Share

BAB 3

Author: Imamah Nur
last update Last Updated: 2025-11-18 15:13:47

Haidar menghela napas berat, tatapannya semakin dingin. "Enggak usah drama Zola! Aku malas berdebat."

Selesai bicara, Haidar merapatkan tubuhnya ke sisi ranjang dan meraih tubuh Kirana ke dalam gendongannya. "Kalau kamu tidak bisa membawa Kirana ke dokter, biar aku bawa sendiri!"

Haidar berbalik dan berjalan ke arah pintu.

"Mas, tunggu! Aku nggak bermaksud menahan Kirana untuk dibawa ke dokter! Tapi di luar–"

Brak!

Pintu kamar Kirana dibanting keras dari luar. Zola terperanjat, hampir terjungkal ke belakang. Ketika ia hendak mengejar, tablet Kirana di atas meja belajar menyala. Ia terpaksa memeriksa tablet Kirana.

"Raisa?"

Suara Zola keluar seperti bisikan serak, nyaris tak bertenaga. Satu kata yang muncul di layar seperti pecahan kaca di tenggorokannya. Nama itu telah berhasil membuat darah Zola berdesir hebat serta memporak-porandakan hatinya.

Zola menghela napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantung sebelum mengangkat telepon dari Raisa.

"Halo," sapa Raisa di seberang sana.

Zola memejamkan mata. "Halo, ada apa?"

“Oh, nggak ada apa-apa kok,” jawab Raisa ringan, seolah tersenyum. “Cuma pengen nyapa, nanya kabar.”

Zola belum sempat merespons ketika Raisa melanjutkan, suaranya terdengar penuh empati yang dibuat-buat. “Setelah Haidar kemarin banyak cerita ke aku, aku jadi kepikiran kamu terus. Jujur aja, aku kasihan.”

Jantung Zola berdegup keras. “Cerita apa?”

“Ya… tentang kalian,” Raisa tertawa kecil, singkat.

“Tentang betapa capeknya dia akhir-akhir ini. Dia bilang kamu sering curiga, sering salah paham. Hal-hal kecil jadi besar.”

Zola menelan ludah. “Itu tidak benar.”

“Hmm… aku juga sempat mikir begitu,” Raisa menghela napas pelan. “Tapi Haidar terdengar sangat yakin. Katanya, kamu sekarang mirip dia dulu. Terlalu takut kehilangan sampai tanpa sadar menekan orang yang disayang.”

“Haidar nyaman cerita ke aku karena aku nggak menghakimi,” lanjut Raisa lembut. “Aku cuma dengerin. Mungkin itu yang dia butuhkan sekarang, semacam ruang untuk bernapas.”

Zola terdiam. Ia merasakan dadanya sesak.

“Oh ya,” Raisa menambahkan, nada suaranya turun, lebih serius. “Kadang aku berpikir… mungkin memang ada hal-hal yang seharusnya dikembalikan ke tempat semula.”

“Apa maksudmu?” tanya Zola pelan, suaranya bergetar.

“Maksudku, semuanya berjalan seperti yang kupikirkan sejak awal, Zola,” ujar Raisa santai, seolah sedang membicarakan hal remeh. “Aku tahu aku akan kembali. Aku tahu Haidar tidak pernah benar-benar melupakanku. Dan aku tahu… posisimu hanya sementara.”

“Sementara?” bibir Zola bergetar.

“Iya,” jawab Raisa ringan. “Itu kata Haidar.”

Udara terasa menekan. Napas Zola semakin pendek.

“Oh, dan satu lagi,” lanjut Raisa, nadanya tetap lembut. “Terima kasih sudah menjaga Kirana selama ini. Benar-benar. Kamu sudah mengambil peranku dengan baik. Tapi sekarang aku sudah ada lagi, kan.”

Jantung Zola berdegup keras.

“Maksudmu?”

“Terima kasih juga karena kemarin kamu mengizinkan Haidar dan Kirana menemaniku seharian,” ucap Raisa. “Aku rindu sekali. Terutama Haidar. Sikapnya masih sama seperti dulu. Hangat. Dia bilang, kalau saja tidak ada orang ketiga, kami bertiga terlihat seperti keluarga yang utuh.”

Genggaman Zola pada tablet mengeras.

“Dia izin ke kamu dulu, kan?” tanya Raisa, nada suaranya terdengar polos, tapi menusuk.

“Iya. Dan aku mengizinkan,” jawab Zola pelan.

Raisa terkekeh kecil. “Sebenarnya… aku rasa Haidar tidak terlalu butuh izin, ya. Kalau sudah soal aku, dia selalu begitu. Empat tahun berlalu, ternyata dia tidak banyak berubah.”

Zola menelan napas. “Masih ada yang ingin kamu sampaikan? Kalau tidak, aku tutup. Aku harus menyiapkan sarapan untuk Mas Haidar.”

“Oh?” Raisa terdengar terkejut kecil. “Kamu yang menyiapkan makanannya?”

“Iya.” Zola mengernyitkan dahiya, tak paham. Bukankah itu memang tugas seorang istri?

“Hm… beda ya,” kata Raisa pelan. “Dulu justru Haidar yang sering memasak untukku. Dia tahu semua menu kesukaanku. Tapi mungkin itu karena dia benar-benar jatuh cinta waktu itu. Sementara sekarang… dia menikah karena butuh seseorang untuk mengurus—”

Tut.

Zola memutus panggilan itu. Tangannya gemetar, tapi dadanya terasa sedikit lebih lega karena tak perlu lagi mendengar suara yang perlahan mengikis hatinya.

Tablet di tangan Zola terlepas, jatuh membentur lantai. Tubuhnya mundur tanpa sadar hingga terduduk di tepi ranjang. Ia menatap kosong ke langit-langit kamar, matanya terasa perih, kering.

Mas Haidar curhat ke Raisa?

Mas Haidar masih punya perasaan pada mantan istrinya?

Pikirannya berantakan.

Zola menggeleng cepat, menolak pikiran itu. Tidak. Raisa pasti berbohong.

Ia menarik napas panjang, memaksa diri bangkit. Aku harus tetap jadi istri yang baik.

Satu jam kemudian, sarapan tertata rapi di meja makan. Hampir bersamaan, suara mobil Haidar terdengar. Zola bergegas ke pintu.

“Bagaimana, Mas? Kirana baik-baik saja, kan?”

Haidar berhenti. Tatapannya datar, dingin. Tidak ada jawaban.

“Mas?” suara Zola bergetar. “Kirana baik-baik saja, kan?”

Tanpa sepatah kata pun, Haidar melangkah naik tangga dengan Kirana dalam gendongannya. Raisa menyusul di belakang, wajahnya cemas, tapi Haidar sama sekali tak menoleh.

Ia meletakkan Kirana di ranjang, lalu menarik lengan Zola keluar kamar. Pintu ditutup rapat.

“Tadi Raisa menelpon Kirana?” tanyanya tajam.

Zola mengangguk gugup. “I… iya.”

“Kenapa kamu tidak bilang Kirana sakit?”

“Aku… lupa, Mas.”

“Lupa?” suara Haidar meninggi. “Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, Zola?!”

Zola tersentak. “Aku—”

“Kamu cuma sibuk sama cemburu dan kecurigaanmu!” potong Haidar keras. “Ngapain kamu melarang Raisa ketemu Kirana? Dia ibu kandung Kirana, Zola!”

“Aku tidak pernah melarang,” Zola membalas cepat, suaranya bergetar, tapi tegas.

Haidar tertawa pendek, sinis. “Oh, jadi Raisa bohong? Terus kenapa dia nelpon sambil nangis? Dia bilang kamu mengancamnya. Katanya kamu akan melukai Kirana kalau dia datang.”

Dunia Zola seakan runtuh. Tangannya menutup mulut, dadanya sesak.

“Kenapa diam?!” bentak Haidar.

Air mata Zola jatuh tanpa bisa ditahan.

“Itu tidak benar,” katanya lirih, nyaris pecah. “Dia memfitnahku, Mas.”

Haidar menatapnya lama, dingin, seolah mencari celah untuk menghancurkan sisa pertahanannya.

“Tapi sikapmu selama ini membuatku lebih mudah percaya pada Raisa daripada kamu,” ucap Haidar pelan tapi kejam.

Kalimat itu menghantam Zola lebih keras dari tamparan mana pun. Dadanya terasa kosong. Bukan tubuhnya yang sakit, tapi hatinya yang remuk perlahan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 60

    "Mau kemana kamu? Mau lari dari tanggung jawab?" tanya dokter Gamal sinis. "Lepaskan!" Dewi menghempaskan tangan pria di sampingnya, tetapi tidak berhasil karena pegangan dokter Gamal begitu kuat. "Lagian apa tangung jawabku? Aku hanya bilang kalau perlu ingin menemani Lana agar dia bisa hidup dengan tenang. Tapi dia tidak mau, jadi aku tidak ada kewajiban untuk tetap tinggal di sini," ucap Dewi panjang lebar. "Sudah ngomongnya?" tanya dokter Gamal masih dengan tatapan yang intens. "Belum," jawab Dewi cepat. "Lanjut," suruh dokter Gamal. "Lepaskan tanganku. Jangan sampai istrimu melihat ini dan cemburu buta padaku. Enggak asik." Dewi kesal, ia menghempaskan tangannya hingga terlepas dari tangan dokternya Gamal. Ia kemudian beranjak pergi. "Tunggu! Kau tidak bisa kabur begitu saja setelah masuk ke rumah ini." Ucapan dokter Gamal menghentikan langkah kaki Dewi. "Kau tahu kesalahanmu apa?' tanya pria itu. Nadanya terdengar serius. Helaan napas Dewi terdengar di udara da

  • Mas, Ayo Bercerai!   Bab 59

    Dokter Gamal menganga. Dia menatap Zola dan Dewi secara bergantian lalu bertanya, "Kamu benar-benar kenal dengan wanita hantu ini?" Sekarang Dewi pun Ikut menganga. Matanya membelalak tajam. Zola melihat keduanya dengan bingung. "Kalian kenapa kompak gini sih? Sama-sama mau adain konser lalat masuk mulut?" Reflek keduanya menutup mulut. Zola tertawa lucu. "Kalian ya, kompak terus." "Apa kamu bilang tadi? Aku wanita hantu?" protes Dewi tak terima. Ia menatap tajam mata dokter Gamal. "Yasudah, wanita jelangkung aja. Datang tak dijemput dan pulang pun gak akan ada yang antar." Dokter Gamal terkekeh. Dewi mengepalkan tangan lalu mendorong pria itu dengan emosi. Tawa Zola meledak. Netranya sampai meneteskan air mata dan tubuhnya gemetar. Namun, kali ini bukan lagi getaran ketakutan melainkan kebahagiaan. "Nama saya Dewi Tuan, tolong jangan panggil yang aneh-aneh!" seru Dewi, matanya terus melotot tajam. "Kalian ya, baru kenal aja udah kayak Tom and Jerry, tapi aku lihatnya seru s

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 58

    "Anakmu? Mana?" cecar dokter Gamal.Dewi tidak menjawab, tubuhnya menegang, bukan takut pada dokter Gamal melainkan pada respon tubuh Zola yang tidak biasa. "Jangan-jangan racun ini tidak hanya bereaksi saat diminum tapi ketika menyentuh kulit juga." Dewi ketar-ketir. Wajahnya seketika memucat."Kenapa diam? Kau lihat karena ulahmu dia ketakutan seperti ini!" Dokter Gamal menunduk membantu Zola untuk berdiri, tetapi Zola menggeleng kuat. Ia melepaskan pegangan tangan dokter Gamal."Jangan sentuh aku Mas. Setelah kamu membanting piring kau akan akan menampar aku lagi, kan?" Air mata Zola menetes, pandangannya kosong."Apa yang kamu ucapkan?" Tentu saja dokter Gamal tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Zola. Za seperti orang ngelindur saja."Mas pergi saja sana, aku gak akan ganggu Mas lagi. Aku gak akan ikut campur urusan Mas lagi. Tapi tolong jangan kasar lagi sama Zola."Dewi membelalak mendengar Zola menyebutkan nama aslinya. Ia baru sadar ternyata pikiran Zola berada di mas

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 57

    "Bagaimana Tuan Kandar deal?" tanya dokter Gamal setelah Zola dan dirinya menentukan harga."Deal Tuan Gamal. Kami ambil semua yang tadi."Dokter Gamal mengangguk dan mengajak kedua orang itu ke meja. "San, mana minumannya!" seru dokter Gamal sembari menatap ke samping."Ada Tuan, sebentar," ucap Hasan sembari membawa nampan ke meja."Mari silahkan duduk Tuan dan Nyonya Kandar."Kedua pembeli itu mengangguk dan duduk berhadapan dengan dokter Gamal dan Zola."Tuan dan Nyonya bisa pilih mau minum yang mana," ucap Hasan sembari membungkuk hingga nampan posisinya lebih rendah. Di atas benda itu ada beberapa macam jus buah, kopi dan teh. Ya, begitulah dokter Gamal menyambut mereka yang datang ke pamerannya. Dia memperlakukan semua orang seperti tamu dan tamu itu bebas ingin minum apapun yang ditawarkan pelayan pada mereka."Terima kasih sebelumnya." Nyonya Kandar mengambil jus melon sementara suaminya mengambil kopi susu."Sama-sama. Kalau begitu saya permisi." Hasan membungkuk lagi kemud

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 56

    Zola menambah kecepatan kakinya. Merasa akan terlambat ia berlari ke sisi dokter Gamal. "Nyonya Abadi!" seru dokter Gamal. Ia menggunakan nama belakang dari Lana. Zola mengembuskan napas kasar lalu menatap kesal pada dokter Gamal. Sementara orang-orang yang hadir bertepuk tangan riuh menyambut kedatangan Zola. "Hampir saja kau menunjukkan identitasku," bisik Zola di telinga dokter Gamal. "Tenang saja, aku tahu apa yang harus aku lakukan," balas dokter Gamal juga dengan setengah berbisik. Zola mengangguk. Mereka sedikit berembuk lalu sama-sama berbaur dengan pengunjung. Beberapa dari pengunjung sempat bertanya pada Zola mengenai hasil karya tangannya. Zola menjelaskan dengan tenang dan fokus serta terarah. Ia juga membantu beberapa orang yang ingin praktik membuat sesuatu. "Lana kau jangan terlalu terlibat, kamu butuh istirahat," tegur dokter Gamal tatkala Zola sampai lupa waktu. Di saat ada jeda untuk beristirahat wanita itu masih melayani pertanyaan dan membantu anak-anak

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 55

    Zola termenung, suara dokter kandungan berdengung di telinganya. Dia harus menjawab apa? Dia sendiri tidak tahu dokter Gamal memperkenalkan dirinya sebagai apa pada dokter kandungan itu. "Kalau Nyonya Lana ... tidak mau menjawab tidak apa-apa. Maaf, saya bertanya ini sebagai teman dokter Gamal bukan sebagai dokter kandungan," ucapan dokter itu menyentak Zola dari lamunannya. "Oh, maaf Dok. Saya agak kaget sedikit. Saya dan dokter Gamal hanya teman ... ya hanya sebagai seorang teman dan partner bisnis biasa." Pria di hadapan Zola agak terkejut, namun menggeleng juga. "Oh ya, namaku Arya. Boleh kan, juga berteman denganmu?" Pria itu mengulurkan tangan. Zola sedikit ragu, namun akhirnya mengangkat tangannya dan menerima jabatan pria itu. "Lana Abadi," ucap Zola seperti orang yang berkenalan resmi. Padahal sang dokter sudah mengetahui identitasnya. "Walaupun saya sudah tahu namamu, tapi saya senang kamu mau menerima persahabatan ini." Zola mengangguk pelan dengan senyum yang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status