Share

Bab 2

Auteur: Kak Han
last update Date de publication: 2026-02-18 13:30:10

“Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. 

“Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. 

Pintu ruangan tersebut kembali tertutup. Tetapi, di balik pintu Bayu masih menyimpan pertanyaan yang belum terpecahkan.

“Aneh, kenapa Pak Rio marah? Emangnya ada yang salah dengan pertanyaanku? Dia yang nyuruh aku menghamili istrinya, tapi saat aku tanya tentang caranya, dia malah emosi. Nanti, kalau aku tiba tiba main sesukaku, dikira aku lancang!” gerutu Bayu di dalam hati. 

Dia hendak kembali mengepel lantai, tetapi tiba tiba dia mendengar suara berisik dari dalam ruangan Maudy.

Praaaaankkk!!!

Sontak Bayu terkejut, dan dia memilih untuk tetap tinggal dan memastikan semua baik baik saja. Dia berniat untuk kembali masuk ke ruangan bosnya itu, tetapi dia urungkan niatnya karena hal itu pasti akan mengundang kemarahan Rio. Sehingga Bayu memilih berdiri di depan pintu sambil menguping.

“Kamu keterlaluan Mas! Kamu jual tubuhku pada seorang OB! Aku nggak bisa terima ini semua! Kamu gila, kamu sangat keterlaluan!” teriak Maudy melampiaskan amarahnya pada suaminya, sambil melempar vas bunga yang ada di meja ke arah dinding, hingga pecah berkeping keping dan menimbulkan suara yang nyaring.

Melihat tindakan istrinya, sontak Rio meradang. Dia paling tidak suka jika dibentak dan ucapannya dilawan. Apalagi, suara Maudy sangat keras, hingga terdengar ke luar ruangan tersebut. Sementara masalah yang sedang mereka hadapi, harusnya dirahasiakan.

“Kecilkan suaramu dan tutup mulutmu!” geram Rio seraya mencengkeram mulut istrinya. Dia tidak peduli saat itu Maudy sedang menangis penuh tekanan. Suara Rio pun juga tidak kalah kerasnya dibanding Maudy, sehingga terdengar jelas di telinga Bayu yang berdiri di balik pintu.

“Jangan cengeng! Kamu pikirkan baik baik, tanpa anak, kita tidak akan pernah dapat warisan! Itu yang harus kamu pikirkan! Kalau kamu tidak mau melakukan ini, apa kamu sudah siap hidup kere? Kita akan kehilangan semua fasilitas mewah kita. Kamu mau itu terjadi? Haaa? Jangan bodoh!” bentak Rio dengan nada suara yang tetap tinggi hingga membuat Bima tercengang di balik pintu.

“Apa..? Jadi..? Pak Rio memintaku menghamili istrinya karena ingin dapat warisan? Gila! Kejam banget orang itu! Kasihan Bu Maudy. Padahal, harusnya Pak Rio tidak melakukan hal itu. Dia kan bisa menceraikan Bu Maudy, lalu menikahkannya dengan ku? Pasti aku kasih banyak keturunan. Hahahahh…” ucapnya dalam hati dengan enteng tanpa beban.

Entah mengapa dalam keadaan genting seperti itu, bisa bisanya Bayu memikirkan hal yang konyol untuk menjadi pengganti Rio sebagai suami Maudy. Tetapi, dengan cepat Bayu menghentikan lamunan konyolnya dan fokus mendengarkan pertengkaran antara Maudy dan Bayu.

“Tapi, kenapa harus dengan cara seperti itu? Kita bisa pakai cara lain. Aku bisa pura pura hamil, lalu kita adopsi anak dan kita akui itu anak kita. Itu jauh lebih menghargaiku, daripada memberikan tubuhku pada laki laki lain. Kamu sama sekali tidak menghargaiku dan tidak memikirkan perasaanku?”

 Maudy masih terus berontak dan tidak bisa mengendalikan diri. Hingga akhirnya sebuah tamparan melayang di pipi mulus CEO itu.

“Kamu pikir keluargaku bodoh? Nggak bisa membedakan mana hamil asli dan hamil pura pura? Dan  jika hal itu sampai terbongkar, justru akan berakibat fatal. Kamu tidak bisa hidup tanpa fasilitas, dan aku menginginkan warisan, tujuan kita sama. Jadi jangan persulit langkah kita dengan perasaan kamu!” Rio memenggal kalimatnya sambil mengatur nafas.

“Kamu pikir, hanya kamu yang berkorban perasaan. Aku juga! Bayangkan, aku harus merelakan istriku dijamah laki laki lain agar hamil. Itu se menyakitkan. Tapi aku rela dan tidak egois seperti kamu!” lanjut Rio tetap dengan nada yang tinggi.

Maudy menangis histeris mendengar ucapan suaminya yang menusuk relung hati. Sepertinya, keputusan itu memang sudah tidak bisa lagi diganggu gugat. Rio pandai memanipulasi. Dia juga menganggap dirinya korban, sehingga Maudy tidak punya alasan untuk merasa paling tersakiti dalam masalah tersebut.

Melihat suasana di dalam ruangan semakin memanas, Bayu memilih untuk segera meninggalkan tempat. Selain karena tidak kuat mendengar pertengkaran mereka, Bayu juga tidak mau mendapat masalah baru jika ketahuan menguping di balik pintu.

“Kasihan Bu Maudy, punya suami yang kejam . Tapi, tunggu… apa Pak Rio itu beneran letoy sampai sampai nggak bisa punya anak? Diiiiih, udah kerempeng, letoy, kejam pula. Apa coba yang dilihat Bu Maudy dari dia?? Harusnya Bu Maudy pilih aku…” celetuk Bayu sembari membanggakan dirinya sendiri sebelum meninggalkan tempat.

Selama kembali bekerja, Bayu terus saja memikirkan tugas dari Rio. Otak ca**bulnya kadang sudah mulai memikirkan lekuk tubuh Maudy yang putih mulus. Tapi, dia harus kembali sadar diri dan posisi. 

“Sadar Bayu, sadar! Kamu cuma disuruh menghamili Bu Maudy! Setelah dia hamil, kamu akan dibuang! Jadi jangan berangan angan tinggi!” tegur Bayu mengingatkan dirinya sendiri agar tidak melampaui batasan.

Sementara di dalam ruangannya, Maudy hanya bisa menangis. Rio segera keluar dari ruangan istrinya untuk menenangkan diri.  Dia tidak bisa berlama lama melihat istrinya yang terus berontak dan terlihat memilukan seperti itu.

Maudy menjatuhkan dirinya ke lantai. Dia duduk sambil memeluk lututnya tanpa berhenti menangis. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk meluapkan isi hatinya.

Saat melihat Rio sudah keluar dari ruangan Maudy, Bayu mencoba mendekat kembali ke ruangan tersebut. Dia lihat, pintu ruangan Maudy tidak terkunci. Lalu perlahan, tangan Bayu Hendak menggapai gagang pintu lantas membukanya. 

Bayu lihat, di dalam ruangan itu Maudy sedang menangis. Dia tidak tega melihatnya, sehingga dia berniat untuk mendekat dan berusaha menenangkan bosnya tersebut. Dengan sangat pelan dan hati hati, Bayu melangkah ke arah Maudy.

Maudy mengabaikan kehadiran Bayu. Akan tetapi, saat Bayu benar benar mendekat di sisinya, Maudy lantas bersuara.

“Ngapain kamu ke sini?” tanya Maudy dengan nada penuh amarah. Sorot matanya sangat tajam dan siap memangsa Bayu. Sehingga membuat Bayu berdiri mematung dengan lidah yang kaku. Tapi, perlahan Bayu mengumpulkan tenaga untuk menjawab pertanyaan itu.

“Emmm,maaf Bu Maudy. Saya cuma… mau….”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 116

    Mobil sedan yang dikemudikan Lyra membelah jalanan kota dengan kecepatan yang stabil. Namun bagi Maudy, setiap putaran roda terasa seperti detak jantungnya yang kian memburu. Ia menatap ke luar jendela, mengenali gedung-gedung yang mulai akrab di matanya. Benar, itu adalah jalur menuju hotel. Tempat dengan arsitektur klasik modern yang menjadi saksi bisu setiap kali ia ingin melarikan diri dari kenyataan pahit hidupnya.​Saat mobil akhirnya berhenti di pelataran lobi, Maudy sempat ragu untuk melangkah keluar. Ia menatap Lyra yang tampak begitu tenang, seolah tidak baru saja melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan rumah tangga orang lain.​"Turunlah, Maudy. Kamu tidak datang ke sini hanya untuk menatapku, bukan?" Lyra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini terasa lebih seperti dukungan daripada ejekan.Maudy pun turun. ​Mereka berdua melangkah masuk ke lobi. Maudy merasa seolah-olah seluruh staf hotel memperhatikannya. Namun dia menundukkan kepala, mengikuti langkah kaki Lyra yan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 115

    ​Maudy sendiri terkejut karena rupanya pengirim pesan itu benar benar Lyra. Namun, rasa lega segera menyusul. Ia melihat celah kemenangan di depan matanya. Ia menoleh ke arah Rio yang masih berdiri mematung dengan mulut setengah terbuka.​"Nah, Mas... temanku sudah datang. Kamu tadi bersikeras mau ikut, kan? Ayo, Mas Rio ikut saja. Tapi aku tidak menjamin ya, kalau Lyra tidak tahan melihat kita berdua bermesraan lalu dia membuat keributan di depan umum. Kamu tahu kan tabiatnya kalau sudah cemburu?" goda Maudy dengan senyum simpul yang sangat dingin.​"Lalu... lalu kenapa kamu pergi dengan dia? Jangan buat masalah, Maudy! Dia itu perempuan tidak benar!" sentak Rio, mencoba menutupi kegagalannya mengatur situasi.​Maudy menatap lurus ke mata Rio, memberikan tatapan yang membuat suaminya itu ciut seketika. "Mas Rio, jangan lupakan sesuatu dong. Aku dan Lyra itu teman sejak kuliah. Kami berdua sebenarnya tidak punya masalah apa-apa. Karena yang membuat masalah di antara kami selama ini..

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 114

    Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar terasa menyilaukan, tapi tidak sebanding dengan kegaduhan yang berkecamuk di dalam benak Maudy. Ia duduk di tepi ranjang, meremas jemarinya yang dingin. Sementara Rio sudah tidak ada di sampingnya. Mungkin pria itu sedang berada di bawah, kembali menjalankan perannya sebagai menantu teladan di depan ibunya.​Maudy menatap ponselnya yang tergeletak di atas bantal. Ketakutan akan jebakan dan kerinduan yang amat dalam pada Bayu bertarung hebat di dadanya. Ia membayangkan wajah Bayu, sorot matanya yang teduh, caranya memperlakukan Maudy yang selalu membuat nyaman. Jika benar pria itu menunggunya di hotel kenangan mereka, dan Maudy tidak datang, ia tahu ia akan diliputi dengan penyesalan yang membakar.​Dengan napas yang tertahan, jemari Maudy gemetar saat mengetikkan balasan pada nomor misterius itu.​"Baik. Aku akan datang. Tapi aku harus cari cara aman dulu agar tidak dicurigai Ibuku dan Mas Rio." tulis Maudy. ​Setelah

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 113

    Rio tersentak. Dengan cepat dia menjawab pertanyaan Ibu mertuanya.​"Bu, demi Tuhan, Rio tidak tahu! Ini pasti kerjaan orang yang ingin menjatuhkan Rio!" Rio mencoba mengelak, suaranya parau. Ia segera menyambar kotak itu dan memberikannya kembali pada asisten rumah tangga. "Bi, buang ini! Saya tidak mau makan makanan dari orang tidak jelas!"​Maudy hanya menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum miring. Lalu dia menoleh pada ibunya. Mencoba untuk mempengaruhi pikiran sang Ibu."Bu, seorang pria yang jujur tidak akan sepanik itu hanya karena sebuah paket makanan. Ibu masih mau percaya kalau dia sudah berubah? Buktinya, masa lalunya masih mengejar sampai ke meja makan kita,” cakap Maudy dengan santai.​Ibu Maudy terdiam seribu bahasa. Ia terjebak dalam pusaran bimbang yang menyesakkan. Di satu sisi, ia sangat ingin mempertahankan Rio demi nama baik. Namun di sisi lain, bukti-bukti kecil mulai bermunculan satu per satu, meruntuhkan tembok pembelaannya.​Di tengah hiruk-pikuk perdeba

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 112

    ​Maudy sedikit menggeliat. Namun ia hanya membalikkan posisi tidurnya tanpa membuka mata. Rio mengembuskan napas lega yang sangat panjang, tapi keringat dingin kini sudah membanjiri kausnya. Ia memilih untuk memejamkan mata rapat-rapat, berpura-pura tidur dengan jantung yang masih berpacu liar, demi menambah masalah baru.“Sialan perempuan itu! Berani beraninya dia bermain api denganku? Awas kamu!” geram Rio sebelum matanya benar benar terpejam.​Keesokan harinya, suasana meja makan kembali terasa canggung. Sinar matahari pagi yang cerah masuk melalui jendela besar. Namun tidak mampu mengusir awan mendung di wajah Rio. Matanya yang merah dan lingkaran hitam di bawah kelopak matanya menunjukkan bahwa dia kurang tidur malam itu.​"Mas, wajahmu kuyu sekali pagi ini? Apa semalam tidurnya tidak nyenyak? Atau jangan jangan semalaman kamu main ponsel terus ya?" tanya Maudy sambil mengoleskan selai ke rotinya dengan gerakan yang sangat elegan. Dia hanya sedang menggoda Rio, tapi hal itu seket

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 111

    Malam semakin larut, tapi udara di dalam kamar utama itu terasa begitu kontras bagi kedua orang yang berbaring di atas ranjang king-size tersebut. Suara jangkrik di luar jendela terdengar samar, mengiringi keheningan yang mencekam di antara Maudy dan Rio.​Maudy merebahkan tubuhnya dengan santai, menarik selimut hingga sebatas dada. Untuk pertama kalinya sejak Rio tinggal di rumah itu, dia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Bukan karena ia telah memaafkan Rio, melainkan karena ia merasa menang. Kehadiran Lyra malam itu adalah jawaban atas keraguannya. Sebuah bukti nyata bahwa pertobatan Rio hanyalah sebuah panggung sandiwara yang sangat rapuh.​Maudy menoleh sedikit ke arah Rio yang berbaring kaku di sampingnya. Pria itu menatap langit-langit kamar dengan mata yang terus berkedip cepat, napasnya terdengar pendek dan tidak beraturan.​"Mas, kok belum tidur? Biasanya kamu cepat sekali mendengkur setelah bicara soal proyek bisnis masa depan kita. Apa pesan dari Lyra tadi membua

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status