แชร์

Bab 122

ผู้เขียน: Kak Han
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-07 21:22:22

Perjalanan pulang di dalam mobil Lyra terasa jauh lebih tenang bagi Maudy. Dia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menatap deretan ruko yang dilewati dengan pandangan yang tidak lagi kosong. Di dalam dadanya, masih terasa sisa hangat dekapan Bayu, sebuah energi baru yang membuatnya merasa sanggup menghadapi monster apa pun yang menunggu di rumah.

​Namun, Maudy tahu ia tidak bisa pulang dengan tangan hampa. Ia harus memainkan peran istri yang baru saja bersenang-senang dengan teman agar sa
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 140

    Setelah Cindy keluar, Maudy segera melangkah menjauh, menciptakan jarak yang cukup lebar di antara dirinya dengan Bayu. Maudy berdiri di dekat jendela besar, membelakangi Bayu, seolah berharap udara sejuk di luar jendela itu bisa membantunya mendinginkan kepala yang terasa panas. DIa cukup mengenali Bayu. Pria itu selalu menggunakan pesonanya untuk membungkam logika Maudy. Dan kali ini, Maudy tidak ingin luluh begitu saja sebelum mendapatkan kepastian.​"Sepertinya memang ini yang kamu inginkan, kan? Memasang penjaga gerbang yang cantik, muda, dan begitu dedikatif sampai-sampai tidak membiarkan siapa pun mendekatimu. Kalian pasti akan sangat sering berduaan di ruangan ini, membahas berkas sampai larut malam!” seru Maudy tanpa menoleh. Suaranya terdengar datar, tapi sangat tajam.​Bayu menghela napas panjang, dja melangkah pelan mendekati Maudy. Namun berhenti sekitar satu meter di belakangnya untuk menghormati jarak yang dibuat wanita itu. "Sayang, tolonglah... jangan bahas Cindy la

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 139

    Tautan bibir yang penuh gejolak itu seolah menghentikan waktu, membuat riuh rendah dunia di luar ruangan sana terasa sangat jauh. Napas mereka memburu, saling bersahutan di tengah keheningan ruang kerja yang luas. Bayu masih enggan melepaskan dekapannya, seolah ingin memastikan bahwa Maudy benar-benar berada dalam jangkauan perlindungannya. Namun, momen privasi yang intim itu mendadak pecah oleh suara ketukan pintu yang tajam dan beruntun.​Tok! Tok! Tok!​Maudy tersentak. Kesadarannya kembali seketika. Dengan napas yang masih tersengal, dia segera mendorong bahu Bayu, menciptakan jarak di antara mereka. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena amarah, melainkan karena rasa terkejut yang bercampur dengan kecemasan akan harga dirinya jika ada yang melihat mereka dalam keadaan seperti ini.​"Maudy, tunggu..." bisik Bayu, suaranya terdengar serak dan berat.​Maudy tidak menggubris. Dengan gerakan cepat dan sedikit panik, dia segera menghampiri cermin besar yang tergantung di dindin

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 138

    ​Maudy mengepalkan tangannya di samping tubuh. Rasanya sungguh ironis. Di gedung di mana dia dulu memutuskan kebijakan-kebijakan besar, di mana dia dulu dihormati sebagai puncak pimpinan. Tapi kini dia harus berhadapan dengan seorang sekretaris yang baru seumur jagung tapi memiliki keangkuhan setinggi langit. Maudy ingin sekali membalas, ingin sekali menyebutkan bahwa ia tahu setiap sudut rahasia perusahaan ini, bahkan kode akses lift pribadi Bayu yang ada di balik punggung Cindy.​Namun, Maudy teringat posisinya. Ia adalah istri sah Rio yang masih resmi di mata hukum. Jika dia membuat keributan di sini, atau jika dia terang-terangan menunjukkan kedekatannya dengan Bayu, maka Cindy yang jelas-jelas terlihat licik ini, pasti akan menggunakan informasi itu untuk bergosip. Dan gosip di kantor sebesar ini bisa sampai ke telinga Rio dalam hitungan jam.​"Kamu sekretaris baru, kan? Namamu Cindy. Saya sarankan, sebagai orang baru, belajarlah untuk tidak menilai buku dari sampulnya. Dan bela

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 137

    Matahari pagi menyinari lobi gedung perusahaan milik Bayu, memantulkan cahaya pada lantai marmer yang dulu sangat sering dipijak oleh Maudy. Melangkah masuk ke gedung ini bagi Maudy adalah perjalanan menyusuri lorong waktu. Meskipun papan nama perusahaan kini telah berganti kembali ke identitas aslinya di bawah kepemilikan Bayu, setiap sudut ruangan ini masih menyimpan memori tentang bagaimana Maudy dulu menjabat sebagai CEO, mengelola setiap inci bisnis ini saat masih berada di bawah kekuasaan Ayah mertuanya, Haris. ​Beberapa karyawan lama yang sedang berada di lobi tampak menghentikan aktivitas mereka. Bisik-bisik kagum terdengar di telinga Maudy. "Itu Bu Maudy, kan?" ucap salah satu staf senior yang kemudian memberanikan diri mendekat dan memberikan sapaan hormat. “Bu Maudy, selamat datang kembali. Sudah lama sekali Bu Maudy meninggalkan perusahaan ini,” “Iya. Memang sejak saya hamil waktu itu, saya berhenti bekerja. Ditambah lagi ayah saya meninggal, daaan…. Saya juga mengalam

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 136

    Rio menarik napas panjang, mencoba membusungkan dadanya kembali di hadapan para tetangga yang terus berbisik-bisik sinis. Urat di lehernya menegang, tanda bahwa ego pria itu sedang terluka hebat. Bukan Rio namanya jika ia membiarkan dirinya terpojok begitu saja. Dengan licik, dia mengalihkan tatapan tajamnya dari Maudy menuju sang ibu mertua yang masih berdiri bersandar pada lengan putrinya.​"Ibu, jangan diam saja. Jelaskan pada mereka, jelaskan pada putri kesayanganmu ini... kenapa Ibu menyerahkan semua aset itu padaku? Bukankah Ibu sendiri yang sangat antusias saat menandatanganinya? Bukankah Ibu yang memohon padaku untuk menyelamatkan masa depan keluarga ini?" panggil Rio dengan nada yang sengaja dibuat lebih lembut namun sarat akan ancaman terselubung.​Rio melangkah mendekat, mencoba menembus pertahanan Maudy. Sementara Maudy, dengan sigap dia menahan langkah Rio agar tidak mendekati Ibunya.“Jangan mendekat!” bentak Maudy. Rio tidak menggubris. Dia terus mendekat ke arah Ibu me

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 135

    Maudy menarik napas dalam, mengabaikan eksistensi Rio yang terus mengoceh di belakangnya seperti bayangan yang tak diinginkan. Dia lekas keluar dari ruangan itu, lalu segera memandu ibunya masuk ke dalam taksi yang telah dipesan Bayu sebelumnya. “Maudy, apa kamu tidak dengar! Aku masih belum selesai bicara!” geram Rio, karena Maudy dan Ibunya mengabaikan omongannya. Tapi, Maudy sama sekali tidak gentar. Apalagi saat itu suasana Rumah Sakit sedang ramai. Maudy berpikir, jika Rio sampai bertindak nekat, dia akan berteriak meminta tolong.“Ayo Bu kita masuk. Jangan dengarkan Rio!” bisik Maudy pada Ibunya. Melihat Maudy masuk taksi dan segera berlalu, Rio berencana untuk membuntuti. Rio penasaran kemana Maudy akan pergi. Sepanjang perjalanan, pandangan mata Rio tidak sedikit pun lepas dari keberadaan taksi yang dinaiki Maudy.​Saat taksi berhenti di depan sebuah rumah minimalis modern yang asri di kawasan perumahan yang tenang, Maudy turun dan membantu ibunya. Rio pun mengerem mendadak

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 68

    Di lain tempat, di ruang interogasi yang pengap dan berpenerangan redup itu, suasana terasa sangat dingin. Tiga pria berjaket hitam yang semalam mencoba membakar kontrakan Bayu duduk membisu. Borgol di tangan mereka beradu dengan meja besi, menimbulkan bunyi gemerincing yang menambah ketegangan.​S

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 67

    ​Pagi itu, sinar matahari yang masuk lewat jendela ruang makan rumah orang tua Maudy terasa begitu menyengat. Akan tetapi, suasana di dalamnya justru terasa sedingin es. Di atas meja, sebuah televisi layar datar menayangkan berita pagi yang memperlihatkan kerumunan polisi di sebuah gang sempit. Nam

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 66

    “Jangan banyak bacot! Ajalmu akan segera tiba!” seru para lelaki bertubuh kekar dengan memakai topeng tersebut. Mereka berusaha menggertak Bayu, tapi Bayu sama sekali tifak gentar.“Wah, hebat. Kalian peramal ya? Kok bisa tau kapan aku mati? Jangan jangan, kalian yang akan mati?” sahut Bayu dengan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 65

    Malam itu, Maudy duduk di tepi tempat tidurnya dengan nafas yang memburu. Keputusannya sudah bulat. Ia tidak bisa lagi terbelenggu dalam pernikahan yang hanya didasari oleh transaksi bisnis dan ancaman. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun sorot mata yang tajam, ia menekan nomor Rio.​Hanya but

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status