Partager

Bab 6

Auteur: Miarosa
last update Date de publication: 2026-03-02 10:24:29

Diantara barisan yang mulai berpencar, satu sosok berdiri kaku dengan aura yang tidak lagi tunduk sepenuhnya.

“Darian.”

Suara Morrigan memotong langkahnya. Seluruh lapangan kembali sunyi.

Darian menoleh perlahan. “Morrigan."

Ia tetap menunduk hormat, tapi tidak lagi dengan kepatuhan yang sama.

“Ke depan.”

Ia melangkah dan setiap langkahnya berat, tapi mantap. Anggota pack tahu ini bukan percakapan biasa.

“Perbatasan utara membutuhkan pengawasan tambahan. Kau berangkat sebelum matahari tenggelam," ucap Morrigan datar.

Beberapa kepala langsung terangkat.

Perbatasan utara bukan sekadar tugas jaga. Itu wilayah paling liar yang merupakan tempat buangan.

Darian tersenyum tipis. “Sebagai beta senior, tanpa konsultasi Dewan?”

“Sebagai beta yang melampaui batas,” jawab Morrigan.

Desis kecil terdengar dari kelompok timur.

Darian menahan tawa pendek. “Jadi ini karena omega itu.”

Raungan rendah keluar dari dada Morrigan dan membuat beberapa anggota pack mundur refleks.

“Ini karena kamu merendahkan anggota pack di depan umum.”

“Dan kau mengguncang struktur yang sudah berdiri puluhan tahun demi Omega terbuang padahal dulu kamu tidak peduli padanya."

Tanah terasa berat oleh dominasi Alpha.

Namun sebagai beta kuat, Darian tidak langsung terdorong jatuh. Lututnya menekuk sedikit sekadar mengakui hierarki, tapi ia tetap berdiri.

“Ulangi kalimat itu,” desis Morrigan.

Darian menatap lurus ke matanya dengan tatapan berani.

“Omega terbuang."

Dalam satu gerakan cepat, Morrigan sudah berdiri hanya sejengkal darinya. Aura dominan menghantam seperti gelombang dan kali ini lutut Darian benar-benar menyentuh tanah, tapi kepalanya tetap tegak.

“Namanya,” geram Morrigan.

Darian terengah di bawah tekanan itu dan rahangnya mengeras.

“Aku tidak akan menyebutnya.”

Tekanan semakin meningkat. Beberapa beta muda ikut terdorong berlutut hanya karena imbas dominasi itu.

“Kalau begitu,” suara Morrigan berubah menjadi dingin dan berbahaya, “Kau tidak lagi mewakili keseimbangan pack ini.”

Darian membeku. Sebagai beta, posisinya bukan hanya jabatan. Ia adalah penyangga antara Alpha dan anggota lain. Mencabutnya berarti mengguncang sistem dari dalam.

“Mulai detik ini, kamu dicabut dari posisi beta senior. Lambangmu dilepas dan hakmu atas lingkar dalam pack berakhir," lanjut Morrigan.

Bisikan ngeri menyebar. Darian perlahan bangkit meskipun dadanya masih sesak oleh dominasi.

“Jadi kamu mengasingkanku,” katanya pelan.

“Aku menyelamatkan pack ini dari racun keraguan,” jawab Morrigan.

Tatapan Darian berubah bukan lagi sekadar marah, tapi terluka. “Kamu memilih omega terbuang dibandingkan beta yang telah berdiri di sisimu selama dua dekade.”

Morrigan tidak menjawab dan itu sudah cukup menjadi jawaban.

“Pergilah ke perbatasan utara!" perintahnya. “Jika kamu menolak, kamu tahu konsekuensinya.”

Pengusiran penuh dan pemutusan ikatan pack lebih buruk daripada kematian bagi sebagian besar manusia serigala. Darian kemudian tertawa pelan.

“Kamu akan menyesal dan kamu akan ingat siapa yang kamu buang.”

Beberapa anggota timur mengangkat wajah, mata mereka menyala dengan kemarahan yang sama.

***

"Darian."

“Ayah,” panggilnya tanpa berbalik.

Varrek tidak langsung menjawab.

Sore itu membuat rambutnya yang mulai memutih tampak lebih pucat. Jubah Dewan Tetua yang dikenakannya berkibar pelan diterpa angin utara, simbol kekuasaan dan hukum leluhur yang sekarang terasa seperti beban.

“Ketika aku kembali,” lanjut Darian, suaranya datar namun bergetar oleh sesuatu yang lebih gelap dari sekadar amarah, “Aku tidak akan kembali sebagai anakmu.”

Varrek menarik napas panjang.

“Aku tidak pernah memintamu kembali sebagai anakku. Aku hanya berharap kamu tidak kembali sebagai musuh yang harus kuhukum.”

Darian terkekeh lirih. “Kamu sudah memilih sisi, Ayah.”

“Aku memilih keseimbangan,” potong Varrek tegas. “Dan hari ini, keseimbangan itu retak karena kamu membiarkan egomu lebih keras daripada akalmu.”

Darian berbalik perlahan. Mata mereka bertemu bukan lagi sebagai ayah dan anak.

“Keseimbangan?” ulang Darian. “Keseimbangan macam apa yang membiarkan Alpha bertindak tanpa Dewan? Ia menghukumku di depan pack. Ia merobek struktur yang kamu jaga puluhan tahun.”

Varrek tidak menyangkal.

“Itulah sebabnya Dewan bergerak,” katanya pelan.

Angin berhenti sejenak seolah hutan ikut mendengar.

Darian menyipitkan mata. “Bergerak bagaimana?”

Varrek menatapnya lama sebelum menjawab.

"Kami akan menghapus Omega itu dari bagian pack."

"Benarkah?"

"Kamu pikir keputusan untuk mengaktifkan segel itu hanya datang dari Sheltra?” suaranya turun satu nada. “Tidak ada satu pun ritual terlarang yang bisa dijalankan tanpa persetujuan mayoritas Dewan.”

Tubuh Darian menegang.

“Kamu menyetujui penghapusan itu?”

“Aku menyetujui pencegahan perang,” jawab Varrek dingin. “Jika Alpha mempertahankan omega itu tanpa pengaburan garis darah, faksi-faksi luar akan mencium baunya. Kamu tahu itu.”

Darian menggertakkan gigi.

“Jadi kau membuangnya.”

“Kami menyembunyikannya untuk sementara,” koreksi Varrek.

Darian tertawa pahit. “Dan kau menyebutku egois.”

Varrek melangkah mendekat. Sekarang jarak mereka hanya sejengkal, cukup dekat untuk mencium kemarahan yang membara dari tubuh anaknya. Ia mengeluarkan sebuah cincin hitam dari saku jubahnya, logamnya gelap dan hampir menyerap cahaya.

“Ini segel pengikat jejak, jika suatu hari kamu melakukan sesuatu yang terlalu besar, pakai ini! Itu akan menyamarkan auramu dari pelacak Dewan.”

Darian menatap benda itu lama.

“Kenapa memberiku ini?” tanyanya.

“Karena aku Tetua dan Tetua tidak membiarkan ancaman berkeliaran tanpa kendali. Dengan cincin itu, aku tahu kamu masih bisa diawasi," katanya tegas.

Darian mengambil cincin itu dan menggenggamnya erat.

“Apakah Dewan berencana menyingkirkan Morrigan?” tanyanya tiba-tiba.

Tatapan Varrek mengeras.

“Berhati-hatilah dengan pertanyaan seperti itu.”

“Itu bukan jawaban.”

Varrek mendekat sedikit lagi dan suaranya nyaris tak terdengar.

“Alpha yang mengorbankan struktur demi satu ikatan akan membuat musuh sendiri tanpa bantuan kita.”

Mata Darian menyala tipis, jadi memang ada celah.

“Dan jika aku yang membuka celah itu?” bisiknya.

“Kalau kamu melakukannya dengan ceroboh, kamu akan mati sebelum sempat menikmati hasilnya," balas Varrek.

Angin kembali berembus kencang.

Darian menyelipkan cincin itu ke sakunya.

“Segel akan membuatnya lupa. Mate bond akan melemah. Lima tahun cukup untuk mematahkan apa pun.”

Varrek tidak membantah.

“Tapi jika takdir menolak dipatahkan?” tanya Darian pelan.

“Kalau takdir berdiri di depanku, aku akan mengoyaknya juga.”

Sore menjelang ketika Darian berdiri di gerbang perbatasan, ia melepas lambang beta dari dadanya, simbol perak dengan ukiran bulan sabit yang menandakan posisinya sebagai penyeimbang pack.

Logam itu jatuh ke tanah berbatu dengan bunyi keras dan tidak ada yang berani mengambilnya.

Angin hutan utara berhembus dingin membawa aroma tanah liar dan ancaman. Saat ia melangkah melewati batu batas leluhur, sesuatu di dadanya seperti tercabik. Ikatan pack yang menghubungkannya pada wilayah terputus dan rasa sakitnya tajam nyaris membuatnya terhuyung, tapi Darian tidak menoleh. Ia membiarkan rasa sakit itu membakar dan mengubahnya. Matanya yang semula cokelat hangat kini menggelap.

“Kalau aku tidak bisa menjaga struktur itu dari dalam, aku akan meruntuhkannya dari luar," gumamnya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 60

    Rasa sakit yang luar biasa menjalar di sepanjang tulang belakangnya dan darah hangat merembes dari sela-sela bibirnya yang mengatup rapat. Mereka berguling beberapa meter melewati cadas yang tajam dan menimbulkan suara deburan keras hingga akhirnya berhenti tepat di tepi aliran sungai berbatu yang dingin.Napas Morrigan memburu panas, menguar menjadi uap di udara pagi yang membeku. Meskipun seluruh tubuhnya didera rasa sakit yang teramat sangat, lengannya sama sekali tidak melonggarkan pelukan pada wanita di dekapannya. Dengan tubuh yang masih bergetar menahan sisa benturan, Morrigan perlahan merendahkan kepalanya, menatap wajah wanita yang mendekam di dadanya dengan tatapan penuh kecemasan dan rasa takut yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.Sang Alpha memejamkan matanya dan mengecup dahi wanita itu dengan kelembutan yang teramat sangat.​"Kau aman bersamaku, Ravenna, aku bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi," bisik Morrigan.​Morrigan dengan perlahan m

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 59

    Manik mata perak wanita itu menatap lurus ke dalam manik mata Ravenna dan mengunci kesadaran gadis itu. "Dia adalah manusia serigala yang suka lepas kendali. Saat wujud serigalanya mengambil alih, Morrigan berubah menjadi binatang buas yang haus darah. Dia tidak segan-segan membunuh manusia dan mencabik mereka tanpa belas kasihan hanya untuk memuaskan insting liarnya."​"Aku tidak percaya," ujar Ravenna lirih. Kata-kata wanita berambut perak itu Ketakutan meracuni pikirannya."Dan tahukah kamu apa yang paling menjijikkan?" Wanita berambut perak itu mengulas senyum tipis yang mematikan, lalu ia mengulurkan tangannya yang sedingin es dan menyentuh dagu Ravenna dengan lembut, namun sentuhan itu mengirimkan sengatan aneh langsung ke otak Ravenna."Morrigan dan kaumnya sedang menyalahkanmu atas semua pembunuhan itu."​Ravenna terbelalak. "Apa?!"​"Mereka menimpakan semua kesalahan itu kepadamu, Ravenna," timpal Darian dari belakang, ikut memanaskan situasi sesuai rencana mereka. "Kamu h

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 58

    Aroma kayu basah dan debu menjadi hal pertama yang merayap masuk ke indra penciuman Ravenna dan disusul oleh rasa pening luar biasa yang seolah menghantam bagian belakang kepalanya.Perlahan Ravenna membuka matanya Pandangannya kabur sebelum akhirnya terfokus pada langit-langit kayu yang dipenuhi sarang laba-laba.​Ravenna tersentak bangun, namun tubuhnya langsung limbung kembali ke atas dipan tua yang keras. Seluruh persendiannya terasa lemas, seolah-olah seluruh energinya telah dihisap habis oleh kekuatan tak kasatmata. Dengan tangan gemetar, ia mencengkeram tepi dipan, berusaha duduk, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan."Aku ada di mana?" gumamnya​Setelah kesadarannya kembali sepenuhnya, ia baru menyadari sedang berada di dalam sebuah kabin kayu tua yang terbengkalai di tengah hutan. Cahaya pagi menerobos masuk melalui celah-celah dinding papan yang rapuh dan membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang. Ravenna melihat keluar melalui jendela kecil yang berdebu dan

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 57

    Medan di depan mereka perlahan mulai berubah menjadi ekstrem. Jalur tanah hutan yang semula landai sekarang berganti menjadi tanjakan terjal berbatu yang dikelilingi oleh jajaran pohon pinus raksasa yang tumbuh rapat. Akar-akar pohonnya menyembul ke permukaan.​Morrigan tidak memperlambat langkahnya sama sekali. Ravenna berada di atas sana dan semakin dekat, namun bahaya yang mengancamnya juga kian memuncak.Sepasang mata emas Morrigan menyala terang menembus pekatnya kabut pagi yang menuntun kakinya melompati batasan batu-batu licin dengan kecepatan yang sangat tinggi.​"Alpha! Kecepatan Anda terlalu tinggi! Kabut ini mengacaukan radar pasukan di belakang!" teriak Silas yang bersusah payah mengimbangi langkah kilat Morrigan sembari memastikan beberapa prajurit Silver Claw tidak tertinggal jauh di belakang.​"Aku tidak bisa menunggu, Silas! Baunya semakin pekat, dia ada di atas tebing ini!" raung MorriganSerigala di dalam dirinya meronta liar.​Tiba-tiba dari balik gumpalan kabut teb

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 56

    "Apa kamu bilang?!" suara Morrigan meninggi.Morrigan melangkah maju dengan kecepatan kilat, mencengkeram kerah mantel Darian, dan mengangkat tubuh pria itu beberapa senti ke udara. Napasnya memburu panas tepat di depan wajah Darian.​"Kenapa kamu memberitahuku soal Ravenna yang diculik Lunara?"Darian tidak meronta. Ia justru terkekeh rendah dan tatapannya menantang lurus ke sepasang mata emas Morrigan tanpa rasa takut.​"Tentu saja aku tidak melakukannya demi menyelamatkan manusiamu, Morrigan. Selama ini aku terus mengawasimu dan wanita manusiamu itu," jawab Darian sinis dan seulas senyum licik terukir di wajahnya. "Aku melakukan ini semua hanya untuk mempertemukanmu dengan Lunara. Bukankah kamu sedang mencari pengkhianat itu. Aku ingin melihat bagaimana sang Alpha tertinggi pack Blackmoon hancur berdarah-darah di tangan seorang pengkhianat."​Morrigan menggeram rendah, lalu melempar tubuh Darian ke atas aspal dengan kasar hingga pria itu terbatuk. "Di mana dia menyekap Ravenna? K

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 55

    Roda-roda besi gerbong kereta mendadak menjerit nyaring dan memuntahkan percikan api yang bergesekan ekstrem dengan rel. BRAAAK! Tubuh para penumpang terlempar ke depan akibat rem darurat yang dihantam paksa. Jeritan histeris, tangisan anak-anak, dan dentingan barang-barang bawaan yang jatuh berserakan seketika memenuhi seisi gerbong yang pengap. ​Kereta itu berhenti mendadak di tengah hutan pinus yang sunyi dan jauh dari stasiun mana pun. Ravenna mencengkeram erat sandaran kursi di depannya dan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Di sampingnya, Marva berusaha menstabilkan posisinya sembari memandang sekeliling dengan kerutan dalam di dahi. ​"Ada apa ini? Kenapa keretanya berhenti di tengah jalan?" tanya Marva. ​"Aku tidak tahu, Nek," sahut Ravenna lirih. Perasaan buruk seketika merayap di tengkuknya. Bau karbol dan oli di mantelnya mendadak kalah telak oleh aroma anyir yang asing dan dingin yang tiba-tiba berembus masuk menembus celah jendela. ​Tiba-tiba lampu-lampu neon

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status