MasukSuasana di dalam ruangan luas itu mendadak terasa begitu sempit dan pengap. Bayu masih berdiri mematung, menatap asistennya yang tidak lain adalah adik angkatnya itu, sedang bersimpuh di lantai marmer yang dingin. Awalnya, Bayu dan Maudy hanya saling lirik. Mereka mengira ini hanyalah babak baru dari drama harian Cindy yang mungkin sebuah taktik agar tidak dimarahi karena melakukan kesalahan kerja atau sekadar rengekan manja untuk mencari simpati setelah kunjungan kemarin.Namun, isak tangis Cindy kali ini terdengar berbeda. Ada getaran keputusasaan yang lebih dalam, yang membuat bulu kuduk Bayu meremang karena firasat buruk."Mas... aku sudah tidak bisa menahannya lagi," suara Cindy keluar terputus-putus di sela tangisnya. Ia mendongak, menatap Bayu dengan mata yang memerah dan basah. “Cindy, apa maksud kamu? Kenapa kamu bertindak aneh seperti ini?” tanya Bayu tanpa basa basi."Semalaman aku tidak bisa tidur Mas. Ucapan Ibu kemarin benar-benar menyakitiku,” jawab Cindy. Belum sem
Pagi itu, gedung perkantoran masih terasa lengang. Lantai marmer yang baru saja dibersihkan memantulkan cahaya lampu koridor dengan sempurna. Cindy melangkah dengan napas yang sengaja dia atur agar tidak terdengar memburu. Dia tidak berhenti di meja asistennya yang berada di area terbuka, melainkan langsung menuju pintu jati besar menuju ruangan pribadi Bayu. Dengan kunci cadangan yang dia pegang sebagai asisten, dia menyelinap masuk ke dalam kesunyian ruangan itu.Di dalam sana, aroma parfum maskulin Bayu yang khas masih tertinggal tipis, menyelimuti indra penciuman Cindy. Dia duduk di kursi tamu, meremas jemarinya yang dingin. Dia ingin menjadi kejutan pertama bagi Bayu hari ini, sebuah kejutan yang akan mengubah garis takdir mereka.Sekitar lima belas menit kemudian, sayup-sayup terdengar suara langkah kaki dari arah lorong. Bukan hanya satu pasang langkah, melainkan dua. Suara tawa kecil dan obrolan ringan menyertai langkah-langkah itu. Bayu dan Maudy sedang berjalan bersama men
Malam itu, bukan hanya Maudy dan Lyra yang sedang dibuat sesak di dada memikirkan masalah. Tetapi situasi yang sama juga dirasakan oleh Cindy.Di dalam kamarnya yang kecil dan tertata rapi, Cindy duduk bersimpuh di tepi ranjang. Suasana sunyi hanya dipecahkan oleh isak tangisnya yang tertahan dan detak jam dinding yang seolah mengejek kegelisahannya. Debat panas dengan Ibunya tadi sore masih menyisakan perih di dadanya. Dia merasa dunia seolah tidak adil. Ibunya yang seharusnya menjadi pendukung utamanya, justru menjadi orang pertama yang meruntuhkan harapannya.Namun, alih-alih menyerah, rasa sakit itu perlahan mengkristal menjadi sebuah kenekatan yang berbahaya. Cindy mengepalkan kedua tangannya di atas seprai, matanya menatap tajam ke arah foto kecil di atas meja riasnya. Di sana ada foto masa remaja mereka di mana Bayu merangkul pundaknya dengan hangat sebagai seorang kakak."Kita ini bukan saudara sedarah, Mas. Ibu boleh tidak setuju, dunia boleh menganggap ini salah, tapi aku
Malam semakin larut. Akan tetapi bagi Lyra, kesunyian di apartemen mewahnya justru terasa memekakkan telinga. Dia berjalan mondar-mandir di ruang tamu, tumit sepatunya sesekali mengetuk lantai marmer dengan irama yang mencerminkan kekacauan pikirannya. Rio telah menjadi tembok yang sulit ditembus. Egonya setinggi langit dan kecurigaannya terhadap Bayu telah mencapai titik paranoid.Di sisi lain, Bayu bukanlah pria yang mudah digertak. Lyra merasa seperti sedang terjepit di antara dua batu besar yang siap menghimpitnya hingga hancur. Jika dia tidak segera mendapatkan tanda tangan salah satu dari mereka, rencana besarnya untuk menguasai lima puluh persen aset itu akan menguap begitu saja."Sialan! Rio ingin harta, Bayu ingin Maudy, tapi keduanya tidak ada yang mau melangkah lebih dulu. Jika begini terus, aku yang akan gigit jari!” umpat Lyra lirih sambil melempar ponselnya ke sofa.Dia memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Sebuah ide tiba-tiba melintas di benaknya. Sebuah la
Pada kesempatan yang sama, di sebuah kelab privat yang eksklusif, jauh dari kebisingan kota, Rio dan Lyra duduk berhadapan di atas sofa kulit yang mewah. Ruangan itu hanya diterangi oleh cahaya temaram dari lampu gantung kristal dan bara cerutu yang dihisap Rio. Di atas meja marmer di depan mereka, sebotol minuman mahal telah berkurang separuhnya, mencerminkan suasana hati mereka yang sedang merayakan kemenangan yang belum sepenuhnya digenggam.Rio menyandarkan kepalanya, lalu tawa beratnya pecah memenuhi ruangan yang kedap suara itu. Dia membayangkan kembali nada suara Maudy di telepon tadi, sebuah kepuasan tersendiri baginya bisa mengusik ketenangan wanita itu.“Kamu ini kenapa Rio? Apa yang membuatmu tertawa?” tanya Lyra."Tentu saja Maudy. Kamu harusnya mendengar suaranya tadi, Lyra. Dia terdiam. Aku bisa merasakan napasnya yang tertahan di seberang telepon. Aku yakin, saat ini dia sedang menangis atau setidaknya gemetar ketakutan dan akan menelpon Bayu untuk bercerita! Hahahahh
Setelah meninggalkan kediaman Ibu angkatnya dengan perasaan campur aduk, Bayu segera memacu mobilnya membelah kemacetan sore menuju satu-satunya tempat yang bisa memberinya kedamaian: rumah Maudy. Meski tadi Maudy melepasnya dengan senyuman tenang, Bayu tahu bahwa di balik ketenangan itu, Maudy pasti merasakan sedikit kegelisahan. Dia ingin membuktikan bahwa sejauh apa pun ia pergi, ia akan selalu kembali pada Maudy.Setibanya di sana, suasana berubah menjadi sangat hangat. Ibunda Maudy menyambut Bayu dengan sukacita, menghidangkan teh hangat dan camilan sore di ruang makan yang diterangi cahaya lampu gantung berwarna kuning keemasan. Mereka duduk melingkar, tertawa menceritakan kejadian-kejadian lucu di kantor, sejenak melupakan bayang-bayang Lyra dan Rio yang mengintai."Nak Bayu ini kalau sudah kerja memang suka lupa waktu, Untung ada Maudy yang bisa mengingatkan,” ujar Ibunda Maudy sambil tersenyum tulus. Sangat berbeda dengan dirinya yang dulu membenci Bayu.Bayu tertawa kecil
Lampu kamar hotel yang redup seolah menambah berat atmosfer di antara mereka. Maudy duduk di tepi ranjang dengan napas yang tertahan, matanya menatap tajam ke arah Bayu yang masih berdiri mematung di dekat jendela. Keheningan itu terasa mencekik, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan yang ti
Pintu kamar hotel tertutup perlahan, meninggalkan hiruk-pikuk dunia luar di balik dinding beton yang tebal. Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu yang redup, suasana terasa begitu pekat dan berat. Maudy duduk di tepi ranjang besar, jemarinya meremas sprei sutra dengan tatapan yang kosong ke arah
Maudy hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bayu, lalu beralih menatap Lyra dengan raut wajah tidak enak hati. "Maaf ya, Lyra. Bayu memang begitu, dia OB yang sedikit bandel di sini. Jangan dimasukkan ke hati ucapan lancangnya tadi," ucap Maudy meminta maaf pada Lyra. Lyra hanya tertawa k
Pagi itu, Bayu datang terlambat. Dia sedikit berlari menuju pintu masuk. Langkah kaki Bayu terhenti di lobi utama gedung perkantoran mewah itu saat Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit. Sebuah rekor keterlambatan baginya yang biasanya selalu datang paling awal. Pikir






