Share

Ledakan Amarah

Author: MJoy Ganteng
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-29 19:04:43

Keheningan malam di kamar utama kediaman Malik terasa begitu mencekat, bagaikan udara dingin yang membeku di tengah medan perang.

Gisel berdiri di hadapan Arka dengan dada yang naik turun menahan gelombang sesak yang siap meledak.

Tatapannya menghujam lurus ke dalam iris mata suaminya, menuntut kejujuran yang selama sebulan terakhir selalu tersembunyi di balik dinding-dinding alibi.

"Aku gak nyembunyiin apa-apa dari kamu, Gisel! Sumpah demi—"

"Jangan pakai sumpah demi apapun cuma buat tutupi k
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Lari Seperti Pengecut

    Setelah ritual doa pagi selesai, Gisel meraih sebuah buku bersampul kulit warna cokelat muda yang tergeletak di atas nakas. Buku harian milik Adrian yang ia temukan di dalam tas pria itu beberapa bulan lalu.Gisel membuka lembaran yang telah terlipat, lalu mulai membacakan emerges tulisan tangan Adrian dengan suara yang sangat lembut."Selama ini... dia selalu ada walau tidak pernah menoleh padaku sekalipun..."Gisel melirik wajah Adrian yang masih terpejam tenang, lalu melanjutkan bacaannya."Aku bagai sosok transparan yang hanya dilihat sekilas olehnya. Itu pun hanya saat suaraku memanggil namanya. Jika tidak, senyum singkatnya itu tidak mungkin bisa kulihat di seperdetik bahagia itu..."Gisel mengusap sudut matanya yang mendadak basah menggunakan tisu. Ia membalik lembaran berikutnya dengan penuh kehati-hatian."Aku menyukainya sejak pertama kali aku melihatnya. Aku mencintainya setelah aku sadar hanya wajahnya yang selalu memenuhi pikiranku. Tuhan... dosakah aku jika menaruh rasa

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Bisikan Doa Lewat Angin Eropa

    Dinginnya udara pagi di Kota Zurich, Swiss, menembus kaca tebal ruang rawat kelas VIP rumah sakit spesialis kanker ternama itu. Di dalam ruangan yang didominasi warna putih steril tersebut, suasana begitu hening, hanya diselingi oleh bunyi ritmis dari monitor tanda vital.Adrian terbaring lemah di atas brankar. Wajahnya yang dahulu tegas dan menawan kini tampak kian pucat dan tirus. Garis-garis keletihan tercetak jelas di parasnya, sementara tubuhnya terlihat kian kurus akibat gerogotan penyakit Kanker Testis stadium lanjut yang dideritanya.Gisel duduk setia di samping ranjang. Jemari lentiknya menggenggam erat tangan Adrian yang dingin dan kurus. Tatapan matanya menyiratkan luka yang amat dalam, namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata di hadapan Adrian.Belakangan ini, kondisi Adrian memang menunjukkan penurunan yang signifikan. Efek samping dari serangkaian pengobatan serta jadwal kemoterapi antikanker yang padat membuat nafsu makan pria itu merosot drastis.

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Rahasia Di Rahim Giselle

    Beberapa hari telah berlalu sejak insiden kritis yang hampir merenggut nyawa Adrian. Setelah melewati masa pemantauan ketat di ruang perawatan intensif, kondisinya perlahan menunjukkan stabilitas yang signifikan. Tim medis akhirnya memberikan izin untuk memindahkan Adrian ke ruang perawatan biasa.Di dalam ruangan yang jauh lebih tenang tersebut, kedua orang tua Adrian telah berkumpul. Meskipun di masa lalu mereka dikenal sangat keras dan kaku dalam mendidik Adrian, melihat putra tunggal mereka terbaring lemah di antara batas hidup dan mati berhasil meruntuhkan seluruh dinding ego mereka. Sang ibu beberapa kali tampak mengusap air mata penyesalan sewaktu mendampingi di samping brankar.Gisel turut berada di ruangan itu, didampingi oleh sang ayah, Tuan Vale. Dengan kelapangan hati yang luar biasa, Gisel berupaya mengurai benang kusut masa lalu. Ia menceritakan seluruh kebenaran secara jujur, meluruskan kesalahpahaman besar terkait isu kemandulan yang di masa lalu sempat merusak hubunga

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Kebohongan Di Balik Senyum Pucat

    Arka menghentikan langkahnya tepat di hadapan Gisel dan Tuan Vale. Ia berusaha menyunggingkan senyum, namun di balik itu, matanya menyiratkan kepedihan yang luar biasa dalam. Ia harus terlihat tegar. Ia harus terlihat ikhlas melepas Gisel, meski setiap helaan napasnya terasa seperti menghirup serpihan kaca yang melukai tenggorokannya."Pa," sapa Arka singkat, suaranya sedikit parau namun berusaha ia buat senormal mungkin.Tuan Vale memicingkan mata. Sebagai seorang ayah, instingnya sangat tajam. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang janggal—sebuah ketegangan yang kaku dan dingin di antara anak serta menantunya. Aura di antara mereka bukanlah aura pasangan suami istri yang baru saja melewati badai, melainkan aura dua orang asing yang terpaksa berdiri di satu garis yang sama."Arka, Gisel... Papa tanya sekali lagi, kalian benar-benar baik-baik saja? Papa merasa ada yang disembunyikan di sini," cecar Tuan Vale, matanya bergantian menatap Arka dan Gisel.Gisel menunduk, tangannya secara tida

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Rahasia Kehamilan

    Pagi-pagi sekali, Gisel sudah terbangun. Tubuhnya masih terasa begitu lemah, namun ia memaksa diri untuk membasahi wajah dan mengganti pakaiannya dengan baju bersih yang dibawakan oleh Arka dari apartemen.Setelah menyelesaikan urusan kamar mandi, Gisel melangkah pelan keluar ruangan bersama Arka di sampingnya. Tujuan mereka satu: ruang perawatan intensif tempat Adrian terbaring.Suara denting halus peralatan medis menyambut langkah mereka. Di atas brankar, Adrian tampak masih memejamkan mata, namun sapuan gerakan halus pada jemarinya menunjukkan respons yang kian intens."Adrian?" panggil Gisel lembut. Tangannya terulur, menggenggam jemari Adrian yang terasa begitu dingin."Hmm..." sebuah erangan tipis terdengar dari bibir pria itu."Hai... Kamu bisa mendengar suaraku, kan?" tanya Gisel lagi, mendekatkan wajahnya dengan pandangan penuh kekhawatiran.Menatap wajah Adrian yang pucat pasi memicu denyut perih di dada Gisel. Pria itu hampir saja kehilangan nyawanya hanya karena kekejaman

  • Mas Duda, Beri Aku Lebih!   Pelukan Terakhir

    "Gisel, kamu gak apa-apa? Apa yang kamu rasain sekarang, Sayang? Bagian mana yang sakit?"Arka langsung menyambar jemari Gisel dengan panik begitu melangkah mendekati brankar. Matanya tak lepas menatap bulir-bulir bening yang terus mengalir dari sudut mata istrinya, membasahi bantal tempat kepala Gisel bersandar.‘Arka, aku hamil... Aku sedang mengandung anakmu. Rasanya sekarang aku ingin melompat dari ranjang ini, memelukmu seerat mungkin, dan menangis sekuat tenaga buat meluapkan rasa syukurku.’‘Tapi semua itu gak mungkin lagi, Arka. Kamu yang sudah membawa hubungan kita sampai ke titik kritis ini. Kita gak bakal pernah bisa kembali seperti dulu…’Gisel hanya bisa menatap Arka dalam diam, membiarkan rahasia itu mengendap di balik rapatnya bibirnya.‘Ada Adrian dan Clarissa di tengah-tengah kita sekarang. Kita berdua gak mungkin menutup mata dan mengabaikan mereka cuma demi mempertahankan keegoisan hubungan kita…’‘Jadi gimana caranya aku memberitahu anak ini kalau kamu adalah ayahn

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status