LOGINSetelah kekacauan kecil di lobi mereda, Bayu dan Andra berjalan berdampingan menuju lift eksekutif. Bayu menepuk bahu sang CEO baru dengan senyuman miring yang sukar diartikan."Mulai hari ini, tugasmu bukan cuma memimpin divisi operasional dan strategi bisnis, Andra. Tapi juga menjinakkan wanita serba gengsi seperti Tasya,” ujar Bayu santai saat pintu lift berdenting dan terbuka.Andra terkekeh halus, membetulkan letak kacamatanya dengan gaya khas yang tenang. "Pak Bayu bisa saja. Saya hanya bertindak refleks. Lagipula, Mbak Tasya sepertinya memang tipe yang butuh penanganan... ekstra sabar.""Kusetujui itu. Lakukan apa yang menurutmu terbaik. Asal dia tidak mengganggu ketenangan perusahaan, dan rumah tanggaku lagi," balas Bayu sambil melangkah keluar saat lift tiba di lantai eksekutif. Sementara itu, suasana di divisi pemasaran tempat Tasya bertugas terasa cukup mencekam. Tasya duduk kaku di kursi kebesarannya dengan wajah yang masih terasa hangat. Berkali-kali ia menatap ce
Langkah kaki Bayu baru saja menapak di atas lantai marmer lobi utama gedung perusahaan. Meskipun raut wajahnya berusaha tetap tenang dan berwibawa khas seorang Komisaris Utama, pikirannya masih separuh tertinggal di rumah, mengkhawatirkan Maudy dan empat calon bayi kembarnya. Namun, belum sempat Bayu melangkah menuju lift eksekutif, perhatian seluruh karyawan yang berada di lobi mendadak teralih pada sebuah kejadian yang tak disangka-sangka tepat di dekat pintu kaca masuk.Hari itu, Tasya datang ke kantor dengan penampilan serba mewah seperti biasa. Ia mengenakan gaun kerja elegan dengan high heels stiletto lancip setinggi sepuluh sentimeter yang mengetuk lantai nyaring. Tasya berjalan tegap penuh gengsi, mencoba memulihkan citra anggunnya yang sempat jatuh kemarin. Namun, nasib sial seolah belum mau beranjak darinya.Petugas kebersihan baru saja selesai mengepel area lantai depan lobi dan papan peringatan lantai licin sedikit tergeser. Saat Tasya melangkah anggun sambil sibuk meme
Keesokan harinya, sinar matahari pagi mulai menerobos masuk ke dalam kamar utama. Kondisi Maudy sudah jauh lebih membaik setelah cairan infus habis dan ia mendapatkan istirahat total seharian penuh. Walau rona merah di pipinya telah kembali, Bayu tetap memperlakukannya bagaikan porselen rapuh yang bisa pecah kapan saja.Pagi itu, Bayu sudah rapi mengenakan setelan jas formalnya. Namun, alih-alih langsung melangkah menuju mobil dinas yang sudah siap di depan teras, sang komisaris justru menunjukkan perilaku ajaib yang membuat semua orang di rumah menggelengkan kepala.Di dalam kamar tidur, Bayu duduk berlutut di samping tempat tidur. Wajahnya dipenuhi raut cemas yang luar biasa dramatis, seolah-olah ia sedang bersiap melepas diri pergi ke medan perang yang sangat jauh dan tidak akan kembali untuk waktu yang lama."Sayang... Aku berangkat kantor dulu, ya. Kamu jaga diri baik baik ya," pamit Bayu dengan nada suara yang teramat berat dan sayu. Matanya menatap Maudy penuh kerinduan ya
Suara langkah kaki dokter dan asistennya perlahan menghilang menyusuri koridor luar, disusul bunyi derit pintu utama yang tertutup rapat. Ruang tidur utama itu kembali dilingkupi keheningan yang tenang dan hangat. Di atas tempat tidur king size, cairan infus menetes teratur dari botol transparan, mengalirkan nutrisi dan vitamin ke dalam pembuluh darah Maudy.Bayu menghembuskan napas panjang, merapikan letak selimut tebal yang membungkus tubuh istrinya. Pria itu kemudian menggeser kursi mendekati tepi ranjang, lalu duduk di samping Maudy. Ditatapnya wajah sang istri yang masih tampak agak pucat, namun raut kesakitannya perlahan-lahan mulai memudar berganti dengan ketenangan.Dengan gerakan yang teramat lembut, Bayu meraih jemari Maudy, menggenggamnya erat lalu mendaratkan kecupan hangat di punggung tangan yang terpasang selang infus tersebut."Maudy... Aku benar-benar minta maaf, ya. Aku tidak menyangka kalau kejadian semalam malah bikin kamu jadi seperti ini tadi pagi. Mas terlalu
Sinar matahari pagi yang hangat dan cerah menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama, membingkai indah suasana kamar yang penuh kedamaian. Bayu terbangun lebih awal dengan kondisi tubuh yang terasa luar biasa bugar. Tidak ada lagi rasa mual yang melilit perutnya, tidak ada pusing yang berputar di kepalanya, dan seluruh persendiannya terasa sangat bertenaga. Sambil tersenyum lebar mengingat kehangatan malam yang mereka lewati bersama, Bayu bangkit dari tempat tidur dan mengenakan pakaian santainya.Maudy yang baru saja terbangun tampak sedang menyisir rambut panjangnya di tepi ranjang. Wajahnya yang cantik dihiasi rona merona yang begitu manis."Selamat pagi, Sayangku," sapa Bayu hangat, melangkah mendekat lalu mendaratkan kecupan lembut di dahi istrinya. "Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?"Maudy menyunggingkan senyuman hangat, menatap suaminya penuh kelembutan. "Selamat pagi, Mas. Tidurku nyenyak sekali. Mas Bayu segar sekali pagi ini?""Luar biasa segar, Sayang. Rasanya
Deru napas hangat Bayu menyapu lembut permukaan kulit leher Maudy, meninggalkan jejak-jejak kecupan mesra yang kian dalam dan menuntut. Kamar utama yang hangat oleh redupnya lampu tidur bernuansa keemasan itu terasa makin hangat, dilingkupi oleh gairah dan kerinduan dua insan yang telah tiga bulan lamanya tertahan oleh penderitaan morning sickness.Maudy memejamkan matanya rapat-rapat, menikmati setiap sentuhan jemari kekar suaminya yang perlahan-lahan merayap di sela-sela gaun tidur sutranya. Kehangatan telapak tangan Bayu seolah menyalurkan rasa rindu yang teramat dalam, membuat dada Maudy berdesir hebat. Namun, saat merasakan ritme gerakan Bayu yang kian cepat dan sarat akan dominasi gairah yang membakar, naluri seorang ibu hamil di dalam diri Maudy seketika tersentak pelan.Maudy menahan dada bidang Bayu dengan kedua telapak tangannya, menahan himpitan tubuh tegap suaminya yang kian mendekat."Mas... Mas Bayu, tunggu sebentar..." bisik Maudy dengan suara yang agak serak dan ter
Satu jam sudah Bayu berdiri di balik pintu. Sementara Maudy, dia tetap pada posisinya. Duduk bertekuk lutut di sudut kasur. Tidak bergerak dan juga tidak ada niatan merealisasikan ancamannya.Kaki Bayu mulai merasa pegal. Sejak tadi dia sudah berusaha mengabaikan rasa pegalnya,, tapi kali itu dia s
“Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal k
“Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. “Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali
"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.







