Mag-log inDiantara barisan yang mulai berpencar, satu sosok berdiri kaku dengan aura yang tidak lagi tunduk sepenuhnya.
“Darian.” Suara Morrigan memotong langkahnya. Seluruh lapangan kembali sunyi. Darian menoleh perlahan. “Morrigan." Ia tetap menunduk hormat, tapi tidak lagi dengan kepatuhan yang sama. “Ke depan.” Ia melangkah dan setiap langkahnya berat, tapi mantap. Anggota pack tahu ini bukan percakapan biasa. “Perbatasan utara membutuhkan pengawasan tambahan. Kau berangkat sebelum matahari tenggelam," ucap Morrigan datar. Beberapa kepala langsung terangkat. Perbatasan utara bukan sekadar tugas jaga. Itu wilayah paling liar yang merupakan tempat buangan. Darian tersenyum tipis. “Sebagai beta senior, tanpa konsultasi Dewan?” “Sebagai beta yang melampaui batas,” jawab Morrigan. Desis kecil terdengar dari kelompok timur. Darian menahan tawa pendek. “Jadi ini karena omega itu.” Raungan rendah keluar dari dada Morrigan dan membuat beberapa anggota pack mundur refleks. “Ini karena kamu merendahkan anggota pack di depan umum.” “Dan kau mengguncang struktur yang sudah berdiri puluhan tahun demi Omega terbuang padahal dulu kamu tidak peduli padanya." Tanah terasa berat oleh dominasi Alpha. Namun sebagai beta kuat, Darian tidak langsung terdorong jatuh. Lututnya menekuk sedikit sekadar mengakui hierarki, tapi ia tetap berdiri. “Ulangi kalimat itu,” desis Morrigan. Darian menatap lurus ke matanya dengan tatapan berani. “Omega terbuang." Dalam satu gerakan cepat, Morrigan sudah berdiri hanya sejengkal darinya. Aura dominan menghantam seperti gelombang dan kali ini lutut Darian benar-benar menyentuh tanah, tapi kepalanya tetap tegak. “Namanya,” geram Morrigan. Darian terengah di bawah tekanan itu dan rahangnya mengeras. “Aku tidak akan menyebutnya.” Tekanan semakin meningkat. Beberapa beta muda ikut terdorong berlutut hanya karena imbas dominasi itu. “Kalau begitu,” suara Morrigan berubah menjadi dingin dan berbahaya, “Kau tidak lagi mewakili keseimbangan pack ini.” Darian membeku. Sebagai beta, posisinya bukan hanya jabatan. Ia adalah penyangga antara Alpha dan anggota lain. Mencabutnya berarti mengguncang sistem dari dalam. “Mulai detik ini, kamu dicabut dari posisi beta senior. Lambangmu dilepas dan hakmu atas lingkar dalam pack berakhir," lanjut Morrigan. Bisikan ngeri menyebar. Darian perlahan bangkit meskipun dadanya masih sesak oleh dominasi. “Jadi kamu mengasingkanku,” katanya pelan. “Aku menyelamatkan pack ini dari racun keraguan,” jawab Morrigan. Tatapan Darian berubah bukan lagi sekadar marah, tapi terluka. “Kamu memilih omega terbuang dibandingkan beta yang telah berdiri di sisimu selama dua dekade.” Morrigan tidak menjawab dan itu sudah cukup menjadi jawaban. “Pergilah ke perbatasan utara!" perintahnya. “Jika kamu menolak, kamu tahu konsekuensinya.” Pengusiran penuh dan pemutusan ikatan pack lebih buruk daripada kematian bagi sebagian besar manusia serigala. Darian kemudian tertawa pelan. “Kamu akan menyesal dan kamu akan ingat siapa yang kamu buang.” Beberapa anggota timur mengangkat wajah, mata mereka menyala dengan kemarahan yang sama. *** "Darian." “Ayah,” panggilnya tanpa berbalik. Varrek tidak langsung menjawab. Sore itu membuat rambutnya yang mulai memutih tampak lebih pucat. Jubah Dewan Tetua yang dikenakannya berkibar pelan diterpa angin utara, simbol kekuasaan dan hukum leluhur yang sekarang terasa seperti beban. “Ketika aku kembali,” lanjut Darian, suaranya datar namun bergetar oleh sesuatu yang lebih gelap dari sekadar amarah, “Aku tidak akan kembali sebagai anakmu.” Varrek menarik napas panjang. “Aku tidak pernah memintamu kembali sebagai anakku. Aku hanya berharap kamu tidak kembali sebagai musuh yang harus kuhukum.” Darian terkekeh lirih. “Kamu sudah memilih sisi, Ayah.” “Aku memilih keseimbangan,” potong Varrek tegas. “Dan hari ini, keseimbangan itu retak karena kamu membiarkan egomu lebih keras daripada akalmu.” Darian berbalik perlahan. Mata mereka bertemu bukan lagi sebagai ayah dan anak. “Keseimbangan?” ulang Darian. “Keseimbangan macam apa yang membiarkan Alpha bertindak tanpa Dewan? Ia menghukumku di depan pack. Ia merobek struktur yang kamu jaga puluhan tahun.” Varrek tidak menyangkal. “Itulah sebabnya Dewan bergerak,” katanya pelan. Angin berhenti sejenak seolah hutan ikut mendengar. Darian menyipitkan mata. “Bergerak bagaimana?” Varrek menatapnya lama sebelum menjawab. "Kami akan menghapus Omega itu dari bagian pack." "Benarkah?" "Kamu pikir keputusan untuk mengaktifkan segel itu hanya datang dari Sheltra?” suaranya turun satu nada. “Tidak ada satu pun ritual terlarang yang bisa dijalankan tanpa persetujuan mayoritas Dewan.” Tubuh Darian menegang. “Kamu menyetujui penghapusan itu?” “Aku menyetujui pencegahan perang,” jawab Varrek dingin. “Jika Alpha mempertahankan omega itu tanpa pengaburan garis darah, faksi-faksi luar akan mencium baunya. Kamu tahu itu.” Darian menggertakkan gigi. “Jadi kau membuangnya.” “Kami menyembunyikannya untuk sementara,” koreksi Varrek. Darian tertawa pahit. “Dan kau menyebutku egois.” Varrek melangkah mendekat. Sekarang jarak mereka hanya sejengkal, cukup dekat untuk mencium kemarahan yang membara dari tubuh anaknya. Ia mengeluarkan sebuah cincin hitam dari saku jubahnya, logamnya gelap dan hampir menyerap cahaya. “Ini segel pengikat jejak, jika suatu hari kamu melakukan sesuatu yang terlalu besar, pakai ini! Itu akan menyamarkan auramu dari pelacak Dewan.” Darian menatap benda itu lama. “Kenapa memberiku ini?” tanyanya. “Karena aku Tetua dan Tetua tidak membiarkan ancaman berkeliaran tanpa kendali. Dengan cincin itu, aku tahu kamu masih bisa diawasi," katanya tegas. Darian mengambil cincin itu dan menggenggamnya erat. “Apakah Dewan berencana menyingkirkan Morrigan?” tanyanya tiba-tiba. Tatapan Varrek mengeras. “Berhati-hatilah dengan pertanyaan seperti itu.” “Itu bukan jawaban.” Varrek mendekat sedikit lagi dan suaranya nyaris tak terdengar. “Alpha yang mengorbankan struktur demi satu ikatan akan membuat musuh sendiri tanpa bantuan kita.” Mata Darian menyala tipis, jadi memang ada celah. “Dan jika aku yang membuka celah itu?” bisiknya. “Kalau kamu melakukannya dengan ceroboh, kamu akan mati sebelum sempat menikmati hasilnya," balas Varrek. Angin kembali berembus kencang. Darian menyelipkan cincin itu ke sakunya. “Segel akan membuatnya lupa. Mate bond akan melemah. Lima tahun cukup untuk mematahkan apa pun.” Varrek tidak membantah. “Tapi jika takdir menolak dipatahkan?” tanya Darian pelan. “Kalau takdir berdiri di depanku, aku akan mengoyaknya juga.” Sore menjelang ketika Darian berdiri di gerbang perbatasan, ia melepas lambang beta dari dadanya, simbol perak dengan ukiran bulan sabit yang menandakan posisinya sebagai penyeimbang pack. Logam itu jatuh ke tanah berbatu dengan bunyi keras dan tidak ada yang berani mengambilnya. Angin hutan utara berhembus dingin membawa aroma tanah liar dan ancaman. Saat ia melangkah melewati batu batas leluhur, sesuatu di dadanya seperti tercabik. Ikatan pack yang menghubungkannya pada wilayah terputus dan rasa sakitnya tajam nyaris membuatnya terhuyung, tapi Darian tidak menoleh. Ia membiarkan rasa sakit itu membakar dan mengubahnya. Matanya yang semula cokelat hangat kini menggelap. “Kalau aku tidak bisa menjaga struktur itu dari dalam, aku akan meruntuhkannya dari luar," gumamnya.Diantara barisan yang mulai berpencar, satu sosok berdiri kaku dengan aura yang tidak lagi tunduk sepenuhnya. “Darian.” Suara Morrigan memotong langkahnya. Seluruh lapangan kembali sunyi. Darian menoleh perlahan. “Morrigan." Ia tetap menunduk hormat, tapi tidak lagi dengan kepatuhan yang sama. “Ke depan.” Ia melangkah dan setiap langkahnya berat, tapi mantap. Anggota pack tahu ini bukan percakapan biasa. “Perbatasan utara membutuhkan pengawasan tambahan. Kau berangkat sebelum matahari tenggelam," ucap Morrigan datar. Beberapa kepala langsung terangkat. Perbatasan utara bukan sekadar tugas jaga. Itu wilayah paling liar yang merupakan tempat buangan. Darian tersenyum tipis. “Sebagai beta senior, tanpa konsultasi Dewan?” “Sebagai beta yang melampaui batas,” jawab Morrigan. Desis kecil terdengar dari kelompok timur. Darian menahan tawa pendek. “Jadi ini karena omega itu.” Raungan rendah keluar dari dada Morrigan dan membuat beberapa anggota pack mundur refleks.
“Ke dunia manusia.” Jawaban Sheltra membuat udara di ruang bawah tanah itu membeku. Beberapa tetua langsung menoleh tajam. “Mustahil. Ia darah murni," desis salah satu. “Justru karena itu, karena darah murni paling aman jika tidak seorang pun bisa mengenalinya," sahut Sheltra. Varrek menyipitkan mata. “Kau ingin membuangnya begitu saja?” “Bukan membuang,” koreksi Sheltra halus. “Tapi menghapus.” Ia berdiri perlahan dan berjalan ke tengah lingkaran simbol. Ujung jarinya menyentuh ukiran kuno yang hampir terhapus waktu. “Aku akan mengaktifkan Segel Tanda Pengabur Garis Darah." Nama itu membuat beberapa tetua menarik napas pelan. “Segel itu dilarang,” gumam Orven. “Segel itu efektif,” balas Sheltra. Api di tengah lingkaran bergetar saat ia melanjutkan. “Segel itu akan menghapus jejak garis keturunannya. Auranya akan memudar. Darahnya akan tampak biasa. Omega itu akan terlihat seperti manusia.” “Dan mate bond?” tanya Varrek. “Tidak hilang, tapi menjadi tumpul
“Aku dengar semuanya,” suara Lunara pecah sebelum ia sempat menghentikannya. Ia menatap lantai tidak berani menantang. “Tentang Darian.” Morrigan tidak segera menjawab. Ia melangkah masuk dan pintu menutup di belakangnya dan mengunci mereka dalam ruang yang terasa semakin kecil. “Dan?” tanyanya. Lunara menelan ludah. “Aku tidak memintanya.” “Tidak ada yang bilang kau meminta,” jawabnya datar. “Lalu kenapa?” Lunara mendongak, karena ketakutan sudah terlalu penuh untuk ditahan. “Kenapa sejauh itu?” Morrigan mendekat hingga ia berhenti tepat di depannya dan berlutut dan sejajar dengan tatapan Lunara. “Karena mereka lupa satu hal dan pack yang lupa perlu diingatkan," katanya dengan suara pelan. Jari Morrigan terangkat dan berhenti hanya sejengkal dari rantai di kaki Lunara. “Mulai hari ini, siapa pun yang menyebut namamu tanpa izinku akan kehilangan lidahnya dan siapa pun yang menyentuhmu akan kehilangan lebih dari sekadar tangan," lanjutnya dengan tenang. Lunara ters
“Kau hidup dan itu bukan hadiah, tapi itu keputusan," potong Morrigan dingin. Kalimat itu membuat jantung Lunara berdebar cepat. Ia bukan diselamatkan, tapi dipilih untuk ditahan. “Kenapa aku di sini?” tanyanya lirih, suaranya hampir tidak terdengar. Morrigan melangkah mendekat satu langkah, namun cukup untuk membuat aroma Alpha membungkus Lunara sepenuhnya. Naluri di dalam dirinya meronta, menarik, dan menolak pada saat yang bersamaan. “Karena pack tidak boleh menyentuhmu dan karena aku belum memutuskan apa yang akan kulakukan denganmu," jawab Morrigan. Lunara menatap rantai di kakinya. “Jadi aku tawanan.” “Ya," jawabnya dingin. “Kamu akan tetap di ruangan ini. Dijaga tidak keluar tanpa izinku dan tidak bicara dengan siapa pun kecuali aku," lanjut Morrigan. Ia berhenti sejenak dan matanya menyipit. “Dan kamu tidak akan menyebut apa pun tentang ikatan itu.” Tubuh Lunara bergetar hebat. “Ikatan?” bisiknya. Morrigan menoleh tajam dan getaran berat memenuhi ruangan.
Tiang hukuman berdiri di tengah lapangan dan tiang itu berupa kayu tua penuh bekas darah. Lunara diikat dengan rantai besi dingin dan lengannya terangkat paksa. Setiap tarikan rantai membuat sendi-sendinya berderak nyeri. Darian mengambil cambuk kulit berduri. “Untuk pengingat. Omega tidak punya tempat di pack ini," katanya pelan dan nyaris berbisik di telinga Lunara. CRAAAK! Cambukan pertama merobek punggungnya. Lunara menjerit dan teriakannya yang langsung ditelan oleh tawa anggota pack lainnya. Cambukan kedua dan ketiga, pandangan Lunara mulai kabur. Dunia mengecil hanya tersisa rasa panas dan denyut nyeri yang tidak berujung. Cambukan keempat membuat lututnya lemas. “Lanjutkan! Sampai dia tidak bergerak," kata Varrek. Darian mengangkat cambuk untuk kelima kalinya dan udara tiba-tiba berubah. Tekanan berat menyapu arena membuat beberapa manusia serigala tersentak dan berlutut tanpa sadar. Langkah kaki terdengar perlahan, berat, dan penuh otoritas. “Berhenti!" Nam
Darah Lunara Fenrirsson jatuh ke tanah lebih dulu sebelum tubuhnya. Ia tersungkur di halaman batu Pack Blackmoon dan lututnya menghantam tanah basah yang dingin. Napasnya tercekik bukan hanya oleh rasa sakit, tapi oleh tawa yang pecah di sekelilingnya, tawa para manusia serigala yang merasa berhak menginjaknya. “Bangun, Omega sialan!" bentak seseorang. Rambut perak Lunara ditarik kasar dari belakang. Kepalanya terhentak ke atas dan memaksa matanya menatap lingkaran wajah-wajah yang penuh hinaan. Mereka bukan hanya sekadar membencinya, tapi mereka juga menikmati penderitaannya. Darian Bloodclaw berdiri paling depan, musuh lamanya dan putra tetua pack. Serigala beta yang merasa dunia berutang padanya. “Kau lambat,” kata Darian sambil menendang tulang kering Lunara. “Alpha memerintahkan kayu bakar dikumpulkan sebelum matahari terbit, tapi lihat dirimu selalu gagal dan selalu membawa sial." Ia berdecak jijik. Lunara menggigit bibirnya sampai darah terasa asin di lidahnya. “Aku







