LOGINIbu kos memang mengetuk pintu kamarnya, tetapi tetap saja wanita itu langsung mendorong pintu kamar Raka. Perempuan cantik berusia empat puluhan itu langsung saja mendekati pemuda idamannya itu.
“Kok sudah bobok jam segini, Sayang, lagi mau godain tante ya?” bisik Feli dengan manja. “Tante punya kejutan untukmu.”Perempuan itu melepaskan daster yang dikenakannya. Dia hendak memamerkan baju dalam berenda yang baru saja dibelinya. Pakaian berwarna merah itu membuat penampilanGlek! Suara Raka menelan ludah terdengar jelas oleh Wina. Pemuda itu menatap ke arah belahan dada itu nyaris tanpa berkedip.Padahal dia sudah pernah merasakan dua macam dada wanita, berukuran tanggung dan super besar. Namun, ternyata pria memang tidak pernah puas. Tangan pria itu gatal sekali, lidahnya pun terasa ingin berontak keluar dari kerangkeng giginya. Raka benar-benar ingin meremas dan merasakan kelembutan milik Wina. Apalagi dada itu tepat di hadapannya seolah sedang menantang. Kulit Wina yang putih mulus karena rajin suntik pemutih itu, seolah berkilauan di mata Raka.Namun, sebelum dia bisa memutuskan apa yang hendak dilakukannya. Suara lembut lainnya mengembalikan kesadaran Raka. “Kalian berdua ngapain?” Kali ini Sari si rambut panjang hitam kelam itu keluar sambil menguap.Raka mengerjapkan matanya beberapa kali dan menunduk. Entah mengapa hari ini dia suka dengan sikapnya yang malu-malu seperti ini daripada sok akrab. Buktinya Wina justru berani menggodanya.“Lagi na
Ibu kos memang mengetuk pintu kamarnya, tetapi tetap saja wanita itu langsung mendorong pintu kamar Raka. Perempuan cantik berusia empat puluhan itu langsung saja mendekati pemuda idamannya itu.“Kok sudah bobok jam segini, Sayang, lagi mau godain tante ya?” bisik Feli dengan manja. “Tante punya kejutan untukmu.” Perempuan itu melepaskan daster yang dikenakannya. Dia hendak memamerkan baju dalam berenda yang baru saja dibelinya. Pakaian berwarna merah itu membuat penampilannya semakin terlihat berani.“Tante Feli?” Raka menoleh dengan malas.Dia tadi membayangkan Luna. Gadis manis itu terlihat menarik dengan sikap malu-malunya. Namun, yang ada di depannya sekarang justru ibu kos dengan penampilan menantang.“Bagaimana menurutmu?” bisik tante Feli dengan senyum dan kerling mata yang memikat.“Cantik sekali, Tante.” Raka berkata dengan jujur.“Benarkah … tapi kok rasanya kamu gak serius?” Feli mengerucutkan bibirnya.
Raka melangkah terhuyung masuk ke dalam kamarnya. Luna dengan wajah pucat mengikuti langkahnya. Tangannya menenteng kantong plastik berisi mie goreng duk duk untuk Raka. Ia masih mengawasi saat lelaki itu kesulitan membuka kunci kamarnya. “Raka, aku … aku minta maaf sudah melibatkanmu dalam masalah ini,” ucapnya sedikit ragu. Raka berhenti mencoba membuka kunci dengan satu tangannya. Ia berbalik dan menatap gadis cantik yang berdiri tak jauh darinya. Wajahnya yang biasanya ceria, justru terlihat sendu. Jelas menunjukkan penyesalannya. “Bantu aku buka pintunya.” Raka menggerakkan kepalanya ke arah pintu. Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya, Luna segera memutar kunci. Kunci tua yang agak berat ketika diputar dari lubangnya. Raka mendorong pintu itu dan masuk ke dalam kamarnya. Luna mengekor di belakangnya masih dengan rasa bersalah. “Aku … bantu obatin lukamu, ya,” tawar Luna setelah meletakkan bung
Luna segera bersembunyi di balik punggung Raka. Raka dapat merasakan tangan gemetarnya mencengkeram di belakang kaos Raka. Dari arah dalam gang sempit itu, muncul lima orang preman berbadan gempal. Dua di antara mereka terlihat familiar di mata Raka. “Heh! Minggir! Nggak usah sok jadi pahlawan kesiangan,” teriak salah satu preman itu dengan suara kencang. Raka langsung melihat ke atas langit. “Udah malam, Bang. Bukan siang,” seloroh Raka dengan santainya, “lagian … abang-abang semua nggak malu, gangguin satu cewek rame-rame gini?” “Bacot!” teriak seorang dari mereka, lagi, “Minggir lo! Lo nggak ada urusan sama kami.” Raka mengerutkan keningnya. Ia menunjuk satu orang yang berdiri di belakang pria garang di depannya. Ada senyum kecil di bibirnya. “Udah sembuh yang kemaren, Bang? Mau lagi?” Lelaki dengan luka di bagian pipi kiri itu mengeraskan rahangnya. Sontak kawan di sisinya menoleh ke arahnya. “Oh … j
Raka masih terpaku di posisinya. Dia melihat bagaimana tante Sofi menengadahkan wajahnya dengan tatapan manja pada Ardy. Pria itu juga membalas dengan sorot lembut yang tampak sarat dengan cinta.Ardy mengangkat dagu tante Sofi. Bibir perempuan itu terbuka dan matanya memejam. Sikap itu sudah menunjukkan izin pada pria kekar yang mendekapnya, untuk bebas bertindak.Persis seperti yang ada di pikiran Raka, Ardy mengecup lembut bibir tante Sofi. Pria itu lalu melirik Raka sebelum melumatnya. Raka yang tahu pasti akan ada adegan plus- plus nantinya, menjadi makin bersemangat melihat adu mulut di depannya. Pemuda itu menjilat bibirnya, dia juga jadi kepingin merasakan bibir lembut tante Sofi. “Sudah cukup Ardy, malu ada orang baru,” ujar tante Sofi dengan manja. “Ya, Tante,” sahut Ardy menuruti, “mau langsung pijat atau mandi dulu?” bisik therapist itu lembut. “Tentu saja mandi dulu.” Sofi menjawab dengan manja.“Pilihan
Raka masuk ke sebuah ruangan. Dia bersemangat sekali karena akan latihan memijat perempuan. Kulit halus dan aroma wangi sudah ada dalam bayangan pria itu. Dia berjalan sambil tersenyum-senyum sendiri. Raka melihat beberapa therapist pria yang sedang duduk istirahat menunggu klien. Mereka semua pria yang tampan, berkulit bersih dan tampak segar.Raka jadi percaya diri. Pria-pria itu juga menatapnya dan tersenyum ramah. Dia sudah membayangkan kalau mereka semua pasti punya pengalaman yang harus diserap olehnya.Dinda membuka sebuah ruangan. Raka yang masuk merasa heran. Ruangan ini hanya ada televisi dan sofa. Di sudut ada meja dengan cemilan di atasnya, juga minuman.“Kok tidak ada tempat tidurnya?” tanya Raka tak mengerti.“Mas kan masih latihan, jadi awalnya baca buku ini lalu belajar teknik melalui video, setelah hapal baru praktek.” Dinda menjelaskan dengan lembut.“Ooo … aku pikir langsung praktek sama kamu, Mbak Din.” Raka
Raka tertawa pelan melihat reaksi tante cantik bertubuh sexy itu. Matanya yang bulat itu terlihat seperti gadis lugu. “Bukannya tadi tante bilang kalo perempuan bisa mencapai klimaks berkali-kali?” goda Raka, “jadi … aku memang mesti nunjukin kalau laki-laki itu diciptakan kuat, bahkan bisa nemani
Begal itu menusuk Raka lagi saat pria itu lengah lalu mundur dengan waspada. Dia berhasil menghindari tangan yang hendak menepisnya. Keberaniannya begal jelas dibarengi dengan sedikit bela diri dan seringnya berkelahi.Raka mencengkeram setir sepeda motor dengan keras. Dia merasakan sakit yang luar
Gumpalan kenyal di dada Lira benar-benar sebesar melon, menggelantung bebas dengan bulatan besarnya. Puncak berwarna kemerahan itu sudah mengeras, padahal Raka belum menyentuhnya sama sekali.Lira berlutut di depan Raka. Tangannya menggenggam tuasnya yang menegang sempurna. Gadis itu mengamati ukur
Raka meraih gundukan kenyal di dada wanita yang seharusnya hampir seumuran dengan ibunya itu. Tangannya meremas dengan liar. "Tentu saja, Tan. Rugi banget nolak rejeki." Pria muda itu tersenyum menggoda. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Aku bisa bebas uang sewa kamar, sekaligus bisa nikmatin







