagi pria itu menanyakannya. Akhirnya Luna menjawabnya dengan jawaban yang apa adanya.
“Untuk ibuku, membeli obat ibuku yang sakit dan juga … kebutuhan rumah."
Pria itu mengangguk paham. Ia melirik ponsel Luna yang masih dipegangnya. "Bagaimana jika aku membantumu?"
Luna mengangkat kepala, menatap pria itu tidak percaya. "Membantu?"
"Ya," jawab pria itu, tatapannya lekat. "Bagaimana kalau aku saja yang membeli ponsel Anda? Berapa yang kamu butuhkan?”
Luna terdiam sejenak, ia bukannya tidak mau menerima tawarannya tapi mereka belum saling kenal bahkan ia tidak tahu siapa pria itu.
Dan lagipula ponselnya yang usang dan tak layak dipakai pria perlente itu pastinya seolah seperti sedang meledeknya.
“Berikan saja harga yang kamu inginkan, aku akan membelinya, ini sebuah tawaran yang serius,” ucap pria itu lagi.
Gadis pramuniaga hanya tersenyum memandangi mereka. Luna tahu senyuman itu seperti mengejeknya.
Ia memilih pergi tanpa menjawab tawaran pria perlente itu.
Namun tiba-tiba saja saat ia keluar dari toko itu, suara pria tadi memintanya untuk berhenti.
"Tuan, sebenarnya, mau apa dengan ponsel ini? Bagi Tuan, bahkan ponsel ini tidak menarik, jadi ...tolong jangan meledekku!"
Ia berbicara dengan nada sedikit keras. Pria itu sydaj cukup dewasa untuk meledek seseorang seperti dirinya.
Pria itu tersenyum, cukup ramah, seolah tidak ada ketegangan yang terjadi.
Memang, jika sedang pusing, mau orang ramah sekalipun baginya, tetap saja terlihat menyinggung.
Luna memilih keluar, tapi lagi-lagi pria itu datang mendekat dan memintanya untuk bicara sebentar.
“Kita bicara di kafe itu, ayo!”
Luna bergeming, ia diam menatapnya tapi pria itu melambaikan tangan untuk mengajaknya masuk ke sebuah kafe.
'Untuk apa sih?' batinnya menggerutu.
Dipandanginya ponsel miliknya dan dilihatnya kafe yang letaknya ada disamping persis toko ponsel tadi.
Sejujurnya ia tidak percaya sekalipun pada pria perlente itu. Selain karena mereka tak saling kenal, pria itu sudah cukup tua baginya untuk berbicara berdua duduk di kafe yang sedang ramai.
"Nona Manis, bisa kan kita bicara sebentar? Ini tentang ponselmu,"
Luna ragu, ia masih ragu. "Tuan yakin atau ingin mempermainkan?"
Pria itu tersenyum, "Aku cuma ingin tanya-tanya, setelah itu terserah kamu mau atau tidak," ujarnya.
Luna mengernyitkan dahinya, menelisik wajah pria itu. Pria yang baginya tampak seperti pamannya.
Ia bahkan lupa masih memiliki kerabat, mereka miskin, tak ada satupun kerabat yang masih mengenalinya sebagai bagian dari keluarga mereka.
Ia masih saja berdiri, sementara pria itu memandang dengan matanya yang jernih lagi terlihat ramah.
'Haruskah aku ikuti ajakannya?' batinnya.
Air mata Bu Mirasih seketika tumpah membasahi pipinya yang mulai berkerut. Setelah membaca tulisan di kertas itu berulang kali, ia langsung menarik Luna ke dalam pelukannya.Tubuh tua itu bergetar hebat karena rasa haru yang membuncah."Alhamdulillah... Ya Allah, Alhamdulillah..." bisik Bu Mirasih berulang kali, mengusap punggung putrinya dengan penuh kasih sayang.Tio yang melihat ibunya menangis sempat panik, namun setelah membaca kertas yang terjatuh di kasur, wajah remaja itu seketika berubah cerah dengan mata berkaca-kaca. "Kak Luna... hamil? Tio mau punya keponakan?"Bu Mirasih melepaskan pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Luna yang masih basah oleh air mata. Tatapan matanya yang semula dipenuhi kesedihan akibat badai rumah tangga putrinya, kini berganti menjadi binar penuh harap dan syukur."Luna, dengarkan Ibu, Nak," ujar Bu Mirasih dengan suara parau namun terdengar sangat tegar. "Ibu sangat, sangat bahagia. Jangan takut, dan jangan merasa sendirian. Meskipun kamu sudah
Kembali ke ruang kerja apartemen, atmosfer ruangan terasa kian mencekam. Nyonya Deswanti berdiri mematung dengan napas memburu.Sementara Mira tampak seperti mayat hidup—wajahnya pias sembari meremas tasnya dengan jemari yang gemetar hebat.Mendengar ancaman Jonathan yang akan membawa hasil uji lab itu ke jalur hukum, Nyonya Deswanti mencoba membusungkan dadanya, menggunakan kartu as terakhir yang selama ini ia susun bersama Mira untuk mengikat Jonathan."Kamu mau memenjarakan Mama dan Mira, John?! Kamu sudah hilang akal?!" teriak Nyonya Deswanti dengan suara melengking. "Pikirkan nama baik keluarga Deswanti! Pikirkan Mira! Dia sedang mengandung anakmu, Jonathan! Apa kamu tega memenjarakan ibu dari calon anak kandungmu sendiri?!"Mira langsung ikut terisak secara dramatis, mencoba memelas. "Iya, John... demi bayi di dalam kandungan aku, tolong jangan lakukan ini..."Mendengar kata 'kandungan' dan 'anak kandung', Jonathan tidak marah ataupun bingung seperti biasanya. Alih-alih terpen
Sret... sret... sret...Suara mesin pencetak di sudut ruangan terdengar begitu nyata di tengah keheningan yang mencekam. Lembar demi lembar kertas putih keluar, menampilkan baris demi baris tabel ilmiah, grafik analitik, dan kesimpulan medis yang ditulis dalam bahasa hukum dan kedokteran yang tegas.Jonathan melangkah mendekat, lalu mengambil tumpukan kertas yang masih terasa hangat dari mesin cetak. Matanya sekilas membaca poin-poin penting yang tercetak tebal di lembar kesimpulan.Tulisan yang cukup membuatnya terkejut. Kandungan Zat Psikotropika Golongan IV (Klonazepam dan turunan benzodiazepin dosis tinggi) pada sampel biologis.Jonathan membalikkan tubuhnya, menghadap langsung ke arah mamanya dan juga Mira. Dengan gerakan perlahan namun sarat akan penekanan, ia menghentakkan tumpukan berkas itu ke atas meja kerjanya."Ini adalah hasil uji laboratorium forensik atas sisa obat yang selama ini kalian cekokkan ke tubuhku," ujar Jonathan.Suaranya terdengar sangat tenang, namun jus
Suasana di dalam puskesmas pagi itu cukup ramai. Luna duduk di deretan kursi plastik ruang tunggu, bersandar lemas pada dinding semen yang terasa dingin.Bau khas obat-obatan dan karbol yang menyengat di dalam ruangan justru membuat rasa mual di perutnya semakin menjadi-jadi.Beberapa kali Luna harus menarik napas dalam-dalam melalui mulut, lalu menghembuskannya perlahan demi menekan gejolak di dadanya agar tidak muntah di lantai puskesmas. Kepalanya masih terasa agak pening, dan tangannya meremas ujung sweaternya dengan erat."Antrean nomor tiga puluh dua, Nona Luna," panggil seorang perawat dari ambang pintu ruang pemeriksaan.Luna tersentak, lalu perlahan bangkit berdiri. Dengan langkah yang masih sedikit kurang stabil, ia melangkah masuk ke dalam ruangan. Di balik meja periksa, seorang dokter wanita paruh baya menyambutnya dengan senyuman yang sangat teduh dan menenangkan."Silakan duduk, Mbak Luna. Keluhannya apa yang dirasakan?" tanya dokter itu dengan lembut sembari mulai men
Dengan tergesa-gesa, Jonathan membawa mobilnya menuju rumah sakit. Di sisinya, Luna terus menggenggam tangannya, sesekali mengusap punggungnya, mencoba menenangkan.Pikiran Jonathan kacau. Kata "kritis" terus terngiang di kepalanya, disusul bayangan wajah mamanya yang pucat dalam mimpinya."Kondisi
Angin sejuk dari AC rumah sakit tidak mampu mendinginkan suasana yang tegang di ruang tunggu itu.Papanya telah dibawa ke rumah sakit dan langsung mendapatkan perawatan medis. Jonathan menunggu dengan harap-harap cemas.Satu jam kemudian, dokter muncul dan memberitahu apa yang telah terjadi. Tapi ke
“Aku pulang malam, nanti ada kurir datang. Paket yang aku kirimkan bisa kamu cek dan pakai sebelum aku pulang. Tidak usah menyambutku di luar, cukup berbaring di kamar dan tunggu aku masuk,”Jonathan mengirim pesan untuknya. Pria itu sedang menangani beberapa proyek dan berkumpul bersama papanya di
Setelah kegagalan rencananya, Mira tidak menyerah. Ia tahu kelemahan Nyonya Deswanti adalah keinginannya untuk segera memiliki cucu. Mereka dari keluarga kaya, Jonathan yang memang sudah tua usianya mengharuskan memiliki istri yang bisa memenuhi keinginan orang tuanya.Dulu ia berpacaran dengan pr






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews