เข้าสู่ระบบ“Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri.
“Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali tertutup. Tetapi, di balik pintu Bayu masih menyimpan pertanyaan yang belum terpecahkan. “Aneh, kenapa Pak Rio marah? Emangnya ada yang salah dengan pertanyaanku? Dia yang nyuruh aku menghamili istrinya, tapi saat aku tanya tentang caranya, dia malah emosi. Nanti, kalau aku tiba tiba main sesukaku, dikira aku lancang!” gerutu Bayu di dalam hati. Dia hendak kembali mengepel lantai, tetapi tiba tiba dia mendengar suara berisik dari dalam ruangan Maudy. Praaaaankkk!!! Sontak Bayu terkejut, dan dia memilih untuk tetap tinggal dan memastikan semua baik baik saja. Dia berniat untuk kembali masuk ke ruangan bosnya itu, tetapi dia urungkan niatnya karena hal itu pasti akan mengundang kemarahan Rio. Sehingga Bayu memilih berdiri di depan pintu sambil menguping. “Kamu keterlaluan Mas! Kamu jual tubuhku pada seorang OB! Aku nggak bisa terima ini semua! Kamu gila, kamu sangat keterlaluan!” teriak Maudy melampiaskan amarahnya pada suaminya, sambil melempar vas bunga yang ada di meja ke arah dinding, hingga pecah berkeping keping dan menimbulkan suara yang nyaring. Melihat tindakan istrinya, sontak Rio meradang. Dia paling tidak suka jika dibentak dan ucapannya dilawan. Apalagi, suara Maudy sangat keras, hingga terdengar ke luar ruangan tersebut. Sementara masalah yang sedang mereka hadapi, harusnya dirahasiakan. “Kecilkan suaramu dan tutup mulutmu!” geram Rio seraya mencengkeram mulut istrinya. Dia tidak peduli saat itu Maudy sedang menangis penuh tekanan. Suara Rio pun juga tidak kalah kerasnya dibanding Maudy, sehingga terdengar jelas di telinga Bayu yang berdiri di balik pintu. “Jangan cengeng! Kamu pikirkan baik baik, tanpa anak, kita tidak akan pernah dapat warisan! Itu yang harus kamu pikirkan! Kalau kamu tidak mau melakukan ini, apa kamu sudah siap hidup kere? Kita akan kehilangan semua fasilitas mewah kita. Kamu mau itu terjadi? Haaa? Jangan bodoh!” bentak Rio dengan nada suara yang tetap tinggi hingga membuat Bima tercengang di balik pintu. “Apa..? Jadi..? Pak Rio memintaku menghamili istrinya karena ingin dapat warisan? Gila! Kejam banget orang itu! Kasihan Bu Maudy. Padahal, harusnya Pak Rio tidak melakukan hal itu. Dia kan bisa menceraikan Bu Maudy, lalu menikahkannya dengan ku? Pasti aku kasih banyak keturunan. Hahahahh…” ucapnya dalam hati dengan enteng tanpa beban. Entah mengapa dalam keadaan genting seperti itu, bisa bisanya Bayu memikirkan hal yang konyol untuk menjadi pengganti Rio sebagai suami Maudy. Tetapi, dengan cepat Bayu menghentikan lamunan konyolnya dan fokus mendengarkan pertengkaran antara Maudy dan Bayu. “Tapi, kenapa harus dengan cara seperti itu? Kita bisa pakai cara lain. Aku bisa pura pura hamil, lalu kita adopsi anak dan kita akui itu anak kita. Itu jauh lebih menghargaiku, daripada memberikan tubuhku pada laki laki lain. Kamu sama sekali tidak menghargaiku dan tidak memikirkan perasaanku?” Maudy masih terus berontak dan tidak bisa mengendalikan diri. Hingga akhirnya sebuah tamparan melayang di pipi mulus CEO itu. “Kamu pikir keluargaku bodoh? Nggak bisa membedakan mana hamil asli dan hamil pura pura? Dan jika hal itu sampai terbongkar, justru akan berakibat fatal. Kamu tidak bisa hidup tanpa fasilitas, dan aku menginginkan warisan, tujuan kita sama. Jadi jangan persulit langkah kita dengan perasaan kamu!” Rio memenggal kalimatnya sambil mengatur nafas. “Kamu pikir, hanya kamu yang berkorban perasaan. Aku juga! Bayangkan, aku harus merelakan istriku dijamah laki laki lain agar hamil. Itu se menyakitkan. Tapi aku rela dan tidak egois seperti kamu!” lanjut Rio tetap dengan nada yang tinggi. Maudy menangis histeris mendengar ucapan suaminya yang menusuk relung hati. Sepertinya, keputusan itu memang sudah tidak bisa lagi diganggu gugat. Rio pandai memanipulasi. Dia juga menganggap dirinya korban, sehingga Maudy tidak punya alasan untuk merasa paling tersakiti dalam masalah tersebut. Melihat suasana di dalam ruangan semakin memanas, Bayu memilih untuk segera meninggalkan tempat. Selain karena tidak kuat mendengar pertengkaran mereka, Bayu juga tidak mau mendapat masalah baru jika ketahuan menguping di balik pintu. “Kasihan Bu Maudy, punya suami yang kejam . Tapi, tunggu… apa Pak Rio itu beneran letoy sampai sampai nggak bisa punya anak? Diiiiih, udah kerempeng, letoy, kejam pula. Apa coba yang dilihat Bu Maudy dari dia?? Harusnya Bu Maudy pilih aku…” celetuk Bayu sembari membanggakan dirinya sendiri sebelum meninggalkan tempat. Selama kembali bekerja, Bayu terus saja memikirkan tugas dari Rio. Otak ca**bulnya kadang sudah mulai memikirkan lekuk tubuh Maudy yang putih mulus. Tapi, dia harus kembali sadar diri dan posisi. “Sadar Bayu, sadar! Kamu cuma disuruh menghamili Bu Maudy! Setelah dia hamil, kamu akan dibuang! Jadi jangan berangan angan tinggi!” tegur Bayu mengingatkan dirinya sendiri agar tidak melampaui batasan. Sementara di dalam ruangannya, Maudy hanya bisa menangis. Rio segera keluar dari ruangan istrinya untuk menenangkan diri. Dia tidak bisa berlama lama melihat istrinya yang terus berontak dan terlihat memilukan seperti itu. Maudy menjatuhkan dirinya ke lantai. Dia duduk sambil memeluk lututnya tanpa berhenti menangis. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk meluapkan isi hatinya. Saat melihat Rio sudah keluar dari ruangan Maudy, Bayu mencoba mendekat kembali ke ruangan tersebut. Dia lihat, pintu ruangan Maudy tidak terkunci. Lalu perlahan, tangan Bayu Hendak menggapai gagang pintu lantas membukanya. Bayu lihat, di dalam ruangan itu Maudy sedang menangis. Dia tidak tega melihatnya, sehingga dia berniat untuk mendekat dan berusaha menenangkan bosnya tersebut. Dengan sangat pelan dan hati hati, Bayu melangkah ke arah Maudy. Maudy mengabaikan kehadiran Bayu. Akan tetapi, saat Bayu benar benar mendekat di sisinya, Maudy lantas bersuara. “Ngapain kamu ke sini?” tanya Maudy dengan nada penuh amarah. Sorot matanya sangat tajam dan siap memangsa Bayu. Sehingga membuat Bayu berdiri mematung dengan lidah yang kaku. Tapi, perlahan Bayu mengumpulkan tenaga untuk menjawab pertanyaan itu. “Emmm,maaf Bu Maudy. Saya cuma… mau….”Kebenaran bahwasanya Evelyn sengaja melarikan diri meremukkan mental Bayu hingga ke titik terendah. Pria paruh baya yang biasanya berdiri tegar penuh wibawa itu kini terduduk kaku di sudut ruang kerjanya, menatap kosong ke arah lantai. Tatapannya meredup, digantikan oleh keputusasaan dan penyesalan yang amat pekat. Ia tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri atas segala aturan ketat dan tembok perlindungan tinggi yang selama ini ia bangun di sekeliling putri tunggalnya."Papa yang salah..." bisik Bayu dengan suara parau yang tersedak duka. "Papa yang bikin dia merasa tertekan sampai harus kabur sama bajingan itu... Papa yang gagal menjaga dia."Kondisi Maudy tidak kalah hancurnya. Begitu kesadarannya pulih usai pengaruh obat penenang mereda, tangisnya kembali pecah saat mendengar penuturan lengkap dari Putri. Maudy meratapi ketidakmampuannya sebagai seorang ibu. Rasa bersalah menggerogoti dadanya karena ia merasa gagal menjadi sosok teman yang aman bagi Evelyn, sampai-sampai put
Ketiadaan Evelyn beserta Arka, Bagas, Cakra, dan Daffa di sekolah pada hari pertama setelah libur singkat seketika memicu kasak-kusuk di antara para siswa. Keempat saudara kembar yang biasanya selalu terlihat mengawal adik perempuan mereka di area koridor dan parkiran kini sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Tak butuh waktu lama, rumor mengenai hilangnya Evelyn menyebar bagaikan api menyambar jerami di lingkungan SMA tempat mereka menuntut ilmu.Kabar angin yang berembus makin kencang itu akhirnya mendarat di telinga Putri. Gadis itu terduduk kaku di bangkunya, merasa seperti dihantam gada besar tepat di dada.Seketika, memori malam itu berputar hebat di kepalanya. Putri teringat jelas pada pesan singkat dari Evelyn beberapa hari lalu—sebuah pertanyaan pengandaian yang ganjil mengenai apa yang akan ia lakukan jika diajak bertemu seorang pria secara sembunyi-sembunyi pada tengah malam. Saat itu, Putri meresponsnya dengan teguran keras dan peringatan akan bahayanya tindaka
Bayu mengusap wajahnya kasar, berjuang keras mempertahankan sisa ketenangannya di tengah badai kepanikan yang menghantam rumah tangga mereka. Telepon di genggamannya tak berhenti terhubung dengan kepolisian sektor setempat. Sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku, pihak kepolisian belum bisa menerbitkan laporan resmi orang hilang karena durasi kepergian Evelyn belum genap 24 jam. Namun, menyadari posisi Bayu sebagai sosok terpandang serta adanya indikasi kuat tindak kejahatan berupa manipulasi atau penculikan anak di bawah umur, tim penyidik setuju untuk memberikan bantuan darurat berupa pelacakan sinyal dan pengaksesan jaringan kamera pengawas jalanan."Lacak nomor ponselnya sekarang juga, Pak!" tegas Bayu pada perwira polisi di seberang telepon, suaranya bergetar menahan luapan emosi."Kami sudah mencoba melacak presensi sinyal base transceiver station dari nomor Putri Anda, Pak Bayu," sahut perwira di ujung saluran. "Namun tampaknya ponselnya mati total atau dicabut kartu SIM-
"Satu... dua... tiga!"Brak!Dengan dorongan bahu Arka, Bagas, Cakra, dan Daffa yang menghantam pintu secara bersamaan, engsel kayu itu akhirnya jebol dan terbuka lebar. Ruangan kamar Evelyn seketika terekspos di hadapan mereka.Namun, pemandangan di dalam kamar membuat seluruh keluarga itu terpaku kaku. Seprai kasur tampak sedikit kusut, selimut tergeletak di atas tempat tidur, dan jendela kamar dalam keadaan terkunci. Evelyn tidak ada di sana. Kamar itu kosong melompong.Maudy yang melihat tempat tidur putrinya kosong seketika lemas. Kakinya gemetaran hebat hingga tubuhnya hampir meluruh ke lantai jika Bayu tidak dengan sigap menangkap dan merangkulnya."Evelyn... Evelyn di mana, Mas? Anak kita di mana?!" teriak Maudy histeris. Tangisnya pecah seketika, memenuhi seluruh penjuru lantai dua. "Evelyn! Jangan bikin Mama takut, Nak!"Melihat istrinya menangis histeris, kepanikan Bayu makin memuncak. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan gelombang cemas dan amarah yang berp
Sepanjang malam yang kelam itu, penderitaan Evelyn terasa seolah tak bertepi. Di bawah pendar lampu kuning yang redup dan udara malam yang dingin menyengat, Evelyn sepenuhnya berada dalam cengkeraman ketakutan yang luar biasa. Setiap sentuhan dan intimidasi fisik yang dilancarkan Evan meremukkan seluruh rasa aman serta harga diri yang selama ini ia miliki. Pria itu terus mengintimidasi dan mengeksploitasi ketidakberdayaan Evelyn hingga fajar menyingsing, membiarkan gadis lima belas tahun itu terikat kaku di atas lantai semen yang dingin.“Tenang sayang…jangan tegang dong. Tubuhmu benar benar indah, mulus dan seksi… aku akan menjil4t seluruh tubuhmu, membuatmu merasakan kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan…” ujar Evan seraya merebahkan tubuh Evelyn di kasur.Ikatan tangan Evelyn, yang semula di belakang, kini diubah ke atas kepala. Semntara ikatan kakinya di lepas. Tapi, Ikatan itu diubah ke sudut ranjang, masing masing kaki satu ikatan. Posisinya pun berubah. Kini kedua kaki Eve
Melihat layar ponselnya terus bergetar menampilkan nama Rio, Evan tahu ia tidak bisa mengabaikan panggilan tersebut lebih lama lagi. Namun, sebelum menggeser tombol hijau di layarnya, ia melirik ke arah Evelyn yang terbaring gemetaran di atas lantai dingin.Demi memastikan tangkapannya tidak memiliki celah untuk kabur atau membuat kegaduhan, Evan melangkah cepat meraih seutas tali tambang plastik dan selembar kain tebal dari atas meja kotor di sudut ruangan."Jangan coba-coba berulah kalau masih mau selamat," ancam Evan dengan suara rendah yang dingin seraya menekan bahu Evelyn.Dengan gerakan kasar dan berpengalaman, Evan menarik kedua tangan Evelyn ke belakang lalu mengikat pergelangan tangannya dengan sangat kencang. Tak berhenti di situ, ia juga melilitkan tali ke kedua pergelangan kaki gadis itu hingga terkunci mati. Evelyn meringis menahan sakit, namun suaranya langsung terbungkam rapat saat Evan membebatkan kain tebal mengitari mulutnya, mengikatnya kuat-kuat di belakang ke
Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.
Satu jam sudah Bayu berdiri di balik pintu. Sementara Maudy, dia tetap pada posisinya. Duduk bertekuk lutut di sudut kasur. Tidak bergerak dan juga tidak ada niatan merealisasikan ancamannya.Kaki Bayu mulai merasa pegal. Sejak tadi dia sudah berusaha mengabaikan rasa pegalnya,, tapi kali itu dia s
“Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal k
"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.







