Share

Bab 20

Author: Pein
last update publish date: 2026-08-07 07:26:40

Rahayu membeku di tempat. Tatapannya terpaku pada tubuh Yulia yang dipenuhi luka mengerikan. Rasa bersalah perlahan memenuhi dadanya hingga membuat napasnya terasa sesak.

Baru beberapa menit yang lalu ia masih menganggap gadis itu hanya berpura-pura pingsan demi menarik perhatian Arman. Bahkan ia sempat menuduh Arman memiliki niat buruk.

Kini, kenyataan di depan matanya seolah menampar harga dirinya.

Tubuh kurus Yulia dipenuhi bekas penyiksaan. Ada luka lama yang telah menghitam, sayatan yang b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 92

    Yulia sebenarnya sudah hampir tidak mampu menahan tawanya ketika melihat Windi berdiri di dekat mereka sambil berusaha mencari alasan agar bisa ikut makan bersama.Sejak awal, Yulia sudah bisa membaca maksud wanita itu.Windi jelas sedang berusaha mendekati Arman. Namun, bukannya merasa terganggu, Yulia justru merasa geli. Baginya, melihat Windi yang biasanya cukup tenang sekarang terlihat salah tingkah adalah pemandangan yang cukup menghibur."Kak Windi, duduklah," ujar Yulia sambil tersenyum. Tangannya bahkan menepuk-nepuk tikar kosong di sebelahnya, memberikan tempat bagi Windi untuk duduk.Windi sempat terdiam selama beberapa detik. Dia menatap tempat kosong itu, kemudian menatap Yulia."Baik," jawabnya akhirnya dengan wajah yang langsung terlihat lebih cerah.Tanpa menunggu lebih lama, Windi segera duduk di samping Yulia.Arman yang melihat semuanya hanya bisa mengerutkan kening. Dia sempat melirik Yulia dengan tatapan bingung.Bukannya cemburu, Yulia justru memberikan kesempatan

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 91

    Melihat seluruh tampilan yang terpampang di layar tablet, Penguasa Kota hanya bisa menggelengkan kepala berkali-kali. Raut wajahnya yang semula tenang perlahan berubah menjadi serius.Di hadapannya, layar tablet menampilkan citra wilayah selatan dari udara. Dari ketinggian, terlihat sebuah benteng pertahanan yang berdiri kokoh di tengah kawasan yang sebelumnya hanya dikenal sebagai wilayah liar dan tidak terlalu berpenghuni.Temboknya tinggi dan memanjang mengelilingi area yang sangat luas. Beberapa menara berdiri di sepanjang benteng, sementara sejumlah perangkat pertahanan tampak terpasang pada titik-titik strategis.Yang membuat Penguasa Kota semakin heran adalah bentuk bangunan tersebut.Benteng itu terlalu rapi dan yang paling mengganggu pikirannya, tidak ada satu pun laporan mengenai pembangunan fasilitas sebesar itu.Dia kemudian mengalihkan tatapannya kepada Alex yang berdiri tidak jauh darinya."Alex, sejak kapan di wilayah selatan ada kelompok yang mampu membangun benteng pe

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 90

    Tatapan Alex terpaku pada layar besar di hadapannya.Di tengah citra satelit yang dipenuhi reruntuhan bangunan dan jalanan yang hampir tertutup tumbuhan liar, terlihat sebuah bangunan yang tampak sangat berbeda dari lingkungan sekitarnya.Sebuah laboratorium. Dari atas, bangunan itu terlihat tua dan kumuh. Beberapa bagian atapnya bahkan tampak rusak, sementara dinding luarnya sudah dipenuhi noda dan tumbuhan liar.Namun, sesuatu yang berada di sekeliling bangunan tersebut membuat Alex benar-benar terkejut.Adanya sebuah benteng pertahanan yang dibangun sangat kokoh dan modern.Dinding pertahanan mengelilingi seluruh area laboratorium dengan susunan yang rapi. Beberapa menara berdiri di titik-titik tertentu, sementara benda-benda yang menyerupai senjata otomatis terlihat terpasang di atasnya.Yang lebih aneh lagi, semuanya terlihat sangat baru.“Perbesar gambar itu,” kata Alex cepat.Operator langsung menggerakkan tangannya. “Baik, Tuan.”Citra satelit kembali diperbesar. Kini bentuk b

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 89

    Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di markas utama para bawahan Penguasa Kota, suasana di dalam ruang kendali terlihat jauh lebih tegang dibandingkan biasanya.Ruangan yang luas itu dipenuhi berbagai peralatan komunikasi, komputer, serta beberapa layar besar yang menampilkan peta wilayah kekuasaan mereka dari berbagai sudut. Para operator duduk di depan perangkat masing-masing dengan wajah serius, sementara beberapa orang lainnya sibuk memeriksa data pergerakan kelompok-kelompok yang berada di luar markas.Di bagian paling depan, Alex berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapannya terpaku pada sebuah layar berukuran besar yang menampilkan citra wilayah dari satelit.Sudah beberapa kali Alex mencoba menghubungi Igor. Namun, tidak satu pun panggilan tersebut mendapatkan jawaban.Awalnya Alex masih menganggap hal itu sebagai sesuatu yang sepele. Mungkin saja Igor sedang berada di lokasi yang tidak memiliki jaringan komunikasi yang baik. Atau mungkin perangkat komuni

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 88

    [Ding! Poin Afeksi Windi Ranau meningkat 5 poin. Poin Afeksi: 60/100. Selamat! Anda mendapatkan 50 Poin Toko. Total Poin Toko saat ini: 30.356.] Suara pemberitahuan Sistem yang terdengar di dalam kepalanya membuat Arman seketika menghentikan pergerakan Excavator yang sedang dikendarainya. Mesin kendaraan berat itu masih menyala, mengeluarkan suara rendah yang menggema di area bangunan yang sedang dibersihkannya. Lengan besi Excavator berhenti menggantung di atas tanah, sementara ember pengeruknya masih dipenuhi tanah dan akar tanaman liar yang baru saja dicabut. Arman tidak langsung melanjutkan pekerjaannya. Kedua tangannya masih berada di tuas kendali, tetapi perhatiannya sepenuhnya tertuju pada layar hologram transparan yang muncul di hadapannya. Dia membaca pemberitahuan tersebut sekali lagi. Lalu sekali lagi. Keningnya perlahan berkerut. “Naik lagi?” Arman mengusap dagunya sambil memandangi angka 60/100 yang tertera di layar. Dia benar-benar tidak mengerti. Sejak ta

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 87

    Karena Toko Sistem kini sudah menyediakan bangunan yang dapat langsung digunakan, Arman tidak perlu lagi repot-repot membangun semuanya dari awal. Tatapan Arman tertuju pada Rumput liar yang tumbuh yang ada dihadapannya, beberapa semak belukar menutupi jalan kecil di antara bangunan, sementara akar-akar tumbuhan liar telah menjalar dan menembus tanah dengan cukup kuat. Namun, bagi Arman, semua itu bukan masalah besar. Daripada menghabiskan poin Sistem untuk membersihkan semuanya. Diia tidak ingin menyia-nyiakan tempat yang sudah tersedia. Arman membuka Toko Sistem dan membeli beberapa peralatan yang menurutnya paling dibutuhkan untuk membersihkan area tersebut. Salah satunya adalah alat pemotong rumput, sedangkan untuk tumbuhan liar yang akarnya sudah terlanjur besar dan mencengkeram tanah dengan kuat, dia membeli sebuah excavator kecil. Tidak lama kemudian, pemberitahuan Sistem muncul di hadapannya. [Ding! Membeli Excavator kecil dan alat pemotong rumput berhasil. Poin terpo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status