LOGINSatu jam sudah Bayu berdiri di balik pintu. Sementara Maudy, dia tetap pada posisinya. Duduk bertekuk lutut di sudut kasur. Tidak bergerak dan juga tidak ada niatan merealisasikan ancamannya.
Kaki Bayu mulai merasa pegal. Sejak tadi dia sudah berusaha mengabaikan rasa pegalnya,, tapi kali itu dia sudah benar benar tidak tahan. Dia mencoba memutar otak untuk mencari langkah aman saat bergerak. Hingga akhirnya dia harus mengeluarkan sedikit bualannya. “Bu Maudy, aku tau aku di sini merepotkan kamu. Tapi, akan lebih merepotkan lagi jika aku pingsan karena kakiku pegal. Jadi, izinkan aku untuk duduk sebentar,” ucap Bayu sembari berjalan beberapa langkah, lalu dengan beraninya duduk di kasur. Kaki dan pinggangnya seketika merasa nyaman. Apalagi untuk pertama kalinya dia duduk di kasur empuk dan mewah yang ada di hotel tersebut. Namun, kenyamanan itu tidak berlangsung lama. Maudy tiba tiba berteriak dan melempar Bayu dengan bantal, lalu menyuruhnya untuk segera turun dari kasur. “Pergi kamu! Pergi! Jangan mendekat! Aku jijik sama kamu! Jangan berani sentuh aku!” teriak Maudy. Dia bukan hanya melempar bantal ke arah Bayu, tetapi juga berusaha mendorong dan menendangnya. Laki laki itu berusaha menahan keseimbangan. Dia tidak ada niat memaksa Maudy, dia hanya ingin sedikit mencari kenyamanan di kasur empuk itu. Tetapi, tendangan Maudy terlalu kuat sehingga membuat Bayu kewalahan. “Baik Bu Maudy, baik. Saya akan turun. Jangan tendang saya lagi,” Pinta Bayu sembari mengangkat kedua tangannya. Tanda jika dirinya menyerah menghadapi bosnya itu. “Udah kaki pegal, baru juga duduk udah ditendang. Ini mah aku bisa sakit pinggang bukan karena main kuda kudaan, tapi sakit pinggang kena tendangan ronaldowati!” gerutu Bayu sambil menurunkan tubuhnya dari kasur. Dia duduk bersila di karpet. Meratapi nasib sialnya malam itu. Bayangan indah tidur di kasur empuk hanyalah angan, sekarang dirinya justru harus berdiri berjam jam di depan pintu dan berakhir duduk di karpet. Di satu sisi Bayu merasa kesal dengan keadaannya, tetapi di sisi lain dia juga merasa kasihan pada Maudy. Dia mendengar Maudy masih terus menangis, tapi Bayu tidak berani memandangnya. Biar bagaimanapun, Maudy adalah atasan yang harus dia hormati. Bayu maaih butuh kerjaan di kantornya, sehingga dia tidak bisa berbuat semena mena pada Maudy. “Kasihan sekali Bu Maudy. Dia pasti tertekan. Andaikan posisi kita tidak seperti ini, pasti aku akan mendekap dia dan menenangkannya agar berhenti menangis,” gumam Bayu di dalam hati. Setelah lama menghadapi situasi tegang itu, tenggorokan Bayu terasa kering. Dia mencoba meraih botol minum yang ada di atas meja. Setelah diraih, dia segera membukanya. Tapi, sebelum meneguk air minum itu, Bayu memikirkan Maudy yang pasti tidak kalah dahaganya seperti dia. Apalagi sejak tadi Maudy berteriak teriak sambil menangis. “Minumlah Bu Maudy. Pasti Bu Maudy haus,” ucap Bayu dengan hati hati sambil mengulurkan botol itu ke arah Maudy tanpa berani menatapnya. Maudy mendengar ucapan Bayu, tetapi dia tidak meresponnya. Tidak menolak dan juga tidak menerima. Namun, saat dia lihat Bayu sejak tadi menundukkan kepala saat mengulurkan botol minum itu, Maudy berpikir mungkin OB itu memang berniat tulus memberikan dia minum. Perlahan tangan Maudy meraih botol tersebut lalu meminumnya. Setelah itu, barulah Bayu mengambil satu botol air minum lagi untuk dirinya. Maudy sedikit tenang. Setidaknya tenggorokannya sedikit lebih nyaman dari sebelumnya. Dia juga tidak melihat Bayu melakukan tindakan yang tidak sopan. Bahkan, tidak lama kemudian Bayu mengatakan sesuatu yang membuat Maudy merenung. “Bu Maudy, saya tau apa yang saya lakukan ini salah. Seharusnya saya tidak menerima perintah Pak Rio. Tapi, saya masih butuh pekerjaan ini. Ancaman Pak Rio sangat menakutkan. Jika sampai saya dipecat dan diblacklist di semua perusahaan, bagaimana saya bisa bekerja? Padahal, saya butuh banyak uang untuk pengobatan Ibu saya,” ucap Bayu sembari tetap menundukkan kepalanya. Dari nada bicara Bayu, tidak ada sesuatu yang sengaja dibuat buat. Meski Bayu di kenal suka bercanda, tapi dia punya satu sisi bijak dan dewasa. Dia juga punya tanggung jawab besar atas Ibunya. Maudy mulai tersentuh dengan alasan Bayu saat menyebut nama Ibunya. Akan tetapi, dia tidak mau begitu saja terlihat Iba dan membenarkan tindakan Bayu. “Jika kamu bilang kamu terpaksa, apalagi dengan saya? Bahkan saya sangat membenci malam terkutuk ini! Apapun itu alasan kamu, tidak membuatku bisa menerima keadaan ini!” sahut Maudy dengan ketus dan membuang pandangannya ke arah jendela. Bayu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan. Dia tidak membantah apapun yang diucapkan oleh bosnya. Karena memang itu hak seorang bos kepada bawahannya. Tetapi, dia hanya berusaha menjelaskan jika dia tidak bermaksud sengaja mengambil kesempatan di dalam kesempitan. “Apa kamu tidak berkaca betapa menjijikannya dirimu yang menerima uang dengan cara seperti ini? Apa kamu tidak menghormati Ibumu? Kau sembuhkan dia dengan cara yang menjijikkan!” Maudy sengaja melontarkan kata kata kasar pada Bayu, berharap pria itu marah, tidak terima, lalu pergi dan meninggalkan ruangan tersebut. Karena dia tau, laki laki akan marah jika dibentak bentak dengan kata kata yang kasar. Akan tetapi, yang terjadi berbeda. Dengan tenang, Bayu menanggapi cacian Maudy. “Bu Maudy benar. Saya ini menjijikkan. Ibuku pasti sangat malu dengan tindakanku. Tapi, menolak dan dipecat, lalu kesulitan mencari uang untuk pengobatan Ibu, itu juga tidak lebih menjijikkan bagi seorang anak laki laki yang tidak berguna,” ujar Bayu sembari semakin menundukkan kepalanya. Tampak ada beban yang benar benar berat yang dia pikul. Dan Maudy bisa melihatnya. “Bu Maudy boleh membenci saya karena menerima tawaran tugas ini, tapi jangan pernah berpikir saya akan memanfaatkan posisi ini. Tanpa kesediaan dari Bu Maudy, saya tidak akan memaksa.” Seketika Maudy mematung. Kata demi kata yang diucapkan oleh Bayu, bernada sangat lembut dan sopan. Tidak ada manipulasi, tidak ada kebohongan, apalagi nada kasar. Sangat berbeda dengan nada bicara Rio yang sering dia dengar. Tanpa disadari, Maudy merasa nyaman menikmati obrolan dinginnya dengan Bayu. Sepertinya, Bayu juga sangat memahami posisinya. Sehingga Maudy berniat untuk bicara lebih dalam tentang tekanan yang dia rasakan. Namun, belum sempat Maudy melanjutkan obrolannya, ponselnya tiba tiba berbunyi dan perhatian Maudy teralihkan ke panggilan tersebut.Malam kian larut ketika Andra berjalan bolak-balik di ruang tengah apartemennya. Ponsel di genggamannya bergetar berulang kali karena remasan jemarinya yang dingin. Sejak melepas Tasya pulang dari restoran tadi sore, pikiran Andra tak pernah benar-benar lepas dari Tasya. Andra tahu betul betapa berartinya restu keluarga bagi Tasya, dan malam ini adalah penentuan besar bagi langkah masa depan mereka.Dengan napas yang sedikit tertahan, Andra akhirnya memberanikan diri menekan tombol panggilan ke nomor Tasya.Tut... tut...Panggilan itu hanya tersambung tiga detik sebelum suara lembut Tasya menyapa dari seberang saluran."Hallo, Andra?""Tasya..." sapa Andra pelan, menghentikan langkah kakinya. "Maaf kalau aku mengganggu jam istirahatmu. Aku cuma... aku tidak bisa tidur kalau belum mendengar kabar darimu."Di kamarnya, Tasya menyandarkan punggung pada kepala tempat tidur, menyunggingkan senyum tipis mendengarkan nada cemas sekaligus penuh harap dari Andra. Rasa salah tingkah yan
Ruang kerja yang tadinya diwarnai suasana yang hangat seketika membeku. Kata-kata yang baru saja keluar dari bibir Tasya seolah menggantung kaku di udara, menciptakan keheningan yang mencekam.Mama Tasya melepaskan rangkulannya di bahu Tasya secara perlahan. Matanya membelalak lebar, menatap putri tunggalnya dengan raut wajah tak percaya yang amat sangat."Andra?" ulang Mama Tasya, suaranya naik satu nada. "Andra pria yang dulu pernah kamu ceritakan itu, Tasya? Pria yang kata kamu terus-terusan menganggumu padahal dia cuma staf biasa di kantor pusat?"Tasya menelan ludah susah payah, jemarinya di pangkuan meremas kain celananya kian erat. "Ma, itu kan…”"Tunggu sebentar!" sela Heru dengan tegas.Heru menggeser berkas di meja kerjanya dengan gerakan kasar, lalu menegakkan tubuhnya. Wajah bijaksana yang tadinya dihiasi senyuman ramah kini berubah keras dan berkerut dalam. Tatapan matanya yang tajam tertuju lurus pada Tasya.“Ada apa Papa?” tanya Tasya."Andra yang kamu maksud ini
Hari-hari berlalu dengan nuansa yang kian berubah, membawa lembaran baru bagi setiap insan yang ada di dalamnya. Sore itu, sepulang kerja, Di sebuah restoran , Andra dan Tasya duduk berhadap-hadapan di sebuah meja sudut yang cukup privat.Andra menatap Tasya dengan manik mata yang menyiratkan ketulusan mendalam. Tidak ada lagi keraguan atau sikap menunda-nunda di dalam benak Andra. Usianya sudah sangat matang untuk memikirkan masa depan, dan di antara riuhnya kesibukan dunia kerja, satu nama yang selalu berhasil mengunci seluruh perhatiannya adalah Tasya, wanita yang dulunya tampak begitu angkuh, namun kini telah meluluhkan hatinya seutuhnya.Andra menarik napas perlahan, merapikan letak jasnya sejenak sebelum memberanikan diri membuka suara."Tasya," panggil Andra dengan nada suara yang begitu lembut namun sarat akan ketegasan.Tasya, yang sedari tadi sedang mengaduk minuman di cangkirnya, mengangkat wajah. Tasya menatap Andra dengan kening berkerut tipis, merasa ada yang berb
Setelah dirawat beberapa hari di Rumah Sakit, akhirnya Maudy diperbolehkan pulang. Hari kepulangan Maudy dari rumah sakit disambut dengan udara sore yang sejuk. Mobil yang dikemudikan oleh Bayu terparkir rapi di halaman depan rumah megah mereka. Dengan penuh kehati-hatian, Bayu membantu Maudy turun dari mobil, merangkul pinggang istrinya itu untuk menuntunnya melangkah masuk melewati pintu utama.Ibu Maudy yang ikut mendampingi sejak dari rumah sakit langsung berjalan mendahului, membuka lebar pintu utama dengan senyuman lebar."Akhirnya kamu pulang juga, Sayang," sambut Ibu Maudy lega, membantu Maudy duduk di sofa ruang tamu yang empuk. "Rumah ini terasa sepi sekali tanpamu."Maudy tersenyum tipis, merapikan selendang yang menutupi bahunya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang tamu yang tampak lengang. Ada satu hal yang sejak tadi mengganjal di benaknya, namun baru ia tanyakan sekarang."Ibu..." panggil Maudy pelan. "Cindy... di mana?"Suasana di ruang tamu yang t
Di lain tempat, Suasana yang berbeda terjadi. Cindy sudah selesai berkemas. Kopernya berdiri rapi di dekat pintu. Pagi ini, ia bertekad bulat untuk pulang ke rumah peninggalan mendiang ibunya. Ia tidak mau merepotkan Bayu lebih lama lagi.Ketika Cindy meraih gagang pintu untuk keluar, pintu itu justru terdorong dari luar."Mau ke mana, Cindy?"Cindy tersentak kaget. Bayu berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih bergulung hingga siku. Di belakangnya, Andra berdiri membawa beberapa kantong kertas berisi sarapan."Mas... Mas Bayu?" bisik Cindy kaku. "Cindy mau pulang ke rumah mendiang Ibu."Bayu melangkah masuk tanpa pamit, matanya langsung tertuju pada koper hitam di dekat pintu. Kening pria itu berkerut dalam."Masuk dulu," perintah Bayu dingin namun tegas. "Andra, taruh makanannya di meja.""Baik, Pak," sahut Andra sigap seraya meletakkan kantong makanan di meja.Cindy menunduk kaku, mengikuti langkah Bayu. "Mas Bayu, Cindy mau tinggal di rumah Ibu saja. Cindy tidak bisa t
“Bibi ini bertanya apa sih? Pak Andra ini kan atasan ku,” sahut Tasya dengan pipi makin merona.Karena tidak ingin terus digoda, Tasya lalu berpamitan. Andra pun segera menyusul berpamitan, sehingga keduanya keluar bersama.“Emm Bibi, Tasya pamit pulang dulu ya,” Pamit Tasya.“Loh, kok buru buru sekali. Kan baru juga datang,” Tanya Ibu Maudy lalu dengan cepat Bayu menyahuti.“Ibu, kita harus maklum dengan urusan anak anak muda,” goda Bayu dan seketika membuat kedua bola mata Tasya membulat sempurna.“Bukan. Bukan begitu Bibi. Aku hanya ingin memberi waktu untuk Mbak Maudy agar segera beristirahat,” kilah Tasya.Semua menahan tawa melihat tingkah Tasya yang gugup. Karena tidak tega terus menggoda Tasya, Maudy angkat bicara dan mempersilahkan Tasya untuk pulang.“Sudah, sudah. Jangan menggoda Tasya terus. Mungkin Tasya sendiri juga capek habis kerja seharian. Mas Andra, buruan antar Tasya pulang untuk istirahat,” ujar Maudy.“Siap Bu Komisaris!” sahut Andra sembari mengangkat telapak ta
“Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal k
“Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. “Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali
"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.
Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.







