Share

Mau Lagi, Nyonya?
Mau Lagi, Nyonya?
Author: Kak Han

Bab 1

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-02-18 13:29:12

"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!"

Degh!

Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar. Sementara Maudy, sang CEO yang merupakan bos di tempat Bayu bekerja, hanya bisa diam tertunduk melihat perilaku suaminya.

“Ini… apa… maksudnya Pak Rio?” tanya Bayu ingin memperjelas maksud dari suami bosnya tersebut.

“Kurang jelas? Uang dalam cek ini akan menjadi milikmu, jika kamu bisa menghamili istriku! Kamu punya tubuh yang bugar dan atletis, aku yakin benihmu juga bagus. Tapi, jangan sekali kali kamu berani buka mulut soal ini!” tegas Rio.

Beberapa hari lalu, di sebuah rumah sakit, Rio dan Maudy terpaksa harus melakukan test kesuburan organ reproduksi mereka. Bukan tanpa sebab semua itu dilakukan, karena sudah hampir tiga tahun mereka menikah, tetapi belum juga memiliki keturunan.

Awalnya Rio menolak hal tersebut, karena sebagai pria harga dirinya akan runtuh jika diketahui mandul. Apalagi, selama ini Rio juga punya masalah dengan organ reproduksinya yang tidak bisa tahan lama, sehingga Maudy sempat mengira bahwa suaminya yang bermasalah.

Pada akhirnya Rio menyetujui pemeriksaan itu, tetapi dia memilih untuk berangkat sendiri tanpa Maudy. Karena Rio hanya ingin mendengar hasil pemeriksaan seorang diri.

​"Saya sudah meninjau hasilnya berulang kali, Pak Rio, dan hasilnya sama. Kondisi ini... bersifat permanen. Secara medis, Anda tidak akan bisa memiliki keturunan," terang Sang Dokter tanpa ada keraguan akan hasil tersebut.

​Dunia di sekitar Rio seolah berhenti berputar. Kalimat itu menghantam dadanya, menyisakan sesak yang luar biasa. Namun, di balik rasa syok yang melumpuhkan, ada ketakutan lain yang jauh lebih dingin merayap di benaknya.

​"Permanen? Maksud Dokter, benar-benar tidak ada peluang untuk sembuh? Dengan cara Operasi misalnya? Atau terapi hormon?" tanya Rio untuk meyakinkan dirinya sendiri.

​Dokter Gunawan menggeleng perlahan. "Maafkan saya. Kerusakannya sudah terlalu sistemik," jelas Sang Dokter.

​Rio menyandarkan punggungnya, menatap kosong ke langit-langit ruangan. “Mampus aku!” batinnya berteriak. Bayangan wajah Ayahnya yang kaku dan penuh tuntutan langsung melintas. Ayahnya menuntut keturunan sebagai penerus bisnisnya.

​Rio meratap. Tanpa seorang anak, dia tidak mendapat hak apapun atas semua perushaan dan rumah mewah itu. Semua fasilitas mewah, mobil sport, dan posisi owner yang hampir digenggamnya kini terasa menguap begitu saja.

Rio tidak bisa tinggal diam, dia harus mencari cara agar dia dan Maudy punya anak. Apapun caranya, Maudy harus hamil. Sehingga muncul rencana jahat di otaknya dengan menyewa laki laki untuk menghamili istrinya, yang nantinya akan dia akui sebagai anak kandungnya. Dan Bayu, adalah laki laki sial yang menerima tawaran itu.

Bayu pun terdiam usai mendengar perintah konyol itu. Itu bukanlah perintah yang mudah diterima begitu saja. Tapi saat mendengar nominal uang lima ratus juta, mendadak dia teringat pada Ibunya.

“Ibu butuh uang ini, tapi…. Tugas ini terlalu konyol!” gumam Bayu di dalam hati.

Satu minggu yang lalu Ibunya Bayu terbaring di rumah sakit dengan diagnosa gagal ginjal. Untuk kesembuhannya, perlu dilakukan transplantasi ginjal yang tentunya membutuhkan biaya yang besar. Bayu hampir frustasi mencari biaya operasi senilai 125 juta, bahkan sudah menyerah dan mempersiapkan diri jika harus kehilangan Ibunya. Akan tetapi, mendadak ada yang menawarkan dirinya tugas dengan upah yang besar. Bahkan tugasnya bisa dibilang sebuah kenikmatan dunia.

“Menghamili Bu Maudy? Bahkan dalam mimpi pun aku tidak berani membayangkan lekuk tubuhnya, dan sekarang aku malah nyata nyata dibayar untuk menghamilinya? Apa aku sedang beemimpi?” gumam Bayu di dalam hati sambil menepuk pelan pipinya untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.

Sementara itu, Rio bukan tipe orang yang mau menunggu. Dia juga bukan sedang memberikan Bayu tawaran, melainkan sebuah perintah mutlak yang tidak bisa ditolak.

“Terima atau angkat kaki dari perusahaan ini. Dan nama kamu telah diblacklist dimana pun. Tidak ada instansi yang bersedia menerima kamu!” gertak Rio, dan seketika membuat Bayu terpaksa menyetujuinya. Selain karena digertak, dia juga memang butuh uang itu.

“Ba..baik Pak Rio. Sayaaaa… saya akan menerima tugas ini,” jawab Bayu dengan terbata bata. Setelah memberikan jawaban pada Rio, otak Bayu berkelana.

"Main sama Bu Maudy? Kira kira seperti apa ya rasanya? Dari luar aja tubuhnya kelihatan putih dan mulus, gimana kalau dilihat dari dalam? Apalagi bayangin kalau dia sedang bergoyang diatas ku? Huuuuh, pasti seruuuu!" celetuk Bayu di dalam hati. Otak mesumnya sudah membayangkan seperti apa aksi Maudy di ranjang.

Rio tersenyum lega mendengar jawaban Bayu. Sungguh berbeda dengan raut wajah Maudy tertunduk lesu. Masih belum bisa dia terima keputusan suaminya yang nekat menyewa laki laki untuk menghamilinya. Apalagi laki laki yang dia pilih adalah seorang OB.

Sejenak Maudy mengangkat pandangannya, lalu sekilas memperhatikan penampilan Bayu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dan sialnya, saat pandangan Maudy tepat di wajah Bayu, pandangan keduanya tepat bertemu. Maudy segera membuang pandangan, sementara Bayu kembali menundukkan kepala.

Tetapi, OB beruntung itu masih menyimpan sejuta pertanyaan di otaknya.

“Kenapa pandangan Bu Maudy padaku berbeda dari sebelumnya? Apa, jangan jangan dia sudah mulai tergoda denganku? Karena kan sebenarnya aku ini lebih ganteng dari pada suaminya, badanku juga lebih berotot dari pada Pak Rio yang kerempeng. Bisa jadi itunya juga kecil…” Bayu terkekeh membayangkan isi otaknya yang liar. Bahkan dia masih melanjutkan pikiran konyolnya itu

“Setelah melihat fisik ku, pasti Bu Maudy sudah membayangkan aksi hebatku di ranjang. Sayangnya aja nasibku buruk harus pakai seragam OB ini. Coba kalau aku pakai jas dan sepatu kayak Pak Rio, pasti semua wanita tergila gila padaku.. Hahahahhahahah!” Bayu makin berbangga diri dengan fisiknya.

Akan tetapi dengan cepat dia membuyarkan lamunannya itu agar tidak menimbulkan masalah dengan bosnya. Meski dia tergoda dengan tubuh Maudy, tetapi dia tetap harus sadar diri dan menghormati bosnya tersebut. Dan sebelum dia meninggalkan ruangan, Bayu menanyakan sesuatu kepada bosnya.

“Maaf Pak Rio, apa saya boleh menanyakan sesuatu?

“Katakan,”

“Di dalam tugas ini, apa ada aturan tertentu yang boleh dikerjakan dan yang tidak boleh dilanggar?”

“Maksud kamu?” Rio balik bertanya dengan kening mengerut.

“Emm, maksud saya. Apakah dalam melaksanakan tugas nanti, saya boleh memakai banyak gaya dengan durasi yang lama?” tanya Bayu dengan pelan dan sedikit ragu. Dan hal itu seketika membuat Rio dan Maudy membulatkan kedua bola mata mereka ke arah Bayu.

Di satu sisi Maudy terkejut dengan kata kata Bayu. “Banyak gaya dan durasi lama”. Karena selama ini Maudy belum pernah merasakannya bersama dengan Rio. Sementara Rio sendiri, dia merasa tersindir dengan pertanyaan itu karena belum sampai mencoba banyak gaya, dia sudah tumpah duluan.

“Jangan macam macam! Tugasmu hanya membuat istri saya hamil, jangan pikirkan hal lain!” bentak Rio sembari menggebrak meja di depannya hingga membuat Bayu gemetar. Tetapi dengan polosnya dia masih lanjut bertanya.

“Maaf Pak Rio jika pertanyaan saya tadi lancang. Tapi jujur, saya tadi serius bertanya. Dalam melaksanakan tugas saya nanti, saya boleh pakai gaya apa saja? Takutnya, saya lancang dan tidak sopan.”

Rio menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Sebisa mungkin dia menahan diri. Dia tidak tau apakah Bayu benar benar bertanya atau sedang menyindirnya.

“Kurang ajaarr! Anak ini kayaknya sengaja nyindir aku. Tapi nggak mungkin. Mungkin dia memang benar benar bertanya. Lagian soal ini kan hanya aku dan Maudy yang tahu. OB ini nggak mungkin tau kalau aku gak tahan lama dan gak bisa banyak gaya!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (10)
goodnovel comment avatar
Nadhir Jaelani
hello asli mana
goodnovel comment avatar
Mikayla Affizah Rutry
suka,seru lanjut baca cerita nya
goodnovel comment avatar
Oniq Zha
lanjut ceritanya seru
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 377

    Keesokan harinya, sinar matahari menembus jendela ruang makan yang tenang. Aroma nasi goreng dan kopi mint kesukaan Bayu sudah menguar di udara. Namun, suasana hangat itu mendadak pecah oleh suara sendok yang berdenting keras di atas piring kaca.​Maudy yang baru saja menyuap sesendok kecil sarapannya tiba-tiba meletakkan sendoknya kembali. Wajah cantiknya seketika kehilangan warna, berubah menjadi pucat pasi. Sebelah tangannya refleks mencengkeram pinggiran meja, sementara tangan lainnya memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut hebat.​"Sayang? Kamu kenapa?" tanya Bayu, langsung meletakkan cangkir kopinya. Guratan cemas seketika tercetak jelas di wajah tampannya.​"Pusing, Mas... kepala aku mendadak berputar," bisik Maudy lirih. belum sempat Bayu menjawab, Maudy membekap mulutnya sendiri. Rasa mual yang teramat sangat menyodok dadanya. Tubuhnya gemetar dan lemas, kehilangan seluruh tenaga hingga ia nyaris terkulai dari kursi jika Bayu tidak dengan cekatan menangkap tubuhnya.​

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 376

    Maudy yang masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Bayu bisa merasakan dada suaminya naik-turun karena sisa kekehan pelan. Aroma maskulin khas tubuh Bayu yang bercampur dengan sabun mandi malam benar-benar menjadi candu yang menenangkan bagi Maudy. Rasa cemas akibat ulah Tasya tadi siang seolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa aman yang teramat dalam.​"Tapi, Mas… Memangnya tadi di koridor tidak ada staf lain yang melihat? Maksudku, kalau Tasya sampai hampir jatuh begitu, apa sekretarismu tidak menolongnya?" Maudy mendongak lagi, menatap wajah tampan suaminya dengan mata bulatnya yang jernih.​Bayu menaikkan sebelah alisnya, jemarinya beralih memainkan ujung rambut Maudy yang bergelombang. "Sekretarisku? Dia justru berdiri kaku di belakangku sambil menahan napas. Begitu kami masuk lift, dia langsung batuk-batuk kecil menahan tawa. Aku rasa, kalau tidak ada aku di sana, dia sudah terpingkal-pingkal di depan wajah Tasya."​Maudy tidak bisa menahan senyumnya lagi. "Kamu

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 375

    Malam kembali menjemput kota, dan di dalam kamar utama yang hangat, suasana tenang itu kembali tercipta. Setelah makan malam bersama yang santai, Bayu dan Maudy kini sudah berada di atas tempat tidur. Bayu bersandar santai di kepala ranjang dengan kaos santai berwarna abu-abu, sementara Maudy merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya, menikmati irama detak jantung Bayu yang konstan. Sebelah tangan Bayu bergerak lambat, mengusap bahu Maudy dengan penuh kasih sayang.​"Sayang, kamu tahu tidak? Hari ini aku menonton sebuah pertunjukan komedi gratis di koridor kantor," celetuk Bayu tiba-tiba, memecah keheningan malam dengan nada suara yang terdengar sangat geli.​Maudy mendongak, menatap dagu kokoh suaminya dari bawah. "Komedi? Memangnya siapa yang melucu di kantor, Mas? Jangan bilang anak-anak direksi membuat masalah lagi."​Bayu terkekeh rendah, suara tawa baritonnya bergetar di dada, membuat Maudy bisa merasakannya langsung. "Bukan mereka. Tapi sepupumu yang luar biasa itu, Tasy

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 374

    ​Tasya berlutut di atas lantai marmer yang dingin, jemarinya memungut kertas-kertas laporan dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Ia mengatur napasnya agar terdengar sedikit terengah, sementara matanya melirik dari balik helaian rambutnya yang sengaja dibiarkan jatuh berantakan membingkai wajah pucat buatannya.Langkah kaki tegap itu berhenti. Sepasang sepatu pantofel hitam mengilat milik Bayu kini berada tepat dua jengkal di depan dokumen yang berserakan. Tasya mendongak perlahan, memasang sorot mata yang sayu dan penuh kilat kepasrahan.​"P-Pak Komisaris...Maafkan saya. Saya benar-benar ceroboh. Kepala saya sedikit pusing karena meninjau ulang laporan divisi semalaman, jadi fokus saya agak terganggu,” irih Tasya, suaranya dibuat bergetar seolah ia sangat terkejut sekaligus ketakutan setengah mati melihat kehadiran sang Owner. ​Tasya mencoba bangkit berdiri, namun ia sengaja membuat gerakannya limbung. Tubuhnya condong ke depan, berpura-pura kehilangan keseimbangan agar refleks

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 373

    Setelah kembali ke ruang kerjanya, Tasya mengunci pintu dengan rapat. Wajahnya yang semula pucat pasi karena ketakutan kini perlahan berubah menjadi merah padam oleh rasa geram yang membakar dada. Ia melempar tas sepatunya ke sudut ruangan dengan kasar.​"Kurang ajar!" geram Tasya, giginya mengatup rapat sembari mondar-mandir di balik meja manajernya.​Rasa malu didepan Silvy dan ancaman pemecatan dari Bayu bukannya membuat Tasya sadar, melainkan memicu sisi gelap dari keangkuhannya yang terluka. Dari dulu, keluarganya tidak pernah mau kalah dari keluarga Maudy. Baginya, Maudy tidak layak mendapatkan segalanya. Suami tampan yang kaya raya, kekuasaan mutlak, dan pengakuan sebagai mantan CEO perusahaan itu.​Tasya berjalan mendekati jendela kaca besar, menatap ke arah luar. Sebuah pemikiran licik mendadak melintas di otaknya yang buntu. Sumbu egonya yang sakit mulai merajut sebuah rencana baru.​"Kalau Maudy yang biasa-biasa saja bisa mendapatkan pria sekelas Bayu, kenapa aku tidak?" g

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 372

    Di dalam ruangan yang mendadak terasa sekecil kotak korek api itu, keheningan bergulir begitu menyiksa. Tasya masih berdiri mematung dengan bibir yang sedikit terbuka, namun tak ada satu pun patah kata yang mampu lolos dari tenggorokannya. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, merusak kenyamanan setelan kerja mahal yang ia kenakan.​Bayu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Tasya. Pria itu menarik sebelah tangannya dari saku celana, lalu mengetukkan ujung jemarinya di atas tas belanja berisi sepatu hak tinggi milik Tasya. Bunyi ketukan itu terdengar ritmis, seolah sedang menghitung sisa waktu harga diri Tasya yang berada di ambang kehancuran.​"Jika pendengaran saya tidak salah. Anda baru saja mengancam akan memberikan nilai merah pada evaluasi kerja Sekretaris Silvy jika dia menolak menjadi pelayan pribadi Anda?" Bayu kembali bersuara dengan nada yang tenang dan mengerikan.​Tasya refleks menggelengkan kepala dengan cepat, matanya berkaca-kaca karena panik. "B-bukan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 270

    Malam kian larut, meninggalkan keheningan di rumah milik Maudy. Di dalam keheningan itu, ketegangan yang sempat memuncak perlahan-lahan mencair. Di bawah sentuhan dan dekapan hangat pria yang telah menjadi pelindungnya, seluruh benteng pertahanan Maudy runtuh tak bersisa. Di tangan sang pawang hati

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 259

    Bagi Bayu, tawaran miliaran rupiah atau nama besar Pradipta Group sama sekali tidak memiliki bobot jika harus ditimbang dengan ketenangan hidup Maudy. Ia telah menyaksikan bagaimana Maudy hancur di tangan Rio, dan ia telah berjanji di dalam hatinya untuk menjadi pelindung, bukan sumber luka baru. J

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 241

    Malam merayap begitu lambat di kediaman Maudy. Suasana di dalam kamarnya terasa sunyi, namun pikiran Maudy jauh dari kata tenang. Ia berbaring miring, menatap cahaya bulan yang menembus celah gorden, sementara jemarinya tak henti-hentinya mengetuk layar ponsel yang bercahaya terang di kegelapan.​S

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 219

    Ruangan komisaris yang luas itu mendadak terasa sempit akibat energi negatif yang dibawa Rio. Napas pria itu terdengar pendek-pendek dan berat, seperti seekor binatang buruan yang terpojok, tapi masih mencoba menunjukkan taringnya yang sudah tumpul. Dia berdiri di depan meja Bayu dengan tangan yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status