MasukHalo pembaca semua… Sembari menunggu kisah Bayu dan Maudy, bisa baca novel rekomendasi Author. Judulnya "Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya". Karya : Author Callme_Tata. Terima kasih.
“Mas, sakit Mas Bayu….” teriak Cindy selama perjalanan menuju ke Rumah Sakit.“Tahan Cindy. Lain kali, jangan coba mengulangi tindakan bodoh seperti ini,” sahut Bayu. Di tengah kepanikannya, dia masih berusaha untuk menasehati Cindy.Setelah melakukan perjalanan selama beberapa menit, mereka akhirnya tiba di Rumah Sakit.Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman saat mereka berada di dalam ruang tindakan yang serba putih. Suasana begitu mencekam, hanya didominasi oleh rintihan kecil Cindy yang sesekali pecah saat perawat mulai membersihkan luka robek di lengannya. Cindy tampak sangat pucat, keringat dingin membasahi dahi dan pelipisnya. Sejak tadi jemarinya mencengkeram tangan kanan Bayu dengan kekuatan yang luar biasa, seolah-olah jika dia melepaskannya sedikit saja, dia akan tenggelam dalam kegelapan.Maudy berdiri mematung di sudut ruangan, hanya beberapa langkah dari ranjang tindakan. Menyaksikan pemandangan itu, ada rasa sesak yang perlahan merayapi dadanya. DIa menatap
Kepanikan yang luar biasa meledak dalam sekejap mata. Ruangan yang tadinya menjadi saksi bisu perdebatan emosional itu kini berubah menjadi tempat kejadian perkara yang mengerikan. Bayu tidak membuang waktu lagi. Dia segera melepas jasnya, melilitkannya dengan kencang pada lengan Cindy yang terus mengeluarkan darah segar untuk menghambat pendarahan.Tanpa memedulikan noda merah yang kini mengotori kemeja putihnya sendiri, Bayu mengangkat tubuh Cindy yang mulai lemas ke dalam dekapannya."Maudy, buka pintunya! Cepat!" perintah Bayu dengan suara yang bergetar namun penuh otoritas.Maudy, dengan wajahnya yang pucat pasi dan tangannya masih gemetar hebat, segera berlari membukakan pintu. Mereka berdua menerobos kerumunan karyawan yang memenuhi koridor dengan wajah penuh tanda tanya dan ketakutan. Bayu melangkah lebar, mengabaikan bisik-bisik yang mulai menjalar seperti api di atas rumput kering, menuju lift khusus petinggi perusahaan.Di dalam lift yang bergerak turun dengan cepat, su
Suasana di dalam ruangan itu kini berubah menjadi horor yang nyata. Bau logam dari gunting perak itu seolah tercium tajam di antara aroma kopi dan parfum yang memenuhi ruangan. Maudy, yang berdiri beberapa langkah di belakang Bayu, mencoba mengatur napasnya yang mulai tersengal. Matanya bergerak gelisah, menatap Cindy yang sudah kehilangan kendali diri, lalu beralih ke arah Bayu.Dengan gerakan yang sangat halus, Maudy menyentuh lengan Bayu, memberikan kode melalui tatapan matanya agar Bayu melangkah maju secara perlahan. Dia berharap Bayu bisa merayu Cindy, membujuknya dengan kata-kata manis agar benda tajam itu menjauh dari tubuhnya."Cindy... tolong. Letakkan guntingnya. Kita bicara lagi, oke? Apa yang kamu mau? Kamu mau liburan? Kamu mau mobil baru? Apa pun, Cindy. Aku akan berikan apa pun asal kamu letakkan benda itu,” suara Bayu kini merendah, terdengar sangat hati-hati seperti sedang membujuk seekor binatang yang terluka.Cindy menggelengkan kepala dengan kuat, membuat rambu
Suasana di ruangan itu yang tadinya tegang kini berubah menjadi sangat mencekam, seolah oksigen di dalamnya mendadak menipis. Bayu berdiri mematung, menatap asistennya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia mengira kata-kata tegasnya soal pernikahan dan masa kecil dengan Maudy akan menjadi palu godam yang menyadarkan Cindy. Namun dia salah besar. Obsesi telah menutup logika gadis itu."Mas Bayu mau mengusirku dari kantor ini? Mas Bayu ingin memecatku sekarang juga?" tanya Cindy dengan suara yang bergetar, namun bukan lagi karena sedih, melainkan karena amarah yang dingin dan berbahaya.Bayu menghela napas panjang, mencoba mengatur ritme jantungnya agar tetap tenang. "Bukan memecat, Cindy. Lebih tepatnya membiarkan kamu istirahat sejenak agar pikiranmu lebih tenang. Kamu tidak akan bisa bekerja dengan profesional jika emosimu sedang tidak stabil seperti ini. Pulanglah, temani Ibu,” terang Bayu."Tega sekali kamu, Mas Bayu… Aku nggak nyangka kamu akan memperlakukan aku seperti ini
Suasana di dalam ruangan luas itu mendadak terasa begitu sempit dan pengap. Bayu masih berdiri mematung, menatap asistennya yang tidak lain adalah adik angkatnya itu, sedang bersimpuh di lantai marmer yang dingin. Awalnya, Bayu dan Maudy hanya saling lirik. Mereka mengira ini hanyalah babak baru dari drama harian Cindy yang mungkin sebuah taktik agar tidak dimarahi karena melakukan kesalahan kerja atau sekadar rengekan manja untuk mencari simpati setelah kunjungan kemarin.Namun, isak tangis Cindy kali ini terdengar berbeda. Ada getaran keputusasaan yang lebih dalam, yang membuat bulu kuduk Bayu meremang karena firasat buruk."Mas... aku sudah tidak bisa menahannya lagi," suara Cindy keluar terputus-putus di sela tangisnya. Ia mendongak, menatap Bayu dengan mata yang memerah dan basah. “Cindy, apa maksud kamu? Kenapa kamu bertindak aneh seperti ini?” tanya Bayu tanpa basa basi."Semalaman aku tidak bisa tidur Mas. Ucapan Ibu kemarin benar-benar menyakitiku,” jawab Cindy. Belum sem
Pagi itu, gedung perkantoran masih terasa lengang. Lantai marmer yang baru saja dibersihkan memantulkan cahaya lampu koridor dengan sempurna. Cindy melangkah dengan napas yang sengaja dia atur agar tidak terdengar memburu. Dia tidak berhenti di meja asistennya yang berada di area terbuka, melainkan langsung menuju pintu jati besar menuju ruangan pribadi Bayu. Dengan kunci cadangan yang dia pegang sebagai asisten, dia menyelinap masuk ke dalam kesunyian ruangan itu.Di dalam sana, aroma parfum maskulin Bayu yang khas masih tertinggal tipis, menyelimuti indra penciuman Cindy. Dia duduk di kursi tamu, meremas jemarinya yang dingin. Dia ingin menjadi kejutan pertama bagi Bayu hari ini, sebuah kejutan yang akan mengubah garis takdir mereka.Sekitar lima belas menit kemudian, sayup-sayup terdengar suara langkah kaki dari arah lorong. Bukan hanya satu pasang langkah, melainkan dua. Suara tawa kecil dan obrolan ringan menyertai langkah-langkah itu. Bayu dan Maudy sedang berjalan bersama men
Lampu kamar hotel yang redup seolah menambah berat atmosfer di antara mereka. Maudy duduk di tepi ranjang dengan napas yang tertahan, matanya menatap tajam ke arah Bayu yang masih berdiri mematung di dekat jendela. Keheningan itu terasa mencekik, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan yang ti
Pintu kamar hotel tertutup perlahan, meninggalkan hiruk-pikuk dunia luar di balik dinding beton yang tebal. Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu yang redup, suasana terasa begitu pekat dan berat. Maudy duduk di tepi ranjang besar, jemarinya meremas sprei sutra dengan tatapan yang kosong ke arah
Maudy hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bayu, lalu beralih menatap Lyra dengan raut wajah tidak enak hati. "Maaf ya, Lyra. Bayu memang begitu, dia OB yang sedikit bandel di sini. Jangan dimasukkan ke hati ucapan lancangnya tadi," ucap Maudy meminta maaf pada Lyra. Lyra hanya tertawa k
Pagi itu, Bayu datang terlambat. Dia sedikit berlari menuju pintu masuk. Langkah kaki Bayu terhenti di lobi utama gedung perkantoran mewah itu saat Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit. Sebuah rekor keterlambatan baginya yang biasanya selalu datang paling awal. Pikir







