Share

126

Author: Dao Yue
last update publish date: 2026-09-14 23:40:23

Mendengar laporan langsung dari sosok pengusaha berpengaruh seperti Andre, sekaligus adik angkatnya, Jenderal Wijaya segera menginstruksikan anak buahnya untuk bergerak cepat mengatasi kasus tersebut.

[Tenang saja, Andre. Mas pastikan proses hukum berjalan transparan malam ini juga, supaya orang-orang asing itu sadar mereka tidak bisa bersikap arogan di tanah air kita,] sahut Jenderal Wijaya di ujung telepon dengan nada tegas.

Setelah beberapa jam melewati serangkaian pemeriksaan medis, pembua
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemikat Para Gadis Desa   132

    [Maaf sekali, Pak Andre. Bu Mayang memang begitu, biasanya berpindah-pindah lokasi inspeksi dan melarang kami mengganggu fokus kerjanya dengan urusan luar,] sahut Nisa dari balik telepon.Nisa menutup matanya, merasa bersalah karena terus berbohong. Dia tahu Andre lelaki yang baik, dia juga tidak tahu apa penyebab pertengkaran atasannya, sehingga dia harus menjalankan instruksi Mayang dengan ketenangan luar biasa, meski hatinya merasa kasihan melihat kekasih bos besarnya kalang kabut.Andre membanting ponselnya pelan ke atas meja kayu, mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan, meluapkan rasa bersalah dan kerinduan yang membuat dadanya terasa sesak. Belum pernah dia merasakan sepanik ini, bahkan dulu ketika mendapati Rumala selingkuh di ranjang bersama Raka, dia tidak sepanik ini."Aku bisa gila kalau Mayang terus menghindar seperti ini ... aku cuma mau jelaskan kalau tidak ada hubungan apa-apa antara aku dan Caroline, hanya … hanya keterlaluan saja malam itu," gumam Andre

  • Pemikat Para Gadis Desa   131

    “Iya, Pak. Bu Mayang kan sering begitu, dari dulu,” jawab Nisa tenang.“Oke, makasih ya, Nisa. Nanti kalo Mayang telelpkn, tolong kasih tau aku datang ke sini,” sahut Andre.“Baik, Pak,” sahut Nisa sopan.Andre meninggalkan Nisa dan kembali ke kantornya, sepeninggal Andre, Nisa mundur selangkah sambil menghembuskan nafas lega. Kakinya terasa lemas ketika harus berbohong, beruntung dia bisa bersikap tenang dan tidak gugup. Itulah sebabnya Mayang sangat mempercayainya, dan menjadikannya asisten.“Kayaknya Bu Mayang lagi berantem deh sama Pak Andre,” gumam Nisa.Nisa kemudian mengirim pesan kepada Mayang, bahwa Andre mencarinya. Namun, atasannya itu malah meminta agar Nisa menjaga rahasia dan biarkan Andre mencarinya.‘Kirain orang kaya raya itu beda kalo urusan cinta, ternyata sama aja. Bisa ngambeg dan gak slay kayak biasanya,’ pikir Nisa.“Iya, Pak. Bu Mayang kan sering begitu, dari dulu,” jawab Nisa tenang.“Oke, makasih ya, Nisa. Nanti kalo Mayang telepon, tolong kasih tau aku datan

  • Pemikat Para Gadis Desa   130

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar hotel, memantulkan bayangan samar pada helai rambut pirang Caroline yang masih terlelap. Andre berdiri di samping ranjang dengan helaan napas berat, merapikan kemejanya yang agak kusut usai membersihkan tubuh di kamar mandi."Aku harus pulang sekarang, Caroline. Istirahatlah, nanti pihak kepolisian akan menghubungimu soal perkembangan kasus semalam," kata Andre pelan seraya meletakkan kartu akses kamar di atas meja nakas sebelum melangkah keluar dengan pikiran yang berkecamuk.“Hmmm, tidak bisakah kau tinggal sebentar lagi?” tanya Caroline.“Tidak, aku harus siapkan berkas yang harus kita tanda tangani nanti siang,” jawab Andre.Tidak butuh waktu lama, taksi online yang ditumpangi Andre menepi tepat di halaman ruko usahanya, yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya.Di saat yang hampir bersamaan, mobil sedan milik Mayang perlahan memasuki area parkir yang sama, bermaksud menemui Andre untuk melengkapi beberapa berkas kerja sama yang semp

  • Pemikat Para Gadis Desa   129

    Mayang melirik ponsel Andre, lalu tersenyum tipis sambil berdiri.“Kelihatannya Anda sibuk sekali, Pak. Saya permisi dulu biar ga mengganggu, siapa tahu ada hal yang lebih penting ketimbang menyelesaikan dokumen ini," kata Mayang sinis, lalu melangkah meninggalkan Andre.Tanpa ragu sedikit pun, Andre langsung mematikan panggilan tersebut dan menolak pesan masuk dari Caroline tanpa berniat membalasnya sama sekali. "Tidak ada yang lebih penting dari urusan kita di sini, Mayang. Aku sedang fokus mempersiapkan kontrak kerja sama ini, biar gak ada kesalahan sedikit pun." Andre menangkap pergelangan tangan Mayang.Mayang menoleh, hanya mengukir senyum tipis yang penuh dengan sindiran, lalu melepaskan tangan Andre perlahan. "Terima kasih atas penjelasannya, Pak Andre. Kalau begitu saya pamit kembali ke kantor saya sekarang." Mayang meninggalkan Andre dengan langkah tergesa."Mayang, tunggu sebentar! Bisakah kita makan siang bareng nanti siang? Aku bisa jelasin semuanya!" seru Andre melangk

  • Pemikat Para Gadis Desa   128

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar hotel, memantulkan bayangan samar pada helai rambut pirang Caroline yang masih terlelap. Andre berdiri di samping ranjang dengan helaan napas berat, merapikan kemejanya yang agak kusut usai membersihkan tubuh di kamar mandi."Aku harus pulang sekarang, Caroline. Istirahatlah, nanti pihak kepolisian akan menghubungimu soal perkembangan kasus semalam," kata Andre pelan seraya meletakkan kartu akses kamar di atas meja nakas sebelum melangkah keluar dengan pikiran yang berkecamuk.“Hmmm, tidak bisakah kau tinggal sebentar lagi?” tanya Caroline.“Tidak, aku harus siapkan berkas yang harus kita tanda tangani nanti siang,” jawab Andre.Tidak butuh waktu lama, taksi online yang ditumpangi Andre menepi tepat di halaman ruko usahanya, yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya.Di saat yang hampir bersamaan, mobil sedan milik Mayang perlahan memasuki area parkir yang sama, bermaksud menemui Andre untuk melengkapi beberapa berkas kerja sama yang semp

  • Pemikat Para Gadis Desa   127

    Caroline menunduk, melihat batang tebal yang masuk-keluar dari lubangnya. Cairan putih sudah membasahi paha mereka berdua “Gila … aku mau lebih enak lagi, balikkan aku.,” kata Caroline. Andre membalikkan tubuh Caroline menjadi tengkurap, menarik pinggangnya ke atas sehingga pantatnya terangkat tinggi.Andre masuk dari belakang dalam sekali hentakan. Caroline menggigit bantal, suaranya teredam. “Oooh, lebih dalam … semakin dalam. Sssh, enak sekali, jangan berhenti,” gumam Caroline sambil meremas seprai dan memejamkan matanya Andre memegang pinggang Caroline dengan kedua tangan, menghentakkan keras berulang kali. Setiap kali kejantanannya masuk sampai pangkal, pantat Caroline berguncang. “Kamu suka diginiin dari belakang?” tanya Andre dengan suara bergetar “Suka … ahhh, suka banget. Tampar lagi,” pinta Caroline. Andre menampar pantat kiri dan kanan bergantian sambil terus menggenjot. Suara tamparan bercampur dengan desahan basah. Ia membungkuk, menjilat telinga Caroline. “Aku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status