LOGIN“Hiyaa!” Ketiga pria itu dengan kompak berteriak dan langsung mengarahkan pukulannya ke Raka. Untung saja Raka dengan sigap mengelak, hingga ketiga pukulan yang mengarah ke satu titik itu bertemu dan saling beradu. Sesaat ketiga preman itu mengibaskan tangannya. Rasa sakit saat kepalan mereka beradu, membuat tangannya terasa kebas seketika. Tapi mereka bertiga masih tak putus asa. Lagi mereka menyerang dengan bersamaan kali ini dengan tiga titik yang berbeda. Namun kedua tangan Raka tetap melayani setiap pukulannya dengan gesit. Liukan tubuhnya saat menghindari setiap pukulan lawannya, jelas menunjukkan kemampuan bela dirinya yang tinggi. Ketiga preman itu tak juga menyerah, mereka kembali mengayunkan tinjunya masih secara bersamaan. Dan Raka masih melayani dengan gerakan cepat dan terlatih untuk menghindar dan menangkis.“Goblok!” teriak lelaki dengan tato naga tadi. “Kalian masih mau ladeni dia bermain? Habisi dia! Kita harus cepat pulang!” Ketiga preman itu mengeluarkan pisau d
Raka pulang dari panti pijat dengan keinginan yang tertahan. Hari ini tante Sisca memberinya pemandangan luar biasa, tetapi tak memberinya kesempatan untuk merasakan. Dia harus cari tante Feli untuk menyalurkan rasa yang mau meledak di dalam hatinya. Urusan mentraktir Vero bisa nanti saja. Tambahan tips dua juta dari tante Sisca, sudah cukup lumayan.Tunggakan uang kuliah selama enam bulan ini pasti akan segera terlunasi. Lalu, dia akan membeli motor baru, jam tangan baru, pakaian baru, bahkan rumah baru. Raka tersenyum-senyum sambil mengecup cincinnya.Pemuda itu baru saja menjagrak miring motornya dan menutup pintu gerbang kos-kosan saat suara ponselnya berbunyi. Tapi ia tak segera mengangkatnya. Setelah memarkir dan mengunci ganda motornya, lelaki muda itu merogoh saku dan mengeluarkan benda pipih dari dalamnya. Melihat nama Lira di layarnya, ia bergegas menggeser tombol hijau di layarnya. “Ka, kamu kemana aja … kok lama nggak munc
Klien Raka yang kedua hari ini adalah tante Sisca. Perempuan itu adalah istri seorang pengusaha ban mobil. Dia mempunyai dua orang anak yang sedang sekolah di luar negeri.Tante Sisca dengan rambutnya yang panjang lurus berwarna hitam, sangat kontras dengan kulitnya yang seputih salju. Perempuan keturunan ini bahkan sangat cantik hanya dengan riasan tipisnya. “Kamu anak baru yang direkomendasikan Nilam?” Suara Sisca begitu lembut dan menggoda. Glek. Raka menelan ludah. “I-iya Tante.” Kenapa jadi dia yang gugup, bukannya sang klien.“Hmm … tampangmu boleh juga. Badanmu … cukup menarik.” Tante Sisca berjalan mengelilingi Raka.“Aku jadi penasaran, apa yang di bawah sana sama bersih dan besarnya kayak dadamu?” tanyanya lagi tanpa perlu jawaban.Raka tersenyum tipis. Dari apa yang dipelajarinya, tidak semua pertanyaan customer harus dijawab. Bersama dengan tante Sisca yang terlihat mendominasi ini, pemuda itu menggunakan trik yang berbeda dari tante Kalia.Saat di desa dulu, ayah dan ib
Raka terkejut. Hanya dengan memijat saja dia mendapatkan tips 5 juta rupiah. Ini sudah melebihi apa yang pernah dia bayangkan. Gaji sebulan bersih-bersih di panti pijat ini saja cuma lima juta dan sekarang uang itu dia dapatkan hanya dalam dua jam saja tanpa bekerja keras.Pria itu tersenyum-senyum sendiri.Tante Kalia bahkan jauh lebih pemurah dari tante Feli. Mata Raka semakin terbuka lebar kalau di dunia ini mencari uang tidaklah sesukar yang dia pikirkan selama ini.“Raka!” panggil Dinda.“Ya ….” Raka mendekat dengan senyum lebar.“Tante Kalia memuji kamu. Dia suka dengan service hari ini. Apa kamu sudah ….” Dinda menggunakan tanda kutip dengan dua jari kanan dan kiri. “Sudah apa ya, Din?” Raka bersikap sok polos. “Itu ….” “Mijet maksudmu?” tanya Raka lagi dengan sikap yang lugu.“Ih, nyebelin pura-pura gak tahu.” Dinda dengan gemas mencubit pinggang Raka.“Auw … jangan dicubit nanti aku pengen loh,” ujar Raka dengan sikap manja.“Dasar kamu pintar sekali merayu. Gimana rasanya
“Tante mau cincin ini?” tanya Raka. Ia terkejut mendengar permintaan Tante Nilam. Perempuan cantik dengan penampilan modis seperti dia, tidak mungkin menyukai cincin jelek yang ada di jarinya. Cincin itu bukan terbuat dari emas, tidak juga berhias batu berharga. Hanya sebuah besi tahan karat biasa saja dengan sebuah garis berwarna keemasan tepat di tengahnya. Mustahil ia menyukai bentuknya, kecuali ia mengetahui sesuatu seperti keunikan cincin yang dipakainya itu.Perempuan itu menganggukkan kepalanya. “Kamu mau jual berapa? Dua juta atau … tiga juta?” tawar Tante Nilam, “lima … lima juta!” “Ini cuma cincin biasa, Tan,” sahut Raka, “dan bukan untuk dijual.” “Raka. Ini bukan cincin biasa.” Tante Nilam menghembus keras dengan frustasi. “Ini … aku tahu cincin ini punya sejarah panjang hingga sampai di tanganmu.”Tante Nilam kembali menatap cincin yang melingkari jari Raka. Ia mengangguk dengan yakin. “Kalau tidak salah, di bagian dalam cincin ini ada grafir dengan bahasa kawi lama,
Raka berdiri di depan cermin kamar mandi. Ia menatap sosok gagah penuh karisma yang menatapnya balik. Ia masih tak bisa mempercayai bahwa itu adalah bayangan dirinya saat ini. Ia mengamati luka di dada dari pantulan cermin di depannya. Luka terbuka yang semalam dilihatnya, kini hanya terlihat seperti garis bilur berwarna kehitaman. Lagi-lagi cincin itu menunjukkan kehebatannya dengan keajaiban penyembuhannya yang sangat cepat. “Gila! Jangan-jangan … kalo aku mati pun, kamu bikin aku bangun lagi macem zombie,” gumamnya sambil melirik ke arah benda yang melingkar di jarinya. Ia bergidik ngeri memikirkan ucapannya sendiri. Bayangan menjadi mayat hidup membuatnya hampir muntah.Cepat ia menyalakan kran air, membiarkan dinginnya air shower membasuh tubuhnya dan meredam kegelisahan salah satu bagian tubuhnya karena godaan tiga gadis penghuni kos nya. …..Matahari sudah cukup tinggi saat Raka sudah siap di atas motornya. Semua CCTV sudah siaga, merekam semua yang bakal terjadi sepanjang
Begal itu menusuk Raka lagi saat pria itu lengah lalu mundur dengan waspada. Dia berhasil menghindari tangan yang hendak menepisnya. Keberaniannya begal jelas dibarengi dengan sedikit bela diri dan seringnya berkelahi.Raka mencengkeram setir sepeda motor dengan keras. Dia merasakan sakit yang luar
Raka meraih gundukan kenyal di dada wanita yang seharusnya hampir seumuran dengan ibunya itu. Tangannya meremas dengan liar. "Tentu saja, Tan. Rugi banget nolak rejeki." Pria muda itu tersenyum menggoda. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Aku bisa bebas uang sewa kamar, sekaligus bisa nikmatin
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya







