Home / Romansa / Marry with Sugar Daddy / 6. Sambutan Dingin

Share

6. Sambutan Dingin

Author: Momy3R
last update Petsa ng paglalathala: 2025-08-09 03:16:57

Angin lembut bulan Juli memainkan helai rambut Luna saat memandang Tio, adiknya, yang tertawa riang di taman rumah sakit. 

Kakinya telah dioperasi tapi dia harus memakai kursi roda nantinya sampai benar-benar sembuh betul.

Beberapa langkah di sampingnya, sang ibu tersenyum tipis, memetik bunga kamboja yang gugur di dekat kakinya.

Senyum tipis yang dulu amat jarang terlihat, kini mulai kembali menghiasi wajahnya. 

Hati Luna menghangat, beban berat yang selama ini menindih pundaknya seolah terangkat. 

Proses pemulihan ibunya dari sakit yang mendera kini lebih banyak diam namun saat ada Jonathan yang datang membantu, ibunya seperti merasa memiliki nyawa lagi karena Tio mulai berangsur membaik dan kakinya terselamatkan dari kelumpuhan.

Kesembuhan untuk kaki Tio memang tidak mudah, butuh waktu yang cukup lama. Luna memandang lega.

Mereka berdua, ibu dan adiknya telah sembuh. Bahkan akan pulang dalam keadaan utuh.

Jonathan berdiri di belakang Luna, merangkul pinggangnya erat.

Hangat tangannya menyalurkan kekuatan, mengingatkan Luna bahwa ia tidak sendiri lagi. 

"Kita akan pulang. Kamu siap, Sayang?" bisiknya lembut di telinga Luna.

Luna menoleh, matanya berbinar. "Siap, i-iya aku siap," jawabnya, suara tercekat oleh haru. Hari ini adalah hari kepulangan mereka. Bukan hanya ibu dan Tio yang pulang, tapi Luna juga. Pulang ke rumah Jonathan, ke dalam kehidupan baru sebagai istrinya.

Pria itu memintanya untuk pulang ke rumahnya sebagai seorang istri. Tentu saja ia harus menurutinya, mengingat semua pengorbanan pria itu untuk kebutuhan keluarganya.

Ibunya dan Tio sementara akan ikut dengan mereka. Karena ibunya pasti akan perlu perawatan dari Luna dan Jonathan juga butuh Luna sebagai istrinya. 

Jadi … akhirnya diputuskan mereka pulang menjadi satu di rumah Jonathan untuk sementara waktu sampai kesembuhan ibunya.

Kini, mereka benar-benar telah bisa keluar dari rumah sakit. Semua administrasi, diurus Jonathan.

Luna lega tapi ia menerima konsekuensinya, menjadi seorang istri dan bersiap mengabdikan dirinya pada pria itu.

"Lun, kamu tidak apa-apa?"

Jonathan, pria itu meremas jemarinya. Seiring berjalannya hari, pria itu selalu menyentuh meski baru menggenggam tangannya.

"A-aku...tidak apa-apa, ehm ..."

"Jangan tegang! Aku bersamamu, ibu dan Tio juga,"

Luna mengangguk, merasa nyaman namun canggung.

Perjalanan menuju rumah Jonathan terasa singkat, diisi tawa renyah Tio dan obrolan ringan Jonathan dengan ibunya. 

Luna sesekali melirik Jonathan, jantungnya berdegup kencang. Pria itu menempatkan dirinya seolah sebagai menantu yang telah cukup bahagia padahal mereka belum saling menyentuh ataupun melakukan malam pertama mereka.

Saat ini, Luna sedang memikirkan bagaimana nanti keluarga suaminya menyambutnya. Ia tahu Jonathan berasal dari keluarga terpandang, jauh berbeda dari latar belakangnya yang sederhana.

Ada rasa tak percaya, ia pulang bersama seorang pria kaya dan menikahinya hanya untuk menolong kehidupannya.

Ketika mobil Jonathan memasuki halaman sebuah rumah megah dengan taman asri, Luna merasakan kegugupan menyeruak.

Ia mulai berkeringat dingin dan Jonathan menyadarinya. 

Pria itu tahu istrinya pasti merasa gugup, takut dan canggung saat masuk ke rumahnya.

Ia segera memahami dari raut wajah Luna yang tegang.

Jonathan menggenggam tangannya, seolah merasakan kegelisahannya. Tangannya meremas penuh perasaan, seolah ingin menenangkan.

"Jangan khawatir, Sayang. Keluargaku, mereka akan menyukaimu," bisiknya meyakinkan.

Luna hanya diam, dipandanginya gedung tinggi milik keluarga Jonathan. Mereka tidak tinggal disini nantinya, Jonathan bilang rumahnya ada di deretan ini tapi sedikit jauh dari sini.

Mereka datang kesini untuk berkenalan dengan keluarga Jonathan dan agar mereka semua tahu bahwa Jonathan telah menikah.

Di teras, beberapa pasang mata menatap kedatangan mereka. Ada seorang wanita paruh baya dengan rambut putihnya yang disanggul rapi dan sorot mata tajam, ada juga seorang pria gagah yang tampak seperti ayah Jonathan, dan beberapa wajah lain yang Luna duga adalah anggota keluarga besar Jonathan.

Jonathan tersenyum lebar, melangkah mendekat sambil menggandeng Luna. 

“Jonathan,dari mana saja kamu? Papa cari-cari kok sulit dihubungi?”

“Maaf, John pergi tanpa memberi kabar belakangan ini,” ucap Jonathan seraya menggandeng Luna.

Kedua orang tua itu menatap Luna dan juga ibunya serta Tio. Mereka seperti keheranan dan bertanya-tanya.

"Mama, Papa, kenalkan, ini Luna. Istriku," ucapnya dengan nada bangga.

Senyum Luna mengembang, ia membungkuk hormat. "Selamat siang, Tante, Om," sapanya pelan.

Namun, sambutan yang diharapkan Jonathan tidak kunjung datang. Wanita paruh baya yang Jonathan panggil "Mama" itu hanya mengangguk kaku, tanpa senyum sedikit pun. 

Matanya menyapu Luna dari ujung rambut hingga ujung kaki, tatapan menilai yang membuat Luna merinding.

Sorot matanya dipenuhi keraguan, bahkan sedikit sinis.

"Jadi, ini istrimu, John?" suara wanita itu terdengar dingin.

"Kenapa tidak bilang-bilang sebelumnya kalau kamu sudah menikah? Dan... Mereka siapa?" Ia menunjuk ke arah ibu dan Tio yang berdiri sedikit di belakang Luna, masih dengan raut bingung.

Jonathan terlihat tidak nyaman. "Ma, ini Ibu dan adiknya Luna. Mereka akan tinggal bersama kami sementara waktu."

"Oh, begitu." Senyum sinis kini terlihat jelas di bibir wanita itu. "Baru menikah sudah langsung membawa serta seluruh keluarganya. Menarik sekali."

Luna merasa darahnya berdesir. Kata-kata itu, tatapan itu, semua menusuknya. Ia tahu Jonathan mungkin tidak pernah menceritakan detail masa lalunya kepada keluarganya, dan ia juga mengerti kenapa. 

Tapi ia tidak menyangka akan disambut seperti ini. Ia merasakan panas menjalar ke pipinya, rasa canggung yang amat sangat. 

Tubuhnya menegang, dan ia berharap tanah bisa menelannya saat itu juga.

Ia mencengkeram lengan Jonathan erat, seolah mencari perlindungan. Rasanya sangat tidak nyaman diperlakukan seperti ini.

Jonathan merasakan ketidaknyamanan Luna. Ia menatap mamanya dengan tatapan peringatan, namun sang ibu hanya mengangkat bahu, seolah tak peduli. 

Suasana menjadi hening, dipenuhi ketegangan yang menyesakkan. Ini bukan sambutan yang Luna impikan, jauh dari kelegaan yang ia rasakan beberapa jam yang lalu. 

Jonathan mencoba memecah kesunyian. "Bagaimana kalau kita semua makan siang bersama? Luna pasti lelah setelah perjalanan panjang." Ia menatap kedua orang tuanya penuh harap.

Mamanya Jonathan menghela napas panjang, seolah Jonathan baru saja meminta hal yang sangat merepotkan. 

"Maaf, Nak. Mama ada janji arisan bersama istri teman bisnis papamu. Penting sekali, dan ini tidak bisa dibatalkan." Nada suaranya dingin, seolah Luna tidak ada di sana.

Papanya Jonathan yang tadinya hanya diam, kini ikut bicara. "Benar, Papa juga ada rapat direksi. Mendadak, tapi sangat krusial untuk proyek terbaru." 

Ia melirik jam tangannya, seolah benar-benar terburu-buru. Tatapannya pada Luna singkat, nyaris tanpa emosi.

"Tapi, Pa, Ma..." Jonathan mencoba membantah, jelas kecewa dengan respons orang tuanya. 

"Ini istriku. Seharusnya kita makan bersama untuk menyambutnya."

Mama Jonathan tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. 

"Jonathan, kamu tahu prioritas kami. Lagi pula, kalian bisa makan bersama tanpa kehadiran kami, ya kan. Kami punya urusan yang lebih penting." 

Luna merasa malu dan juga terhina, ia menunduk tanpa berani mendongak. 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Marry with Sugar Daddy    49. Cemburu

    "Bagaimana... keadaanmu? Masih sangat mual?" tanya Jonathan. Suaranya terdengar agak kaku, sangat berbeda dari sosok Jonathan yang biasanya selalu tegas dan percaya diri.Luna tidak langsung menjawab.Ia menatap selimut rumah sakit yang menutupi kakinya, menghindari kontak mata langsung dengan Jonathan."Lun?" ulang Jonathan."Sudah agak mendingan setelah diinfus. Tapi baunya memang membuat mual.""Oh... begitu," jawab Jonathan pendek. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa seperti orang asing yang sedang menjenguk kenalan jauh.Rasa bersalah karena telah membiarkan Luna terlunta-lunta hingga pingsan seperti ini membuat lidahnya mendadak kelu.Luna melirik mangkuk bubur di atas nakas dengan tatapan enggan, lalu memberanikan diri menatap Jonathan sekilas. "Mas... kenapa masih di sini? Bukannya tadi Ibu bilang... Nyonya Deswanti juga sedang kritis di bawah?"Panggilan 'Mas' dan pertanyaan Luna yang terasa seperti sebuah jarak yang sengaja dibentangkan itu membuat hati

  • Marry with Sugar Daddy    48. Canggung

    Ketegangan di koridor lantai bawah semakin memuncak. Dua orang petugas sekuriti berseragam lengkap tampak berlari cepat dari arah lobi utama setelah menerima laporan dari salah satu keluarga pasien yang merasa terganggu dengan jeritan histeris Mira."Ada apa ini? Mohon tenang, Bapak, Ibu. Ini rumah sakit, jangan membuat keributan," tegas salah satu sekuriti sembari memasang badan di antara Jonathan dan Mira.Jonathan dengan kasar menyentak lengan kemejanya hingga cengkeraman Mira terlepas sepenuhnya. Wajahnya merah padam menahan amarah yang sudah di ubun-ubun. "Pak, tolong amankan wanita ini. Dia menyusup masuk dan membuat keonaran di lingkungan rumah sakit," ujar Jonathan dingin, suaranya bergetar menahan geram.Mira yang melihat sekuriti datang justru semakin menjadi-jadi. Ia sengaja menjatuhkan diri ke lantai, bersimpuh di dekat tasnya yang berantakan sambil terus menangis histeris. "Kalian tidak tahu apa-apa! Pria ini... dia menghancurkan masa depanku! Dia mencampakkanku setela

  • Marry with Sugar Daddy    47. Siasat Mira

    Ia berencana masuk ke ruang perawatan Nyonya dengan berpura-pura menjadi wanita yang depresi dan menderita akibat dicampakkan setelah memberikan segalanya. Jika Jonathan berani memanggil sekuriti untuk mengusirnya lagi, Mira tidak akan segan-segan berteriak histeris di koridor rumah sakit, membeberkan aib (yang tentu saja sudah ia bumbui dengan kebohongan) agar didengar oleh pasien lain dan para staf medis. Ia ingin memojokkan Jonathan hingga pria itu tidak punya pilihan selain menemuinya dan mencabut semua tuntutan hukum atas dirinya.Mira menginjak pedal gas lebih dalam saat gedung Rumah Sakit Medika mulai terlihat di ujung jalan. Sambil memoles lipstik merah menyala di bibirnya melalui kaca spion tengah, ia membatin, 'Sambut kedatanganku, Jonathan. Mari kita lihat seberapa kuat kamu bertahan saat aku mengancam akan menghancurkan nama baik yang mati-matian kamu jaga.'Mira memarkirkan mobilnya dengan kasar di area parkir luar. Dengan langkah angkuh dan kacamata hitam yang berteng

  • Marry with Sugar Daddy    46. Diantara Dua Pilihan

    Sementara itu, beberapa lantai di bawah ruang rawat Luna, atmosfer terasa begitu kontras dan menegangkan.Jonathan berdiri membisu di samping brankar ruang perawatan intensif. Di atas ranjang, Nyonya Deswanti terbaring lemah dengan berbagai selang medis dan masker oksigen yang menempel di wajahnya yang pucat pasi. Tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan atau sorot mata tajam yang biasa wanita itu tunjukkan.Rida dan Ken berdiri di sisi lain ruangan, memberikan ruang bagi kakak sulung mereka.Jonathan menatap wajah ibunya yang tampak jauh lebih tua dalam semalam. Rasa marah, kecewa atas konspirasi obat penenang, serta rasa tanggung jawab sebagai seorang anak kini berkecamuk hebat di dalam dadanya. Ia meremas tangannya sendiri, berdiri di persimpangan takdir yang rumit: menjaga wanita yang melahirkannya di masa kritis, atau segera kembali ke atas demi memeluk istri dan calon anaknya yang baru saja ia temukan kembali.***Beberapa jam berlalu dalam keheningan yang mencekam di ruang perawa

  • Marry with Sugar Daddy    45. Dua Orang Dalam Satu Atap

    "Kak! Itu suara dari kamar Mama!" seru Ken panik.Tanpa membuang waktu, kedua adik Jonathan itu berlari cepat dan mendobrak pintu kamar. Mata mereka terbelalak mendapati sang ibu sudah tergeletak di lantai sambil menekan dadanya, megap-megap mencari udara dengan bibir yang mulai membiru."Mama!" Rida langsung berlutut, mengangkat kepala mamanya ke pangkuannya. "Ken, cepat siapkan mobil! Mama kena serangan jantung!"Ken yang panik luar biasa tidak lagi memikirkan sopir. Ia langsung menyambar kunci mobil di meja dan berlari keluar untuk memanaskan mesin. Sementara itu, Rida meminta bagian keamanan untuk sigap menggendong tubuh mamanya yang sudah melemah, membawanya keluar dari rumah dengan langkah seribu.Dalam hitungan menit, mobil yang dikendarai Ken membelah jalanan dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. Rida di kursi belakang terus menggenggam tangan mamanya, mencoba memberikan pertolongan pertama sembari memanggil-manggil kesadaran sang mama.Ironisme takdir seola

  • Marry with Sugar Daddy    44. Hamil?

    Mobil mewah Jonathan berhenti tepat di depan lobi instalasi gawat darurat (IGD) sebuah rumah sakit swasta. Dengan cekatan, beberapa perawat langsung bergegas membawa brankar besi dan membantu Jonathan memindahkan tubuh pingsan Luna.Saat Luna didorong masuk ke dalam ruang tindakan, langkah kaki Jonathan tertahan di ambang pintu oleh petugas keamanan. "Mohon maaf, Pak. Silakan tunggu di luar terlebih dahulu sementara tim medis melakukan pemeriksaan awal," ucap perawat tersebut dengan sopan namun tegas.Jonathan terpaksa mundur. Pria itu berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit dengan perasaan was was yang luar biasa.Kemeja formalnya kusut, tangannya masih terasa dingin bekas mendekap tubuh lunglai istrinya tadi. Setiap detik yang berjalan terasa bagai berjam-jam baginya.Sementara itu, di dalam ruangan yang tersekat tirai putih, Bu Mirasih diizinkan mendampingi Luna. Seorang perawat senior dan dokter jaga mulai memasang alat pemantau detak jantung dan memeriksa denyut nadi Lu

  • Marry with Sugar Daddy    23. Perasaan Gelisah

    Dengan tergesa-gesa, Jonathan membawa mobilnya menuju rumah sakit. Di sisinya, Luna terus menggenggam tangannya, sesekali mengusap punggungnya, mencoba menenangkan.Pikiran Jonathan kacau. Kata "kritis" terus terngiang di kepalanya, disusul bayangan wajah mamanya yang pucat dalam mimpinya."Kondisi

  • Marry with Sugar Daddy    11. Kita Berikan Cucu

    Setelah kegagalan rencananya, Mira tidak menyerah. Ia tahu kelemahan Nyonya Deswanti adalah keinginannya untuk segera memiliki cucu. Mereka dari keluarga kaya, Jonathan yang memang sudah tua usianya mengharuskan memiliki istri yang bisa memenuhi keinginan orang tuanya.Dulu ia berpacaran dengan pr

  • Marry with Sugar Daddy    10. Gosip Murahan

    Sejak pakaian yang ia ambil dari jemuran menjadi bau asap, Nyonya Deswanti melarang keras dirinya masuk ke kamar Jonathan.Pria itu masih sakit. Saat ia tanpa sengaja berjalan melewati kamar suaminya, terlihat Mira sedang menyuapi makan pria itu.Jonathan tampak lemah dan …“Mau apa kamu? Cepat sin

  • Marry with Sugar Daddy    9. Kenapa Terjadi

    Kondisi Jonathan semakin mengkhawatirkan. Luna diminta menghubungi dokter. Dokter keluarga datang dan segera masuk ke kamar mereka.Saat dokter memeriksa, Luna dikira anaknya. "Ayah Anda, mengalami keletihan yang luar biasa," ucap sang dokter."Maaf, Dok, Pak Jonathan suami saya,""Oh, maaf. Ya, su

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status