Share

Bab 2

Penulis: Zoro
Maya mendongak, menatap pria yang sudah setengah bulan tidak dia temui itu, lalu menjawab datar, "Rumah terlalu berantakan, aku sedang beres-beres."

Howard tidak menyadari keanehan istrinya.

Pandangannya menyapu ruang tamu yang kosong, lalu dia bertanya santai, "Di mana Javier dan Jesika?"

Baru saja kalimat itu terlontar, pintu depan terhempas terbuka.

Dua sosok kecil berlari masuk dengan tangan terkepal. Di belakang mereka, Gisel menyusul.

Mata Jesika memerah, suaranya terisak. "Ibu jahat! Membiarkan kami dalam bahaya!"

Javier juga mengernyit marah. "Kalau bukan karena Tante Gisel yang segera datang menebus kami, kami sudah dibunuh orang jahat! Ibu sama sekali nggak peduli kami hidup atau mati! Ibu nggak pantas jadi Ibu kami!"

Wajah Howard seketika muram, aura di sekitarnya mendingin.

Dia menatap Maya dan bertanya dengan nada menginterogasi, "Apa yang terjadi?"

"Howard, jangan salahkan Nona Maya." Gisel memasang raut wajah cemas yang pas.

"Tadi aku tidak sengaja bertemu Nona Maya di kafe. Aku mendengar dia menerima telepon tentang penculikan, tapi Nona Maya bilang itu hanya lelucon, mungkin dia nggak anggap serius."

"Tapi perasaanku nggak enak, jadi aku minta tolong teman untuk melacak lokasi mereka. Saat aku sampai, aku melihat Javier dan Jesika digantung di balok kayu dan dipukuli sampai suara mereka serak karena menangis."

Dia mengatakannya sambil menatap Maya dengan tatapan penuh simpati yang dibuat-buat, seolah-olah dia telah mengambil alih tugas Maya sebagai seorang ibu.

Mendengar itu, wajah Howard semakin mengerikan.

Dia memeluk kedua anaknya, tatapannya begitu dingin seolah ingin membekukan Maya.

"Aku menyuruhmu menjaga anak di rumah, dan begini caramu melakukannya?"

Maya mengernyit tajam, suaranya menyiratkan kemarahan yang tertahan. "Penculikan itu bohong, mereka yang merencanakannya sendiri."

"Kami nggak bohong!" Jesika menangis kencang. "Ibu nggak menyelamatkan kami saja sudah keterlaluan, sekarang malah memfitnah kami!"

"Ayah, Ibu bohong, dia cuma mau lepas tanggung jawab!"

Tatapan Maya menajam. "Javier, Jesika! Apa aku nggak pernah mengajari kalian untuk nggak berbohong? Katakan yang sebenarnya!"

Melihat kedua anaknya tetap bersikeras tidak mengaku, dia maju untuk merebut ponsel mereka, mencoba mencari bukti rencana pembelian hadiah untuk Gisel.

"Cukup!" Howard memotongnya. "Anak-anak baru berumur enam tahun, kamu bilang mereka merencanakan penculikan sendiri? Lihat dirimu, apa kamu masih punya sikap sebagai seorang ibu?"

"Aku nggak punya sikap sebagai ibu?" Mata Maya memerah, suaranya bergetar. "Lalu kamu sendiri? Anak-anak sudah enam tahun, berapa kali kamu menjalankan kewajibanmu sebagai ayah?"

Suasana semakin tegang. Gisel segera menengahi, "Sudahlah Howard, untungnya anak-anak hanya luka ringan. Jangan salahkan Nona Maya lagi."

Dengan bujukan Gisel, Howard menahan amarahnya.

Dia memberikan tatapan tajam pada Maya, lalu menggendong kedua anaknya pergi.

Gisel mendekati Maya, berkata dengan senyum tipis, "Nona Maya, jangan salahkan aku. Bukannya kamu mau cerai? Semakin Howard membencimu, semakin cepat kamu bisa bebas."

...

Menjelang malam, kedua anak itu memaksa Gisel untuk tinggal makan malam.

Di meja makan tersaji berbagai hidangan laut.

Ikan kukus, udang tumis, kepiting ....

Howard mengambil seekor kepiting, dengan terampil mengupas cangkangnya, lalu meletakkan dagingnya di mangkuk Gisel.

"Aku ingat kamu suka kepiting kukus, cobalah rasa masakan restoran ini."

Javier dan Jesika juga asyik makan sendiri.

Melihat pemandangan hangat di depannya, Maya tersenyum sinis secara samar.

Tidak ada yang ingat bahwa dia alergi hidangan laut.

Dia sudah berkali-kali mengatakan tidak bisa makan hidangan laut, terutama kepiting.

Namun kata-kata itu seolah hilang dibawa angin, tidak meninggalkan bekas sedikit pun di hati Howard maupun anak-anaknya.

Maya meletakkan sendoknya. Saat dia hendak berdiri, Gisel tiba-tiba mengeluarkan surat perjanjian cerai dan membukanya di halaman tanda tangan.

"Howard, aku hampir lupa. Aku mau beli stok mainan anak-anak. Butuh tanda tangan pihak terkait. Bisakah ...."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 19

    Saat itu, Gisel dijatuhi hukuman tiga tahun penjara karena sengaja melukai orang lain. Setelah bebas, dia mencoba kembali ke dunia kerja dan menyadari bahwa segalanya telah berubah. Dia mengirim banyak resume, tetapi semuanya berakhir sia-sia. Entah tidak ada kabar sama sekali, atau dia ditolak mentah-mentah karena memiliki catatan kriminal.Dalam keputusasaan, dia mencari Howard dengan harapan pria itu mau membantunya. Namun, dia bahkan tidak bisa melewati pintu gerbang perusahaan. Gisel dihadang oleh petugas keamanan yang menyodorkan sejumlah uang kepadanya."Pak Howard bilang, ambil uang ini dan jangan pernah hubungi dia lagi!"Gisel berdiri di bawah gedung Perusahaan Bandri sambil menggenggam uang itu. Hatinya dipenuhi rasa tidak rela dan penyesalan mendalam. Dia dulu mengira akan menikah dengan Howard dan menjadi Nyonya Bandri yang membuat iri semua orang. Namun siapa sangka, dia justru berakhir mengenaskan seperti ini!...Berbeda dengan penderitaan kedua orang itu, kehidupa

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 18

    Maya mendengar nama Howard kembali pada suatu sore, lima tahun kemudian.Hari itu, dia baru saja menyelesaikan seminar pengasuhan anak. Seorang anak magang di studionya sedang melihat berita di ponsel dan berceletuk, "Direktur Perusahaan Bandri, Howard, masuk berita viral lagi. Katanya, dia gagal dalam negosiasi dengan mitra bisnis karena nggak bisa konsentrasi gara-gara masalah keluarga."Tangan Maya yang sedang merapikan dokumen sempat terhenti sejenak. Dia tidak mendongak, hanya berkata datar, "Fokus saja pada pekerjaan kalian."Si anak magang itu menjulurkan lidahnya dan segera menyimpan ponselnya. Namun, berita tentang Howard itu, tetap seperti kerikil kecil yang menimbulkan riak tipis di hati Maya. Bukan karena masih peduli, dia hanya merasa sedikit getir.Lima tahun telah berlalu. Pria yang dulu menjadi pusat dunianya itu, kini hanyalah "tokoh berita" yang tidak penting dalam hidupnya.Belakangan, dia mendengar dari teman-temannya bahwa hidup Howard selama lima tahun ini tidak

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 17

    Setelah kembali ke negaranya, Howard membatalkan semua pekerjaannya dan tinggal di rumah sakit untuk fokus merawat kedua anaknya. Namun, saat terbangun dan melihat bahwa dialah yang berjaga di samping mereka, mata anak-anak itu justru dipenuhi kekecewaan.Malam itu, suhu tubuh Jesika tidak kunjung turun. Dia terus mengigau dalam sakit panasnya, "Mau makan bubur buatan Ibu."Howard mencoba membuat bubur dengan kaku mengikuti tutorial di internet. Namun, saat bubur itu disodorkan ke tepi ranjang, Jesika langsung menepisnya. Bubur yang masih panas itu tumpah berserakan di lantai."Nggak mau! Ini bukan buatan Ibu!" Tangis anak itu penuh kepedihan. "Bubur buatan Ibu selalu diberi kurma merah yang manis. Ayah nggak tahu apa-apa!"Melihat kekacauan di lantai, hati Howard terasa seperti dihantam benda tumpul. Dulu, dia mengira rumah ini akan baik-baik saja meski tanpa Maya. Baru sekarang dia sadar bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan keberadaan Maya.Di hari-hari berikutnya,

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 16

    Maya terdiam sejenak, lalu bertanya balik, "Justru karena nggak tega, aku selalu memilih untuk mengalah. Tapi apa pengabdianku selama bertahun-tahun ini membuahkan hasil yang baik? Nggak, ‘kan?"Setelah berkata demikian, dia menutup telepon tanpa keraguan sedikit pun....Setelah Howard masuk rumah sakit, kehidupan Maya segera kembali ke jalurnya. Hari itu, dia sengaja menemui Benny untuk berterima kasih karena telah membantunya menghalangi gangguan Howard sebelumnya.Benny duduk di kursi kerjanya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau kamu benar-benar mau berterima kasih, aku punya sebuah ide.""Ide apa?""Virga sangat menyukaimu." Benny berhenti sejenak. "Aku mau kamu jadi ibu angkatnya. Apa kamu bersedia?"Virga adalah anak dari kakak laki-laki Benny. Beberapa tahun lalu, kakak dan kakak iparnya meninggal dalam kecelakaan, dan mereka menitipkan anak itu kepadanya. Selama ini Benny berperan sebagai ayah, dan mendidik Virga menjadi anak yang penurut dan pengertian

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 15

    Pupil mata Maya mengecil karena terkejut, dia mundur setengah langkah. Sebelum dia sempat bereaksi, sebuah sosok yang tegap, mendadak menerobos masuk dari pintu dan mencengkeram pergelangan tangan Gisel."Gisel, letakkan pisaunya!" Howard mengertakkan gigi, suaranya sedingin es.Mata Gisel memerah, dia berontak ingin melepaskan diri. "Nggak mau! Kecuali kamu berjanji padaku untuk nggak mencarinya dan berhubungan dengannya lagi!"Howard tidak menjawab, dia justru memperkuat cengkeramannya. Sikap diamnya itu seperti menyiram bensin ke dalam api, memicu kemarahan Gisel sepenuhnya. Gisel meronta dengan sekuat tenaga. Di tengah aksi saling dorong itu, mata pisau itu menusuk telak ke perut Howard dengan bunyi yang mengerikan.Darah seketika merembes membasahi setelan jas abu-abu tuanya, menetes ke lantai. Udara seolah membeku seketika. Gisel terpaku di tempat, wajahnya penuh rasa tidak percaya. Maya juga panik, dia segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi ambulans.Petugas keam

  • Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju   Bab 14

    Sepuluh tahun yang lalu di Universitas Kenington, Benny dan Howard diakui sebagai dua mahasiswa yang sangat jenius. Yang satu tajam dan berpikiran cepat.Yang satunya lagi tenang dan tegas dalam bertindak. Dari debat di kelas hingga peringkat kompetisi, keduanya selalu bersaing sengit dan tidak ada yang mau mengalah.Meski sudah bertahun-tahun lulus, satu sama lain tetap menjadi "duri dalam daging" yang paling disegani dalam peta persaingan bisnis mereka. Hingga akhirnya Benny pergi mengembangkan karier di Negara Artina, barulah nama itu perlahan menghilang dari daftar musuh bisnis Howard.Dia tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun akan terjadi dalam situasi seperti ini."Aku juga nggak menyangka akan bertemu denganmu di sini," kata Benny sambil tersenyum tipis. "Lagi pula, aku kira setelah Maya menceraikanmu, kamu akan segera menikah dengan Gisel."Kening Howard semakin berkerut. "Perceraian itu nggak sengaja terjadi. Aku nggak akan menikahi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status