MasukMaudy memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menguasai gemuruh di dadanya. Ketika ia membuka mata, kabut kepanikan di wajahnya telah berganti dengan ketegangan yang dingin dan terukur. Ia melepaskan tautan jemarinya dari Bayu, lalu melangkah maju. Bukannya membalas tatapan Tasya atau Pamannya, Maudy justru berlutut di atas lantai marmer, menyejajarkan tubuhnya dengan Silvy yang masih bersimpuh parau.Dengan gerakan lambat yang disaksikan oleh seluruh pasang mata di ruangan itu, Maudy memegang kedua bahu Silvy dan memaksanya untuk berdiri."Berdirilah, Silvy. Bawa Dara pulang sekarang, Silvy. Dia butuh istirahat, bukan tontonan gatis di tempat seperti ini. Urusan besok, biar besok menjadi urusan kita secara pribadi. Tapi malam ini, selamatkan anakmu dulu." ucap Maudy, suaranya mengalun rendah tapi terdengar begitu jelas di tengah keheningan yang mencekam.Silvy menatap Maudy dengan tatapan tidak percaya sekaligus haru yang luar biasa. Dengan anggukan cepat dan berk
Detik-detik seolah membeku di dalam ruang perjamuan yang megah itu. Pekikan histeris Dara yang menggema di langit-langit tinggi rumah paman Muady tersebut. Apalagi setelah kedatangan Ani dan cucunya. Telapak tangan Bayu masih merangkul erat pinggang Maudy. Sementara Maudy, dengan bibir yang sedikit terbuka dan wajah yang mendadak pias, menatap lurus ke ambang pintu.Kejutan ini terlalu mendadak. Kepala Maudy terasa pening dihantam kenyataan bahwa privasi keluarganya kini ditelanjangi di depan paman dan sepupunya yang menaruh dendam lama. Ani berdiri dengan napas memburu, kedua matanya berkilat penuh kemenangan yang nekat, sementara Dara di sampingnya terus meronta, menangis parau hingga urat-urat di leher kecilnya menegang.Melihat skandal luar biasa ini tersaji langsung di depan mata mereka, Tasya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Rasa iri yang bertahun-tahun ia pendam seolah mendapatkan bahan bakar paling murni malam ini. Tasya melangkah maju, meletakkan gelas minumannya dengan den
Malam itu, Bayu, Maudy dan ibunya sedang bersiap untuk pergi ke rumah paman maudy. Selama di perjalanan, Maudy sempat mencemaskan sesuatu.“Bu, gimana kalau sikap keluarga paman Heru masih sama seperti dulu?” tanya Maudy pada Ibunya.“Semoga aja nggak Maudy. Tapi, biar bagaimanapun, hari ini mereka kembali ke kota ini setelah bertahun tahun pindah. Dan hanya tinggal ibu saja saudara kandung paman kamu. Jadi, entah bagaimanapun sikap mereka, kita tetap harus menemui dan menyambut kedatangan mereka di kota ini dengan baik,” tutur Ibu Maudy pada putrinya.Maudy mengangguk saat mendengar nasehat ibunya. Sementara Bayu, dia cukup dibuat heran dengan topik pembahasan mereka.“Ada apa sih?” tanya bayu.“Nanti aja aku ceritain di rumah,” sahut Maudy, lalu bayu pun mengangguk mengerti.Tidak lama kemudian, mereka tiba di depan Rumah megah bergaya kolonial di kawasan pemukiman elit. Paman Heru, kakak kandung dari ibunda Maudy, sengaja memilih kediaman ini untuk menandai kembalinya mereka ke ibu
Di belahan kota yang lain, jarum jam bergerak tenang mendekati waktu makan malam. Bayu baru saja menginjakkan kakinya di dalam rumah setelah menembus kemacetan kota. Kemeja kerjanya sudah sedikit dilonggarkan, namun gurat ketegasan di wajahnya tidak memudar. Di dalam kamar utama, Maudy sudah terlihat anggun mengenakan gaun semi-formal bernuansa pastel, siap untuk menghadiri acara syukuran paman kandungnya malam ini.Melihat suaminya baru pulang, Maudy tersenyum hangat dan melangkah mendekat. "Mas baru pulang? Ayo cepat bersiap, aku sudah menyiapkan kemeja batikmu di atas tempat tidur. Kita tidak enak kalau datang terlambat ke rumah Paman Heru."Namun, alih-alih langsung bergegas ke kamar mandi atau meraih kemeja batiknya, Bayu justru menatap Maudy dengan pandangan mata yang dalam dan serius. Pria itu meraih kedua tangan Maudy, menggenggamnya dengan lembut, lalu menuntun istrinya untuk duduk bersama di sofa panjang yang terletak di sudut kamar mereka.Maudy mengernyitkan alisnya, me
Suasana di dalam ruang tengah rumah peninggalan Baron itu kian memanas, terasa begitu menyesakkan hingga oksigen seolah enggan singgah. Ani terbelalak, wajah paruh bayanya memerah padam menahan syok dan amarah yang meluap. Seumur hidupnya, Silvy tidak pernah sekalipun meninggikan suara, sampai membentaknya seperti ini."Silvy! Berani-beraninya kamu membentak Ibu?! Ibu ini orang tuamu! Semua yang Ibu lakukan itu demi kebaikanmu dan anakmu! Kamu benar-benar sudah buta karena mengemis belas kasihan pada Pak Bayu sampai tega memperlakukan Ibumu sendiri seperti ini?!" pekik Ani dengan suara bergetar karena tersinggung. "Demi kebaikan atau demi uang bulanan Ibu?!" balas Silvy dengan sisa-sisa keberaniannya, meskipun air matanya kini ikut luruh karena mendurhakai ibunya sendiri.Di atas karpet, Dara yang menyisakan trauma mendalam pasca-kematian ayahnya kian histeris. Anak kecil itu menekuk kedua lututnya, menyembunyikan wajah di balik lengan mungilnya yang gemetar. Melihat dua orang d
Langkah kaki Silvy terasa begitu goyah saat ia menuruni anak tangga menuju lantai dasar gedung kantor Bayu. Angin sore yang berembus di luar gedung perlahan mengeringkan sisa air mata di pipinya. Di dalam taksi yang membawanya pulang, Silvy terdiam menatap jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan. Pikiran wanita itu berkecamuk. Ia tahu betul, kegagalannya membawa Bayu pulang malam ini akan memicu amarah baru dari ibunya, Ani.Namun, ada satu hal yang berbeda dari diri Silvy sore ini. Ketegasan sorot mata Bayu dan pengingat tentang batas rumah tangga pria itu seolah menampar kewarasan Silvy yang sempat mati suri. Ia sadar, memeras emosi Bayu demi menuruti kepanikan rumahnya adalah tindakan yang keliru. Kali ini, di dalam benaknya yang mulai mendingin, Silvy membulatkan tekad. Dia tidak akan lagi membiarkan dirinya menjadi boneka yang disetir oleh hasutan penuh keserakahan sang ibu. Apapun yang dikatakan Ani di rumah nanti, ia akan teguh berdiri pada pemikirannya sendiri.Begitu p
Mobil hitam itu berhenti di sebuah gudang tua yang tersembunyi di pinggiran kota, jauh dari hiruk pikuk keramaian. Bau apek dan debu yang menyesakkan menyambut saat pintu besi berkarat itu dibuka secara perlahan. Kedua preman itu menggotong tubuh Maudy yang masih lunglai tak berdaya, lalu mendudukk
Matahari sore mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang pucat di cakrawala. Namun hawa dingin di sekitar area parkir rumah sakit terasa lebih menusuk dari biasanya. Di dalam sebuah mobil hitam dengan kaca gelap yang terparkir tak jauh dari pintu keluar darurat, dua orang pria bertubuh kekar me
Tranfusi darah berjalan dengan baik. Beberapa waktu kemudian, Kesadaran Cindy kembali setetes demi setetes, membawa serta rasa nyeri yang berdenyut di lengan atasnya. Dia mengerang pelan, merasakan tubuhnya begitu lemas seolah seluruh energinya telah habis terkuras. Saat pandangannya mulai fokus,
Lorong rumah sakit itu terasa begitu panjang dan sunyi, hanya menyisakan deru halus mesin pendingin ruangan dan langkah kaki perawat yang sesekali melintas. Di sebuah deretan kursi tunggu yang keras, Bayu duduk bersisian dengan Ibu angkatnya. Keduanya terdiam, menatap pintu ruang tindakan yang tert







