Home / Male Adult / Mau Berapa Ronde? / Bab 25. Tips Yang Mantul

Share

Bab 25. Tips Yang Mantul

last update publish date: 2026-06-25 22:26:23

Raka terkejut. Hanya dengan memijat saja dia mendapatkan tips 5 juta rupiah. Ini sudah melebihi apa yang pernah dia bayangkan. Gaji sebulan bersih-bersih di panti pijat ini saja cuma lima juta dan sekarang uang itu dia dapatkan hanya dalam dua jam saja tanpa bekerja keras.

Pria itu tersenyum-senyum sendiri.

Tante Kalia bahkan jauh lebih pemurah dari tante Feli. Mata Raka semakin terbuka lebar kalau di dunia ini mencari uang tidaklah sesukar yang dia pikirkan selama ini.

“Raka!” panggil Dinda.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 25. Tips Yang Mantul

    Raka terkejut. Hanya dengan memijat saja dia mendapatkan tips 5 juta rupiah. Ini sudah melebihi apa yang pernah dia bayangkan. Gaji sebulan bersih-bersih di panti pijat ini saja cuma lima juta dan sekarang uang itu dia dapatkan hanya dalam dua jam saja tanpa bekerja keras.Pria itu tersenyum-senyum sendiri.Tante Kalia bahkan jauh lebih pemurah dari tante Feli. Mata Raka semakin terbuka lebar kalau di dunia ini mencari uang tidaklah sesukar yang dia pikirkan selama ini.“Raka!” panggil Dinda.“Ya ….” Raka mendekat dengan senyum lebar.“Tante Kalia memuji kamu. Dia suka dengan service hari ini. Apa kamu sudah ….” Dinda menggunakan tanda kutip dengan dua jari kanan dan kiri. “Sudah apa ya, Din?” Raka bersikap sok polos. “Itu ….” “Mijet maksudmu?” tanya Raka lagi dengan sikap yang lugu.“Ih, nyebelin pura-pura gak tahu.” Dinda dengan gemas mencubit pinggang Raka.“Auw … jangan dicubit nanti aku pengen loh,” ujar Raka dengan sikap manja.“Dasar kamu pintar sekali merayu. Gimana rasanya

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 24. Wasesa, Wira, Waras

    “Tante mau cincin ini?” tanya Raka. Ia terkejut mendengar permintaan Tante Nilam. Perempuan cantik dengan penampilan modis seperti dia, tidak mungkin menyukai cincin jelek yang ada di jarinya. Cincin itu bukan terbuat dari emas, tidak juga berhias batu berharga. Hanya sebuah besi tahan karat biasa saja dengan sebuah garis berwarna keemasan tepat di tengahnya. Mustahil ia menyukai bentuknya, kecuali ia mengetahui sesuatu seperti keunikan cincin yang dipakainya itu.Perempuan itu menganggukkan kepalanya. “Kamu mau jual berapa? Dua juta atau … tiga juta?” tawar Tante Nilam, “lima … lima juta!” “Ini cuma cincin biasa, Tan,” sahut Raka, “dan bukan untuk dijual.” “Raka. Ini bukan cincin biasa.” Tante Nilam menghembus keras dengan frustasi. “Ini … aku tahu cincin ini punya sejarah panjang hingga sampai di tanganmu.”Tante Nilam kembali menatap cincin yang melingkari jari Raka. Ia mengangguk dengan yakin. “Kalau tidak salah, di bagian dalam cincin ini ada grafir dengan bahasa kawi lama,

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 23. Ujian Dari Tante Nilam

    Raka berdiri di depan cermin kamar mandi. Ia menatap sosok gagah penuh karisma yang menatapnya balik. Ia masih tak bisa mempercayai bahwa itu adalah bayangan dirinya saat ini. Ia mengamati luka di dada dari pantulan cermin di depannya. Luka terbuka yang semalam dilihatnya, kini hanya terlihat seperti garis bilur berwarna kehitaman. Lagi-lagi cincin itu menunjukkan kehebatannya dengan keajaiban penyembuhannya yang sangat cepat. “Gila! Jangan-jangan … kalo aku mati pun, kamu bikin aku bangun lagi macem zombie,” gumamnya sambil melirik ke arah benda yang melingkar di jarinya. Ia bergidik ngeri memikirkan ucapannya sendiri. Bayangan menjadi mayat hidup membuatnya hampir muntah.Cepat ia menyalakan kran air, membiarkan dinginnya air shower membasuh tubuhnya dan meredam kegelisahan salah satu bagian tubuhnya karena godaan tiga gadis penghuni kos nya. …..Matahari sudah cukup tinggi saat Raka sudah siap di atas motornya. Semua CCTV sudah siaga, merekam semua yang bakal terjadi sepanjang

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 22. Susu Putih atau Susu Coklat?

    Glek! Suara Raka menelan ludah terdengar jelas oleh Wina. Pemuda itu menatap ke arah belahan dada itu nyaris tanpa berkedip.Padahal dia sudah pernah merasakan dua macam dada wanita, berukuran tanggung dan super besar. Namun, ternyata pria memang tidak pernah puas. Tangan pria itu gatal sekali, lidahnya pun terasa ingin berontak keluar dari kerangkeng giginya. Raka benar-benar ingin meremas dan merasakan kelembutan milik Wina. Apalagi dada itu tepat di hadapannya seolah sedang menantang. Kulit Wina yang putih mulus karena rajin suntik pemutih itu, seolah berkilauan di mata Raka.Namun, sebelum dia bisa memutuskan apa yang hendak dilakukannya. Suara lembut lainnya mengembalikan kesadaran Raka. “Kalian berdua ngapain?” Kali ini Sari si rambut panjang hitam kelam itu keluar sambil menguap.Raka mengerjapkan matanya beberapa kali dan menunduk. Entah mengapa hari ini dia suka dengan sikapnya yang malu-malu seperti ini daripada sok akrab. Buktinya Wina justru berani menggodanya.“Lagi na

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 21. Si Centil Wina

    Ibu kos memang mengetuk pintu kamarnya, tetapi tetap saja wanita itu langsung mendorong pintu kamar Raka. Perempuan cantik berusia empat puluhan itu langsung saja mendekati pemuda idamannya itu.“Kok sudah bobok jam segini, Sayang, lagi mau godain tante ya?” bisik Feli dengan manja. “Tante punya kejutan untukmu.” Perempuan itu melepaskan daster yang dikenakannya. Dia hendak memamerkan baju dalam berenda yang baru saja dibelinya. Pakaian berwarna merah itu membuat penampilannya semakin terlihat berani.“Tante Feli?” Raka menoleh dengan malas.Dia tadi membayangkan Luna. Gadis manis itu terlihat menarik dengan sikap malu-malunya. Namun, yang ada di depannya sekarang justru ibu kos dengan penampilan menantang.“Bagaimana menurutmu?” bisik tante Feli dengan senyum dan kerling mata yang memikat.“Cantik sekali, Tante.” Raka berkata dengan jujur.“Benarkah … tapi kok rasanya kamu gak serius?” Feli mengerucutkan bibirnya.

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 20. Luna Oh ... Luna

    Raka melangkah terhuyung masuk ke dalam kamarnya. Luna dengan wajah pucat mengikuti langkahnya. Tangannya menenteng kantong plastik berisi mie goreng duk duk untuk Raka. Ia masih mengawasi saat lelaki itu kesulitan membuka kunci kamarnya. “Raka, aku … aku minta maaf sudah melibatkanmu dalam masalah ini,” ucapnya sedikit ragu. Raka berhenti mencoba membuka kunci dengan satu tangannya. Ia berbalik dan menatap gadis cantik yang berdiri tak jauh darinya. Wajahnya yang biasanya ceria, justru terlihat sendu. Jelas menunjukkan penyesalannya. “Bantu aku buka pintunya.” Raka menggerakkan kepalanya ke arah pintu. Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya, Luna segera memutar kunci. Kunci tua yang agak berat ketika diputar dari lubangnya. Raka mendorong pintu itu dan masuk ke dalam kamarnya. Luna mengekor di belakangnya masih dengan rasa bersalah. “Aku … bantu obatin lukamu, ya,” tawar Luna setelah meletakkan bung

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 11. Obati Aku Dengan Kecupanmu

    Begal itu menusuk Raka lagi saat pria itu lengah lalu mundur dengan waspada. Dia berhasil menghindari tangan yang hendak menepisnya. Keberaniannya begal jelas dibarengi dengan sedikit bela diri dan seringnya berkelahi.Raka mencengkeram setir sepeda motor dengan keras. Dia merasakan sakit yang luar

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 13. Lukanya Hilang?

    Raka tertawa pelan melihat reaksi tante cantik bertubuh sexy itu. Matanya yang bulat itu terlihat seperti gadis lugu. “Bukannya tadi tante bilang kalo perempuan bisa mencapai klimaks berkali-kali?” goda Raka, “jadi … aku memang mesti nunjukin kalau laki-laki itu diciptakan kuat, bahkan bisa nemani

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 9. Ketangkap Lagi Basah

    Gumpalan kenyal di dada Lira benar-benar sebesar melon, menggelantung bebas dengan bulatan besarnya. Puncak berwarna kemerahan itu sudah mengeras, padahal Raka belum menyentuhnya sama sekali.Lira berlutut di depan Raka. Tangannya menggenggam tuasnya yang menegang sempurna. Gadis itu mengamati ukur

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 7. Mau Berapa Ronde?

    Raka meraih gundukan kenyal di dada wanita yang seharusnya hampir seumuran dengan ibunya itu. Tangannya meremas dengan liar. "Tentu saja, Tan. Rugi banget nolak rejeki." Pria muda itu tersenyum menggoda. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Aku bisa bebas uang sewa kamar, sekaligus bisa nikmatin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status