Mated to a Witch, a Wolf and a Human

Mated to a Witch, a Wolf and a Human

last updateTerakhir Diperbarui : 2023-07-31
Oleh:  BrownTamat
Bahasa: English
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
150Bab
4.0KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

He was born by a witch, fathered by a wolf and raised in an orphanage home. Because of past incidence, his mother magically prevented him from being either a wolf nor a wizard, but having inherited such great power, it could only be a matter of time, before the witches power, would no longer be able to hold him at bay. He found himself walking away from a life he had built as a human, when he started feeling his nightmares, were being too real. On the day he was supposed to tie the knot with Blair Fire, the love of his life, he could not show up, for he was in the woods, shape shifting for the very first time. He went to seek answers, wanting to go back to the orphanage home where he grew up. He found out, he is the successor of a powerful Alpha, and his mother, is the most powerful witch, who controls the twelve witch kingdom in the entire federation. His father wants him back, as he is the one, whom the prophesy spoke about. That a great Aplha would succeed him, and destroy their enemies, and his Luna have already been chosen for him, by the moon goddess, while his mother also wanted him back, as the Queen of all witches have chosen a bride for him, but he could only love Blair Fire, his human mate. What will he do, since he is obligated to be with all three? How will he protect her, when the witch and the wolf sees her as a threat, to getting the love of their Alpha? Find out, in this mind blowing story.

Lihat lebih banyak

Bab 1

The missing Groom

“Gimana, Abra, enak nggak sup iganya?” suara Riani mengisi ruang makan.

Serayu melirik suaminya yang menjawab singkat, “Enak,” sambil tetap makan.

Senyum puas muncul di wajah sang mertua, senyum yang sudah sering Serayu lihat, tapi tak pernah terasa hangat.

Abra merangkul bahu Serayu dengan santai. Sentuhan itu membuatnya kaku, bukan karena tidak nyaman, tapi karena ia tahu mata Riani sudah memperhatikan.

Dan benar saja, tatapan tajam itu langsung menusuk, seolah menilai bahwa Serayu tak pantas berada di sana.

“Ini masakan Aileen,” ucap Riani tiba-tiba.

Nama itu menghantam Serayu lebih kuat daripada nada suara yang mengatakannya.

Abra tersedak spontan, dan saat Serayu hendak memberinya air, Riani menepis tangannya seolah ia hanya gangguan. Sang mertua yang kemudian menyodorkan gelas pada Abra, membuat batas antara mereka semakin jelas, bahwa Serayu tetap orang luar.

“Aileen mampir tadi. Sekarang dia pindah tugas ke sini,” lanjut Riani. “Tambah cantik, pintar, karirnya bagus… Harusnya dulu kamu sabar nunggu dia S2.”

Ucapan itu menusuk, bukan karena Serayu cemburu, tetapi karena ia sudah terlalu sering dibandingkan dengan perempuan yang bahkan belum pernah ia temui.

Abra menahan ibunya dengan satu kata, “Mama.”

Saat itu juga Serayu tahu makan siang itu sudah berakhir untuknya.

“Kenapa, Abra? Nyatanya, sampai detik ini Mama memang tidak pernah merestui pernikahan kalian,” ujar Riani tanpa ragu. Ia menatap Serayu dengan tajam, seperti bagaimana ia selalu menatap menantunya itu.

“Ma, sudahlah.” Abra mulai kesal, tapi masih menahan diri.

Sementara Serayu, ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tahu, ia hanyalah koas dari keluarga sederhana yang masuk rumah sakit itu lewat beasiswa.

Hidupnya berubah sejak kecelakaan kecil dengan mobil milik Abra, dokter bedah muda yang arogan dan pewaris rumah sakit. Berniat bertanggung jawab, Serayu menyadari jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperbaiki mobil itu cukup besar.

Hingga akhirnya, tawaran pernikahan kontrak muncul dari Abra sebagai jalan keluar. Serayu sudah menolaknya, tapi keadaan keluarganya yang serba kekurangan memaksanya menerima.

Tak ada yang tahu perjanjian itu, termasuk Riani, yang sejak awal menolaknya. Serayu terlalu “biasa” untuk keluarga besar itu. 

Apa pun yang Serayu lakukan selalu tampak salah di mata Riani. Bahkan hal sekecil menaruh gelas pun bisa menjadi alasan untuk merendahkannya.

“Abra, sampai kapan kamu mau dibutakan oleh istri kecilmu itu? Dia ini hanya mengincar hartamu, memanfaatkan popularitasmu di dunia kedokteran!” seru Riani tak tahan lagi. Tatapannya kembali terarah pada Serayu. “Kamu ini dari keluarga miskin, modal beasiswa, harusnya kamu sadar diri.”

Serayu kembali menunduk, tak tahu harus merespon dengan kalimat apa. Ia tahu, pernikahan ini hanya di atas kertas, tapi apa yang ibu mertuanya katakan tentang latar belakang keluarganya benar-benar meluikai hatinya.

“Ibu Riani, saya memang dari keluarga miskin, tapi saya nggak pernah punya niatan buruk pada Mas Abra dan keluarga,” lirih Serayu berusaha membela diri.

Awalnya, ketika menerima perlakuan buruk dari sang ibu mertua, Serayu tak ingin ambil pusing. Ia hanya perlu bertahan hingga kontrak pernikahannya dengan Abra berakhir. Namun lama-kelamaan, ibu mertuanya semakin keterlaluan.

“Di dunia ini tidak ada maling yang mengaku, Serayu! Saya nggak tahu, apa yang sudah kamu perbuat sampai bisa mencuci otak anak saya dan berani melawan ibunya sendiri,” cibir Riani tanpa perasaan.

Serayu meremas ujung bajunya di bawah meja. Tatapannya terarah ke arah Riani dengan penuh rasa tidak terima.

Abra yang melihat ekspresi Serayu langsung mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan istrinya di bawah meja. Seolah memberi instruksi untuk tidak lagi membalas ucapan ibunya agar suasana tidak semakin keruh.

“Sejak awal semua sudah berjalan lancar. Abra hanya tinggal menunggu waktu untuk menikah dengan Aileen, tapi tiba-tiba kamu muncul dan mengacaukan semuanya. Seharusnya kamu nggak usah menampakkan diri di hidup anak saya,” lanjut Riani seolah masih belum puas menyudutkan sang menantu.

“Ma, dari awal Abra memang nggak ingin menikah dengan Alieen,” sahut Abra menyanggah.

“Iya karena perempuan ini lebih dulu mencuci otakmu, Abra!” seru Riani makin kesal.

Serayu makin merasa kesal. Ia tahu, tiap kali kejadian seperti ini datang, Abra memang berusaha membelanya. Entah apa motif sebenarnya, setidaknya Serayu sedikit merasa terbantu meskipun rasanya juga percuma karena ibu mertuanya itu sama sekali tak bisa dibantah.

Jika saja Abra bersikap abai, mungkin hidup Serayu akan semakin terasa terperosok. Sudah terjebak dalam pernikahan kontrak, masih juga ditindas di keluarga suaminya tanpa pembelaan sedikitpun.

“Sudahlah, Abra antar Mama pulang,” kata Abra pasrah. Ia berdiri dan bersiap untuk pergi dari ruang makan.

“Kamu benar-benar berubah semenjak menikah dengannya,” tuduh Riani dengan nada dingin.

Abra tidak menanggapi, hanya menghela napas lalu menoleh pada istrinya.

“Masuklah dulu, Saya akan antar Mama pulang,” titahnya berbisik, meminta Serayu masuk ke dalam kamar.

Serayu menurut, tapi belum genap langkahnya tiba-tiba suara Riani membelah keheningan.

“Ceraikan Serayu, Abra!”

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Tidak ada komentar
150 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status