Share

Tau Rasa!

last update publish date: 2025-12-14 21:23:32

“Amanda… kamu di ma—”

Begitu mendengar suara Rhevan, dengan secepat kilat Amanda mengubah sikapnya. Perempuan itu langsung berdiri tegak di depan kompor, menggenggam spatula dengan percaya diri seolah sejak awal dialah yang memasak. Ia bahkan sedikit membusungkan dada, wajahnya dipoles ekspresi manis yang dibuat-buat.

“Mas,” sapa Amanda ceria, suaranya lembut dan penuh manja. “Sarapan sudah hampir siap. Aku bikinin nasi goreng kesukaan Mas.”

Nadine terdiam. Tangannya yang masih kebas berhent
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Ingin Menikah

    "Kamu telan harga diri kamu dan selamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.” Ucapan Pak Wijaya menggantung di udara. Perintahnya itu terlalu solid untuk dibantah. Sementara putranya, hanya berdiri diam di posisinya. Tatapannya kosong ke depan, tampak nanar. Rahangnya masih mengeras. Tangannya mengepal lalu perlahan mengendur. Untuk pertama kalinya Rhevan benar-benar berada di posisi yang tak bisa menolak. Semua suara itu kembali terngiang di kepalanya. Pak Andrew. Amanda. Papanya. Semua mengatakan hal yang sama. Membuat Rhevan tidak punya cukup alasan untuk menolak ataupun menghindar. Suami Amanda itu langsung menghela nafas panjang. “Kalau aku datang,” ucapnya pelan akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya, “nggak ada jaminan dia bakal mau nego.” Pak Wijaya tidak langsung menjawab. “Tapi itu satu-satunya peluang yang kita punya sekarang,” balasnya tegas. Rhevan terdiam lagi. Beberapa detik berlalu. Ia menutup mata sejenak, seolah menelan sesuatu yang sangat pahit.

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Sebuah Jebakan

    "Bagaimana kalau ini akal-akalan Pak Andrew saja? Bagaimana kalau feelingku benar. Dia hanya menjebakku?"Ucapan itu membuat Pak Wijaya terdiam sejenak. Wajahnya berubah— dari marah ke kaget. Matanya menatap Rhevan tajam, seolah mencoba memastikan apa yang baru saja ia dengar.“Kamu masih menyalahkan dia?” nada suaranya terdengar lebih pelan. Terselip tanda tanya di sana.Rhevan menatap balik sang Papa. “Kalau dia memang bertanggung jawab,” lanjut Rhevan dingin, “dia nggak akan pergi di tengah situasi kayak gini.”Pak Wijaya mengernyit. “Apa maksud kamu?”Rhevan melangkah satu langkah ke depan. Suaranya tetap rendah, tapi penuh tekanan. “Perusahaan ini sedang di ujung tanduk, Pa. Dirga hampir ambil semuanya,” ucapnya. “Dan dia malah mengundurkan diri.” Tatapannya mengeras. “Orang yang benar-benar bertanggung jawab itu nggak akan bertindak seperti ini. Jelas dia akan bertahan,” lanjutnya. “Bukan kabur seperti pengecut.”Kalimat itu membuat ekspresi Pak Wijaya berubah drastis. Bukan lag

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Jangan Asal Tuduh

    "Tapi orang kepercayaan Papa itu juga yang buat aku hancur dan perusahaan ini hancur, Pa!" Mendengar itu, tamparan keras kembali mendarat di pipi Rhevan. PLAK!! Tamparan itu membuat kepala Rhevan kembali terhempas ke samping. Beberapa detik ia hanya diam. Rahangnya mengeras. Napasnya berat, terasa panas memenuhi dada. Sementara di depannya Pak Wijaya berdiri dengan amarah yang jauh lebih besar dari sebelumnya. “Dengar baik-baik, Rhevan!” bentaknya, suaranya bergetar penuh emosi. “Jangan pernah kamu lempar kesalahan ke orang lain hanya karena kamu tidak mampu menghadapi kenyataan!” Rhevan menatapnya tajam, tapi kali ini tidak ada bantahan yang langsung keluar. Ia hanya menatap sang Papa yang tampak terengag-engah karena emosi. “Kamu bilang dia yang bikin perusahaan hancur?!” lanjut Pak Wijaya, suaranya meninggi. “Kamu pikir kamu sudah cukup teliti selama ini?!” katanya dengan nada tinggi. Pak Wijaya melangkah mendekat. Jarak mereka kini begitu dekat—tekanannya terasa m

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Jangan Asal Tuduh!

    "Tapi orang kepercayaan Papa itu juga yang buat aku hancur dan perusahaan ini hancur, Pa!"Mendengar itu, tamparan keras kembali mendarat di pipi Rhevan.PLAK!!Tamparan itu membuat kepala Rhevan kembali terhempas ke samping. Beberapa detik ia hanya diam. Rahangnya mengeras. Napasnya berat, terasa panas memenuhi dada.Sementara di depannya Pak Wijaya berdiri dengan amarah yang jauh lebih besar dari sebelumnya.“Dengar baik-baik, Rhevan!” bentaknya, suaranya bergetar penuh emosi. “Jangan pernah kamu lempar kesalahan ke orang lain hanya karena kamu tidak mampu menghadapi kenyataan!”Rhevan menatapnya tajam, tapi kali ini tidak ada bantahan yang langsung keluar. Ia hanya menatap sang Papa yang tampak terengag-engah karena emosi.“Kamu bilang dia yang bikin perusahaan hancur?!” lanjut Pak Wijaya, suaranya meninggi. “Kamu pikir kamu sudah cukup teliti selama ini?!” katanya dengan nada tinggi. Pak Wijaya melangkah mendekat. Jarak mereka kini begitu dekat—tekanannya terasa menyesakkan.“Kam

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Jadi Korban Rhevan

    “Semua sudah terlambat, Pak.” Kalimat itu menggantung di udara.Mendengar ucapan Pak Andrew, emosi Rhevan seketika meledak. “Apa maksud kamu?” suaranya rendah, tapi jelas berbahaya. "Terlambat?"Pak Andrew sedikit mengernyit. “Saya hanya menyampaikan kondisi yang—”Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—BRUK!Rhevan tiba-tiba menarik kerah baju Pak Andrew dengan kasar. Tubuh pria itu terdorong ke depan.“TERLAMBAT?” ulang Rhevan dengan suara yang naik tajam. “Kamu bilang semuanya terlambat?!”Pak Andrew sedikit terhuyung, tapi tidak melawan. Tangannya refleks menahan pergelangan tangan Rhevan yang mencengkeramnya. “Pak—”“Selama ini kamu ngapain aja, hah?!” bentak Rhevan. Matanya memerah, amarahnya membuncah. “Kamu itu asistenku atau cuma pajangan?!”“Pak, tolong tenang dulu!” Pintanya pada Rhevan, tapi sayangnya pria itu tidak peduli dan kembali memukulnya.BUK!Satu pukulan mendarat di wajah Pak Andrew.Suara itu terdengar keras di dalam ruangan yang sunyi.Tubuh Pak Andrew terdo

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Merendah

    Amanda menyilangkan tangan di dada. “Aku tahu. Kamu harus datang ke Dirga. Ngomong baik-baik. Minta maaf kalau perlu.”“Minta maaf?” suara Rhevan naik. “Ke dia?”Amanda menatapnya lurus. “Iya. Ke Dirga. Siapa lagi menurut kamu.”Beberapa detik hanya tatapan penuh emosi yang saling beradu di antara mereka. Namun Amanda tetap tenang. “Menurutku nggak ada yang salah,” lanjutnya. “Selama itu bisa nyelametin perusahaan kita.”Rhevan menggeleng pelan. “Kamu benar-benar nggak mikirin harga diri kita sama sekali ya.”Amanda menghela napas kecil. “Harga diri itu nggak akan ada gunanya kalau kita kehilangan semuanya, Mas.”Kalimat itu tajam dan menusuk. Membuat Rhevan terdiam sesaat. Namun sebelum ia sempat membalas, Amanda kembali bicara.“Atau…” ia memiringkan kepala sedikit, menatap Rhevan lebih dalam, “kamu lebih milih kelihatan ‘tinggi’ di depan Dirga, tapi jatuh?”Rhevan mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Aku lagi berusaha!” bentaknya.“Aku juga tahu!” balas Amanda tidak kalah tegas. “Tapi

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Mana Tahan

    Warning 21+“Aku gila ya?” desis Dirga. “Maaf deh.” Tanpa rasa bersalah, Dirga berkata begitu. Tapi alih-alih berhenti, dia kembali memijat milik Nadine.Jelas Nadine merasa kaget hingga kedua kelopak matanya melebar. Tapi protes wanita itu tak sempat keluar karena Dirga lebih dulu membukam bibirny

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Tidak Ada Kapoknya

    "Ngawur kamu! Mana ada ngedate? Kita sekarang udah enggak ada hubungan apa-apa kok! Murni cuman teman!" bantah Nadine sembari berjalan menuju ke kantor kembali bersama dengan Sarah dan Dea. Sarah tersenyum jail lalu menyenggol-nyenggol lengan Nadine. "Balikan aja balikan, lagian kalian berdua coco

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Tidak Bisa Jaga Rahasia

    "Kata siapa cuma temen sekolah?" tiba-tiba saja Dirga bergabung dan menyela obrolan mereka. "Orang Nadine ini mantan pacar aku!" sambungnya. Nadine sampai tersedak karena ikut kaget dengan apa yang Dirga katakan barusan. Tidak ada angin tidak ada hujan Dirga malah langsung nyeplos seenaknya. "Dir

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Di Cium Biar Diam

    “Dirga! Kamu ini kenapa susah banget sih kalau dibilangin?! Aku bilang— umph!”Protes Nadine terpotong seketika saat Dirga menangkap dagunya. Jemarinya yang tegas membuat wajah Nadine mendongak, dan sebelum sempat menghindar, bibir pria itu sudah lebih dulu menempel di bibirnya.Bukan ciuman yang d

    last updateLast Updated : 2026-03-30
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status