Share

Bab 3

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-02-18 13:31:07

“Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. 

Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal ke arah Bayu tanpa sedikit pun memandang OB tersebut. Maudy sangat muak dan murka pada Bayu yang begitu saja menerima tawaran dari Rio.

Bayu perlahan meraih brosur itu, dan di dalamnya ada alamat dan nomor kamar di hotel yang sudah ditentukan oleh Rio untuk bercocok tanam dengan Maudy.

“Ini kan hotel elite? Aku bahkan belum pernah bermimpi pergi ke sana. Dan sekalinya ke sana, malah disuruh menghamili bidadari? Aku merasa jadi laki laki paling beruntung…” gumam Bayu di dalam hati sambil menahan senyum. 

Namun di depan Maudy, dia tetap menjaga sikap dan kesopanan. Lamunan Bayu tidak berlangsung lama. Brosur tebal itu mendadak terlempar kembali ke lantai, saat Bayu terkejut mendengar Maudy berteriak sambil mendorong tubuhnya.

“Dasar laki laki biadab! Tidak tau diri! Tidak punya hati nurani! Apa semua laki laki di dunia ini tidak bermoral? Apa semua laki laki di dunia ini tidak ada yang bisa menghargai perempuan? Aku muak sama kamu! Aku benci! Pergi kamu! Pergiiiiii!!”

Bayu hanya bisa diam dan menghela nafas mendengar cacian dari Maudy. Dia cukup tau perasaan Maudy, dan melawan bukanlah hal yang tepat. Bayu memilih diam, lalu perlahan beranjak dari ruangan bosnya sembari membawa brosur tebal yang bertuliskan alamat hotel yang harus dia datangi malam itu.

Matahari sudah tergelincir ke barat, tanda jika para karyawan shift pagi sudah waktunya berkemas untuk pulang. Begitupun dengan Bayu. Sore itu, dia pulang dengan kondisi yang sangat lelah. Selain lelah karena pekerjaan, dia juga lelah pikiran menanggapi perintah konyol daribsuami bosnya.

“Huufffttt! Akhirnya aku bisa merebahkan diri di kasur alot ini!” seru Bayu melepas penat seraya menatap langit langit kamar kosnya yang kumuh.

 Malam itu, sepertinya akan menjadi malam yang istimewa bagi dia, karena dia akan tidur di kasur empuk dan di ruangan berAC. Sungguh tempat yang nyaman yang belum pernah Bayu tempati. Sejenak Bayu memejamkan mata untuk membayangkan keindahan malam itu, tetapi seketika itu juga dia membuka matanya lalu bangun dari rebahan serta angan angannya.

“Tapi, Bu Maudy itu galak dan kayaknya muak banget sama aku. Terus, gimana caraku menghamili dia? Masak iya aku paksa? Ah, tidak tidak. Rasanya pasti tidak enak kalau dipaksa,” ucap Bayu di dalam hati. Dia memikirkan cara untuk menghadapi Maudy.

“Apa aku harus merayunya? Tapi, sepertinya dia galak hanya karena belum mengenalku saja, kalau sudah kenal, pasti dia jatuh cinta padaku. Aku kan lebih tampan dari suaminya, dan aku nggak letoy! Hahahhaha…” Lagi lagi Bayu berbangga diri. Tetapi, dia sadar jika situasi yang dia hadapi tidak semudah itu. 

Jarum jam terus berputar, dan kini waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Bayu harus segera bersiap untuk berangkat. Apapun yang akan dia hadapi, dia harus tetap maju demi pengobatan sang ibu. Meskipun dia harus menjinakkan singa betina yang liar.

“Bu Maudy, aku datang!” serunya di dalam hati sambil melangkah pergi meninggalkan kamar kost kumuhnya.

Hanya dengan menggunakan kemeja polos yang dia beli di pinggiran jalan, Bayu mendatangi hotel elite tersebut. Dia berjalan menuju ke lantai 3. 

Meski dia belum pernah masuk ke hotel tersebut, beruntungnya dia bisa menggunakan lift dengan baik. Jika tidak, mungkin dia akan menaiki anak tangga menuju ke kamar nomor 303.

Ternyata Bayu datang lebih awal. Di sana, belum nampak kedatangan Rio dan Maudy.

“Apa aku salah kamar ya?” tanya Bayu sembari mengecek kembali nomor kamar pada brosur tersebut. Tetapi memang tidak ada kesalahan di sana.

“Kamarnya beneran ini, tetapi tidak ada Pak Rio dan Bu Maudy. Ah, lebih baik aku tunggu saja. Mungkin mereka masih di perjalanan,” gumam Bayu sambil memperhatikan area sekitar kamar untuk mencari keberadaan dua bosnya itu.

Setelah menunggu dengan gelisah selama hampir satu jam, akhirnya Rio dan Maudy datang. Rio segera membuka pintu kamar itu, lalu mendorong Maudy untuk segera masuk.

“Mas Rio!” teriak Maudy dengan mata yang sembab. Dia berharap suaminya berbaik hati untuk mengurungkan rencananya malam itu.

“Diam Maudy! Lakukan apa yang harus kamu lakukan. Dan kamu, lakukan tugasmu dengan baik!” tegas Rio pada istrinya, lalu memberi kode mata yang tajam kepada Bayu sambil menepuk bahu OB tersebut.

Bayu mengangguk pelan sebagai tanda dia menerima perintah dari Rio dan akan melakukan tugas dengan baik. Setelah itu, dia sedikit melangkah ke arah pintu untuk menguncinya, setelah Rio keluar dari sana.

Suara kunci pintu terdengar nyaring dan sangat menyeramkan bagi Maudy.Kini, dirinya benar benar sedang berada di ruangan itu berdua saja dengan Bayu. Segera dia berlari ke sudut kasur, lalu duduk meringkuk ketakutan.

“Jangan mendekat! Atau aku akan…” Maudy berusaha mengancam Bayu, tetapi dia potong kalimatnya dan langsung menangis saat mengingat jika kehadiran Bayu di sana atas perintah suaminya. 

“Tenang Bu Maudy, tolong jangan menangis. Saya… saya tidak akan menyakiti Bu Maudy,” ucap Bayu dengan begitu hati hati agar Maudy tidak ketakutan dan agar Maudy berhenti menangis. 

Bayu masih berdiri di depan pintu. Dia tidak berani satu kali pun melangkah maju. Karena dia tidak ingin membuat bosnya makin ketakutan.

“Aku ini ganteng dan baik hati Bu Maudy . Kamu tidak perlu takut begitu padaku,” gumam Bayu di dalam hati sembari menggaruk garuk kepalanya. Dia merasa heran dengan reaksi Maudy saat melihatnya.

“Jangan mendekat! Sekali saja kamu melangkah maju, aku akan melompat dari jendela!” ancam Maudy, dan seketika membuat Bayu panik.

“Eits..eits… jangan Bu Maudy! Jangan melompat. Bu Maudy ini masih muda, cantik dan kaya raya. Sayang sekali kalau harus mati di usia muda dengan sia sia. Bu Maudy yang tenang ya. Jangan takut begitu. Sayaaa… saya janji tidak akan bertindak kasar. Dan sayaaa, saya akan diam di sini sampai Bu Maudy merasa lebih baik.”

Bayu panik saat mendengar ancaman Maudy yang akan melompat ke jendela. Sebisa mungkin dia merayu dan menenangkan bosnya itu. Padahal ancaman tersebut hanya gertakan Maudy agar Bayu tidak mendekat padanya. Jangankan mau lompat, melihat dari ketinggian tiga lantai saja Maudy sudah phobia.

“Aduh, kenapa jadi begini? Apa iya aku akan berdiri terus di sini sampai pagi? Kalau begini, gimana Bu Maudy bisa hamil? Jangan sampai 500 juta ku melayang,” gumam Bayu di dalam hati sambil berdiri di depan pintu tanpa berani bergerak sedikit pun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 116

    Mobil sedan yang dikemudikan Lyra membelah jalanan kota dengan kecepatan yang stabil. Namun bagi Maudy, setiap putaran roda terasa seperti detak jantungnya yang kian memburu. Ia menatap ke luar jendela, mengenali gedung-gedung yang mulai akrab di matanya. Benar, itu adalah jalur menuju hotel. Tempat dengan arsitektur klasik modern yang menjadi saksi bisu setiap kali ia ingin melarikan diri dari kenyataan pahit hidupnya.​Saat mobil akhirnya berhenti di pelataran lobi, Maudy sempat ragu untuk melangkah keluar. Ia menatap Lyra yang tampak begitu tenang, seolah tidak baru saja melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan rumah tangga orang lain.​"Turunlah, Maudy. Kamu tidak datang ke sini hanya untuk menatapku, bukan?" Lyra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini terasa lebih seperti dukungan daripada ejekan.Maudy pun turun. ​Mereka berdua melangkah masuk ke lobi. Maudy merasa seolah-olah seluruh staf hotel memperhatikannya. Namun dia menundukkan kepala, mengikuti langkah kaki Lyra yan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 115

    ​Maudy sendiri terkejut karena rupanya pengirim pesan itu benar benar Lyra. Namun, rasa lega segera menyusul. Ia melihat celah kemenangan di depan matanya. Ia menoleh ke arah Rio yang masih berdiri mematung dengan mulut setengah terbuka.​"Nah, Mas... temanku sudah datang. Kamu tadi bersikeras mau ikut, kan? Ayo, Mas Rio ikut saja. Tapi aku tidak menjamin ya, kalau Lyra tidak tahan melihat kita berdua bermesraan lalu dia membuat keributan di depan umum. Kamu tahu kan tabiatnya kalau sudah cemburu?" goda Maudy dengan senyum simpul yang sangat dingin.​"Lalu... lalu kenapa kamu pergi dengan dia? Jangan buat masalah, Maudy! Dia itu perempuan tidak benar!" sentak Rio, mencoba menutupi kegagalannya mengatur situasi.​Maudy menatap lurus ke mata Rio, memberikan tatapan yang membuat suaminya itu ciut seketika. "Mas Rio, jangan lupakan sesuatu dong. Aku dan Lyra itu teman sejak kuliah. Kami berdua sebenarnya tidak punya masalah apa-apa. Karena yang membuat masalah di antara kami selama ini..

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 114

    Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar terasa menyilaukan, tapi tidak sebanding dengan kegaduhan yang berkecamuk di dalam benak Maudy. Ia duduk di tepi ranjang, meremas jemarinya yang dingin. Sementara Rio sudah tidak ada di sampingnya. Mungkin pria itu sedang berada di bawah, kembali menjalankan perannya sebagai menantu teladan di depan ibunya.​Maudy menatap ponselnya yang tergeletak di atas bantal. Ketakutan akan jebakan dan kerinduan yang amat dalam pada Bayu bertarung hebat di dadanya. Ia membayangkan wajah Bayu, sorot matanya yang teduh, caranya memperlakukan Maudy yang selalu membuat nyaman. Jika benar pria itu menunggunya di hotel kenangan mereka, dan Maudy tidak datang, ia tahu ia akan diliputi dengan penyesalan yang membakar.​Dengan napas yang tertahan, jemari Maudy gemetar saat mengetikkan balasan pada nomor misterius itu.​"Baik. Aku akan datang. Tapi aku harus cari cara aman dulu agar tidak dicurigai Ibuku dan Mas Rio." tulis Maudy. ​Setelah

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 113

    Rio tersentak. Dengan cepat dia menjawab pertanyaan Ibu mertuanya.​"Bu, demi Tuhan, Rio tidak tahu! Ini pasti kerjaan orang yang ingin menjatuhkan Rio!" Rio mencoba mengelak, suaranya parau. Ia segera menyambar kotak itu dan memberikannya kembali pada asisten rumah tangga. "Bi, buang ini! Saya tidak mau makan makanan dari orang tidak jelas!"​Maudy hanya menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum miring. Lalu dia menoleh pada ibunya. Mencoba untuk mempengaruhi pikiran sang Ibu."Bu, seorang pria yang jujur tidak akan sepanik itu hanya karena sebuah paket makanan. Ibu masih mau percaya kalau dia sudah berubah? Buktinya, masa lalunya masih mengejar sampai ke meja makan kita,” cakap Maudy dengan santai.​Ibu Maudy terdiam seribu bahasa. Ia terjebak dalam pusaran bimbang yang menyesakkan. Di satu sisi, ia sangat ingin mempertahankan Rio demi nama baik. Namun di sisi lain, bukti-bukti kecil mulai bermunculan satu per satu, meruntuhkan tembok pembelaannya.​Di tengah hiruk-pikuk perdeba

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 112

    ​Maudy sedikit menggeliat. Namun ia hanya membalikkan posisi tidurnya tanpa membuka mata. Rio mengembuskan napas lega yang sangat panjang, tapi keringat dingin kini sudah membanjiri kausnya. Ia memilih untuk memejamkan mata rapat-rapat, berpura-pura tidur dengan jantung yang masih berpacu liar, demi menambah masalah baru.“Sialan perempuan itu! Berani beraninya dia bermain api denganku? Awas kamu!” geram Rio sebelum matanya benar benar terpejam.​Keesokan harinya, suasana meja makan kembali terasa canggung. Sinar matahari pagi yang cerah masuk melalui jendela besar. Namun tidak mampu mengusir awan mendung di wajah Rio. Matanya yang merah dan lingkaran hitam di bawah kelopak matanya menunjukkan bahwa dia kurang tidur malam itu.​"Mas, wajahmu kuyu sekali pagi ini? Apa semalam tidurnya tidak nyenyak? Atau jangan jangan semalaman kamu main ponsel terus ya?" tanya Maudy sambil mengoleskan selai ke rotinya dengan gerakan yang sangat elegan. Dia hanya sedang menggoda Rio, tapi hal itu seket

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 111

    Malam semakin larut, tapi udara di dalam kamar utama itu terasa begitu kontras bagi kedua orang yang berbaring di atas ranjang king-size tersebut. Suara jangkrik di luar jendela terdengar samar, mengiringi keheningan yang mencekam di antara Maudy dan Rio.​Maudy merebahkan tubuhnya dengan santai, menarik selimut hingga sebatas dada. Untuk pertama kalinya sejak Rio tinggal di rumah itu, dia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Bukan karena ia telah memaafkan Rio, melainkan karena ia merasa menang. Kehadiran Lyra malam itu adalah jawaban atas keraguannya. Sebuah bukti nyata bahwa pertobatan Rio hanyalah sebuah panggung sandiwara yang sangat rapuh.​Maudy menoleh sedikit ke arah Rio yang berbaring kaku di sampingnya. Pria itu menatap langit-langit kamar dengan mata yang terus berkedip cepat, napasnya terdengar pendek dan tidak beraturan.​"Mas, kok belum tidur? Biasanya kamu cepat sekali mendengkur setelah bicara soal proyek bisnis masa depan kita. Apa pesan dari Lyra tadi membua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status