LOGIN“Do I need to remind you of who your ass belongs to” his voice roared deep into my body causing shivers to spread through them “No Alpha Gillian ” I shivered. Desiree Greyfort was supposed to hate him but every time he touches her. She forgot the reasons why she hated him in the first place. After all, she was his to claim, his to touch and his to torture. “I am going to fuck his scent away that you won't be able to walk again” his mouth settled on my neck causing me to moan softy. “Beg me” he commanded. I am supposed to beg him to stop but what came out of my mouth was. “Please, touch me ”
View More“Ah ...”
Sebuah suara aneh tiba-tiba terdengar oleh Widuri yang saat itu sedang turun ke lantai satu untuk mengambil minum. Suara siapa? Bukannya biasanya Emran, suaminya, sudah tertidur pulas di jam-jam larut seperti ini?
Widuri mengedarkan matanya ke depan, sembari menegakkan telinga untuk melihat ke arah ruang tengah yang temaram.
“Nggh …”
Suara yang Widuri yakini sebagai erangan seorang wanita itu justru semakin terdengar di telinganya.
Tak hanya sekali, namun berkali-kali, suara desahan dan juga deruan napas itu terus mengganggunya. Yang membuat Widuri terheran, adalah suara itu bukan terdengar dari kamar tidur, namun ruang tamu.
Seketika, Widuri tersadar, siapa pemilik suara rintihan tersebut. Suara siapa lagi kalau bukan suara Mawar Rosdiana. Detik itu juga, Widuri semakin sadar akan posisinya di rumah milik sang suami. Dia lupa, bahwa sang suami kini sudah memiliki istri lain yang lebih dicintai olehnya.
Mawar adalah istri kedua Emran yang ia nikahi satu bulan setelah ia menikah dengan Widuri. Ya, Widuri kini terjebak dalam kehidupan pernikahan poligami yang tidak dia inginkan. Andai saja dia tahu akan berakhir seperti ini, pasti Widuri tidak akan mau menerima perjodohan yang diajukan kedua orang tuanya saat itu.
Kedua orang tua Emran dan Widuri yang membuat perjanjian aneh sehingga menyebabkan putra putri mereka diikat dalam pernikahan. Widuri yang polos saat itu mengiyakan saja permintaan orang tuanya sebagai bukti baktinya. Dia tidak tahu jika Emran dan Mawar sudah berpacaran lama serta merancang pernikahan. Dia yang menjadi orang ketiga di hubungan mereka, dia yang seharusnya tidak berada di sini dan Widuri sangat menyesal. Widuri menarik napas panjang sambil menggelengkan kepala mencoba menghalau beberapa ingatan di benaknya.
“Untuk apa juga aku di sini. Aku balik kamar saja,” lirih Widuri, mencoba tak peduli. Namun, wanita itu jelas tahu, bahwa dia hanya mencoba membohongi dirinya sendiri.
Siapa yang tak merasakan perih di hatinya ketika melihat sang suami bergumul dengan wanita lain di depan matanya? Terlebih ketika Widuri sendiri bahkan tak pernah terlelap di ruangan yang sama dengan Emran.
Baru saja ia hendak membalikkan badan kembali ke kamarnya di lantai dua. Tiba-tiba lampu di ruang tengah menyala dan Widuri sontak menyembunyikan tubuhnya di belakang lemari es.
“Mas Emran memang hebat. Aku sampai kewalahan,” ujar Mawar dengan suara manjanya. Mawar memang seorang wanita cantik, berambut panjang dengan paras ayu dan suara lembut nan manja.
Siapa saja yang melihat Mawar pasti akan terpesona dengan visualnya. Mungkin itu juga yang membuat Emran begitu mencintainya. Beda dengan Widuri. Dia bahkan tidak pandai merawat diri. Kulitnya sawo matang tidak seputih Mawar, belum lagi banyak jerawat tumbuh menghiasi wajahnya. Widuri sendiri juga tidak tahu mengapa wajahnya selalu berjerawat. Padahal dia sudah sering menghabiskan waktu ke salon kecantikan.
“Hmm ... kamu juga hebat, Sayang. Jadi besok mau gaya apa lagi?” Kini terdengar suara Emran menyahut.
Widuri hanya diam sambil mencoba menutup telinganya. Dia tidak mau iri, tapi kalau mau jujur dia merasa dianaktirikan oleh Emran. Bahkan hingga sekarang, Emran tidak pernah menyentuhnya. Saat malam pertama dulu, mereka langsung tidur saling memunggungi dan tanpa berkata sepatah kata pun.
“Kamu tuh, Mas. Gak capek apa minta tiap hari.”
Terdengar tawa renyah Emran. Tanpa disadari Widuri sangat suka tawanya. Sayangnya Emran tidak pernah memperlihatkan tawa itu saat bersama dengan Widuri. Emran selalu menjadi pendiam dan bersikap dingin pada Widuri berbanding terbalik saat bersama Mawar.
“Yang pasti kalau mau begituan jangan di sini, Mas. Di kamar saja, kalau Widuri lihat, gimana?”
“Alah ... dia sudah tidur gak bakal bangun. Kalau lagi sama aku, kamu gak perlu memikirkan tentang Widuri. Fokus saja ke aku, Mawar.”
Terdengar decakan keluar dari bibir Mawar.
“Mas ... kamu gak boleh gitu. Bagaimanapun Widuri juga istrimu. Bukankah kamu sudah janji padaku akan berlaku adil pada kami berdua. Kenapa sekarang kamu seakan tidak memenuhi janjimu itu?”
Widuri terdiam, tanpa disadari tubuhnya sudah merosot dan duduk di lantai. Sepertinya Emran dan Mawar sedang membicarakan dirinya. Widuri pikir Mawar selama ini yang memonopoli Emran, ternyata tebakannya salah.
“Iya, Sayang. Aku minta maaf.”
“Janji besok kamu juga akan berlaku manis ke Widuri?” Emran tidak menjawab hanya menganggukkan kepala.
Sayangnya gestur tubuh Emran tidak bisa dilihat Widuri. Gadis berwajah manis itu tampak terpekur sambil memeluk lutut melihat pantulan wajahnya di lantai. Kenapa juga mereka terus membahas tentang dirinya? Apa mereka tahu yang sedang dirasakan Widuri saat ini?
Tak lama Widuri mendengar suara langkah menjauh bersamaan bunyi suara pintu kamar terbuka kemudian tertutup. Widuri menghela napas lega sambil perlahan mengangkat kepala
“Sepertinya mereka sudah masuk kamar. Ya Tuhan ... kenapa juga tadi aku turun? Kenapa juga aku haus? Kalau harus mendengar semua ini.”
Widuri bersiap bangkit dan hendak kembali ke kamar saja. Cukup sakit hatinya melihat sekaligus mendengar interaksi mesra suaminya. Ia tidak mau membuat hatinya semakin terluka. Widuri perlahan bangkit dan membalikkan badan hendak ke kamar.
Namun, langkahnya segera terhenti dan mematung di tempatnya saat melihat Emran sedang berdiri bertelanjang dada di depannya. Widuri pikir Emran sudah masuk kamar, ternyata dia masih di sana dan kini hendak mengambil minum di kulkas.
Widuri bergeming di tempatnya sambil menatap Emran. Dia tidak pernah melihat suaminya bertelanjang dada di depannya. Widuri juga baru tahu jika tubuh suaminya sangat indah. Dada bidang, bahu lebar dengan jajaran roti sobek menghias perutnya. Tanpa sadar, Widuri menelan ludah mencoba menahan sebuah rasa aneh yang tiba-tiba merasuki tubuhnya.
Emran malah menatapnya dengan tatapan setajam pisau dan wajah yang tegang. Widuri merasa kalau suaminya saat ini sedang marah. Dia menyesali kebodohannya kali ini. Lalu tanpa diminta suara tanya yang menyakitkan telinga terlontar dari mulut Emran.
“Ngapain kamu di sini? Ngintip aku?”
Desiree’s POV For the actual first time I returned to these Stone walls, everywhere didn't feel suffocating but just light and warmth. I stand on the edge of the small ballroom, my hands smoothing over the front of my pale cream dress. The room is a sea of bright pink ribbons. They are everywhere…looped over the chandeliers, draped across the buffet tables, and tied in soft, beautiful bows around the pillars. And the stars... seventy silver stars hang from the ceiling on thin threads, spinning slowly in the draft. They catch the candlelight, throwing tiny diamonds of light across the floor.It is beautiful. It is simple. In a world of blood oaths and ancient wars, we are standing in a room full of cake and music.“Desiree! Look!”Macy skids across the floor toward me. She is a whirlwind of pink silk and tangled curls. Her face is smudged with white frosting, and her eyes are brighter than the silver hanging above us. She holds up a small, wolf—a gift from Kael—and beams at me, her
Desiree’s POV My wrist still tingles where Gillian grabbed it as he walks out of the place before I can even walk out. What does he think he is? He thinks he can order me around. He thinks a golden gaze and a rough voice are enough to make me forget that I am not his to command. We are not together. I have told him this. I have shouted it into the silence between us, yet he still acts as if he owns the very air I breathe.A knock sounds at the door of my chambers and I don't even have to open it to know who is standing there. “Go away, Gillian,” I call out, not stopping my pace.The door opens anyway as he steps into the oom, closing the door behind him with a soft click. He has changed out of his training tunic into something lighter.“We aren't finished,” he says. I spin around to face him, my hands on my hips. “Oh, I think we are. You gave your ‘order,’ Alpha. I heard you. Now leave.”Gillian’s eyes darken. He takes a step toward me, and I instinctively take one back. I hate tha
Desiree’s POV I am walking toward the library, my mind still full of silver stars and pink silk, when a shadow moves near the arched doorway ahead.I stop. My skin pricks with a familiar, sharp warning. “You always did have a taste for the ruins, Desiree.”The smooth voices come in, sliding through the quietness. I had told Gillian earlier that I am going down a library road they just opened. L Lucius steps out from a corridor, leaning against a pillar with an effortless grace that mirrors his brother's, yet feels entirely different. Where Gillian is a thunderstorm, Lucius is a poisoned well…still, deep, and deadly.This is the first time I have seen him since I ran away. The last time we spoke, he was looking at me like a puzzle he couldn't wait to break.“And you always did have a taste for lurking in the dark, Lucius,” I say, without giving him the satisfaction of seeing my heart race.He chuckles and walks toward me. He stops just outside my personal space, his eyes scanning my
Desiree’s POV By the next morning, I had somehow become the palace’s unofficial event planner. I would like to say this happened because of my natural grace and charm. It did not. It happened because a ten-year-old tyrant with bright eyes and missing front teeth decided I am responsible for her birthday. According to Macy, it must be “the best day ever in the whole history of birthdays.”I stand in the middle of the sitting room outside her chambers. I am staring at three maids, two footmen, and a table covered in ribbon samples. There are enough decorative candles here to start a small war. I wonder exactly how my life led me to this moment.“Those ones are ugly.”I look down. Macy is sitting cross-legged on the rug with a cup of tea in her hand. She points dramatically at a set of pale gold ribbons as if they have personally insulted her.“They are not ugly,” I say.She looks up at me with deep disappointment. “They are boring.”I sigh. “Boring is not the same as ugly.”“It is if
Gillian’s POV The moment Kael steps aside and Elder Dickson enters Lucius's chamber, the air in the room changes into more suffocation and tension. Elder Dickson is not a man who you see without a reason. He always has his reasons for meeting up.He walks in confidently, like a man who believes a
Desiree's POV “You wouldn't dare!” That is all it took to allow Seraphina tag along to the coronation party. Lucius went against the idea of cutting ties with Dickson, reminding him of how he helped their father in one way or the other. The irony of life is almost laughable because you cannot t
Desiree's POV If someone had told me a week ago that I would willingly choose Eliana to accompany me anywhere outside Gillian's territory, I would have laughed in their face and tell them to their face ‘In your dreams’But here I amStanding at the entrance of one of the most extravagant boutiques
Desiree's POV “Darling!” I call, running up to Gillian amidst everyone in the room. I cling to Gillian's shoulder like he is the only solid thing in the room that keeps shifting under my feets. I can smell his scents in my lungs, dark cedar and smoke, something that makes him more unique, and fo












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.