Mag-log inRaka melangkah terhuyung masuk ke dalam kamarnya. Luna dengan wajah pucat mengikuti langkahnya. Tangannya menenteng kantong plastik berisi mie goreng duk duk untuk Raka.
Ia masih mengawasi saat lelaki itu kesulitan membuka kunci kamarnya.“Raka, aku … aku minta maaf sudah melibatkanmu dalam masalah ini,” ucapnya sedikit ragu.Raka berhenti mencoba membuka kunci dengan satu tangannya. Ia berbalik dan menatap gadis cantik yang berdiri tak jauh darinya.WaIbu kos memang mengetuk pintu kamarnya, tetapi tetap saja wanita itu langsung mendorong pintu kamar Raka. Perempuan cantik berusia empat puluhan itu langsung saja mendekati pemuda idamannya itu.“Kok sudah bobok jam segini, Sayang, lagi mau godain tante ya?” bisik Feli dengan manja. “Tante punya kejutan untukmu.” Perempuan itu melepaskan daster yang dikenakannya. Dia hendak memamerkan baju dalam berenda yang baru saja dibelinya. Pakaian berwarna merah itu membuat penampilannya semakin terlihat berani.“Tante Feli?” Raka menoleh dengan malas.Dia tadi membayangkan Luna. Gadis manis itu terlihat menarik dengan sikap malu-malunya. Namun, yang ada di depannya sekarang justru ibu kos dengan penampilan menantang.“Bagaimana menurutmu?” bisik tante Feli dengan senyum dan kerling mata yang memikat.“Cantik sekali, Tante.” Raka berkata dengan jujur.“Benarkah … tapi kok rasanya kamu gak serius?” Feli mengerucutkan bibirnya.
Raka melangkah terhuyung masuk ke dalam kamarnya. Luna dengan wajah pucat mengikuti langkahnya. Tangannya menenteng kantong plastik berisi mie goreng duk duk untuk Raka. Ia masih mengawasi saat lelaki itu kesulitan membuka kunci kamarnya. “Raka, aku … aku minta maaf sudah melibatkanmu dalam masalah ini,” ucapnya sedikit ragu. Raka berhenti mencoba membuka kunci dengan satu tangannya. Ia berbalik dan menatap gadis cantik yang berdiri tak jauh darinya. Wajahnya yang biasanya ceria, justru terlihat sendu. Jelas menunjukkan penyesalannya. “Bantu aku buka pintunya.” Raka menggerakkan kepalanya ke arah pintu. Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya, Luna segera memutar kunci. Kunci tua yang agak berat ketika diputar dari lubangnya. Raka mendorong pintu itu dan masuk ke dalam kamarnya. Luna mengekor di belakangnya masih dengan rasa bersalah. “Aku … bantu obatin lukamu, ya,” tawar Luna setelah meletakkan bung
Luna segera bersembunyi di balik punggung Raka. Raka dapat merasakan tangan gemetarnya mencengkeram di belakang kaos Raka. Dari arah dalam gang sempit itu, muncul lima orang preman berbadan gempal. Dua di antara mereka terlihat familiar di mata Raka. “Heh! Minggir! Nggak usah sok jadi pahlawan kesiangan,” teriak salah satu preman itu dengan suara kencang. Raka langsung melihat ke atas langit. “Udah malam, Bang. Bukan siang,” seloroh Raka dengan santainya, “lagian … abang-abang semua nggak malu, gangguin satu cewek rame-rame gini?” “Bacot!” teriak seorang dari mereka, lagi, “Minggir lo! Lo nggak ada urusan sama kami.” Raka mengerutkan keningnya. Ia menunjuk satu orang yang berdiri di belakang pria garang di depannya. Ada senyum kecil di bibirnya. “Udah sembuh yang kemaren, Bang? Mau lagi?” Lelaki dengan luka di bagian pipi kiri itu mengeraskan rahangnya. Sontak kawan di sisinya menoleh ke arahnya. “Oh … j
Raka masih terpaku di posisinya. Dia melihat bagaimana tante Sofi menengadahkan wajahnya dengan tatapan manja pada Ardy. Pria itu juga membalas dengan sorot lembut yang tampak sarat dengan cinta.Ardy mengangkat dagu tante Sofi. Bibir perempuan itu terbuka dan matanya memejam. Sikap itu sudah menunjukkan izin pada pria kekar yang mendekapnya, untuk bebas bertindak.Persis seperti yang ada di pikiran Raka, Ardy mengecup lembut bibir tante Sofi. Pria itu lalu melirik Raka sebelum melumatnya. Raka yang tahu pasti akan ada adegan plus- plus nantinya, menjadi makin bersemangat melihat adu mulut di depannya. Pemuda itu menjilat bibirnya, dia juga jadi kepingin merasakan bibir lembut tante Sofi. “Sudah cukup Ardy, malu ada orang baru,” ujar tante Sofi dengan manja. “Ya, Tante,” sahut Ardy menuruti, “mau langsung pijat atau mandi dulu?” bisik therapist itu lembut. “Tentu saja mandi dulu.” Sofi menjawab dengan manja.“Pilihan
Raka masuk ke sebuah ruangan. Dia bersemangat sekali karena akan latihan memijat perempuan. Kulit halus dan aroma wangi sudah ada dalam bayangan pria itu. Dia berjalan sambil tersenyum-senyum sendiri. Raka melihat beberapa therapist pria yang sedang duduk istirahat menunggu klien. Mereka semua pria yang tampan, berkulit bersih dan tampak segar.Raka jadi percaya diri. Pria-pria itu juga menatapnya dan tersenyum ramah. Dia sudah membayangkan kalau mereka semua pasti punya pengalaman yang harus diserap olehnya.Dinda membuka sebuah ruangan. Raka yang masuk merasa heran. Ruangan ini hanya ada televisi dan sofa. Di sudut ada meja dengan cemilan di atasnya, juga minuman.“Kok tidak ada tempat tidurnya?” tanya Raka tak mengerti.“Mas kan masih latihan, jadi awalnya baca buku ini lalu belajar teknik melalui video, setelah hapal baru praktek.” Dinda menjelaskan dengan lembut.“Ooo … aku pikir langsung praktek sama kamu, Mbak Din.” Raka
Wanita berusia tiga puluhan itu segera mengalihkan perhatiannya dari buku di hadapannya. Senyuman langsung mengembang di bibirnya saat melihat sosok yang muncul dari pintunya. Raka membalas senyuman itu dengan canggung. Tante Nilam sangat cantik. Kulitnya putih bersih, dengan satu tahi lalat kecil di sudut matanya. Perawakannya yang langsing dan kulitnya kencang, jelas menunjukkan perawatannya yang bagus. Jika dibandingkan dengan gori … ah, Vero. Setiap pria normal, sudah pasti lebih memilih Tante cantik yang satu ini. Dia pintar merawat diri, sudah pasti pintar merawat suaminya.“Ka, ngapain lo bengong di situ, ayo masuk!” Suara cempreng Vero langsung menusuk telinga Raka. Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, Raka langsung duduk di sisi Vero, berhadapan langsung dengan Tante Nilam. “Ini temanku Raka.” Vero memperkenalkan diri, “dan Raka. Kenalin, ini Tante Nilam, dia sudah kuanggap mama sendiri.” Raka mengulurkan tangannya. Nilam melirik tangan yang terulur di depannya dan tanpa r
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan
Raka tertawa pelan melihat reaksi tante cantik bertubuh sexy itu. Matanya yang bulat itu terlihat seperti gadis lugu. “Bukannya tadi tante bilang kalo perempuan bisa mencapai klimaks berkali-kali?” goda Raka, “jadi … aku memang mesti nunjukin kalau laki-laki itu diciptakan kuat, bahkan bisa nemani
Begal itu menusuk Raka lagi saat pria itu lengah lalu mundur dengan waspada. Dia berhasil menghindari tangan yang hendak menepisnya. Keberaniannya begal jelas dibarengi dengan sedikit bela diri dan seringnya berkelahi.Raka mencengkeram setir sepeda motor dengan keras. Dia merasakan sakit yang luar







