เข้าสู่ระบบ“Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya.
Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal ke arah Bayu tanpa sedikit pun memandang OB tersebut. Maudy sangat muak dan murka pada Bayu yang begitu saja menerima tawaran dari Rio. Bayu perlahan meraih brosur itu, dan di dalamnya ada alamat dan nomor kamar di hotel yang sudah ditentukan oleh Rio untuk bercocok tanam dengan Maudy. “Ini kan hotel elite? Aku bahkan belum pernah bermimpi pergi ke sana. Dan sekalinya ke sana, malah disuruh menghamili bidadari? Aku merasa jadi laki laki paling beruntung…” gumam Bayu di dalam hati sambil menahan senyum. Namun di depan Maudy, dia tetap menjaga sikap dan kesopanan. Lamunan Bayu tidak berlangsung lama. Brosur tebal itu mendadak terlempar kembali ke lantai, saat Bayu terkejut mendengar Maudy berteriak sambil mendorong tubuhnya. “Dasar laki laki biadab! Tidak tau diri! Tidak punya hati nurani! Apa semua laki laki di dunia ini tidak bermoral? Apa semua laki laki di dunia ini tidak ada yang bisa menghargai perempuan? Aku muak sama kamu! Aku benci! Pergi kamu! Pergiiiiii!!” Bayu hanya bisa diam dan menghela nafas mendengar cacian dari Maudy. Dia cukup tau perasaan Maudy, dan melawan bukanlah hal yang tepat. Bayu memilih diam, lalu perlahan beranjak dari ruangan bosnya sembari membawa brosur tebal yang bertuliskan alamat hotel yang harus dia datangi malam itu. Matahari sudah tergelincir ke barat, tanda jika para karyawan shift pagi sudah waktunya berkemas untuk pulang. Begitupun dengan Bayu. Sore itu, dia pulang dengan kondisi yang sangat lelah. Selain lelah karena pekerjaan, dia juga lelah pikiran menanggapi perintah konyol daribsuami bosnya. “Huufffttt! Akhirnya aku bisa merebahkan diri di kasur alot ini!” seru Bayu melepas penat seraya menatap langit langit kamar kosnya yang kumuh. Malam itu, sepertinya akan menjadi malam yang istimewa bagi dia, karena dia akan tidur di kasur empuk dan di ruangan berAC. Sungguh tempat yang nyaman yang belum pernah Bayu tempati. Sejenak Bayu memejamkan mata untuk membayangkan keindahan malam itu, tetapi seketika itu juga dia membuka matanya lalu bangun dari rebahan serta angan angannya. “Tapi, Bu Maudy itu galak dan kayaknya muak banget sama aku. Terus, gimana caraku menghamili dia? Masak iya aku paksa? Ah, tidak tidak. Rasanya pasti tidak enak kalau dipaksa,” ucap Bayu di dalam hati. Dia memikirkan cara untuk menghadapi Maudy. “Apa aku harus merayunya? Tapi, sepertinya dia galak hanya karena belum mengenalku saja, kalau sudah kenal, pasti dia jatuh cinta padaku. Aku kan lebih tampan dari suaminya, dan aku nggak letoy! Hahahhaha…” Lagi lagi Bayu berbangga diri. Tetapi, dia sadar jika situasi yang dia hadapi tidak semudah itu. Jarum jam terus berputar, dan kini waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Bayu harus segera bersiap untuk berangkat. Apapun yang akan dia hadapi, dia harus tetap maju demi pengobatan sang ibu. Meskipun dia harus menjinakkan singa betina yang liar. “Bu Maudy, aku datang!” serunya di dalam hati sambil melangkah pergi meninggalkan kamar kost kumuhnya. Hanya dengan menggunakan kemeja polos yang dia beli di pinggiran jalan, Bayu mendatangi hotel elite tersebut. Dia berjalan menuju ke lantai 3. Meski dia belum pernah masuk ke hotel tersebut, beruntungnya dia bisa menggunakan lift dengan baik. Jika tidak, mungkin dia akan menaiki anak tangga menuju ke kamar nomor 303. Ternyata Bayu datang lebih awal. Di sana, belum nampak kedatangan Rio dan Maudy. “Apa aku salah kamar ya?” tanya Bayu sembari mengecek kembali nomor kamar pada brosur tersebut. Tetapi memang tidak ada kesalahan di sana. “Kamarnya beneran ini, tetapi tidak ada Pak Rio dan Bu Maudy. Ah, lebih baik aku tunggu saja. Mungkin mereka masih di perjalanan,” gumam Bayu sambil memperhatikan area sekitar kamar untuk mencari keberadaan dua bosnya itu. Setelah menunggu dengan gelisah selama hampir satu jam, akhirnya Rio dan Maudy datang. Rio segera membuka pintu kamar itu, lalu mendorong Maudy untuk segera masuk. “Mas Rio!” teriak Maudy dengan mata yang sembab. Dia berharap suaminya berbaik hati untuk mengurungkan rencananya malam itu. “Diam Maudy! Lakukan apa yang harus kamu lakukan. Dan kamu, lakukan tugasmu dengan baik!” tegas Rio pada istrinya, lalu memberi kode mata yang tajam kepada Bayu sambil menepuk bahu OB tersebut. Bayu mengangguk pelan sebagai tanda dia menerima perintah dari Rio dan akan melakukan tugas dengan baik. Setelah itu, dia sedikit melangkah ke arah pintu untuk menguncinya, setelah Rio keluar dari sana. Suara kunci pintu terdengar nyaring dan sangat menyeramkan bagi Maudy.Kini, dirinya benar benar sedang berada di ruangan itu berdua saja dengan Bayu. Segera dia berlari ke sudut kasur, lalu duduk meringkuk ketakutan. “Jangan mendekat! Atau aku akan…” Maudy berusaha mengancam Bayu, tetapi dia potong kalimatnya dan langsung menangis saat mengingat jika kehadiran Bayu di sana atas perintah suaminya. “Tenang Bu Maudy, tolong jangan menangis. Saya… saya tidak akan menyakiti Bu Maudy,” ucap Bayu dengan begitu hati hati agar Maudy tidak ketakutan dan agar Maudy berhenti menangis. Bayu masih berdiri di depan pintu. Dia tidak berani satu kali pun melangkah maju. Karena dia tidak ingin membuat bosnya makin ketakutan. “Aku ini ganteng dan baik hati Bu Maudy . Kamu tidak perlu takut begitu padaku,” gumam Bayu di dalam hati sembari menggaruk garuk kepalanya. Dia merasa heran dengan reaksi Maudy saat melihatnya. “Jangan mendekat! Sekali saja kamu melangkah maju, aku akan melompat dari jendela!” ancam Maudy, dan seketika membuat Bayu panik. “Eits..eits… jangan Bu Maudy! Jangan melompat. Bu Maudy ini masih muda, cantik dan kaya raya. Sayang sekali kalau harus mati di usia muda dengan sia sia. Bu Maudy yang tenang ya. Jangan takut begitu. Sayaaa… saya janji tidak akan bertindak kasar. Dan sayaaa, saya akan diam di sini sampai Bu Maudy merasa lebih baik.” Bayu panik saat mendengar ancaman Maudy yang akan melompat ke jendela. Sebisa mungkin dia merayu dan menenangkan bosnya itu. Padahal ancaman tersebut hanya gertakan Maudy agar Bayu tidak mendekat padanya. Jangankan mau lompat, melihat dari ketinggian tiga lantai saja Maudy sudah phobia. “Aduh, kenapa jadi begini? Apa iya aku akan berdiri terus di sini sampai pagi? Kalau begini, gimana Bu Maudy bisa hamil? Jangan sampai 500 juta ku melayang,” gumam Bayu di dalam hati sambil berdiri di depan pintu tanpa berani bergerak sedikit pun.Kebenaran bahwasanya Evelyn sengaja melarikan diri meremukkan mental Bayu hingga ke titik terendah. Pria paruh baya yang biasanya berdiri tegar penuh wibawa itu kini terduduk kaku di sudut ruang kerjanya, menatap kosong ke arah lantai. Tatapannya meredup, digantikan oleh keputusasaan dan penyesalan yang amat pekat. Ia tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri atas segala aturan ketat dan tembok perlindungan tinggi yang selama ini ia bangun di sekeliling putri tunggalnya."Papa yang salah..." bisik Bayu dengan suara parau yang tersedak duka. "Papa yang bikin dia merasa tertekan sampai harus kabur sama bajingan itu... Papa yang gagal menjaga dia."Kondisi Maudy tidak kalah hancurnya. Begitu kesadarannya pulih usai pengaruh obat penenang mereda, tangisnya kembali pecah saat mendengar penuturan lengkap dari Putri. Maudy meratapi ketidakmampuannya sebagai seorang ibu. Rasa bersalah menggerogoti dadanya karena ia merasa gagal menjadi sosok teman yang aman bagi Evelyn, sampai-sampai put
Ketiadaan Evelyn beserta Arka, Bagas, Cakra, dan Daffa di sekolah pada hari pertama setelah libur singkat seketika memicu kasak-kusuk di antara para siswa. Keempat saudara kembar yang biasanya selalu terlihat mengawal adik perempuan mereka di area koridor dan parkiran kini sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Tak butuh waktu lama, rumor mengenai hilangnya Evelyn menyebar bagaikan api menyambar jerami di lingkungan SMA tempat mereka menuntut ilmu.Kabar angin yang berembus makin kencang itu akhirnya mendarat di telinga Putri. Gadis itu terduduk kaku di bangkunya, merasa seperti dihantam gada besar tepat di dada.Seketika, memori malam itu berputar hebat di kepalanya. Putri teringat jelas pada pesan singkat dari Evelyn beberapa hari lalu—sebuah pertanyaan pengandaian yang ganjil mengenai apa yang akan ia lakukan jika diajak bertemu seorang pria secara sembunyi-sembunyi pada tengah malam. Saat itu, Putri meresponsnya dengan teguran keras dan peringatan akan bahayanya tindaka
Bayu mengusap wajahnya kasar, berjuang keras mempertahankan sisa ketenangannya di tengah badai kepanikan yang menghantam rumah tangga mereka. Telepon di genggamannya tak berhenti terhubung dengan kepolisian sektor setempat. Sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku, pihak kepolisian belum bisa menerbitkan laporan resmi orang hilang karena durasi kepergian Evelyn belum genap 24 jam. Namun, menyadari posisi Bayu sebagai sosok terpandang serta adanya indikasi kuat tindak kejahatan berupa manipulasi atau penculikan anak di bawah umur, tim penyidik setuju untuk memberikan bantuan darurat berupa pelacakan sinyal dan pengaksesan jaringan kamera pengawas jalanan."Lacak nomor ponselnya sekarang juga, Pak!" tegas Bayu pada perwira polisi di seberang telepon, suaranya bergetar menahan luapan emosi."Kami sudah mencoba melacak presensi sinyal base transceiver station dari nomor Putri Anda, Pak Bayu," sahut perwira di ujung saluran. "Namun tampaknya ponselnya mati total atau dicabut kartu SIM-
"Satu... dua... tiga!"Brak!Dengan dorongan bahu Arka, Bagas, Cakra, dan Daffa yang menghantam pintu secara bersamaan, engsel kayu itu akhirnya jebol dan terbuka lebar. Ruangan kamar Evelyn seketika terekspos di hadapan mereka.Namun, pemandangan di dalam kamar membuat seluruh keluarga itu terpaku kaku. Seprai kasur tampak sedikit kusut, selimut tergeletak di atas tempat tidur, dan jendela kamar dalam keadaan terkunci. Evelyn tidak ada di sana. Kamar itu kosong melompong.Maudy yang melihat tempat tidur putrinya kosong seketika lemas. Kakinya gemetaran hebat hingga tubuhnya hampir meluruh ke lantai jika Bayu tidak dengan sigap menangkap dan merangkulnya."Evelyn... Evelyn di mana, Mas? Anak kita di mana?!" teriak Maudy histeris. Tangisnya pecah seketika, memenuhi seluruh penjuru lantai dua. "Evelyn! Jangan bikin Mama takut, Nak!"Melihat istrinya menangis histeris, kepanikan Bayu makin memuncak. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan gelombang cemas dan amarah yang berp
Sepanjang malam yang kelam itu, penderitaan Evelyn terasa seolah tak bertepi. Di bawah pendar lampu kuning yang redup dan udara malam yang dingin menyengat, Evelyn sepenuhnya berada dalam cengkeraman ketakutan yang luar biasa. Setiap sentuhan dan intimidasi fisik yang dilancarkan Evan meremukkan seluruh rasa aman serta harga diri yang selama ini ia miliki. Pria itu terus mengintimidasi dan mengeksploitasi ketidakberdayaan Evelyn hingga fajar menyingsing, membiarkan gadis lima belas tahun itu terikat kaku di atas lantai semen yang dingin.“Tenang sayang…jangan tegang dong. Tubuhmu benar benar indah, mulus dan seksi… aku akan menjil4t seluruh tubuhmu, membuatmu merasakan kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan…” ujar Evan seraya merebahkan tubuh Evelyn di kasur.Ikatan tangan Evelyn, yang semula di belakang, kini diubah ke atas kepala. Semntara ikatan kakinya di lepas. Tapi, Ikatan itu diubah ke sudut ranjang, masing masing kaki satu ikatan. Posisinya pun berubah. Kini kedua kaki Eve
Melihat layar ponselnya terus bergetar menampilkan nama Rio, Evan tahu ia tidak bisa mengabaikan panggilan tersebut lebih lama lagi. Namun, sebelum menggeser tombol hijau di layarnya, ia melirik ke arah Evelyn yang terbaring gemetaran di atas lantai dingin.Demi memastikan tangkapannya tidak memiliki celah untuk kabur atau membuat kegaduhan, Evan melangkah cepat meraih seutas tali tambang plastik dan selembar kain tebal dari atas meja kotor di sudut ruangan."Jangan coba-coba berulah kalau masih mau selamat," ancam Evan dengan suara rendah yang dingin seraya menekan bahu Evelyn.Dengan gerakan kasar dan berpengalaman, Evan menarik kedua tangan Evelyn ke belakang lalu mengikat pergelangan tangannya dengan sangat kencang. Tak berhenti di situ, ia juga melilitkan tali ke kedua pergelangan kaki gadis itu hingga terkunci mati. Evelyn meringis menahan sakit, namun suaranya langsung terbungkam rapat saat Evan membebatkan kain tebal mengitari mulutnya, mengikatnya kuat-kuat di belakang ke
Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.
Satu jam sudah Bayu berdiri di balik pintu. Sementara Maudy, dia tetap pada posisinya. Duduk bertekuk lutut di sudut kasur. Tidak bergerak dan juga tidak ada niatan merealisasikan ancamannya.Kaki Bayu mulai merasa pegal. Sejak tadi dia sudah berusaha mengabaikan rasa pegalnya,, tapi kali itu dia s
“Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. “Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali
"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.







